This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 07 Februari 2012

Menjaga Tunggal Genus Beragam Spesies HMI

Oleh : Lukman Wibowo
Catatan : Artikel ini telah dimuat di Koran WAWASAN, 4 Februari 2012
Source : www.koranwawasan.com

Ibarat pohon, HMI adalah pohon yang berbuah. Hukum alam yang sulit dihindarinya adalah, dari buah tersebut, selain pasti ada yang matang ranum, rusak oleh hama, jatuh sebelum masak, dan pasti pula ada yang busuk lantaran faktor tertentu. Itu lumrah. Persoalannya, berapakah persentase buah yang berkualitas baik dan berkualitas buruk? Jika persentasenya imbang, maka pohon itu bermasalah. Jika lebih banyak yang berkualitas buruk, maka pohon itu amat-sangat bermasalah. Jawaban terbaiknya, tentu HMI harus diposisikan sebagai pohon industri. Artinya, HMI mestilah menghasilkan buah kader yang layak jual di masyarakat.
Tentu HMI tak sama dengan sebuah pohon. Ini hanya analogi. Sebagaimana diketahui, dalam analogi, kemiripan yang dikembangkan terbagi menjadi dua: physei (mirip realitas) dan thesei (tidak mirip realitas). HMI dan pohon ada pada konteks physei. Dari physei—seperti yang disarankan Plato—analoginya dapat dipindahkan ke dalam thesei. Ini berarti, logika perkaderan HMI, dari physei pohon, dapat dimasukkan ke struktur lain pada konteks yang lebih bebas.

Keterikatan Genus, Kebebasan Spesies
Berpindah ke klasifikasi ilmiah biologi, struktur tertingginya adalah kingdom (kerajaan) dan diferensiasi yang paling bawah disebut genus lalu species. Jika Islam adalah kingdom, maka HMI adalah salah satu genus turunannya. Layaknya genus yang tidak bersifat spesifik, HMI eksis sebagai organisasi yang plural. Kepada individu kader yang ada di dalamlah, logika spesies bisa dinisbatkan.
Di HMI, kader-kader fundamentalis tumbuh, namun bukan berarti tak ada kader yang berpikiran inklusif dan liberal. Sebagian penganut sunni, sebagian berlatar belakang syiah. Sebagian pengagum sistem demokrasi, sebagian lain telah menyiapkan peti mati untuk demokrasi. Wacana syariat Islam berada dalam debat yang sengit. Sekularisasi didukung sekaligus ditentang. Cara pandang spesies-spesies ini terlihat saling berbeda, tapi sesungguhnya seragam dalam esensi tujuan. Sunni maupun syiah semata sekadar mazhab, jalan, dan metodologi berfikih. Demokrasi, syariat Islam, maupun sekularisasi—bagi kader HMI—cuma sekadar alat, bukan tujuan. Utamanya, tatkala dari semua alat itu, bisa melahirkan kebajikan bagi semesta. Kesamaan tujuan akhir finalitas, telah meletakkan HMI sebagai genus yang tunggal.
Bagi HMI, politik bukanlah pilihan satu-satunya dalam memperjuangkan nasib umat. Pada saat yang sama, sejumlah kader melirik ke sektor ekonomi, pendidikan, teknologi, maupun seni dan kebudayaan. HMI percaya, peradaban tegak karena ditopang oleh kuatnya tiap sektor kehidupan tersebut. Singkatnya, genus HMI telah melahirkan aneka ragam spesies cara bertindak.
Di sentrum kealumnian, pengembangan individu beserta lahan dakwahnya dapat dijelaskan oleh privasi dan kultur tersendiri. Sebaliknya, kritik pedas atas senior yang gagal memberikan teladan sudah amat sering dilontarkan. Saya “terpaksa melupakan” persoalan ini, lantaran kritikan laksana masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Saya memilih berkonsentrasi dalam basic perkaderan anggota yang masih aktif. Setidaknya, dari perkaderan lapis bawah, HMI masih memiliki harapan.

Rekayasa Kekaderan
Sebagai mantan Sekjen Korp Pengader Nasional (dan dua kali periode terpilih sebagai formateur/ketua umum KPN), perkenankanlah saya mengkritik dan sekaligus memberi masukan terkait problem kekaderan yang selama ini berlangsung. Kesalahan utama dari para pengader HMI ialah menyeragamkan definisi output kader-kadernya. Padahal output, tak bisa dinilai setelah kader mengikuti pelatihan tertinggi dan/atau paska lepas kepengurusan. Kader emas bukanlah unggulan di segala lini. Emas bukanlah unsur terbaik satu-satunya dalam jagat kosmik. Batu, kayu, besi, air, api, dan sebagainya, juga merupakan unsur terbaik sesuai azas kemanfaatannya. Ibarat membangun sebuah rumah, semua unsur (bahan) tersebut sangat berguna. Pengader mesti berdiri sebagai arsitek handal, yang bisa menempatkan semua itu sehingga rumah mampu dibangun dengan baik.
Kedua, kader-kader HMI terlahir dengan karakter yang berbeda satu sama lain. Kekeliruan pengader HMI adalah berupaya mengasah batu menjadi emas, menyerut kayu menjadi besi, menggodok air agar menjadi api. Tindakan mustahil, yang hanya akan melahirkan kekecewaan serta putus asa. Sejauh hukum keniscayaan berlangsung, batu tetaplah batu, kayu tetaplah kayu. Hal terbaik yang bisa dilakukan pengader HMI ialah merekayasa karakter-karakter itu ke dalam suatu kombinasi menurut kebutuhannya. Lalu bagaimanakah rekayasa tersebut dapat dilakukan?
Teori perkembangan manusia, telah merumuskan prinsip dasar yang hingga kini tak terbantahkan, yakni perkembangan manusia ditentukan oleh dua faktor; genotip (bawaan lahiriah) dan fenotip (lingkungan). Masing kader HMI lahir dari genotip dan fenotip yang berbeda. Berita baiknya, meski genotip relatif bersifat destinasi, namun fenotip cenderung lebih plural sehingga manusia bisa merubahnya dalam kadar kemauan dan kemampuannya. Tengoklah Newyork Orcestra yang kesohor itu. Dari personilnya yang berjumlah puluhan orang, ternyata hanya berkisar 5-10% saja dari mereka yang bertalenta musik, selebihnya cuma orang biasa. Tapi mengapa di kemudian waktu, semuanya mampu menjadi maestro dan mahir dalam bermusik? Jawabannya, karena ada fenotip yang memengaruhi, serta adanya kemauan keras mereka dalam belajar. Maka, benarlah nasehat Phytagoras bahwa keberhasilan seseorang ditentukan oleh sepersepuluh (10%) genotip dan sisanya (90%) melalui fase pembelajaran. Dari sinilah pengader HMI dapat mengambil pelajaran untuk melakukan rekayasa kekaderan yang dimaksud itu. Menciptakan fenotip dalam sebuah stereotip tertentu, sehingga mampu merekayasa lahirnya genotip baru yang lebih maju.
Lalu apakah dengan begitu, akhirnya batu dapat dirubah menjadi kayu, besi menjadi emas, dan seterusnya? Tidak! Hukum alam tetap tak ditentang. Namun hukum alam juga tidaklah bersifat absolut. Manusia adalah makhluk kreatif yang bisa memanfaatkan segala peluang terbuka dari perubahan hukum alam. Berbagai unsur dan karakter dapat dikombinasi, diracik, serta diolah hingga menghasilkan satu atau lebih unsur dan karakter baru (senyawa perubahan). Ukir, pahat, dan bentuklah unsur-unsur itu. Kelola, campur, dan posisikan karakter-karakter pada tempatnya sesuai kebutuhan perkaderan.
Arahkan kader-kader HMI ke tempat yang sesuai dengan talentanya. Bangkitkan keinginannya. Asah kemampuannya. Pada saat yang sama, masukkan mereka ke fenotip yang berbeda. Ajari mereka bertemu dengan dunia baru. Kader yang sense ke politik, seyogianya mendalami juga kebudayaan. Vak ekonomi, belajar pula filsafat dan pendidikan. Kader seni, mengenal pula matematika dan logika. Bakat teknik, bukan melulu nongkrong di basis teknologi, melainkan pula berinteraksi dengan ilmu sosial dan sebagainya. Setidaknya, kader HMI bisa menjadi lebih bersifat universal, dan cerdas lantaran ditopang banyak dimensi keilmuan lainnya. Biarkan mereka tumbuh menurut jalur genotipnya, sekaligus benturkan dengan berbagai macam fenotip. Jangan menilai militansi dan intelektualitas secara monolitik. Pun spiritualitas harus dikembangkan, kendati cara (mazhab) berislam mereka berbeda. Spiritual tak selalu diukur dari tingkat vertikal, tapi juga horizontal. Saleh pribadi mesti mewujud ke saleh sosial. Tanamkan benih bijak dalam perbedaan. Perbedaan spesies, namun tetap dalam satu genus karakteristik HMI.
Jatuh bangun adalah proses biasa bagi manusia, demikian pula bagi HMI. Peringatan Milad ke 65—yang jatuh 5 Februari 2012 ini—adalah satu siklus kecil bagi HMI agar dapat menapak kehidupan berikutnya. Di depan selalu ada hambatan dan persoalan. Hadapi semuanya dengan berani. Lagipula tiap kekeliruan yang ada, merupakan suatu proses yang tak mungkin dihindari. Hanya dibutuhkan sedikit kearifan dalam menghadapinya, maka hal tersebut mampu diolah menjadi bentuk kemajuan organisasi.
Membangun itu sulit; dan menjaga apa yang telah dibangun itu jauh lebih sulit.

* Lukman Wibowo

Rabu, 18 Januari 2012

Intermediate Training HMI Cabang Semarang

HMI Cabang Semarang mempunyai hajatan besar dalam konteks perkaderan dan pelatihaan yakni Intermediate Training yang ke 18. Guna memnuhi jenjang pendidikan para kader supaya memiliki integritas dalam diri dan berorganisasi.
Mengusung tema, “ Penguatan Gerakan Transformatif dalam Menjawab Problematika Kemanusiaan Upaya Membangun Bangsa yang Berperadaban”. Hal ini mengisyaratkan adanya kebutuhan pada diri manusia untuk memilih hidupnya selain memenuhi kebutuhan dasar, seseorang harus mampu memiliki nilai-nilai gerakan yang lebih maju.
Intermediate Training ini akan dilangsungkan selama sepuluh hari. Dengan pembicara kalangan akademisi dan praktisi sesuai dengan bidangnya. Acara akan berlangsung pada hari jum'at tanggal 3 Februari hingga 13 Februari 2012. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi; Lutfan (087837081541), Resty (085225437886).
Download File LK, klik here:
  1. Pamflet dan Kisi-Kisi Materi LK 2
  2. Syarat LK 2 dan TOR

Rabu, 04 Januari 2012

LOMBA PENULISAN LAPMI CABANG SEMARANG


Dalam Rangka Menyambut Milad HMI
ke-65 Tahun
Lapmi Cabang Semarang mengadakan
Lomba Penulisan Artikel, Opini & Cerpen

Tema :
HMI dalam Perspektif Modernisasi dan Tantangannya,
Menyongsong Arah Perubahan Dinamika Jaman.

Ketentuan Penulisan:
1.      Menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar
2.      Artikel belum pernah dipublikasikan
3.      Artikel merupakan karya asli
4.      Artikel terdiri dari 5000 s/d 7000 karakter
5.      Diketik pada kertas ukuran A4 dengan margin atas, bawah, kanan  dan kiri : 3 cm. font times new roman dengan ukuran standard 12 pt.
6.      Pemenang akan diumumkan pada tanggal 5 Februari 2012 bertepatan dengan Milad HMI ke-65 tahun.

Persyaratan Peserta:
1.      Berlaku untuk Seluruh Kader HMI Cabang Semarang 
2.      Peserta bersifat perorangan
3.      Setiap peserta diperbolehkan mengirimkan lebih dari 1 karya
4.      Melampirkan biodata lengkap
5.      Artikel yang dilombakan akan dipublikasikan di blog Lapmi cabang Semarang
dan Insya Allah akan dibukukan.

Penyerahan Karya:
1.      Karya paling lambat di kumpulkan selambat-lambatnya tanggal 3 Februari 2012
2.      Karya dikirim melalui email: lapmics@gmail.com / subkhiahmad@gmail.com 
      atau langsung diserahkan kepada pengurus LAPMI Cabang Semarang.

Penghargaan:
* 3 karya Terbaik dari  masing-masing Artikel, Puisi dan Opini akan diberikan Vocher Beasiswa
* Sertifikat lomba penulisan dan hadiah bingkisan menarik.
* Pemberian hadiah pada saat Peringatan Milad HMI ke - 65, pada tanggal 5 Februari 2012

Contact Person:
BeQy : 085640220997/081914544887
Muslimah : 081225491287
Budi S: 08985649788
Rahma: 085640190355
Keterangan lebih lanjut kunjungi :

Diselenggarakan atas kerjasama :
Lapmi cabang Semarang
Lapmi KOM MIPA IKIP PGRI
Lapmi KOM FPBS IKIP PGRI
HMI Cabang Semarang

Minggu, 11 Desember 2011

PERINGATAN HARI ANTI KORUPSI SEDUNIA TAHUN 2011

“Bongkar Aktor Intelektual di bawah Sistem Penegakan Hukum”

Bangsa besar adalah bangsa yang selalu menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran. kondisi ini seakan tak tampak melekat pada bangsa ini. Bangsa ini seakan tak pernah sepi dari hiruk- pikuknya permasalahan yang mendera. Kasus korupsi seakan tidak ada tuntasnya, ini diakibatkan karena lemahnya supremasi hukum, penegakan hukum yang tebang pilih dalam menyelesaikan korupsi, tidak efektifnya remisi terhadap terpidana korupsi, banyak kasus korupsi yang masih menggantung tak jelas, gagalnya pengadilan tipikor dalam mengadili para koruptor, ketidakmampuan KPK dalam menyelesaikan kasus korupsi kelas kakap, merupakan pemandangan yang selalu dihadirkan bangsa ini.
Beberapa kasus korupsi yang tidak bisa terselesaikan menunjukkan ketidakmampuan penegak hukum dan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam menangani kasus korupsi akbar (grand corruptions), seperti kasus Bank Century, dan Wisma Atlet secara adil tuntas, serta objektif terus menuai sinisme publik, kasus korupsi di tubuh Kementrian keagamaan terkait pengadaan Lab Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) senilai 27,5 M di MTs dan Rp. 44 M di MA, kasus cek perjalanan yang diduga melibatkan Nunun Nurbaiti dan Miranda S Goeltom sebagai Deputi Senior Gubernur BI tahun 2004 masih melenggang.  Namun di sisi lain, KPK dapat menguak kasus korupsi di Pemkot Semarang. Terbukti dengan ditangkap tangannya Sekda Kota Semarang, Ahmad Zaenuri dan dua Anggota Dewan Kota Semarang bernama Agung PS dan Sumartono, melakukan transaksi uang pelicin sebesar 2,3 Triliun dalam memperlancar APBD Kota Semarang Tahun 2012.

Tepat Tanggal 9 Desember, Hari Anti Korupsi Sedunia, maka HMI cabang Semarang menyatakan sikap sebagai berikut:
1.      1. Usut Tuntas Kasus Korupsi yang belum terselesaikan (Century, Gayus, Kasus Suap di Wisma Atlet, kasus Kementrian Keagamaan terkait pengadaan peralatan Lab IPA, buronan Korupsi).
2.      2. Hapus remisi terpidana Korupsi
3.      3. Laksanakan Hukuman Mati terpidana Korupsi
4.      4. Hentikan perlemahan KPK
5.      5. Usut tuntas aktor intelektual kasus suap di balik APBD Kota Semarang Tahun 2012.
6.      6. Tindak tegas bagi hakim Tipikor yang nakal.

Semarang, 8 Desember 2011
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM CABANG SEMARANG  
Jln. Sri Rejeki Utara VII Rt. 03 Rw. I  Kalibanteng Kidul Semarang Barat 50149

Minggu, 23 Oktober 2011

HMI MPO Tanam 5000 Mangrove

MANGKANG WETAN—Jika biasanya aksi aktivis mahasiswa aktivis mahasiswa identik dengan melakukan demo dan turun ke jalan. Berbeda dengan yang dilakukan puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam-Majelis Penyelamat Organisasi (HMI-MPO) Cabang Semarang.
Dalam aksi Selamatkan Pantai dari Abrasi di Kelurahan Mangkang Wetan kemarin (23/10/2011),  para mahasiswa tersebut mengajak masyarakat sekitar untuk menanam bibit mangrove. Kurang lebih sebanyak lima ribu bibit mangrove berhasil ditanam dalam kegiatan tersebut.
Koordinator tanam Mangrove, Firman Wahono menjelaskan kegiatan tersebut merupakan aksi kepedulian HMI Cabang Semarang terhadap abrasi pantai.  “Selain itu, kami melihat memang kondisi lingkungan tambak di Mangkang wetan rusak akibat abrasi dan limbah industri,”  jelasnya.

Rabu, 19 Oktober 2011

Refleksi 2 Tahun Kepemimpinan Susilo Bambang Yudoyono- Budiono


Semarang, 13 OKtober 2011.
Dua tahun kepemimpinan SBY menjadi tema yang cukup menarik untuk dikaji dan dibicarakan. Ada banyak hal yang harus kita lihat dalam roda pemerintahan yang dijalankan oleh SBY dalam KIB (Kabinet Indonesia Bersatu) II. Hasil evaluasi terhadap kepemimpinan SBY ada banyak permasalahan yang patut kita perhatikan. Bangsa ini terpaksa meratap ketika Pemerintah mengeluarkan kebijakan impor beras dari Vietnam dan Thailand tanpa melihat stok beras nasional. Padahal kalau kita lihat, stok beras nasional untuk memenuhi kebutuhan masyarakat cukup hingga Desember 2011, yakni sebanyak 1,2 juta ton.
Buruknya kinerja kabinet,

Jumat, 30 September 2011

SAFARI SYAWALAN HMI CABANG SEMARANG

Jakarta- Beberapa Pengurus, Kader dan Pastur Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Semarang ikut serta memeriahkan Syawalan Nasional HMI MPO. Syawalan Nasional yang diselenggarakan Sabtu, 24 September 2011, di Jakarta di Hotel Bidakara Jalan Gatot Subroto Kav. 71-73 Pancoran Jakarta.
Ajang silaturahmi nasional kader dan Alumni tahun 2011, dihadiri oleh beberapa tokoh dan alumni HMI, yang mana Syawalan ini sebagai sebuah forum untuk menjalin kembali Ukhuwah dan merefresh kembali semangat perjuangan HMI tutur Ketua Panitia Kanda Awalil Rizky dalam laporannya. Orasi-orasi telah meramaikan acara syawalan ini oleh beberapa tokoh dan alumni HMI MPO, diantaranya; Kanda Yani (DPR RI), Priyo Budi Santoso (DPR RI F-Golkar), Abdullah Hehamahua (Calon Ketua KPK), Tamsil Limrung (Badan Anggaran RI), Anis Baswedan (Rektor Universitas Paramadina), Egie Sudjana (Mantan Aktivis Mahasiswa)

Selasa, 16 Agustus 2011

HMI, Kamu Mau ke Mana?

HMI (Himpunan mahasiswa Islam), organisasi mahasiswa yang lumayan cukup lama lahir di belantara dinamika keagamaan dan kebangsaan Indonesia. Bila dibandingkan kelahirannya dengan kelahiran bangsa ini hanya terpaut dua tahun. Umurnya, yang semakin menua terkadang menuntut dia untuk lebih bijaksana dan kuat dalam menghadapi permasalahan kehidupan berbangsa dan beragama. Ia ada bukan karena apa-apa, melainkan adanya dia karena adanya sesuatu yang mengharuskan dia ada. Ia dilahirkan atas kegelisahan yang mendera. Permasalahan kebangsaan adalah ibunya dan permasalahan agama adalah bapaknya.

Minggu, 14 Agustus 2011

Penyikapan kritis terhadap perusakan lingkungan (galian c) di Rowosari Kota Semarang


 Kota semarang adalah kota yang dikenal dengan kota atlas yang merupakan Pusat Ibukota Jawa Tengah. Segala infrasturktur baik  jalan, fasilitas-fasilitas umum baik alat transportasi, rumah sakit, lembaga pendidikan, pasar modern ada di kota Semarang. Tetapi dengan fasilitas lengkap ternyata berbanding lurus dengan  permasalahan yang terjadi di kota semarang seperti masalah social, kemiskinan, kriminal, polusi pencemaran udara akibat asap pabrik, asap alat transportasi, banjir maupun penambangan galian c (pengeprasan bukit) yang tidak memperhatikan kerusakan lingkungan hidup,