Kamis, 03 Juli 2014

HMI-ISME: PENUHI JANJI-JANJIMU*

 Oleh: Ibnu Himawan (Kom. Syariah IAIN Walisongo)
Himpunan Mahasiswa Islam merupakan organisasi mahasiswa tertua di Indonesia saat ini, meski sebelumnya telah ada Persatuan Mahasiswa Yogyakarta yang didominasi oleh partai sosialis, organisasi ini berdiri pada tanggal 5 Februari 1947M bertepatan dengan 14 Robiul Awal 1366H, diprakarsai oleh mahasiswa STAI Jogjakarta (sekarang UII) yaitu Lafran Pane. Filosofi berdirinya organisasi ini ada 2 penyebab yaitu mempertahankan serta mempertinggi derajat bangsa indonesia dan menegakkan serta mengembangkan ajaran islam, karena HMI lahir paska kemerdekaan serta tiada keleluasaan bagi para pemeluk agama islam untuk menjalankan ajarannya.
Semangat HMI terhadap perkembangan ajaran islam ini  mestinya menjadi pembelajaran pemuda muslim, meski dari awal 90-an sampai tumbangnya periode orde lama beberapa dari anggota harus menjadi buronan dari birokrasi serta kroni-kroninya karena mempertahankan idealism akan keislaman mereka, hingga kemudian mereka menjadi embrio dari HMI-MPO (Majelis Penyelamat Organisasi). HMI-MPO merupakan sempalan dari HMI terdahulu yang menjadi pewaris semangat idealismenya, bahkan kiblat berfikir HMI-MPO pun mengacu pada pejuang islam dalam teologi pembebasannya  seperti; Imam Khomaeni, Ali Syariati, Ismail Raji Alfaruqi, Jalaluddin Al-Afghani dsb. Yang tetap istiqomah dengan islamnya, ini merupakan upaya sebuah organisasi supaya menjadi agent social of change yang berdasar pada hadits “من راي منكرا فاليغير بيده---الخ”, maka HMI harus terus bergerak tuk wujudkan perubahan ke arah positif.
Saking pentingnya semangat islam bagi HMI, maka salah satu  materi inti dalam latihan dasarnya  adalah  “keyakinan muslim”, bahkan materi itu menjadi bahasan utama dalam khittah perjuangan dari HMI-MPO, dalam khittoh telah terang relevansi antar asas, usaha hingga tujuannya ketika asas itu islam,  jelas adanya bahwa hmi merupakan wadah aktualisasi islam bagi para kadernya, wadah sebagai upaya para kader mencari jatidiri kemuslimannya. Islam dalam HMI mempunyai arti luas dan tak harus sama antar kadernya, ini dapat dilihat dari salah satu kader HMI yaitu Nurcholis Madjid yang dalam bukunya-Islam Dokrin dan Peradaban- menyatakan bahwa “islam merupakan ketundukan kepada tuhan sang pencipta seru sekalian alam, hingga terkadang islam ditemukan justru pada pemeluk agama lain”, meski ia dianggap tokoh liberal.
HMI-isme atau sifat HMI ini seharusnya terus menjadi warisan yang tiada habis-habisnya bagi kadernya, hingga nantinya terdapat kata HMI-is-me (HMI adalah saya), meskipun dalam khittoh perjuangan HMI disebutkan bahwa HMI bukanlah hanya output dari organisasi baik berupa kader yang tangguh maupun karya dari HMI, setidaknya kader menjadi part of HMI, karena HMI menuntut kadernya agar menjadi pribadi yang independent, tak bergantung pada siapapun tanpa terkecuali, ia hanya boleh mentransendensikan dirinya pada tuhannya.
Namun ini menjadi pekerjaan rumah yang tak mudah, jika dilihat dari keaadaan sekarang bahwa tiada lagi sekat bagi seluruh rakyat indonesia untuk mengimplementasikan segala ajaran yang dianut -meski nilai lebih dari HMI adalah tiadanya pengkotak-kotakan antar paham satu dan lainnya- yang menjadikan berkurangnya semangat perjuangan, hingga HMI tak semenarik dahulu dalam setiap perkaderannya, mungkin disini teori spirit of kepepet berlaku. Atau justru ketidak sadaran para kader akan arti keterjajahannya, seperti yang dikatakan Abul A’la Maududi bahwasannya tiada negara islam ataupun mayoritas islam yang tak tejajah baik secara politik maupun ideologi, kader yang hidup di negeri yang terhegemoni oleh ideologi barat ini tak sadar betapa prinsip-prinsip mereka selalu dicincang-cincang tiap hari oleh sifat hedonisme.
Bahkan islam sekarang hanya dimaknai secara simbolis semata, siapa yang bergamis, bersorban, rajin ke masjid, rajin dalam majlis pengajian mereka yang suci, bersih dan beriman, sedang mereka yang jauh dari itu semua adalah najis, musrik dan kafir. Bagaimana islam akan dikenal secara kaffah jika demikian adanya pemaknaan islam, amar ma’rufnya hanya dalam tempat peribadatan semata sedang nahi munkar selalu berbentuk anarkis -baik bakar tempat perjudian, pukuli pelaku zina dilokalisasi dan hancurkan semua sarana maksiat-, lantas dimana rahmatan lil ‘alamin islam ? bukankan ketika nabi tersakiti ketika hendak berdakwa hanya berdoa “اللهم اهد قومي فانهم لايعلمون” - ya Allah berilah hidayah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak tahu- ketika ditawari jibril untuk membumi hanguskan kafir Quraisy pada saat itu.
Bukan lagi waktu yang tepat untuk selalu menikmati romantisme sejarah yang menggetarkan hati atas perjuangan para pendahulu, kita tak hidup dalam angan, kita tak hidup untuk kagum semata, kita hidup untuk berjuang karena setiap kita akan dimintai pertanggung jawabannya. Kita harus mempunyai semangat hidup mulya atau mati syahid ! sesuai dengan sabda rasulullah pada kaumnya “اعمل لدنياك كانك تعيس ابدا واعمل لاخرتك كانك تموت غدا” –berbuatlah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup untuk selama-lamanya dan berbuatlah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati esok hari.
Sekarang saatnya untuk bangkit bagi kaum muslim terutama para kader HMI, tegakkan bendera rahmatan lil’alamiin sebagai jargon islam, selamatkan semua mahluk dari kesesatan yang mulai tak kasat mata lagi. Penuhi janji-janjimu seperti tujuan organisasimu, binalah mereka menjadi insan yang kenal tuhannya, insan yang taat, insan yang bertanggung jawab akan lingkungan sekitarnya, penyelamat alam. Penuhi tugasmu sebagai kholifah, tegakkan panji-panji keadilan pada siapapun itu tanpa pandang bulu, hunus pedangmu pada kemungkaran, selamatkan kaum mustadl’afien dari para imprealisnya, lindungi hak setiap insan. 
Kini HMI menunggumu wahai kader pilihan, merindukan akan setiap langkah ikhlasmu memperjuangkan kehendak keadilan, membutuhkan fayakun berasaskan islammu, jangan tunggu semua orang menyuruhmu, sampaikan dari rosulmu walau satu ayat, kau harus jadi teladan sebagaimana rosulmu dahulu, “ابدا بنفسك” mulailah dari dirimu!!!!!

* Tulisan dibukukan dalam "HMI-ISME, HMI-MISS-ME, HMI-IS-ME" diterbitkan LAPMI Cabang Semarang

Rabu, 18 Juni 2014

Nasionalime Politik dan Ideologi Anti Neoliberal*


Oleh: Lukni Maulana– Pengasuh Sciena Madani



Nasionalisme merupakan tuntutan politik, sebagaimana bunyi sila ketiga, Persatuan dan Kesatuan. Semangat nasionalisme menjadi semangat perjuangan dan pergerakan untuk menuntut kedaulatan. Sebagaimana dilakukan oleh para pemuda dan pelajar terdahulu yakni pada akhir tahun 1920-an konsep nasionalisme mendapat bentuknya yang dipelopori oleh tiga organisasi pergerakan yaitu Perhimpunan Indonesia, Indonesische dan Algemeene Studie Club. Ketiga organisasi kepemudaan ini menjadi peletak dasar nasionalisme di Indonesia yang lebih terkonsep dan praktis.
Namun nasionalisme hanya sebagai sebuah simbol nasionalisme politik yang bertujuan untuk memasukan idiologinya. Sebagaimana terdahulu sosialis-komunis mengambil wadah dalam ISDV (Indische Sociaal Demockratische Vereniging) yang dipelopori oleh Belanda dan Indonesia. Dari pihak yakni Sneevliet, Brandstender dan Dekker, sedangkan dari Indonesia adalah Semaun. Namun pada tahun 1920 ISDV berubah nama menjadi Perserikatan Komunis Hindia. Begitu juga dengan SI (Serikat Indonesia), tujuan awalnya sebatas bidang ekonomi yang berdasarkan ajaran Islam. Akan tetapi perkembangaanya berubah masuk wilayah politik yang mana anggotanya tidak hanya orang beragama Islam.
Setiap ideologi menawarkan beragam konsep, gagasan, ide dan langkah praksis untuk mencapai kedaulatan rakyat. Namun masyarakat dapat menemukan dan menentukan pilihannya sendiri sebagai wadah perjuangan. Organisasi menjadi wadah perjuangan, baik organisasi politik, ekonomi, keagamaan maupun sosial seperti dahulu ketika para priyayai tergabung dalam Budi Utomo, kaum santri dalam wadah Sarekat Islam dan abangan memilih PKI.
Inilah keberagaman ideologi di masyarakat kita dahulu, dengan adanya keberagaman ideologi menunjukan bahwa bangsa Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Dari keberagaman itulah keluar satu kata untuk saling bersama menjunjung persatuan dan kesatuan berupa membangun nasionalisme untuk mencapai kemerdekaan. Bagaimana dengan sekarang dimana bangsa ini lepas dari penjajahan fisik, namun masih dibelenggu penjajahan globalisasi sehingga saat ini merasakan ketertindasan ekonomi.
Tahun 2014 ini menjadi momentum kebangkitan atau keterpurukan?, dimana telah meloloskan 14 partai, 3 partai lokal di Aceh. Sedangkan 11 partai tersebut yakni Partai Nasdem, PKB, PKS, PDI-P, Golkar, Gerindra, Demoktar, PAN, PPP, Hanura, PBB dan PKPI. Kesebalas partai tersebut membawa ideologi masing-masing dan memiliki karakter tersendiri. Masih ingatkah kita Partai Cinta Damai, pada pemilu tahun 2009. Partai ini dibentuk oleh kaum tarekat yang digagas oleh seorang ulama ahli ilmu tasawuf yakni Prof. Dr. H. Saidi Syeikh Kadirun Yahya Muhammad Amin, M.Sc. partai Cinta Damai bersifat terbuka yang memiliki visi ilahi yakni Anta Maqsudi wa Ridhaka Mathlubi (Hanya Enkaulah yang kutuju dan Keridhaan-Mu yang kudambakan).
Hal ini menunjukan keterbukaan, apapun ideologimu dan masyarakat bisa menentukan sendiri dimana wadah yang cocok bagi perjuangan dan pilihannya. Beragamnya ideologi tersebut layaknya mejadi tempat untuk membangun nasionalisme baru untuk menjadi bangsa yang berdikari seperti cita-cita pendiri negara ini Ir. Soekarno.

Politik Kepentingan
Sepertinya nasionalisme telah luntur, setiap ideologi memiliki kepentingannya sendiri yang berwujud dan berbentuk partai. Slogan anti korupsi sering terdengar, namun banyak kader partai yang terjerat dalam kungkungan arus korupsi. Adakah partai yang berani melawan musuh yang lebih perkasa dari perilaku korup, musuh itu yakni kapitalisme dan liberalisme yang berwujud globalisasi.
Akan tetapi dengan beragam ideologi yang saat ini ada, dalam membangun nasionalisme untuk kesejahteraan rakyat hanya seperti pepesan kosong apalagi anti neoliberalisme. Partai sepertinya hanya menjadi tempat nasionalisme politik, begitupun masyarakat cenderung apatis terhadap partai. Hal ini sesuai pandangan, tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini. Kata-kata itu menjadi slogan jiwa masyarakat pada umumnya sehingga melahirkan politk transaksional. Dengan politik transaksional cara berfikir manusia mengalami perubahan baik cara manusia berfikir dalam berpolitik maupun berbudaya.
Partai politik dan ideologinya pada akhirnya menempati kedudukan yang terhormat di era demokrasi. Memiliki kedudukan terhormat ini dikarenakan partai politik menjadi lumbung perwakilan bagi rakyat. Seiring politik transaksional, partai politik menjadi tawar menawar dalam artian bahwa partai politik yang mengedepankan ideologinya sepertinya akan sulit bersaing di pemilu 2014 ini. Sekarang ini partai politik lebih mengedepankan seorang tokoh dibandingkan dengan ideologi seperti PDI-P dengan Jokowi, Hanura dengan Wiranto, PBB dengan Yusril Ihza Mahendra, dan Golkar dengan Aburizal Bakrie. Sosok figur menjadi penentu kemenangan Partai untuk menarik simpati masyarakat.
Tidak ada lagi semangat nasionalisme untuk berdirkari, apalagi anti neoliberalisme. Itulah sepengal kalimat yang cocok untuk politik transaksional sekarang ini. Isu membangun nasionalisme dan anti neoliberalisme hanya sebatas senjata para politisi untuk menarik simpati publik. Tidak seperti dulu nasionalisme sebagai simbol politik yang bertujuan memasukan ideologinya, kini nasionalisme hanya sebatas untuk kepentingan partai politik dan kepuasan individu serta dinasti politik.
Seperti perkataan Tan Malaka dalam bukunya, Merdeka 100%, Tiga Percakapan Ekonomi Politik; Saatnya kita merdeka 100% yang berarti negara benar-benar memiliki kekuatan untuk mengatur bangsa dan negaranya sendiri. Uang tidak perlu! Tapi yang perlu ialah kemerdekaan 100%. Sekali lai! Uang sebagai kapital asing tidak perlu, malahan membahayakan. 
Semoga perkataan Tan Malaka menjadi pemicu semangat kebangsaan, untuk membangun kembali nasionalisme yang berideologi. Dicari wakil rakyat yang merakyat dan presiden anti neo-liberal.

*Tulisan dimuat dalam Majalah Ber-SUARA LAPMI Cabang Semarang Edisi XXVIII April 2014M/1435H
Info & Berlangganan : lapmics@gmail.com


Kamis, 05 Juni 2014

KEKERINGAN INTELEKTUAL SEBAGAI IDENTITAS APATISME KADER



Oleh: Ahmad Mas’ud (Komisariat Syari'ah IAIN Walisongo Semarang)

Sepintas agak mengerikan ketika coretan demi coretan penulis goreskan diatas lembaran putih ini, rasa gelisah mulai menghampiri benak fikiran yang juga berstatus sebagai kader HMI. Terpaksa lahirlah tulisan dari perenungan alam bawah sadar yang serasa menyesakkan hati. HMI, begitulah namanya yang sangat sakral dan penuh arti. Dimana HMI sebagai organisasi mahasiswa tertua di Indonesia dan telah menyumbangkan aspirasi kepada pemerintah dan ikut serta dalam kontrol sosial kepada rakyat. Secara tegas didalam khittah perjuangan HMI merupakan paradigma gerakan atau manhaj yang merupakan pilihan ideologis. Yaitu prinsip-prinsip penting dan nilai-nilai yang dianut oleh HMI sebagai tafsir utuh antara azas, tujuan, usaha dan independensi HMI.

Dilihat dari tujuan HMI yaitu kata insan ulil albab, sebagai kader pemikir yang kritis di berbagai bidang, intelektualitas sebagai simbol yang dijunjung. Ini mungkin menjadi refleksi aktualitas kita sebagai tanggung jawab sosial, cak nur pernah berkata dalam forum HMI “anda semua itu ahli waris Indonesia yang paling representatif”. Tetapi rekan-rekan sebagai kader HMI sekarang ini seakan-akan melihat sebelah mata akan komitmen pada cita-cita dan spirit perjuangan berproses menjadi seorang insan pemikir, intelek dan peka. Terhanyut pada arus nafsu yang menyesatkan, down nya budaya semangat membaca, bolongnya forum diskusi,  jebolnya karya kreatif kader dalam menorehkan tinta emas diatas lempengan perak peradaban dan karya ilmiah dibidang keilmuan, keislaman, realitas sosial dan sebagainya. Yang menjadi pertanyaan siapa yang disalahkan, siapa yang bertanggung jawab atas keringnya karya, sumbangsih peradaban, maupun aura gerakan kader?”, banyak yang bersifat apatis, mementingkan dirinya sendiri, bersifat senioritas atas kader dibawahnya ini mungkin terjadi, ketidak seriusan mendekati, membimbing dan mengarahkan kader baru setelah LK 1, kurangnya ngopeni, -ngingoni, -ngragati,-ngayomi kader biasa terhadap bawahnya, sehingga menimbulkan sebab buta arah melangkah sang kader baru. Fenomena buta arah menyebabkan gagalnya cetakan calon sang ideologi dan non aktifnya jasad, dikotomi hubungan harmonisasi antar kader karena suatu hal, yang menyebabkan terjadinya miss bahkan mendiskreditkan antar kader HMI, yang memungkinkan perpecahan pendapat dengan membentuk firqoh maupun berpoligami dengan  firqoh yang lebih nyaman.

Refleksi diri

Tidak ada organisasi yang sempurna di muka bumi ini, Organisasi hanyalah merupakan wadah pengembangan skill mahasiswa. Lebih dari itu HMI merupakan organisasi yang orientasinya pada keimanan, islam dan amal, yang ketiganya saling bersinergi dan singkron bagaikan pohon dengan akarnya, batangnya beserta cabang dan buahnya yang saling berkaitan dan menguatkan. Dan ketiga unsur tersebut mati apabila tidak ada roh maupun jiwa keseriusan yang hidup dan mengisi didalamnya. Membuang rasa arogansi, apatisme, senioritas dan merefleksikan maupun muhasabah diri, apa yang baik di junjung, apa yang kurang dilengkapi, apa yang jelek dibuang dan di pendam dalam-dalam dalam relung bumi. Mencontoh perjuangan para pendahulu intelektual yang telah mencurahkan dirinya terhadap HMI ini, dan harapan utama para kader HMI dapat menjadi pengganti sang maestro intelektual terdahulu. Amin

Semarang, 29-12-2013

*Tulisan dimuat dalam Majalah Ber-SUARA LAPMI Cabang Semarang Edisi XXVII Maret 2014M/1435 H
Info & Berlangganan : 085640281855

Senin, 02 Juni 2014

MAHASISWA KOLOT,TANTANGAN BAGI HMI UNTUK MENCIPTAKAN STRATEGI BARU DALAM PERKADERAN



Oleh: Beta Wijaya (Komisariat FPBS Universitas PGRI Semarang)


Sekarang ini untuk mengkader mahasiswa bukanlah hal mudah. Memang sangat sulit menghadapi mahasiswa sekarang ini. Walaupun pada era setelah reformasi ini begitu demokratis namun hal ini sama sekali tidak memperkuat jiwa kekritisan seorang mahasiswa. Mereka acuh tak acuh menghadapi kebobrokan bumi pertiwi ini, hal ini mungkin di karenakan mereka sudah teracuni oleh era globalisasi ini yang membuat mahasiswa menjadi terlena dan kolot.

Padahal pada zaman era orde baru seluruh mahasiswa se-Indonesia bersatu padu merebut demokrasi untuk pembebasan otoriter ini, demi untuk kemajuan tanah air tercinta ini dari kekangan sang otoriter dan kroni-kroninya, dan khususnya untuk kebebasan berdemokrasi oleh seluruh rakyat, padahal pada dasarnya pemerintah itu bekerja hanya untuk rakyat. Mengenai kebobrokan mahasiswa sekarang ini membuat si penjajah negeri sendiri menjadi merajalela

Dalam usaha mengembalikan jati diri mahasiswa HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) turut berupaya didalamnya. Salah satunya dengan melalui kegiatan-kegiatan, Misalnya diskusi- diskusi intelektual dan kegiatan social. Pada realitas sekarang mahasiswa masih banyak yang kolot sehingga mereka malas dalam berkegiatan apalagi diajak untuk aktif dalam kegiatan ber HMI sehingga dibutuhkan strategi-strategi khusus dalam usaha merekrutnya. “Dalam perkaderan HMI ini, pengkader mempunyai suatu upaya-upaya yang salah satunya adalah pendekatan secara personal yaitu dengan cara mengajak melalui hobi-hobi atau minat sasaran yang akan dijadikan kader ’’ ujar, Hasan Fuadi (21) Ketua KPC (Korp Pengkader Cabang).

Selain itu beliau juga menegaskan selain melalui pendekatan personal seorang pengader harus memiliki suatu inovasi dalam hal upaya perkaderan di era sekarang ini. Salah satunya dengan memanfaatkan dunia maya ini yang sangat mudah sekali diakses dimanapun dan kapanpun. Hal ini memudahkan untuk mencari kader-kader penerus generasi dengan melalui pendekatan di jejaring social misal facebook, twitter dan lain sebagainya. Ini sangat memungkinkan karena dunia maya bukanlah dunia bawah mimpi lagi, namun dunia maya sudah membaur dengan dunia nyata, bahkan sekarang itu adalah kebutuhan bagi penghuni dunia nyata saat ini.

 Mengenai kesulitan pencarian kader pada jaman kolot sekarang ini membuat mahasiswa  menjadi berpikiran kolot, hal ini memanglah sangat sulit memperangi jiwa kekolotan mereka oleh karena itu harus selalu berinovasi dalam strategi perkaderan ini memanglah bijak dilakukan demi keberlangsungan dan loyalitas HMI. Namun walau hanya ada 1 atau 2 kaderpun itu tak masalah, asal mereka tetap kritis dan selalu berjuang demi HMI dan terutama demi bumi pertiwi yang jaya ini.


*Tulisan dimuat dalam Majalah Ber-SUARA LAPMI Cabang Semarang Edisi XXVII Maret 2014M/1435 H
Info & Berlangganan : 085640281855

Kamis, 29 Mei 2014

Cerpen: BIARKAN BERLALU



Oleh: Reni Aprilia Ekasari (Komisariat FPBS Universitas PGRI Semarang)

Semarang, 2 April 2013
  Lima belas hari lagi usiaku genap 20 tahun tapi aku yakin belum ada sesuatu yang berkesan dalam hidupku selain rutinitasku selama ini. Belum ada sesuatu yang menginspirasiku untuk suatu perubahan yang bisa ku rabah hasilnya diwaktu ini. Namaku Reva Fauziah tapi kebanyakan yang mengenalku memanggilku Re, entah dengan motiv apa mereka memanggilku seperti itu yang jelas aku nyaman dengan panggilan itu. Meskipun selama ini belum ada sesuatu yang merubahku tapi akhir- akhir ini ada satu masalah yang prediksiku bakal buat hari Ultahku ngag sempurna. Tahu kenapa?
Begini aku punya kekasih namanya Anam kita satu kampus beda fakultas, jelasnya lagi dia kakak kelasku, satu periode di atasku. kita baru aja pisah entah apa persepsinya tentang problem hubungan ini, tapi bagiku inilah makna lain dari kata putus. Kebanyakan orang memaknai putus adalah sesuatu yang menyakitkan dan tepat itulah yang aku rasakan saat ini.
Dari : OnyetQ
18/02/3013
15:34
kngen dek, qu lega rsanya udah dpet izin pcran dri ort, tapi dri ortu nikahnya harus usia 27 thun, gmn dek?
Itu message dari mas Anam yang membuat aku optimis ini adalah pintu gerbang untuk mewujudkan harapan kami ke depan. Message ini juga yang membangun kembali hatiku yang sebelumya sempat hancur. Entah karena apa hatiku memilihnya, yang aku sendiri belum begitu tau perasaanya ke aku kayak gimana. Kemarin pas hubungan kita sekitar tiga bulanan mas Anam menghilang entah untuk apa. Ia beralasan ingin fokus sama UASnya bulan Januari, dari alasan ini aku merasa ndak pernah mengganggunya berkaitan dengan study, tak seperti kebanyakan pasangan kekasih yang ini-itu harus selalu diturutin, yang mau-ngag mau, bisa-ngag bisa harus ketemu tapi entah kenapa ia pilih alasan demikian. Hari demi hari UAS pun usai tapi tak kunjung membuat ia menunjukan rasa sayangnya ke aku, malah semakin ia menjauhiku jangankan sekedar menyapa menatap pun sepertinya ogah. Sampai- sampai rencanaku yang ingin membuat surprize di hari Ultahnya tanggal 26 Januari lalu, pun turut gagal karena problem yang aku sendiri tak begitu faham penyebabnya. Ku terima kabar lagi alasan yang ke dua kalinya adalah ia belum dapat restu pacaran dari Ortunya. Meskipun begitu aku tetap bisa terima, walau jarak yang begitu jauh ini, perasaan bimbang ini, rasa sakit ini harus ku kubur jauh didasar hati hingga tak seorangpun mengerti makna kecerian yang senantiasa aku sajikan di wajahku tak  terkecuali  dengan dirinya. Semua ini aku lakukan karena memang aku  menyayanginya.
Hingga akhirnya aku peroleh message itu, harusnya aku berontak, harusnya aku marah, harusnya aku pergi, harusnya aku pilih putus tapi semua itu tak ada yang aku lakukan walaupun tak ada yang berpihak kepadaku. Bahkan ketakberpihakan itu nyata aku peroleh dari orang- orang terdekatku.
“Alah Re, kenapa dengan kamu? Apa istimewanya dia? Apa kamu pikir di dunia ini cuman ada dia?!” Sungut Pupu suatu ketika, yang hanya aku balas dengan senyuman.
“Mbak Re, apa yang kamu suka darinya? Apa dia membuatmu bahagia?” Sahut satu lagi kawanku yang bernama Yani.
“Lho kok gitu dek?” Sambil berlalu ku bela diriku yang sudah merasa terpojok tanpa pembela, namun aku yakin mereka seperti itu karena tak tega melihatku terpuruk. Pilihan terakhir yang aku pikir bisa sejalan dan cocok dengan hatiku yaitu kawanku yang bernama Sukma. Tanpa berpikir panjang aku telah keluar dari kamarku dan telah sampai dikamar sebelahku, yang tak  lain adalah kamar Sukma.
“Kenapa mbak?” Mendadak Sukma menyapaku dengan sedikit panik . Sikap yang demikian ku artikan sebagai bentuk partisipasinya sebagai sahabat. Tanpa sungkan- sungkan ku ungkapkan semua yang ku alami selama liburan kemarin.
“Nggih dek, mas Anam masih sayang aku, aku yakin itu dek. Cuman memang seperti inilah cara ia menuangkan perasaan sayangnya ke aku, seperti inilah realisasi cintanya.” Kalimatku mengakhiri curahan hati kepada Sukma.
“Iya udah mbak, kalau mbak sudah yakin ya dipertahanin aja. Yakinlah kalau tak ada pengorbanan yang sia-sia meskipun harus perasaan yang jadi korbannya mbak.” Dengan ekspresi yang ceria, seperti biasanya Sukma membuat aku semakin yakin dengan keputusanku. Tak ada ungkapan lagi dariku baik itu berupa sanggahan ataupun sebuah kalimat tanya. Refleks yang aku lakukan hanya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan bersama dengan sunggingan di bibir tipisku.
“Begitu dong, gag boleh sedih lagi. Lagian mbak kan pernah bilang bahagia akan tiba pada waktu yang tepat” dengan tanpa menghentikan kesibukannya Sukma masih menenteng sapu lantai di tangan kanannya.
“Nggih dek” jawabku pasrah pada waktu.

* * *
Mulai dari sinilah buhunganku dengan mas Anam kembali normal, bahkan lebih baik dari sebelumya, yang aku rasakan bukan hanya kasih sayangnya tapi juga kesabaranya membimbingku menjadi sosok yang baik di mata orang-orang disekitarku juga Insyaallah baik di hadapan Tuhanku. Sebutan anak manja yang dulu menempel di kepribadianku surut-menyurut kian berkurang walau. Bersamaan dengan itu kini aku mulai merintis Semester 4, kebanyakan orang berpersepsi kalau semester pertengahan bagi seorang mahasiswa adalah semester yang harus ekstra hati-hati dan jangan terlalu dibuat hati karna akan banyak cobaan yang menghadang. Untuk awalnya aku kurang sepakat dengan persepsi itu. Ku awali semeter ini dengan lebih mengenal dan masuk dalam organisasi baik Internal maupun Eksternal yang aku anggap sesuai dengan tujuanku dan aku berniat akan menyibukkan diri dengan senantiasa mengusahakan kontribusi untuk itu. Dari Internal sendiri aku kini sebagai Staff Bidang Pers dan Jurnalistik, di UKM aku juga anggota rebana walau masih dalam tingkatan pemula. Sedangkan di Eksternal aku ikut salah satu organisasi islami yang pelantikan kepengurusannya sebentar lagi. Kontribusi awalku untuk eksternalku ditandai dengan pindahanku ke Wisma organisasi yang membuatku harus meninggalkan sahabat-sahabat penyemangatku. Walaupun awalnya sangat sulit karena harus meninggalkan mereka, memulai dengan kawan- kawan baru yang semula belum begitu mengenal sisi lain mereka apalagi mas Anam juga belum begitu setuju dengan keputusanku. Namun yang ada dipikiranku adalah bagaimana caranya aku bisa senantiasa stand by setiap kali ada agenda organisasi.
Hari demi hari kujalani dengan bersemangat mungkin karena semangat dari mas Anam pula, kadang rasa capek berubah menjadi semangat menggelora. Posisi mas Anam juga satu Eksternal denganku tapi beda Kompi. Dulunya sih ia benar-benar menolak turut serta dalam Organisasi ini. Ku pikir dengan turut serta dalam Organisasi Islam ini akan sangat membimbing hubunganku dengannya  jadi bersihkeras ku bujuk ia hingga akhirnya terbukalah pintu hatinya untuk turut serta dalam Organisasi ini. Setelah aku berada dan turut mengayuh bersama organisasi- organisasiku, aku merasa semakin cinta  dan memiliki tanggung jawab di dalamnya. Meskipun aku tau organisasi Internalku bertentangan dengan eksternalku, tapi aku pikir itu hanya hasil dari mereka yang salah persepsi. Dari sini aku berpikir seandainya antar organisasi faham dan saling menghargai visi- misi satu sama lain pastilah kampus ini akan damai, itu baru lingkup kampus belum lagi organisasi- organisasi besar lingkup Negara. Oleh karena itu sebisa mungkin aku tetap bertahan karena dari sini pulalah aku memulai perjuangan, sekalipun baru titik terkecil dari sistem negeriku. Tak salah aku meluruskan niat untuk berorganisasi. Di Internal aku bisa bersumbangsih untuk Progdiku, di eksternal aku bisa bersumbangsih untuk Agamaku, ku berpikir apa yang aku bisa lakukan untuk Agamaku selain memulainya dari diri sendiri dan yang ada di sekitarku?
“dhek, mas diminta menjabat sebagai Kabit Kerohanian. Pripun dhek?” suara lirih mas Anam dari sambungan telepon yang sontak membuat aku bangga pada sosok kekasih sepertinya.
“Nggih bagus ta mas, itu tandanya njengan dianggap mampu. Aku yakin mas mampu untuk itu, jadi kenapa ngag?” sanggahku dengan sedikit sifat sok tauku namun tetap dengan ketulusan sepenuh hati.€
“Bener dhek? walau itu artinya kita harus benar-benar merubah segalanya dari saat itu”. Masih seperti tak percaya, agaknya kalimat itu dilontarkan mas Anam padaku.
“Nggih mas, lha memangnya kenapa? toh memang seperti ini lebih baik, njengan bebas dengan kesibukan njenengan begitu juga denganku namun tak menghapuskan perasaan kasih kita satu sama lain. Aku rasa itu akan lebih baik” jawabku meyakinkan kekasihku untuk pengambilan keputusannya.
“Ou nggih sampun nek ngoten dhek, lha njenengan sampun pelantikan?” Tanya mas Anam yang aku artikan sebagai bentuk perhatiannya kepadaku.
“Alhamdulillah sampun mas, kemarin. Aku Straffnya mbak Fatmah di bidang Perkaderan” Sedikit malas-malasan ku jawab pertanyaan yang baru saja ku dengar itu.
“Nggih bagus ta dhek, pripun mpun kerasan di Wismanya?” masih terus memberikan semangat seakan ucapan itu dilontarkannya pada ku.
“Iya begitulah seperti yang njenengan lihat saat ini” sambil terus membolak-balik buku yang dari tadi ku pegang dan tak sedikitpun ku lirik.
“Nggih sampun, semangat nggih” ucap mas Anam tanpa meninggalkan konotasi memotivasi.
Hingga tak terasa perbincangan kami telah berakhir, yang hasilnya ditunjukkan dengan perubahan wajah kucelku menjadi secerah bulan purnama saking bahagianya. Aku bersyukur mengenalnya, berkesempatan menyayanginya walau aku tak tau seperti apa perasaannya ke padaku. Andai sebuah gelas maka cintaku padanya seperti air mengalir yang mengisi gelas itu hingga penuh bahkan melebihi volume, meski hati ini terus menangis menahan rasa sakit yang sering kali menghampiri karenanya tapi kulakukan semua demi cinta. Sampai kadang terbesit dalam benakku Bagaimana jadinya aku bila harus tanpanya, yang segera ku tepis pikiran konyol itu. Terkadang aku tak mampu menyimpan perasaan ini sendiri tapi tiap aku ungkapkan pada kawan-kawanku yang aku dengar kebanyakan adalah kontra akan ungkapanku.
“Kok bisa sih Re kamu segitu sayangnya sama seseorang?” Kata seseorang yang aku tuakan di Wisma  yang akrab ku panggil Ukhti yang sering kali aku abaikan.
“Aku yakin suatu saat kamu akan tau mengapa aku menyayanginya ukht” jawabku asal-asalan sebagai bentuk pembelaan tak nyata dariku.
“Emt, Re aku jujur pengen banget punya pacar. Entah kenapa aku pikir dengan aku punya pacar aku bisa berjuang bersama dia dalam segala hal” Balas Ukhti yang kemudian membuatku terkekeh.
“Kok bisa gitu Ukh?” tanyaku semakin penasaran padanya, soalnya dia baru aja dilantik sebagai salah satu Kabit dalam struktur kepengurusan kemarin denganku.
“Iya bisa aja, kan enak tuh.” jawabnya ringan diikuti senyuman imutnya.
“Ukh, denger-denger mas Anam pas pelantikan nanti juga diberi amanah Kabit” ungkapku lirih sejajar dengan suara  bisikan actor di panggung teater yang biasa aku saksikan.
“Ou, ya bagus dong” seraya melepas jilbab.
“Hemmt…” aku sebagai lawan bicaranya hanya bisa menarik nafas penuh harapan.
Padahal berawal dari sinilah perasaanku mulai tak seperti biasanya. Perasaan takut kehilangan sosok kekasih yang aku sayangi karena suatu hal, dan entah alasan apapun. Namun tetap aku yakinkan hati ini bahwa ia yang aku sayangai tak seperti perkiraanku. Dengan begitu aku akan tetap bersemangat dalam segala agendaku kemudian. Sampai beberapa hari setelah percakapan itu, seingatku hari senin tanggal 25 bulan 03 sekitar pukul sebelas siang kuterima message dari mas Anam.
Dari: OnyetQ
25/03/2013
Dek ada yang ingin qu bcrakan, dan ne mslah serius.
Setelah tuntas membacanya aku kaget, ini message pertama darinya setelah message  beberapa hari yang lalu. Membuat ku penasaran apa masalah yang ingin ia bicarakan itu, dua menit kemudian telah terkirim message balasan ku.
Dari: aQ M3
25/03/2013
Nggih ngomong mawon mz, mslh npo?
Tak seperti beberpa hari yang lalu, dimana aku butuh waktu bermenit-menit hanya untuk satu message balasan darinya. Kali ini message balasannya begitu cepet.
Dari: OnyetQ
25/03/2013
Dek kita harus mengakhiri hubungan ne smentara wktu, karena hanya itu yang harus qu lakukan sebelum pelantikan Kabit.
Ironis. Seakan perasaan tak enakku selama ini telah terbukti dan inilah bukti nyatanya. Sempat terlintas dalam benakku kalimat bijak yang pernahku dengar Logika memang tau bagaimana membuat keputusan yang benar, tapi hati tau mana yang bisa membuat bahagia, bahkan jika itu keputusan yang salah. Aku tak bisa lagi membendung air mataku, satu menit saja aku telah berhasil memerahkan seluruh wajahku, membuat mendidih hati yang tadinya membatu.
Dari: aQ M3
aQ akan bljar ikhlas mz…
Insyallah,,,
nggih maav aja nek slama ini aQ banyak salah…
maksih bwt smua yg pernh mz berikan kpdQ mz…
mkasih…

Entah apa yang ada dipikiranku hingga hanya balasan seperti itulah yang bisa aku kirimkan.
Dari: OnyetQ
25/03/2013
Tapi qu mau ngomong langsung dlu sm njengan dhek.
Awalnya ku tolak ajakan yang ku pikir hanya akan membuatku lebih hancur itu. Aku optimis banget pembelaanku tak akan ada artinya jika memang keputusan awal yang ia buat seperti itu, aku bersamanya sudah 8 bulan jadi aku yakin aku lebih mengerti dia di banding kawan-kawan barunya. Karena hatiku gelisah banget setelah itu, maka aku lebih memilih bisa dekat dengan semangat-semangatku, mereka sahabat-sahabatku yang selalu ada untukku. Bahkan ketika itu juga Yani langsung menjemputku, menenangkan diriku.
Satu hari aku tak berada di wisma hingga sore harinya. Aku sengaja menghindar entah kepada siapa, tapi entah kenapan di kampus aku di pertemukan dengannya disaat aku benar-benar kalut. Aku tak ingin terlihat lemah dihadapannya, namun apa yang aku bisa?
Sore harinya mas Anam menemuiku, aku tak bisa menolak karena jujur aku masih ingin melihatnya walau hanya 1 detik.
“Pripun dek, aku cuman ngag mau mereka tau, aku telah pacaran sama njengan setelah pelantikanku. Aku pengen mereka tau dan dengan itu bisa dijadikan pertimbangan mereka” ucapnya lirih tanpa sedikit senyum dibibirnya.
“Tapi mas… Apakah ini harus?” tanyaku sedikit menyelidik.
“Kemarin sempet Ukhti Nana, sama Akhi Roni menegurku agar bisa-ngag bisa kita harus pisah. Bahkan sempat ia menganggapku ngag percaya sama Kuasa Allah karena telah pacaran. Tapi aku janji dek, akan ku tunggu sampai adek lulus”. Seakan kalimat itu telah dihafalkan lama sehingga begitu lancarnya mas Anam mengucapkannya.
Aku tak mampu berucap lagi, hanya air mata yang belum berhasil ku hentikan yang mewakili ungkapan hatiku.
“Apa kita sama-sama keluar saja dek? Jika itu yang bisa membuatmu lebih baik” masih tanpa senyuman mas Anam memberikan penegasan itu dan aku yakin itu bukan kehendak hati yang sesungguhnya, hal seperti itulah yang tak ku suka.
“Ndak mas, jika salah satu dari kita keluar hanya karena masalah kayak gini aku ngag suka. Ok mereka ngag salah telah membenarkan larangan_Nya, dan aku juga ngag akan memaksa njengan buat mempertahankanku” sanggahku tanpa berpikir panjang lagi. Sampai sempat terbesit dalam benakku satu kata orang bijak, bahwasannya Orang yang benar-benar menyayangimu tak akan kehabisan alsan untuk mempertahankanmu dan tak akan mencari alasan untuk meninggalkanmu.
“Nggih sampun dek, tak ada kata putus diantara kita” ucap mas Anam kemudian yang seakan terpaksa.
Aku terdiam tanpa kata, tak tau apa yang harus aku tanyakan atau aku sanggah ataukah aku usulkan selain diam dan mencoba mengerti. Hingga mas Anam mengakhiri percakapanny dan berpamit pulang. Tanpa dendang ku langkahkan kakiku yang semakin loyo ke dalam kamar. Setelah kejadian itu jarang lagi ku dapat kabar tentangnya, ingin hati mengirim message tapi segera ku tepis karena  aku tak yakin akan ia respon. Meski terkadang masih satu dua message ku terima darinya namun diriku merasa begitu terbebani, aku masih bingung apa statusku dihadapannya, apa artinya kehadiranku untuknya, masihkah aku diharapkan ataukah hanya sebuah keterpaksaan saja agar aku tak melakukan suatu hal bodoh sebagai pelampiasan sakit hatiku. Aku tak menyalahkan siapa-siapa atas kejadianku ini, aku yakin akulah yang salah.





Kamis, 22 Mei 2014

INDEPENDENSI POLITIK KAUM INTELEKTUAL*



Oleh: Noor Rochman (Direktur LAPMICS)

Karakter kepemudaan dan keintelektualan memungkinkan seseorang atau gerakan memiliki sikap independen. Gerakan kepemudaan dan keintelektualan yang selalu secara tegas menyatakan independen salah satunya adalah HMI yang dalam Anggaran Dasarnya menyatakan diri “organisasi ini bersifat idependen”. Independensi HMI tersebut merupakan pernyataan sikap terhadap semua kebenaran dari Allah SWT, memperjuangkan tanpa mengenal lelah dan siap menerima resiko perjuangan, memihak kepada siapapun yang juga memihak dan memperjuangkan nilai kebenaran, dan akhirnya semata-mata menggantungkan diri kepada Allah SWT dalam segala urusan (Khittah Perjuangan HMI).

Sedangkan, di kalangan LSM, independensi gerakan berarti tidak berpihak kemana-mana kecuali pada donor. Memberikan dukungan kepada sebuah kelompok politik tertentu adalah haram, nista, harus dijauhi. Politik kita adalah politik yang independen, begitu mantranya. Bagi gerakan kiri, yang bangkit kembali di akhir masa kekuasaan rezim orde baru, independensi gerakan tidak ada dalam kamus. Pilihannya hanya anti-Soeharto atau pro-Soeharto, kawan atau lawan, revolusi atau mati (http://indoprogress.com/2014/04/independensi/).

Edward W. Said (1998) mendefinisikan intelektual sebagai individu yang dikaruniai bakat untuk merepresentasikan dan mengartikulasikan pesan, pandangan, sikap atau filsafat kepada publik. Edward W. Said lebih menyukai batasan intelektual yang diberikan oleh Antonio Gramsci salah seorang idolanya di bidang intelektual. Di dalam buku Gramsci yang berjudul Selections From Prison Notebooks (1978), Gramsci mengatakan ‘semua orang adalah intelektual, tapi tidak semua orang memiliki fungsi intelektual’. Gramsci mengelompokkan dua jenis intelektual. Pertama, intelektual tradisional semacam guru, ulama, dan para administrator. Kelompok pertama ini menurut Gramsci dari generasi ke generasi selalu melakukan hal yang sama. Kedua, intelektual organik, yaitu kalangan profesional.

Kaum intelektual memiliki peran politik dalam menentukan setiap perubahan, dengan basis keilmuan yang dimiliki, tidak jarang ide-ide mereka lebih diterima oleh masyarakat ketimbang kebijakan publik yang dikeluarkan negara. Namun, tak jarang kaum intelektual yang memberikan dukungan politiknya kepada rezim penguasa yang menyebabkan kaum intelektual kehilangan independensi politik dari gerakannya. Bisakah kaum intelektual memiliki sikap independen, bahkan ketika kita telah menyatakan dukungan terhadap pihak lain?

Setowara, Subhan & Soimin (2013) menyebutkan ada tiga posisi yang bisa menghambat kaum intelektual untuk berperan optimal, Pertama, kaum intelektual yang berada dalam sebuah rezim hegemonik yang memungkinkan mempertahankan idealismenya, namun tidak sedikit yang menjadi alat negara. Kedua, kaum intelektual yang berpolitik praktis akan berhadapan dengan dunia kekuasaan yang dalam bahasa YB Mangunwijaya (1997) dicirikan korup, mental pencuri, pembohong, main tipu, suka yang semu, mengedepankan kepentingan, dan tidak kenal fair play yang berbeda dengan dunia intelektual yang bersih, selalu berpijak pada kebenaran, dan berjuang atas nama kebenaran. Ketiga, kaum intelektual yang memang tidak masuk dalam kekuasaan, namun ide dan wacana yang mereka gulirkan sengaja berpihak atau dibeli golongan atau penguasa tertentu.

Dalam situasi apapun, posisi kaum intelektual harus tetap mengabdi pada kebenaran serta cita-cita luhur yang didambakan masyarakat agar idealisme dan independensinya tidak tercerabut.
Meminjam pendapat Paul Ricour, kaum intelektual idealnya melakukan distansi kultural dengan mengambil jarak terhadap objek yang dia kritik. Namun, bukan berarti dengan independensi kaum intelektual menutup ruang gerak untuk melakukan kerja sama dengan kelompok atau individu lain baik yang berada dalam struktur pemerintahan maupun yang berada di luar struktur, kaum intelektual harus tetap bertindak sebagai pengontrol terhadap kebijakan yang mesti disikapi. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang utuh tentang independensi oleh kaum intelektual agar mampu mengejawantahkan independensi dalam ranah politik.  

Independensi dalam khittah perjuangan HMI (MPO) selalu dikaitkan dengan kemerdekaan sebagai fitrah dasar manusia. Menurut Borneo, Sabara Putera (2011) kemerdekaan adalah sebuah pemihakan yaitu pemihakan terhadap segala sesuatu yang berasal dari dan bertujuan kepada kebenaran (dalam hal ini ideologi Islam). Pemihakan tersebut tercermin dalam kerja-kerja kemanusiaan atau amal saleh yang menajdi rahmat bagi umat manusia dan alam semesta. Kemerdekaan dalam artian pemihakan secara penuh terhadap kebenaran memerlukan pengorbanan dan bahkan penderitaan yang cukup berat. Oleh karena itu, dituntut konsistensi sikap yang tercermin dalam sikap kritis, obyektif, dan progresif dalam memahami dan menyikapi realitas yang berkembang.

Selain “pemahaman utuh” tentang independensi kaum intelektual harus memiliki karakter ulil albab jika ingin menjaga stabilitas independensi di ranah politik, kenapa harus karakter ulil albab? Sikap independensi meniscayakan hadirnya beberapa sikap utama dalam diri seorang yang dikatakan dalam khittah perjuangan, independensi merupakan derivasi dari karakteristik insan ulil albab, yaitu:
“…Cenderung kepada kebenaran, (hanif), merdeka, kritis, jujur, progresif, dan adil. Dengan kata lain sikap independensi diwujudkan dengan kesanggupan untuk berbuat dan bertindak secara mandiri dengan keberanian menghadapi resiko. Sikap independensi menuntut tiap-tiap individu dalam jamaah dapat mempengaruhi masyarakat dan mengarahkan sistem kemasyarakatan ke arah yang dikehendaki Islam. Secara teknis sikap independensi juga memestikan kader untuk selalu tunduk pada ketentuan organisasi dan memperjuangkan misi organisasi. Serta tidak dibenarkan untuk membangun komitmen dalam bentuk apa pun dengan pihak luar yang bertentangan dengan yang telah diputuskan secara bersama.”

Amirullah, M Chozin (2010) menyatakan sikap independen akan muncul dari kekuatan tauhid yang kokoh. Seseorang yang meyakini ke-esaan Tuhan dengan penuh, maka pada dirinya sudah tertanam jiwa-jiwa independen. Seseorang yang bertauhid, padanya tidak ada yang ditakuti selain Tuhannya. Seseorang yang bertauhid tidak ada lagi kepentingan materialistik dalam perbuatannya, sehingga tidak akan mudah tergoda oleh tawaran-tawaran pragmatis dalam bertindak. Yang menjadi acuhan dalam tindakannya adalah Allah, sementara lainnya adalah nisbi. Maka itulah jiwa-jiwa independen yang sesungguhnya.

Jiwa independen bisa dimunculkan dari seseorang yang memiliki kedalaman aqidah dan selalu menjaga aqidah tersebut dengan selalu aktif mendekatkan diri padaNya. Jiwa-jiwa independen inilah yang harus ditanamkan ke dalam setiap kaum intelektual sebelum mengambil peran politik agar selalu berpihak yakni terhadap kelompok lemah yang tertindasdan siap mengambil posisi kritis terhadap suatu otoritas meskipun menjadi kaum pinggiran kalau dilihat dari pemilikan, kuasa dan kehormatan.

*Tulisan dimuat dalam Majalah Ber-SUARA LAPMI Cabang Semarang Edisi XXVIII April 2014M/1435H
Info & Berlangganan : 085640281855

Popular Posts

 

© 2013 LAPMI CABANG SEMARANG. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top