This is default featured slide 1 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 2 title

Foto Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 3 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 4 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 5 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

Minggu, 21 Desember 2008

Martir-Martir HMI Dalam Transformasi Sosial. HMI Cabang Semarang

TEMU KADER
Martir-Martir HMI Dalam Transformasi Sosial

Hari: Rabu, 24 Desember 2008
Waktu: 14.00
Tempat: Wisma HMI Cabang Semarang Jl. Lemah Gempal 4 No.25

Present By:
Bidang Perkaderan HMI Cabang Semarang

Seminar Pendidikan HMI FPMIPA IKIP PGRI Semarang

SEMINAR PENDIDIKAN
Studi Kritis Falsafah Pendidikan Dalam Problematika Multidimensi Melawan Arus Globalisasi

Hari: Selasa, 23 Desember 2008
Waktu: 08.00 WIB
Tempat: Ruang Seminar IKIP PGRI Semarang

Present By:
HMI FPMIPA IKIP PGRI Semarang

TRAINING FOUNDATION OF SPIRITUAL AND INTEKTUAL. FOSI

TRAINING FOUNDATION OF SPIRITUAL AND INTEKTUAL

Hari: rabu - jum'at/24-26 Desember 2008
waktu: 14.00 WIB - Selesai
Tempat: Masjid Istiqamah, Jl. Diponegoro 37 Ungaran
Bayar: 15.000,00

Present:
FOSI (Forum Studi Islam)

Cp:
Deni: 085290106028

Kamis, 11 Desember 2008

Indonesia Economic Outlook 2009 Krisis Ekonomi Jilid 2


Indonesia Economic Outlook 2009

Krisis Ekonomi Jilid 2


HADIRILAH...GRATIS..!

TEMPAT TERBATAS...!


Jum’at, 12 Desember 2008-12-11 Jam 13.30 – 16.30 WIB
Di Toha Putra Center
Kompleks Gajahmada Plaza c22 – 24
Simpang Lima Semarang


Menghadirkan :
1. Awalil Risky
Pengamat ekonomi dari Bright Indonesia yang juga penulis buku serial Indonesia : undercover economy, neo liberalisme mencengkram Indonesia, bank bersubsidi yang membebani, dan utang pemerintah mencekik rakyat
2. H. Purbayu Budi S
Pembantu Dekan III Fakultas Ekonomi UNDIP Seamarang
3. Edy Darmoyo
Formatur Masyarakat Ekonomi Syariah Jawa Tengah


Prolog
Krisis ekonomi global menuju resesi, berbagai Negara diberbagai kawasan telah bergegas mengantisipasi. Berrbagai program, dan paket penyelamatan ekonomi telah diluncurkan oleh Negara-negara maju agar mereka tidak terjermbab dan semakin terpuruk dalam resesi depan

Present by

Halmahera Community dan Bright Indonesia

Peran HMI dalam Mengkritisi Sistem Kepemimpinan Politik Ummat dan Bangsa HMI MPO Cabang Semarang


Peran HMI dalam Mengkritisi Sistem Kepemimpinan Politik Ummat dan Bangsa

WAKTU

Hari : Jum’at - Minggu

Tanggal : 12-14 Desember 2008

Tempat : Gedung PKB Karang Anyar Mangkang Semarang


Dalam perjalanan dinamika bangsa Indonesia demokrasi adalah hal menarik dan tak pernah lekang untuk dijadikan icon pembaharuan dan perbaikan. Demikian juga perpolitikan selalu menjadi sumbu utama yang mempengaruhi kondisi di berbagai bidang lainnya. Sedemikian berpengaruhnya dimensi perpolitikan, hingga menuntut perhatian semua kalangan yang memiliki kepedulian pada masa depan bangsa untuk memikirkan prospek politik Indonesia di masa yang akan datang, terutama dari segi sistem dan pelaku.
Demokrasi sendiri memang bukan soal mudah untuk didefinisikan, apalagi dipraktekkan. Sering ia disandera menjadi hanya sekedar slogan, diputar balikkan sedemikian rupa untuk melegitimasi kepentingan. Di sekolah, demokrasi dipasarkan bersamaan dengan pendidikan kewarganegaraan yang isinya melulu tanggung jawab, definisi dan jargon. Nyaris beku karena sempitnya ruang berdiskusi, hampir sulit meletakkannya dalam konteks keseharian yang mudah dipahami. Sekolah dalam banyak hal seringkali malah menjadi tempat dimana demokrasi dibuat mati muda. Ranah publik dan mungkin keluarga, juga bukan tempat dimana pemahaman dan tabiat demokratik dikecambahkan atau dipraktekkan. Maka tidak mengherankan, jika pemahaman dan praktek demokrasi menjadi sesuatu yang mewah untuk ditemukan. Lihat saja media massa dan produknya, lihat pula perilaku kita di jalanan, parlemen kita, birokrat dan sebagainya. Sungguh sulit menemukan role model atau best practisses yang bisa kita banggakan.
Reformasi, Demokrasi dan Kepemimpinan Politik
Bergulirnya reformasi menandai terjadi terjadinya liberalisasi dalam pasar politik di Indonesia. Dimana telah terjadi perubahan yang signifikan dalam struktur, relasi maupun pengelolaan politik di negeri ini. Sentralisasi kekuasaan tinggal menjadi mimpi karena pusat-pusat kekuasaan menjadi sedemikian terdesentralisasi. Para pemimpin di pusat dan di daerah dipilih secara langsung yang secara idealistik berarti kembalinya kedaulatan kepada rakyat secara penuh. Akan tetapi, sungguh ironis ketika realitas yang terjadi adalah justru semakin jauhnya rakyat dan kepentingannya dari orientasi dan keberpihakan politik.
Banyak faktor yang menyebabkan itu semua, tetapi bisa dikatakan bahwa kepemimpinan (dalam artian luas) adalah salah satu faktor yang determinan. Sejarah dibanyak peradaban menunjukkan bahwa, transisi dari suatu rezim otoriter ke arah yang lebih demokratis seringkali melahirkan suasana chaotic. Ini terjadi bersamaan dengan melemahnya kewibawaan institusi dan aktor-aktor kekuasaan, baik yang lama maupun yang baru. Di lain sisi, tumbuh pula kelompok-kelompok dan figur-figur baru yang mencoba mengambil peran dan akses kepada kekuasaan.
Di tingkat masyarakat muncul euforia, dalam bentuk pengabaian maupun pembangkangan sebagai respon terhadap kebebasan yang baru dinikmati. Sedangkan pada sisi lain, para pengelola negara dan pemerintahan kehilangan kepercayaan diri dan gamang menyikapi perubahan. Situasi seperti inilah yang sedang kita hadapi, sebuah kompleksitas yang tidak mudah disiasati. Tanpa kepemimpinan sosial dan politik yang mencerahkan, maka akan sangat mudah bagi agen-agen sosial dan politik untuk terjebak dalam mengurus bangsa secara transaksional, pragmatis dan miskin visi.
Dalam 'Leadership' (1970), John McGregor Burns mencoba merumuskan kepemimpinan yang efektif. Menurut Burns, seorang pemimpin yang transformatif adalah pemimpin yang mampu menyatukan para pendukungnya dalam suatu shared vision yang dapat memperbaiki dan mengembangkan organisasi dan masyarakatnya secara luas. Kepemimpinan transformatif ini dikatakan memiliki kemampuan untuk mendeliver nilai-nilai (true values), integritas dan trust. Kepemimpinan transformatif ini adalah kebalikan dari pemimpin transaksional yang melakukan apapun untuk memperbesar kekuasaannya
Kita bersama memerlukan pemimpin sebagai sumber inspirasi dan mobilisasi sosial. Pemimpin yang mampu memberikan arah dan prioritas yang jelas, bukan sekedar pemimpin yang kuat dan berwibawa atau populer semata. Kita sangat membutuhkan pemimpin yang mampu melahirkan terobosan, mengambil resiko-resiko politik demi membawa bangsa ini keluar dari bayang-bayang krisis. Kita sangat mengharapkan munculnya pemimpin yang mampu melakukan re-framing dan mengajak kita semua melihat bayangan masa depan secara holistik, sehingga mempunyai character building meliputi loyalitas kepada nilai, visi, dan program kepemimpinan yang sesuai dengan aturan dan mekanisme yang demokratis.
Signifikansi organisasi atas perubahan
Dari rentetan teori yang berjibun dan pencandraan atas realitas yang complicated tentunya kita dapat menebak dengan analisis dan hipotesis atas permasalahan itu semua. Kemudian dari manakah kita akan mendapatkan pemimpin seperti itu? Tentu dari organisasi-organisasi yang mempunyai visi dan karakter yang jelas dan atau dari partai politik yang benar-benar mempunyai alat produksi (proses perkaderan) yang benar-benar sesuai bentuk riil dari proses demokrastisasi yang mencetak kader-kadernya. Disisi lain saat ini kita perlu melihat parpol saat ini yang menjamur bak musim hujan mengguyur kemudian parpol bermunculan entah dengan tujuan ikut meramaikan panggung demokrasi atau hanya karena tujuan pragmatis atau memang benar-benar ingin ikut memperjuangkan perbaikan sistem kepemimpinan bangsa ini.
Melihat relitas semua yang terjadi lalu mengapa dari partai politik yang di bidik? Sebab disitulah parpol yang melahirkan dan merekrut pemimpin secara terlembaga. Dalam peradaban demokrasi dimanapun, partai politik adalah entitas yang paling logis dalam melahirkan kepemimpinan politik. Lewat partai politik,lebih dimungkinkan mendapatkan pemimpin yang berinteraksi dengan persoalan-persoalan dan dinamika masyarakat. Tentu dengan catatan, partai-partai politik itu memang mempraktekkan budaya demokratis secara internal, bukan sekedar milik elit oligarkis. Partai-partai itu tentunya harus melembagakan sistem dan prosedur demokratis dalam setiap aspek kehidupan partai. Juga mesti memiliki mekanisme pengelolaan konflik yang terlembaga dan rekrutmen serta kaderisasi yang ajeg. Di sisi lain, partai-partai politik tersebut juga memelihara konstituennya dan relevan dengan kebutuhan kongkrit atau ideologis rakyat
Persoalannya tentu, apakah partai-partai politik kita sudah seperti itu. Saat ini mungkin bisa dikatakan belum, sebab partai-partai kita masih sibuk dengan diri dan kepentingannya sendiri. Tetapi tentu kita tidak boleh kehilangan harapan dan tergoda untuk mengambil jalan pintas, yang justru akan merusak konsolidasi demokrasi dalam jangka panjang.
Solusi Alternatif ke-Ummatan dan kebangsaan
63 tahun sudah bangsa kita telah merdeka. Jika dilihat dari usia, Indonesia telah sepuh, seharusnya lebih matang dan dewasa. Namun apa boleh dikata, bukti masih menunjukan lain dari harapan kita. Siapa yang salah, yang jelas tugas para founding fathers telah selesai mengantarkan kemerdekaan kita, tinggal kita sebagai generasi harapan bangsa sebagai pemuda.
Pemuda kita sekarang, seperti juga pemuda di zaman dan peradaban manapun memang cenderung mengedepankan emosional, dangkal dan mau serba instant walaupun itu tidak semua menjadi karakter pemuda tetapi itu setidaknya menjadi benang simpul dimana setiap pemuda dan isi kepalanya mempunyai maninstream berpijak untuk beraktualisasi. Tetapi ada yang berbeda, zaman sekarang para generasi muda dibombardir oleh tekhnologi informasi global yang intens. Ini sesuatu yang tidak dialami oleh generasi muda zaman dulu. Trend setter masa kini begitu banyak, bisa dari mana saja, terjadi kapan saja dan oleh siapa saja. Berbeda dengan zaman dulu yang serba terbatas dan lambat. Kebudayaan popular yang ada sekarang berkembang dari gempuran terus menerus, konstan dan dari berbagai arah terhadap alam sadar dan bawah sadar anak muda. Yang menjadi soal adalah defisit contoh baik yang ada di masyarakat kita saat ini.
Lalu apakah tanggung jawab atas itu semua ? Himpunan Mahasiswa Islam sebagai bagian dari organisasi yang ada di level gerakan mahasiswa dengan usianya 61 tahun sudah banyak kader-kadernya yang menjadi alumni dan masuk dalam lingkar sistem di indonesia ini. Tidak sebatas itu HMI dari zaman kezaman dengan melihat realitas selalu menangkap permasalahan dengan berbagai cara, termasuk hingga detik ini terus melakukan pembaharuan dan inovasi gagasan untuk memberikan sumbangsih pemecahan masalah. Tentunya HMI harus mampu menjadi bagian yang menggagas jalan alternatif, minimal untuk bisa menyelesaikan dan meminimalisir permasalahan bangsa kedepan. Dengan mengetahui atas peta konstelasi demokrasi politik baik dalam skala nasional maupun lokal maka secara tidak langsung HMI sebagai kawah condrodimuko untuk kader-kadernya secara sistematis menghadirkan analisis dalam mencandra permasalahan yang ummat dan bangsa.
Pada sisi ini kita melihat politik merupakan sebagai wahana, dapat bermakna ganda yang amat kontras antara satu makna dengan makna lainnya. Di satu sisi politik dapat diklaim sebagai alat perjuangan untuk mempengaruhi arah kebijakan yang akan berdampak pada masyarakat luas, sedangkan di lain sisi politik menampilkan wajah yang begitu pragmatis, korup dan merugikan kepentingan masyarakat luas akibat prilaku para aktornya.
Dalam idelitas gerakan, maka politik merupakan salah satu alat penting dalam berjuang berdasarkan-nilai kebenaran. Namun hal itu mutlak mensyaratkan hadirnya para politisi yang memahami makna politik yang demikian, yakni politik sebagai alat perjuangan, bukan politik sebagai tujuan.
Para politisi yang memiliki karakter kepejuangan sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia agar dapat memberikan arah dan kebijakan politik yang mampu menjawab kepentingan masyarakat. Para politisi yang bersikap sebagai negarawan harus ditemukan dan dihadirkan kembali ke tengah bangsa Indonesia yang sedang mengalami krisis kepemimpinan politik akibat kepercayaan masyarakat yang telah luluh terhadap perangai para politisi saat ini. Kepemimpinan muda yang digulirkan saat ini sebagai salah satu bentuk relevansi peran generasi bangsa apakah mampu dihadirkan atau memang menjadi alternatif bahkan sama dengan konsep kepemimpinan lama?
Dalam konteks lain tidak adanya pendidikan politik selama ini, kita lalu bisa memahami mengapa terjadi, tidak hanya merosotnya etika dan moralitas politik, tetapi juga mengapa loyalitas kepada pemimpin di pusat begitu kuat? Selain faktor strategi parpol demi kepentingan bangsa dan daerah tertentu, harus kita akui bahwa di tengah tidak adanya pendidikan politik yang sehat selama ini, memang budaya politik kita di Indonesia masih budaya politik tradisionalisme.Dalam budaya politik yang tradisional itu memang figur pemimpin dan karisma jauh lebih kuat dan menentukan daripada segala mekanisme dan prosedur formal yang demokratis dan profesional.
Jadi, jalan kita masih panjang. Tapi, kita akan bisa berhasil kalau kita sekarang menekuni secara serius pendidikan politik itu, pendidikan untuk membentuk character building. Melalui pendidikan politik yang sehat itulah diharapkan pula agar loyalitas tradisional kepada figur pemimpin bisa digantikan atau diimbangi oleh loyalitas kepada nilai, visi, dan program kepemimpinan yang sesuai dengan aturan dan mekanisme yang demokratis.
Oleh karena itu HMI dengan ini turut bertanggungjawab atas usaha penyiapan kader calon pemimpin politik masa depan dan harus dilakukan sejak saat ini juga. Para calon pemimpin politik itu perlu dibangun kesadaran, wawasan, strategi dan dan keterampilan teknisnya dalam memimpin dan mengelola agenda politik baik di tingkat nasional maupun lokal.
Demikian juga atas problematika yang pelik hingga saat ini, harusnya ada strategi untuk mengurai benang kusut konflik dan masalah dibangsa ini. Maka dengan ini HMI cabang semarang tergerak untuk mengadakan training kepemimpinan politik nasional. Dengan berlandaskan analisis konstruktif-siglikal dan pencandraan SWOT, merekayasa untuk bisa memformulasikan gagasan dan idelisme para kader muda yang ada saat ini supaya ada bentuk solusi, baik itu gagasan/ ide, teknis ataupun nonteksis. Selagi kita masih tergerak dengan sungguh untuk berijtihad pasti akan ada sesuatu yang terumuskan dan akan menjadi harapan baru untuk menuai kebaikan demi masa depan ummat dan bangsa.


Hari : Jum’at - Minggu
Tanggal : 12-14 Desember 2008
Tempat : Semarang

Rabu, 10 Desember 2008

Peran HMI dalam Mengkritisi Sistem Kepemimpinan Politik Ummat dan Bangsa


Peran HMI dalam Mengkritisi Sistem Kepemimpinan Politik Ummat dan Bangsa


Dalam perjalanan dinamika bangsa Indonesia demokrasi adalah hal menarik dan tak pernah lekang untuk dijadikan icon pembaharuan dan perbaikan. Demikian juga perpolitikan selalu menjadi sumbu utama yang mempengaruhi kondisi di berbagai bidang lainnya. Sedemikian berpengaruhnya dimensi perpolitikan, hingga menuntut perhatian semua kalangan yang memiliki kepedulian pada masa depan bangsa untuk memikirkan prospek politik Indonesia di masa yang akan datang, terutama dari segi sistem dan pelaku.

Demokrasi sendiri memang bukan soal mudah untuk didefinisikan, apalagi dipraktekkan. Sering ia disandera menjadi hanya sekedar slogan, diputar balikkan sedemikian rupa untuk melegitimasi kepentingan. Di sekolah, demokrasi dipasarkan bersamaan dengan pendidikan kewarganegaraan yang isinya melulu tanggung jawab, definisi dan jargon. Nyaris beku karena sempitnya ruang berdiskusi, hampir sulit meletakkannya dalam konteks keseharian yang mudah dipahami. Sekolah dalam banyak hal seringkali malah menjadi tempat dimana demokrasi dibuat mati muda. Ranah publik dan mungkin keluarga, juga bukan tempat dimana pemahaman dan tabiat demokratik dikecambahkan atau dipraktekkan. Maka tidak mengherankan, jika pemahaman dan praktek demokrasi menjadi sesuatu yang mewah untuk ditemukan. Lihat saja media massa dan produknya, lihat pula perilaku kita di jalanan, parlemen kita, birokrat dan sebagainya. Sungguh sulit menemukan role model atau best practisses yang bisa kita banggakan.


Reformasi, Demokrasi dan Kepemimpinan Politik
Bergulirnya reformasi menandai terjadi terjadinya liberalisasi dalam pasar politik di Indonesia. Dimana telah terjadi perubahan yang signifikan dalam struktur, relasi maupun pengelolaan politik di negeri ini. Sentralisasi kekuasaan tinggal menjadi mimpi karena pusat-pusat kekuasaan menjadi sedemikian terdesentralisasi. Para pemimpin di pusat dan di daerah dipilih secara langsung yang secara idealistik berarti kembalinya kedaulatan kepada rakyat secara penuh. Akan tetapi, sungguh ironis ketika realitas yang terjadi adalah justru semakin jauhnya rakyat dan kepentingannya dari orientasi dan keberpihakan politik.
Banyak faktor yang menyebabkan itu semua, tetapi bisa dikatakan bahwa kepemimpinan (dalam artian luas) adalah salah satu faktor yang determinan. Sejarah dibanyak peradaban menunjukkan bahwa, transisi dari suatu rezim otoriter ke arah yang lebih demokratis seringkali melahirkan suasana chaotic. Ini terjadi bersamaan dengan melemahnya kewibawaan institusi dan aktor-aktor kekuasaan, baik yang lama maupun yang baru. Di lain sisi, tumbuh pula kelompok-kelompok dan figur-figur baru yang mencoba mengambil peran dan akses kepada kekuasaan.
Di tingkat masyarakat muncul euforia, dalam bentuk pengabaian maupun pembangkangan sebagai respon terhadap kebebasan yang baru dinikmati. Sedangkan pada sisi lain, para pengelola negara dan pemerintahan kehilangan kepercayaan diri dan gamang menyikapi perubahan. Situasi seperti inilah yang sedang kita hadapi, sebuah kompleksitas yang tidak mudah disiasati. Tanpa kepemimpinan sosial dan politik yang mencerahkan, maka akan sangat mudah bagi agen-agen sosial dan politik untuk terjebak dalam mengurus bangsa secara transaksional, pragmatis dan miskin visi.
Dalam 'Leadership' (1970), John McGregor Burns mencoba merumuskan kepemimpinan yang efektif. Menurut Burns, seorang pemimpin yang transformatif adalah pemimpin yang mampu menyatukan para pendukungnya dalam suatu shared vision yang dapat memperbaiki dan mengembangkan organisasi dan masyarakatnya secara luas. Kepemimpinan transformatif ini dikatakan memiliki kemampuan untuk mendeliver nilai-nilai (true values), integritas dan trust. Kepemimpinan transformatif ini adalah kebalikan dari pemimpin transaksional yang melakukan apapun untuk memperbesar kekuasaannya
Kita bersama memerlukan pemimpin sebagai sumber inspirasi dan mobilisasi sosial. Pemimpin yang mampu memberikan arah dan prioritas yang jelas, bukan sekedar pemimpin yang kuat dan berwibawa atau populer semata. Kita sangat membutuhkan pemimpin yang mampu melahirkan terobosan, mengambil resiko-resiko politik demi membawa bangsa ini keluar dari bayang-bayang krisis. Kita sangat mengharapkan munculnya pemimpin yang mampu melakukan re-framing dan mengajak kita semua melihat bayangan masa depan secara holistik, sehingga mempunyai character building meliputi loyalitas kepada nilai, visi, dan program kepemimpinan yang sesuai dengan aturan dan mekanisme yang demokratis.


Signifikansi organisasi atas perubahan
Dari rentetan teori yang berjibun dan pencandraan atas realitas yang complicated tentunya kita dapat menebak dengan analisis dan hipotesis atas permasalahan itu semua. Kemudian dari manakah kita akan mendapatkan pemimpin seperti itu? Tentu dari organisasi-organisasi yang mempunyai visi dan karakter yang jelas dan atau dari partai politik yang benar-benar mempunyai alat produksi (proses perkaderan) yang benar-benar sesuai bentuk riil dari proses demokrastisasi yang mencetak kader-kadernya. Disisi lain saat ini kita perlu melihat parpol saat ini yang menjamur bak musim hujan mengguyur kemudian parpol bermunculan entah dengan tujuan ikut meramaikan panggung demokrasi atau hanya karena tujuan pragmatis atau memang benar-benar ingin ikut memperjuangkan perbaikan sistem kepemimpinan bangsa ini.
Melihat relitas semua yang terjadi lalu mengapa dari partai politik yang di bidik? Sebab disitulah parpol yang melahirkan dan merekrut pemimpin secara terlembaga. Dalam peradaban demokrasi dimanapun, partai politik adalah entitas yang paling logis dalam melahirkan kepemimpinan politik. Lewat partai politik,lebih dimungkinkan mendapatkan pemimpin yang berinteraksi dengan persoalan-persoalan dan dinamika masyarakat. Tentu dengan catatan, partai-partai politik itu memang mempraktekkan budaya demokratis secara internal, bukan sekedar milik elit oligarkis. Partai-partai itu tentunya harus melembagakan sistem dan prosedur demokratis dalam setiap aspek kehidupan partai. Juga mesti memiliki mekanisme pengelolaan konflik yang terlembaga dan rekrutmen serta kaderisasi yang ajeg. Di sisi lain, partai-partai politik tersebut juga memelihara konstituennya dan relevan dengan kebutuhan kongkrit atau ideologis rakyat
Persoalannya tentu, apakah partai-partai politik kita sudah seperti itu. Saat ini mungkin bisa dikatakan belum, sebab partai-partai kita masih sibuk dengan diri dan kepentingannya sendiri. Tetapi tentu kita tidak boleh kehilangan harapan dan tergoda untuk mengambil jalan pintas, yang justru akan merusak konsolidasi demokrasi dalam jangka panjang.


Solusi Alternatif ke-Ummatan dan kebangsaan
63 tahun sudah bangsa kita telah merdeka. Jika dilihat dari usia, Indonesia telah sepuh, seharusnya lebih matang dan dewasa. Namun apa boleh dikata, bukti masih menunjukan lain dari harapan kita. Siapa yang salah, yang jelas tugas para founding fathers telah selesai mengantarkan kemerdekaan kita, tinggal kita sebagai generasi harapan bangsa sebagai pemuda.
Pemuda kita sekarang, seperti juga pemuda di zaman dan peradaban manapun memang cenderung mengedepankan emosional, dangkal dan mau serba instant walaupun itu tidak semua menjadi karakter pemuda tetapi itu setidaknya menjadi benang simpul dimana setiap pemuda dan isi kepalanya mempunyai maninstream berpijak untuk beraktualisasi. Tetapi ada yang berbeda, zaman sekarang para generasi muda dibombardir oleh tekhnologi informasi global yang intens. Ini sesuatu yang tidak dialami oleh generasi muda zaman dulu. Trend setter masa kini begitu banyak, bisa dari mana saja, terjadi kapan saja dan oleh siapa saja. Berbeda dengan zaman dulu yang serba terbatas dan lambat. Kebudayaan popular yang ada sekarang berkembang dari gempuran terus menerus, konstan dan dari berbagai arah terhadap alam sadar dan bawah sadar anak muda. Yang menjadi soal adalah defisit contoh baik yang ada di masyarakat kita saat ini.
Lalu apakah tanggung jawab atas itu semua ? Himpunan Mahasiswa Islam sebagai bagian dari organisasi yang ada di level gerakan mahasiswa dengan usianya 61 tahun sudah banyak kader-kadernya yang menjadi alumni dan masuk dalam lingkar sistem di indonesia ini. Tidak sebatas itu HMI dari zaman kezaman dengan melihat realitas selalu menangkap permasalahan dengan berbagai cara, termasuk hingga detik ini terus melakukan pembaharuan dan inovasi gagasan untuk memberikan sumbangsih pemecahan masalah. Tentunya HMI harus mampu menjadi bagian yang menggagas jalan alternatif, minimal untuk bisa menyelesaikan dan meminimalisir permasalahan bangsa kedepan. Dengan mengetahui atas peta konstelasi demokrasi politik baik dalam skala nasional maupun lokal maka secara tidak langsung HMI sebagai kawah condrodimuko untuk kader-kadernya secara sistematis menghadirkan analisis dalam mencandra permasalahan yang ummat dan bangsa.
Pada sisi ini kita melihat politik merupakan sebagai wahana, dapat bermakna ganda yang amat kontras antara satu makna dengan makna lainnya. Di satu sisi politik dapat diklaim sebagai alat perjuangan untuk mempengaruhi arah kebijakan yang akan berdampak pada masyarakat luas, sedangkan di lain sisi politik menampilkan wajah yang begitu pragmatis, korup dan merugikan kepentingan masyarakat luas akibat prilaku para aktornya.
Dalam idelitas gerakan, maka politik merupakan salah satu alat penting dalam berjuang berdasarkan-nilai kebenaran. Namun hal itu mutlak mensyaratkan hadirnya para politisi yang memahami makna politik yang demikian, yakni politik sebagai alat perjuangan, bukan politik sebagai tujuan.
Para politisi yang memiliki karakter kepejuangan sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia agar dapat memberikan arah dan kebijakan politik yang mampu menjawab kepentingan masyarakat. Para politisi yang bersikap sebagai negarawan harus ditemukan dan dihadirkan kembali ke tengah bangsa Indonesia yang sedang mengalami krisis kepemimpinan politik akibat kepercayaan masyarakat yang telah luluh terhadap perangai para politisi saat ini. Kepemimpinan muda yang digulirkan saat ini sebagai salah satu bentuk relevansi peran generasi bangsa apakah mampu dihadirkan atau memang menjadi alternatif bahkan sama dengan konsep kepemimpinan lama?
Dalam konteks lain tidak adanya pendidikan politik selama ini, kita lalu bisa memahami mengapa terjadi, tidak hanya merosotnya etika dan moralitas politik, tetapi juga mengapa loyalitas kepada pemimpin di pusat begitu kuat? Selain faktor strategi parpol demi kepentingan bangsa dan daerah tertentu, harus kita akui bahwa di tengah tidak adanya pendidikan politik yang sehat selama ini, memang budaya politik kita di Indonesia masih budaya politik tradisionalisme.Dalam budaya politik yang tradisional itu memang figur pemimpin dan karisma jauh lebih kuat dan menentukan daripada segala mekanisme dan prosedur formal yang demokratis dan profesional.
Jadi, jalan kita masih panjang. Tapi, kita akan bisa berhasil kalau kita sekarang menekuni secara serius pendidikan politik itu, pendidikan untuk membentuk character building. Melalui pendidikan politik yang sehat itulah diharapkan pula agar loyalitas tradisional kepada figur pemimpin bisa digantikan atau diimbangi oleh loyalitas kepada nilai, visi, dan program kepemimpinan yang sesuai dengan aturan dan mekanisme yang demokratis.
Oleh karena itu HMI dengan ini turut bertanggungjawab atas usaha penyiapan kader calon pemimpin politik masa depan dan harus dilakukan sejak saat ini juga. Para calon pemimpin politik itu perlu dibangun kesadaran, wawasan, strategi dan dan keterampilan teknisnya dalam memimpin dan mengelola agenda politik baik di tingkat nasional maupun lokal.
Demikian juga atas problematika yang pelik hingga saat ini, harusnya ada strategi untuk mengurai benang kusut konflik dan masalah dibangsa ini. Maka dengan ini HMI cabang semarang tergerak untuk mengadakan training kepemimpinan politik nasional. Dengan berlandaskan analisis konstruktif-siglikal dan pencandraan SWOT, merekayasa untuk bisa memformulasikan gagasan dan idelisme para kader muda yang ada saat ini supaya ada bentuk solusi, baik itu gagasan/ ide, teknis ataupun nonteksis. Selagi kita masih tergerak dengan sungguh untuk berijtihad pasti akan ada sesuatu yang terumuskan dan akan menjadi harapan baru untuk menuai kebaikan demi masa depan ummat dan bangsa.

Senin, 24 November 2008

Gerakan Revolusi Budaya melawan ”Marketisme”





Gerakan Revolusi Budaya melawan ”Marketisme”
Upaya mewujudkan Masyarakat Berkeadilan

Oleh Tim LK 2 HMI Cabang Semarang



Di tengah perkembangan dunia global dan kemudahan informasi, dunia telah terpetakan dalam proses Neokolonialissasi (penjajahan model baru) di berbagai belahan dunia. Sosok manusia ditempatkan sebagai penghuni yang paling berkuasa di muka bumi.posisi inilah yang menentukan arah hidupnya, dengan berbagai fasilitas yang dimiliki. Terhampar dihadapan manusia untuk memiliki, menikmati dan menundukkan seluruhnya untuk manusia (QS.22:65). Apakah berwujud alam nabati, alam hewani atau bahkan manusia itu sendiri ? akan tereksploitasi jika tidak saling mewaspadai.
Dalam sejarah peradaban ummat manusia, Jika dikehendaki akan terbagi dalam babak sejarah baru menginformasikan segala tingkatan yang dapat mengantarkan pada tingkatan eksistensi mazhab materialisme yang kokoh dan utama . Charles Darwin membahasakan dengan “Survival Of The Fittest” siapakah yang kuat itulah yang akan menentukan peta bumi untuk berkuasa berdasarkan kepentingan pribadi, kelompok, dan mengesampingkan kebersamaan kemanusiaan.
Hukum rimba berlaku searah dengan efektifitas manusia menguasai alam sekitar dengan tanpa kompromi, menjadikan alat manusia sebagai sarana untuk mencapai kesejahteraan. Nilai (value) dalam masyarakat telah terabaikan, tertutup dengan gaya materialisme yang berlebihan, kepemilikan bendawi akan lebih dihargai oleh masyarakat, tentu yang akan berkuasa dalam kebijakan tanpa mempertimbangkan kebijaksaanaan. Sikap mulia yang diwujudkan dalam interaksi social. Tidak akan ada fungsinya jika atribut kepemilikkan materi tidak ada. Maka nonsense arti sebuah kemanusiaan.
Terciptanya penghargaan yang lebih terhadap materialisme, Francis Fukuyama (2001) memberikan indikasi positif atas kehancuran materialisme dalam masyarakat dengan mengacu hilangnya (Modal Capital :Nilai) yang hilang dari setiap individu melakukan beberapa pemenuhan eksistensi kebutuhan sehari-hari.
Secara historis klasik di kisahkan dari contoh pergulatan Qobil-Habil putera Adam yang memperebutkan materialisme bergaya kapitalisme, dalam mengidentifikasi superioritas manusia berkuasa atas yang lain. disimbolkan dengan perebutan anak manusia dengan keinginan individu yang tak terkendali, akhirnya salah satu harus ada yang dicampakkan dalam korban atas keberingasan manusia lain.
Seiring dengan berkembangnya zaman, cara efektif (mudah) digunakan oleh manusia modern-global dimulai dari satu abad ke belakang. Negara ekonomi maju telah membuat perubahan ke dalam apa yang disebut ” Masyarakat Informasi” atau Era Post Industrial. Alvin Toffler membahasakan dengan transmisi gelombang ketiga . mengisyratkan bahwa manusia pada akhirnya akan menjadi sekuensi dengan gelombang sebelumnya yang saling terkait, dari masyarakat Pemburu- Pengumpul- Petani- Industri – Kolonialisme-Neo-kapitalisme- Informasi- Market Kultur Nation (Neo- liberalisme)-dan menuju Revolusi Budaya di tengah arus global. Tentu mengajak negara-negara berkembang mengevaluasi secara kedirian. Sejauhmana potensi yang dimiliki baik SDM-SDA yang ada dalam negeri tersebut.
Awal sejarah perkembangan masyarakat bertatanan global dimulai sejak Colombus menemukan benua Amerika dan diikuti oleh bangsa-bangsa yang mencari tanah-tanah baru di Amerika dan Asia, tak bisa berjalan sendirian. Ia juga disertai oleh strategi ekonomi kapitalis. kiranya Lenin benar ketika mengatakan bahwa Imperialisme dan Kolonialisme (baca : Globalisasi) adalah anak dari kapitalisme. Maka di Abad 18 para kolonialis mencari daerah-dearah jajahan demi menghadapi naluri kapitalisme liberalnya. Di Abad 21 ini, mereka bergerak berdasarkan hasrat Neo-liberalismenya.
Globalisai merupakan alat untuk melakukan proses perluasan dan pengintegrasian dan hubungan masyarakat dari berbagai penjuru dunia. Dalam hubungan global tersebut sebuah peristiwa yang terjadi di wilayah atau kelompok masyarakat tertentu dipengaruhi bahkan dibentuk oleh peristiwa-peristiwa di wilayah atau kelompok masyarakat belahan bumi lainnya dan begitu pula sebaliknya. Ranah ekonomi menjadi sangat superior karena Negara terpetakan dengan Negara maju dan berkembang yang tingkat ukurannya ada dalam ekonomi dan politik. Untuk mengindentifikasi kesejahteraan dalam suatu Negara.
Filosofi ekonomi liberal menganggap individu memiliki individualitas dan kebebasan. kedua hal itu, mereka bisa bersaing dalam sistem pasar di belantara pasar bebas yang diciptakan oleh negara-negara maju untuk negara-negara berkembang. Dengan instansi yang dapat memberikan angin segar pembebasan dari negara yang terbatas dengan memakai sistem pasar yang berlaku. Terbagi dalam blok pasar yang merupakan perpanjangan tangan prinsip ekonomi global yang berbentuk kesepakatan internasional berwujud “ Marketisme Global “ atau mazhab ideologi baru yang dibahasakan dengan pembentukan pasar makro, di tingkat internasional seperti GATT (General Agreement On Tariff And Trade) Menjadi tonggak awal dimulainya globalisasi di bidang ekonomi.
Di Asia dibentuk AFTA (Asean Free Trade Area), di Asia pasifik dibentuk Asia Pacific Economic Cooperation (APEC), di kawasan Eropa dibentuk Single European Market (SEM) dan di Negara-negara atlantik utara di bentuk North America Free Trade Area (NAFTA). Lembaga pasar internasional dan mekanisme Perdagangan global tersebut dilandasi motivasi utama untuk memaksimalkan keuntungan dan kekuasaan pasar sebagai penggerak peradaban baru pasca runtuhnya negara-negara berkembang di dunia (Adi Sasono: 2008).
Semua institusi global yang bercirikan pasar melatar belakangi Filosofi Neo-liberal yang meradikalkan anggapan dasar untuk meletakkan nilai ekonomis pada setiap konsep hak, kewajiban dan relasi sosial. Maka keajiban pemerintah untuk memberikan pelayanan publik mulai dari air minum, listrik, transportasi pada masyarakatnya. Semua di dekati pada nilai ekonomisnya.. Persoalannya menjadi sejauhmana kewajiban pemerintah dari hak masayarakat itu bernilai ekonomis dan sejauhmana andil partisipasi politik untuk mensejahterakan negara ?
Mana yang selera ekonomi menguntungkan, penyediaan air minum, listrik atau pun yang lain disediakan oleh pemerintah, swasta, asing?, maka andil pemerintah untuk tetap konsisten membela kepentingan rakyat masih ada atau hilang mendukung kepentingan asing demi memuaskan laku kelompok atau individu. Peta-peta itulah yang mengidentifikasi baju globalisasi mulai dipakai aktor yang peduli atau tidak peduli pada kedirian bangsanya. Kesadaran tentang waktu dan bersantai dihitung secara ekonomis, istilah waktu adalah uang atau bersantai di café menjadi makin popular apalagi peran untuk tetap mempertahankan bahwa kekayaan anak negeri tetap menjadi prioritas mensejahterakan bangsa sendiri adalah logika sosial yang harus dipertanyakan secara terus menerus agar sikap memiliki terhadap bangsa akan selalu hadir.
Dengan meletakkan nilai ekonomis dan politis global pada hampir segala kehidupan, maka perusahaan Multinasional dan Transnasionalisasi juga menciptakan strategi baru dalam menguasai dunia bermula dari bank dunia (WB), World Trade Organization (WTO), International Monetary Fund (IMF), Multinasional Cooporation (MNCs), Transnasional Coorporation (TNCs) dan lain-lain sebagai aktor pengganti dari peran negara yang semakin semakin kedaulatannya akibat dari peran strategis yang dimainkan oleh institusi besar ini.
Mereka membagi bumi dalam wilayah dominasi ekonomi mereka .mereka membagi bumi menjadi maju dan berkembang dan diciptakan untuk menjadi wilayah yang membutuhkan bantuan dan teknologi dari yang maju. Bantuan atas nama social digelontorkan kepada rakyat atas nama kesejahteraan namun sebenarnya sekedar bentuk utangan lunak yang akan ditanggung oleh rakyat denga memakai system subsidi silang dalam pengalokasiaan berbagai macam krisis yang melanda perekonomian bangsa seperti kenaikan pajak, BBM, kesempatran kerja kecil berimbas pada pengangguran. Hal itu disebabkan kontak praktek politik yang hanya berkutat pada idealisme demokrasi namun dapat dibahasakan sangat jauh panggang dari api, prinsip liberalisasi hadir yang diciptakan adalah kepentingan individu dan kelompok dengan diperkuat oleh intervensi Asing.
Semua yang dicita-citakan hanya sebuah retorika kenegaraan yang hanya menitik beratkan pada mainstream positivisme. Dengan dasar yang punya uang yang akan digerakkan. Menghancurkan nilai dalam sebuah tatanan masyarakat. Maka perombakan dari segala aspek kehidupan mulai digerakkan dalam mencandra sebuah lokalitas keindonesiaan yang perlu diselamatkan karena ketimpangan terus akan menimpa nasib negeri yang terlonta-lonta karena ideologi liberal asing terus menghinggapi dalam mainstream kita memandang kehidupan menjadi materialistik an sich. Bagaimana melawan globalisasi jika kerusakan di muka bumi terus berkelanjutan Atas keberhasilan neo- liberalisme ini.



REVOLUSI BUDAYA DAN KETERJEBKAN DALAM GELOMBANG MARKETISME MENIMBANG KESEJAHTERAAN BANGSA.
Dampak global yang ditunai dari globalisasi telah merambah berbagai segi kehidupan yang semakin hari semakin akut kondisinya. Kebijakan ekonomi dan politik telah dikuasai oleh lembaga donor internasional bahkan orang-orang lokal terjebak dengan ideologi ini. Yang kaya akan menjalin hubungan semakin mesra dengan konsep transnasionalisasi melupakan sebuah lokalitas nasional (Baca: kebangsaan) karena secara individu telah menguntungkan sepihak.
Kategori abstrak diatas telah menjebak negeri ini pada penguasaan negeri terhadap keuntungan pribadi atau kelompok yang terus mengatur negeri ini dengan berbagai kebijakan sanfat merugikan rakyat . kita dapat mengidentifikasi , sebagian pemerintah saat ini selain menjadi pejabat negara, mereka adalah pengusaha besar komprador (industri maupun sebagai pedagang), tuan-tuan tanah besar dan juga banyak dari mereka menjadi spekulan mata uang.
Kita dapat memetakan aktor-aktor pasar itu adalah Menteri KESRA Abu Rizal Bakrie adalah pemilik sejumlah Perusahaan, Perkebunan, konstruksi, pertambangan dan juga eksplorasi minyak besar. Demikian pula Yusuf Kalla. Dia menguasai perusahaan pelayaran,, pabrik semen, elektronika, konstruksi, pertambangan, dan tuan tanah besar yang menguasai konsesi sejumlah tanah dan perkebunan dan HPH. Sementara para menteri yang lain meperoleh pendapat tidak sah dari kebocoran proyek-proyek asing dan proyek yang mengada-ada yang tidak diperlukan rakyat seperti pembangunan jalan tol, dan lain-lain.
Sri Mulyani menteri perekonomian adalah bekas direktur IMF asia pasifik dan Bank Dunia, yang sangat pro terhadap kebijakan lembaga IMF dan Bank Dunia. Mereka orang-rang yang menguasai kebijakan perekonomian indonesia saat ini, bekerja dengan kawan dekatnya DPR, yang selalui senantiasa menyetujui kebijakannya.
Maka kategori miskin dalam lingkup lokal adalah meraka yang terjebak dalam lingkup struktual yang mencederai tradisi kemakmuran bangsa yang sebenarnya berdaya, budaya adat telah dihancurkan oleh sistem global yang berorientasi pasar itu semua yang sebenarnya dapat menolak keutuhan bangsa kita .
Kita mencoba keluar dari lingkaran setan penjajahan untuk merieview potensi yang ada di lokal bangsa kita., dengan mengembalikan maintream budaya yang ada dalam masyarakat kita, secara definisi budaya berarti Cipta, Rasa, Karsa manusia yang dapat diberdayakan secara lokal agar produk maupun budaya asing dapat terpetakan secara real apakah menguntungkan bangsa kita (Suryono Soekanto:1970). Kalau tidak menguntungkan mengapa mesti di bela keberadaanya? seperti imbas global budaya asing yang masih menghiasi. Corak Pasar, Stayle, Makanan, atapun liberalisasi BUMN ke Swasta, itu semua dampak global yang memakai sistem Marketisme yang kondisinya makin hari makin menyengsarakan rakyat. Tentu kebudayaan lokal semakin tergerus searah dengan pembangunan bangsa ataupun karakter bangsa yang unik yang telah melibatkan diri bergambung dengan kebudayaan global yang sangat eksploitatif pro liberal. Budaya gotong royong yang dimilki bangsa telah tergadai dengan budaya KKN yang tidak tebendung akibat maistream asing yang berdampak lokal. dimanapaun berada.
Budaya transfer nilai sudah tidak lagi menjadi panutan yang harus ditiru. melainkan hanya menawarkan konsep belaka dengan memakai jejaring market berwatak kapital liberal. Entah berwujud pesan agama atapun iklan ekonomis. Tokoh panutan sudah berbudaya asing liberal. Bukan lagi sebagai panutan ataupun memberi dalam masyarakat serta nguri-nguri budaya lokal yang harus dilestarikan dengan tidak terjebak pada mainstream pasar. Melainkan maintream bisnis atau market yang ada dalam benak mereka.. MARKETISME telah merasuki relung bangsa kita sehingga. kebangkitan memang harus dimulai dari sisi budaya yang arif yang dimulai dari lokal-lokal( daerah-daerah) keindonesiaan tentu untuk menjaga dari eksplorasi secara kebablasan.
Campur tangan lembaga transnasionalisasi dan Invisible Hand (Pro-asing) yang menjadi actor local telah merambah di berbagai instansi siap mengantarkan dari cara pandang individu yang bermain dalam local bangsa yang siap tergadai dengan perilaku destruktif yang membawa kepada keterbelakangan , kemiskinan , despotisme dan kebodohan sistemik. Hal itu berimbas pada terputusnya pada pembebasan misi kemanusiaan dan kerakyatan seperti tingkah korup dan rutinitas prosedur demokrasi yang hanya bersistem pasar . berpedoman pada mindset untung rugi dalam arti mengembangkan visi pasar itu sendiri.
Saatnya kita menyuarakan keagungan dalam perubahan sosial kebangsaan yaitu menyulut api revolusi, yang selama ini dimatikan oleh kaum neo-kapitalis, berwujud agamawan, Intelektual, Politisi, Ekonom, Lembaga Swadaya yang pro terhadap ideologi kapitalisme global. Mereka telah menjadi hamba kontra revolusioner. Jika kita memaknai revolusi sebagai anti thesis terhadap mainstream neo- kolonialis yang melanda pada negar-negara berkembang.
Term Revolusi dalam analisa social Negara berkembang dapat diterjemahkan dalam arti perubahan teknis yang hanya mendasarkan pada perubahan teknis semata. Melainkan mendasarkan pada teknis memindahkan dari institusi politik yang mapan yang tidak mampu menyalurkan saluran yang dituntut untuk mengakomodasi kelompok-kelompok social yang baru di dalam pemerintahan yang ada, atau kekuatan social baru yang sebelumnya secara langsung tidak terlibat terlibat dalam politik. kini memutuskan untuk berpartisipasi (Samuel P. Huntington:1968).
Bahkan Revolusi bisa berbalik ulang, Revolusi hanya berkembang pada periode bulan madu “Revolusioner”, yang mungkin melibatkan gelombang kritik dari kalangan moderat, aksi-aksi reaksioner dan anti revolusi, bermunculan kalangan radikal, suasana teror dan damai terjadi dan akhirnya pengahancuran lini salah satu masyarakat tidak menyentuh akar.
Bangsa kita telah kecologan aksi dari pihak yang dikecewakan secara sepihak. tidak integral dalam memahami masalah kebangsaan (baca: Keindonesiaan) Revolusi bukanlah mengulang pada Negara yang bertumpu gelombang materialisme sebagaimana yang terjadi di Rusia, Perancis, Jerman atau Rusia. Hendaknya Revolusi merupakan perlawanan atas kendaraan budaya modernitas menjadi budaya local yang arif yang mendasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan yang utuh sehingga secara bertahap perlawanan akan selalu disuarakan sehingga musuh-mush global dapat dipetakan dengan memahami nilai budaya dan lokalitas:
Pertama: Preferensi budaya manusia yang mampu menguasai bumi dengan menyingkirkan segala aspek ketuhanan dan finalitas dalam konteks pribumi masih mendasarkan kepada kepercayaan yang bersifat magic, finalitas. Budaya kapitalis neo-liberal, perlu dienyahkan semua karena budaya yang ada di bangsa kita bersifat transendental dan penuh nilai berbalik arah dengan budaya asing yang berideologi posifistik.
Kedua: Budaya dominasi pasar sebagi satu- satunya pengatur relasi, baik antar individu maupun antar bangsa dalam system ini, ketika individu adalah rival bagi yang lainnya, maka manusia serigala bagi manusia yang lain (Thomas Hobbes). Konteks Indonesia yang local yang masih menjunjung komunitas universal sejati. Dimana setiap anggota memiliki kesadaran untuk bertanggung jawab bagi nasib anggota yang lain. Dalam term kebangsaan ketika mengenal istilah gotong royong dengan semboyan berat sama dipikul , ringan sama dijinjing . mainstream lokalitas inilah yang perlu kita junjung tinggi.
Ketiga: Budaya dalam perspektif terhadap alam. Alam semesta bukan kita memandang sebagai sebuah kekayaan dan wadah yang statis, tetapi koleksi tanda-tanda (ayat) atau sebuah bahasa yang dengannya dapat berbicara kepada kita, dengan simpul jika kita memelihara dengan baik maka klestariannya akan terjaga. Dalam konteks local kita masih mempunya budaya sedekah bumi sebagai wujud pemeliharaan terhadap alam sekitar kita. Dalam bahasa agama menuntut untuk mepertanggungjawabkan dan menghargai alam serta membiarkannya berkembang. Budaya marketisme kontra pemikiran bahwa alam semesta hanya tempat akhir dari limbah yang dihasilkan dari produksi dan konsumsi manusia dan mainstream yang dibangun sangat eksplotatif. Descartes menyebut nya” Menjadi Tuan dan Pemilik alam.
Keempat: penyamaan persepsi bahwa masyarakat Indonesia lahir dari bangsa yang berbudaya. atau lahir dari local masing- masing suku yang perlu melibatkan dalam interaksi dan cara pandang untuk memiliki rasa “nasionalisme” penuh . magar dominasi global yang mengancam eksistensi lokal bdapat teresistensi dengan sikap-sikap local yang arif terhadap kediriaan bangsa tanpa terjebak pada primordialisme. Sempit. Namun menempatkan manusia pada tempatnya adalah yang tepenting, dihargai, dihormati, dimanusiakan bekerjasama, bersikap adal adalah suatu keniscayaan.
Imam Khomeini memberikan sinar harapan baru yang berkiblat pada revolusi Iran, revolusi akan terbangun jika tiga simpul saling menyatu dan berjalan secra sinergis: pertama: adalah kepemimpinan, massa rakyat, dan yang terakhir adalah doktrin islam dalam konteks keindonesiaan kita menterjemahkan dalam optimalisasi budaya-budaya yang berkembang di lokal keindonesiaan karena hal itu merupakan wujud perlawanan secara efektif.



UNIVERSALITAS ISLAM SEBAGAI PEMBANGUN PERADABAN MANUSIA SEPANJANG MASA
Islam hadir untuk memberikan kesejahteraan kepada alam, manusia dan landasan teologis kemanusiaan supaya terbebas dari penghambaan dari hamba kepada pencipta hamba. Dengan konsep ini tauhid sebagai landasan berideologi akan tercipta dan kehidupan akan berjalan secara seimbang. Semua itu akan tercipta ketika prinsip dakwah hadir dalam setiap kedirian kemanusiaan “amr ma’ruf nahi munkar” saling memberi masukan, pengertian ada dalam tatanan social sehingga dalam jangka masa waktu dimana dan kapanpun tercipta. Sehingga cita Baldah Thoyyibah Wa Rabbun Ghofur (negeri yang makmur sejahtera) akan terwujud.
HMI-MPO sebagai salah satu bagian elemen dari masyarakat akan memberikan sedikit pemikiran terhadap kondisi bangsa yang semaikin hari semakin terpuruk terjebak dalam mental “marketisme” yang sempit, terkotak pada individu dan kelompok, sehingga aksi apapun berdampak pada keuntungan ideology kapitalisme global yang semaikin hari semakin menyingkirkan ummat pada akar rumput budaya yang tercerabut dari nilai-nilai Islam yang diharapkan. Harapannya LK II (intermediate Training) menjadi tonggak untuk mengawali mencetak manusia utuh yang dapat memberi pengaruh pada penerapan nilai keadilan manusia. Yang paling utama memberikan manfaat kepada sekitarnya.

diplomasi wanita jawa


Dipolmasi Wanita Jawa

Afi'dah*


Ketika membincang persoalan kese-teraan gender, kebanyakan orang cenderung melihat Barat sebagai kiblat. Padahal di belahan Timur dunia, tak jauh di depan mata, banyak fenomena kesetaraan gender yang luput dari perhatian kita.
Di Asia saja, terdapat sederet nama yang menjadi pemimpin masyarakat. Entah itu presiden, perdana menteri, maupun yang menjadi menteri-menteri. Sebut saja diantaranya (alm.) Benazir Butho (Pakistan), Gloria Macapagal Arroyo (Filiphina) dan Megawati Soekarno Puteri (Indonesia). Nama-nama ini belum terhi-tung wanita-wanita yang menduduki jabatan penting di cabinet, legislative maupun organisasi social kemasya-rakatan. Dalam tulisan ini, penulis lebih cenderung menyebut "wanita" dan bukan "perempuan". Karena dalam falsafah Jawa, wanita mengandung kedalaman makna.
Wanita berarti wani ditata (berani diatur) dan juga berani bertapa (tirakat/-berani menderita). Potensi inilah yang menjadikan "wanita" memiliki derajat tinggi. Sementara perempuan sebatas memiliki makna yang berkonotasi pada biologis-seksualitas semata.


Kepemimpinan Wanita
Amerika yang dianggap sebagai "Negara percontohan" demokratisasi di dunia, belum pernah satu pun menem-patkan wanita sebagai presden (pemim-pin) Negara Paman Sam tersebut. Ini berbeda dengan Negara-negara (ber-kembang) yang justru lebih menghormati harkat dan martabat perempuan, de-ngan memberikan kesempatan yang sa-ma dalam kepemimpinan. Indonesia pernah seorang presiden berjenis kela-min wanita, yaitu Megawati Soekarno Puteri. Jauh sebe-lum Megawati, ada RA Kartini yang menjadi ikon feminis modern di Indonesia.
Di Pakistan, (alm.) Benazir Butho meski hidupnya berakhir dengan tragis karena ditembah oleh pembunuh gelap namun pernah menempatkan wanita meme-gang kendali pemerintahan di negeri tersebut. Hal sama terjadi di Filiphina. Dimana Gloria Macapagal Arroyo, alum-nus Harvard University ini, mampu menyi-ta perhatian public di sana, hingga akhir-nya dia pun dipercaya menjadi pemim-pin Negara.
Yang ingin penulis sampaikan di sini adalah, bahwa wanita itu bila diberi kesempatan yang sama dengan laki-laki, bisa berperan sebagaimana kaum Adam tersebut. Artinya, bahwa keseta-raan gender yang kita gembar-gembor-kan selama ini, sudah mencapai pada aras yang cukup menggem-birakan. Yang perlu dipertanykana justru Negara semacam Amerika Serikat. Di mana di alam demokrasi modern seperti sekarang ini, belum pernah satu pemim-pin wanita lahir di sana.


Wanita Jawa
Melihat fenomena wanita Jawa yang merupakan masyarakat Timur, adalah hal yang sangat menarik. Satu sisi, wanita Jawa sering dianggap tidak berdaya. Padahal di sisi lain, wanita Jawa mem-punyai peranan yang tak terperikan da-lam kepemimpinan, tidak hanya dalam realitas masyarakat modern sekarang ini, bahkan jauh sebelum Indonesia menjadi Negara merdeka.
Wanita Jawa yang sering disebut kanca wingking dalam tradisi budaya Jawa, dimana sebutan tersebut memiliki makna negative, yakni ketidakberda-yaan, tetapi wanita tertulis dalam tinta emas dalam sejarah baik pada zaman Majapahit maupun Mataram.
Anehnya, selama ini masyarakat masih memandang wajah wanita jawa dengan wajah ketertindasan. Kaum feminis umumnya melihat kultur Jawa tidak memberi ruang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.
Sementara dunia Barat, sekalipun masih mendapat mendapat protes dari kaum feminis, tetapi dianggap jauh lebih toleran dan memberi posisi yang baik bagi wanitanya.
Benarkah Barat lebih memberi posisi setara pada wanita, atau sebenarnya wanita sengaja dikondisikan untuk beker-ja, dimana dalam revolusi industri, untuk menekan modal karena upah wanita lebih murah.
Jika melihat relasi kuasa, wanita melayu (dalam konteks ini Asia Tenggara) tak terkecuali Jawa, terlihat bahwa kekua-saan bisa lahir dari ketakberdayaan.
Teori kontradiktif dikemukakan Fou-cault. Di mana dalam pandangannya, di dalam teori fisika juga dapat ditemukan teori metafisika, pun dalam puisi, dapat ditemukan dari rumus-rumus mate-matika.
Artinya, sesuatu itu bisa dihasilkan dari sesuatu yang kontradiktif. Dan realitas berbicara, di mana dalam kultur Jawa, sebagaimana riset yang dilakukan Ardhian Novianto dan christina Handayani terha-dap beberapa desa di Gunung Kidul, Yogyakarta, sebagaimana tertulis dalam buku yang diberi titel "Kuasa Wanita Jawa."
Dalam pandangan kedua peneliti tersebut, wanita Jawa tidak perlu menjadi maskulin untuk mendapatkan kekuasaan. Ia justru harus memanfaatkan watak feminis yang melekat padanya.
Kita bisa membuktikannya dengan melihat realitas terdekat, bahkan di rumah kita sendiri dengan melihat sosok Ibu, yang merupakan repesentasi wanita yang berperan nyata di area domestic sekaligus publik.
Banyaknya ibu-ibu yang berdagang di pasar atau membuka warung di rumah, yang menegaskan bahwa ia telah berperan dalam kegiatan pereko-nomian, yang tentu saja telah berperan di area publik karenanya. Inilah yang dimaksdu Diplomasi Wanita Jawa. Di mana dengan kekuatan akal-pikiran serta tenaganya, wanita mencari solusi atas problem-problem yang ada.
Sebuah pekerjaan yang maha berat. Karena selain itu, para wanita masih memiliki beban menjaga anak dan "mengabdi" kepada suaminya. Sebagai seorang ibu, wanita Jawa bukanlah sosok yang ambisius untuk mendapatkan kedudukan public tertentu. Melainkan ia memosisikan diri sebagai support untuk keberhasilan sang suami.
Mengedepankan rasa dan bukan emosi dalam menyelesaikan sebuah permasalahan, juga merupakan kelebihan yang belum tentu bisa dilakukan seorang laki-laki. Ini sekaligus menjadi penegas, bahwa wanita memiliki kecerdasan dan bisa mengelola sebuah persoalan dengan pikiran (kecerdasan) dan rasa tersebut.
Dengan berbagai hal di atas, rasanya tidak sesuatu yang berlebihan jika dikatakan bahwa wanita Jawa adalah wanita dengan segenap kelebihan yang harus diapresiasi karenanya. Bukankah demikian ?
*Aktif di Surat kabar mahasiswa "AMANAT" IAIN Walisongo Semarang

kader hmi mpo semarang


Tarbiyah Bazar

Semarang-Dalam rangka me-nyambut pelepasan wisuda ke-53 IAIN Walisongo Semarang, Sabtu, 30 Agustus 2008 kader-kader HMI Komisariat Tarbiyah melaksana-kan program kerjanya berupa “ba-zaar wisuda”. Upacara rutin perse-mester itu dilaksanakan di Audit dua kampus 3 IAIN dan di-hadiri ribuan pengunjung yang ter-diri wisudawan, keluarga wisuda-wan, pedagang, dan juga tamu un-dangan. Terlihat sekali kekom-pakan pengurus dalam mempersi-apkan bazaar berupa dagang es cincau dan parcel serta lainnya. Semangat bazaar di harap-kan para kader dapat menyelami makna berupa aktifitas untuk me-latih mentalitas dalam berwirausaha.

Korp Pengader Cabang

Tepatnya pada pukul 20.00 WIB sabtu, 30 Agustus 2008 KPC menggelar diskusi rutin dengan pembicara Lukman Wibowo yang membincang tengang konsepsi “ulul albab dengan millennium baru Serta memperjelas arah pengkaderan di wilayah semarang. Acara yang bertempat di wisma perjuangan (sekretarian HMICS) di lemah gemapal ini dihadiri oleh puluhan anggota dan pengurus KPC. Tasropi, ketua KPC me-ngatakan bahwa perlu orientasi baru dalam melaksanakan semua pentrainingan di semarang. Acara ini juga bermaksud untuk mencari arah baru pengkaderan dan mem-persiapkan diri menghadaipi agen-da besar berupa SC, LK II dan Basic Training di semester ke 2.

Rapat Kerja
HMI Cabang Semarang

Tampak keseruisan pada wajah para pengurus Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Sem-arang (HMICS) dalam memper-sipakan agenda yang sangat pen-ting ini yaitu Rapat Kerja semester kedua semerter 2 pada periode 2008 dalam rangka meneruskan amanah organisasi di wilayah tingkatan cabang. Pada awalnya acara ini direncanakan pada tanggal 31 Agustus 2008 di salah satu tempat tinggal pengurus ca-bang, yaitu Ninik Ambarwati, atau akrab di panggil mbak ninok. Na-mun karena ketua umum HMICS masih menyelesaiakan sebuah pro-yek kerja, maka agenda penting tersebut dialihkan ke wisma perjuangan sekretariat HMICS yang berlokasi di Jl. Lemah Gem-pal IV Bulu Stalan Semarang, atau sering disebut LG 4. Agenda semula direncanakan dimulai tepat pukul 08.00 WIB dan akan diha-diri oleh semua pengurus HMICS. Namun agenda besar ini akhirnya ditunda sampai 6 September 2008, hari Sabtu malam setelah salat tarawih. Penundaan tersebut dikarenakan sejumlah pengurus tidak dapat hadir sehingga tidak memungkinkan digelar acara terse-but. Baravo HMICS semoga da-pat mengemban amanah perjuangan..

Penyambutan kader ala
IKIP PGRI 2008

Dalam rangka menyambut mahasiswa baru komisariat FPBS dan FPMIPa melakukan sweping lho bukan sweping PSk tapi sweping membagikan bunga per-jungan. Acara yang bertepatan pa-da 31 sepetember 2008 ini bertu-juan untuk mengenalkan HMI ke-pada para mahsisiwa baru di wila-yah IKIP PGRI semarang. Acara yang bertepatan pada Expo ini sangat ramai dan namapak se-mangat para pengurus berantusias dalam menyebarkan pesan per-juangan.

Raker FPBS dan FPMIPA

Demak - Pengurus HMI komi-sariat FPMIPA mengelar salah satu program penting yaitu Rapat Kerja Komiasariat (RKK). Tujuan acara tersebut yakni menyusun program kerja komisariat pada semester 2. Acara yang bertepatan pada hari sabtu 2 Agustus 2008 ini dihadiri oleh puluhan pengurus dan bertempat di rumah ketua umum yaitu Sigit selama 2 hari 1 malam.
Agenda serupa juga dise-lenggarakan oleh HMI Komisariat FPBS yang bertempat di Aula IKIP PGRI Semarang. Acara yang dilaksanakan pada 14 september 2008 ini juga dihadiri oleh puluhan pengurus. Tampak begitu semangat diwajah Para pengurus dalam melaksanakan program kerja penting ini. Karena agenda ini bertepatan pada bulan puasa, maka buka bersama adalah moment yang sangat dituggu-tunggu oleh semua peserta. Bravo..and keep spirit...
*liya & Anis

Penyambutan kader ala IAIN

Senin 26 juni 2008 pendaftaran mahasiswa baru IAIN walisongo telah dibuka sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Suasana kampus I tampak ramai dengan calon maha-siswa baru yang akan mendaftar di salah satu perguruan Negreri di semarang ini. Tampaknya kehadiran mereka disambut hangat oleh para kakak angkatan sebelumnya yang tergabung dalam masing-masing organisasi ekstra kampus, seperti Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Kesatuan Aksi Mahasiswa Islam (KAMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). HMI yang menamakan dirinya dengan FKKWS (Forum Komunikasi Komisariat Walisongo) menyambut calon mahasiswa baru dengan membantu menyelesaiakan prosedur administrasi pendaftaran sekaligus menawarkan program “Bimbingan Tes” sebagai ikhtiar menghadapi ujian masuk di kampus Hijau tersebut.
Bimtes tahun ini dilaksanakan pada tanggal 11-13 juli 2008 diikuti oleh 20 peserta, yang bertempak di TPQ Al-Hikmah. “Alhamdulillah BIMTES kali ini terselenggara dengan lancar dengan bukti para peserta terlihat sangat antusias dalam mengikuti setiap materi yang disampaikan oleh pemateri” komentar salah satu panitia ketika ditanya oleh crew lapmi.
Materi demi materi telah dilalui, tibalah di acara penutupan yang mana tidak hanya dihadiri oleh peserta BIMTES dan panitia saja, namun dihadiri oleh mengurus HMI Cabang Semarang, juga kader dari FPBS, dan tak kalah pentingnya Direntur Eksekutif LAPMICS beserta staffnya juga ikut meramaikan acara tersebut. Acara ini diakhiri dengan sajian dari peserta dan tamu undangan yang menampilkan kreatifitasnya.
“Dengan adanya BIMTES ini, kita berharap kebersamaan dan per-saudaraan terjalin sehingga menjadi komunitas yang menge-depankan ukhuwah ditengah masyarakat dalam menggapai cita-cita islam. Semoga kebersamaan tetap terjalin diantara kita walaupun BIMTES telah berakhir” Terang Hanafi selaku kutua umum HMI. Komisariat Tarbiyah di sela-sela sambutan pada saat penutupan tersebut.
*Sulis

hilai dan ruyah



HILAL VS RU’YAH
Created By Muhadz Ali Jidzar*


Sabda Nabi SAW


الاختلاف امتي رحمة


''Perbedaan di antara ummatku adalah rahmat'' (Al-Hadits)


Imam Hanafi r.a berkata,


راءينا صواب يحتمل الخطاء وراءينا غيرنا خطاء يحتمل الصواب


“Pendapat kami benar, tapi bisa saja membawa kekeliruan, dan pen-dapat selain kami keliru, tapi bisa saja membawa kebenaran”.
Bulan Ramadhan merupakan bulan mulia. Demikian karenanya tersimpan rahasia besar berupa malam lailatul qadar yang merupakan malam yang lebih baik daripada 1000 bulan.
Setiap muslim dalam hal ini ten-tunya sangat mengharapkan akan ke-hadiran bulan Ramadhan tersebut. Ti-dak terkecuali tumbuhan bahkan he-wan sekalipun. Begitu berartinya bu-lan tersebut sehingga sampai setiap makhluk yang tunduk kepadaNya bersuka ria menyambut kedatangan bulan tersebut.
Bulan Ramadhan tentunya tidak terlepas dari bulan Syawwal yang mana dalam penanggalan Hijriyah ini diperlukan ketetapan untuk menen-tukan awal dan akhir Ramadhan, ser-ta penentuan awal Syawwal atau hari raya Idul Fitr.
Pada hari raya Idul Fitri 1429 H besok kemungkinan tidak akan terjadi perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan dan Syawwal. Jadi untuk bulan syawwal yang akan datang, kita dapat bersama-sama untuk meraya-kan hari raya bersama. Dari Muham-madiyah sendiri telah menetapkan bahwa awal syawwal jatuh pada tanggal 1 Oktober 2008. Berdasarkan Maklumat Nomor : 04/MLM/I.0/E/ 2008 tertanggal 26 Juli 2008. Jadi tinggal rukyatul hilal di tanggal 29 Ramadhannya. Dengan beberapa ar-gumentasi, yang pertama Jika semua sistem hisab sepakat menyatakan hi-lal masih di bawah ufuk, maka selalu hilal dilaporkan tidak terlihat. Kedua Jika semua sistem hisab sepakat menyatakan hilal sudah di atas ufuk, namun masih di bawah imkanur-rukyah 2 derajat, maka akan ikhtilaf. Seperti kasus Idul Fitri 1427 H yang akan datang, tinggi hilal Ahad Pahing, 22 Okt 2006 Cuma 00 54’, maka akan ada yang lebaran Senin Pon, 23 Okt, ada yang Selasa wage, 24 Okt 2006. Ketiga Jika ahli hisab tidak sepakat. Sebagian menyatakan hilal di atas ufuk, sebagian lainnya menyatakan dibawah ufuk, maka seringkali hilal dilaporkan terlihat. Kesaksian tersebut ditolak oleh yang berpendapat bahwa hilal masih di bawah ufuk. Namun ke-mungkinan jika tidak terjadi perbeda-an, maka yang dipakai adalah kaedah yang argumentasi yang ketiga.
Jika terjadi perbedaan, maka per-bedaan yang paling fundamen dapat terlihat dari penetapan awal bulan Ra-madhan dan Syawwal. ada yang hanya berpuasa 29 hari dan ada pula yang menggenapkannya menjadi 30 hari sesuai dengan manhaj dan metode dari masing - masing aliran.
Di Indonesia sendiri terdapat be-berapa aliran diantaranya, aliran hisab murni yang dipegang oleh Mu-hammadiyah, aliran rukyah fi wilayatul hukmi yang dipegang oleh Nahdlatul Ulama, aliran imkanur rukyah yang dipegang oleh pemerintah sendiri, aliran mazhab Kejawen dengan me-tode aboge dan asapon-nya, dan aliran rukyah global yang dipegang oleh golongan Hizbut Tahrir dan mungkin masih banyak yang lainnya. Dari beberapa aliran itu mempunyai cara dan manhaj yang berbeda- beda, sehingga dalam pelaksanaan ibadah puasa dan perayaan awal Syawwal pun berbeda pula.
Mengenai perbedaan itu sebenar-nya dilatarbelakangi terhadap pema-haman hadist Nabi SAW yang berbunyi


صوموا لرءيته وافطروا لرءيته فان غم عليه فاءستكمله ثلاثين يوما

“Berpuasalah jika melihat hilal. Jika tidak memungkinkan lengkapilah syakban menjadi tiga puluh hari”. (bukhari-muslim).
Selain dilatarbelakangi dari pema-haman hadist Nabi SAW juga didasari oleh kaedah rukyah atau kaedah hi-sab (falak) serta perbedaan dari segi memilih matla’ (tempat terbit anak bulan), dengan menggunakan kaedah satu dunia satu matla’ atau kaedah matla’ tempatan.
Dari beberapa aliran yang ada, terdapat dua aliran besar di Indonesia yaitu aliran hisab dan aliran rukyah. Yang mana dari antar aliran itu mempuyai idealisme yang berbeda pula. Dari perbedaan idealisme itulah yang kemudian memunculkan pendi-kotomian ilmu pengetahuan (falak) bahkan kalau saja sudah sampai puncaknya maka terjadilah primor-dialisme sempit antar kedua aliran tersebut. Seperti halnya yang pernah terjadi di tahun 2007 kemarin, dimana didalam sidang itsbat terjadi perde-batan hebat bahkan sampai berujung saling tuding melecehkan antar aliran.
Apakah dengan begitu, dapat menyelesaikan sengketa antar kedua kubu besar tersebut?. Apakah mereka tidak melihat ummat malah semakin dibuat menjadi bingung?. Bukannya bingung karena terjadi penetapan yang berbeda, akan tetapi yang dibingungkan mengapa egoisitas masih menyelimuti penetapan ter-sebut. Dan apakah mereka tidak mempertimbangkan problematika um-mat yang kian lama kian terpecah dan terkotak– kotak?.
Sebenarnya hisab dapat diartikan sebagai sebuah metode perhitungan yang diperoleh dari penalaran analitik dan empirik (rukyat). Sedang rukyat diartikan sebagai pengamatan sis-tematik didasarkan atas metode dan data hisab yang ada.
Dalam hal ini pemerintah mem-buat jalan tengah dengan mambuat konsep aliran baru yang dinamakan aliran imkanurrukyah yang berusaha menjembatani kedua aliran tersebut. Dengan tawaran konsepnya memper-hitungkan perhitungan yang akurat dalam hisab yang telah menunjukkan nilai derajat yang kemungkinan dapat di rukyah. Jika dalam praktek di la-pangannya tidak dapat dirukyah, maka keesokan harinya masuk tanggal satu pada bulan berikutnya.
Namun demikian aliran imkanur-rukyah yang menjadi penengahpun ki-ni juga dilanda polemik dan konflik ba-ru. Imkanurrukyah yang menjadi ba-dan otonom kemudian terinvensi dan terkooptasi oleh berbagai kepentingan yang berimbas pada politisasi agama. Ini disebabkan karena imkanurrukyah sendiri kurang konsekwen terhadap istbat yang ditetapkan. Diantaranya terdapat monopoli politik antar bebe-rapa kepentingan. Salah satu diantara yang menjadi buktinya adalah dari ke-pala departemen sendiri, yang mana jika kepala departemen itu NU dapat dipastikan penentuan istbatnya pada ekstrim NU, sebaliknya Muhamma-diyah. Yang lebih ironisnya lagi bah-
kan tidak menutup kemungkinan Imkanurrukyah menjadi bagian profit dan dikuasai para kaum pemilik mo-dal. Maka cepat atau lambat Islam pun dapat terbeli.
Selanjutnya bagaimana kita dalam bersikap? Begini salah, begitu salah. Aliran ini tidak mau toleran, sedang aliran yang lain saling menya-lahkan. Bahkan ada pula aliran yang lebih mengutamakan kepentingan pri-badi diatas golongan (umat). Dan akankah kita tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah?
Sebagai kaum muslim yang baik tentunya taat kepada pemerintah setelah taat kepada Allah SWT dan utusan-nya, sebagaimana disebutkan dalam al-Quran. Dan jika ada perselisihan, maka keputusannya di tangan pemerintah sesuai dengan kaidah


حكم الحاكم ءالزام ويرفع الخلاف

Oleh karena itulah bekal mempelajari ilmu ini sangat ditekankan bahkan diwajibkan bagi setiap muslim. Tidak hanya untuk mengetahui kapan dapat kita menjalankan puasa atau berlebaran saja, namun lebih daripada itu, semua hal yang berhubungan dengan ibadah dapat dipelajari dalam ilmu ini. Seperti halnya shalat lima waktu, arah kiblat, penentuan haji, zakat, gerhana, dan lain-lain.
Namun demikian, masyarakat harus tetap bersikap pruden dan selektif dalam mensikapi berbagai macam warna perbedaan yang melanda umat dewasa ini, dan tidak lupa semuanya pastilah dikembalikan kepada Allah dzat pemilik mayapada dengan landasan syara’ dan ilmu pengetahuan Nya yang telah dianugerahkan kepada kita semua.
Dan tentunya tidak terprovokasi oleh pihak maupun kepentingan manapun. Selanjutnya tinggal kepada keyakinan dan kepercayaan kita masing-masing dengan didasarkan bekal ilmu yang telah kita punyai dalam mensikapi beberapa perbedaan yang menjadikan kemelut umat. Dan yang paling penting tetap memegang teguh toleransi perbedaan istbat antar umat Islam.


*Muhadz Ali Jidzar
Ketua Umum Komisariat Syari’ah

keutama’an Ramadhan


keutama’an Ramadhan
An-Nailus As-Surur fi Fadhoilus As-Suhur

By : Al-Fikrul Al-Ilm*


Sebagian dari keuta­maan bulan rama­dhan yaitu diturun­kan­­nya al-Qur’an sebagai pe­tunjuk bagi manusia menuju kebahagiaan dunia dan ke­bahagia­an di akhirat nanti dan sebagai pembeda (mu’jizat nabi Muhammad SAW), dan pada bulan ramadhan juga terdapat malam yang mulia malam se­ribu malam yaitu Lailatul Qodar, malam diturunkannya al-Qur’an sebagaima-na firman ­Allah dalam surat al-Qodar, dalam kitab Khulashotul Kalam disebutkan tentang sebagian keuta-maan bulan puasa se­bagaimana hadis yang ber­bunyi:


اعطيث امتي في شهر رمضان خمسا, لم يعطهن نبيّ قلبئ


“Umatku pada bulan rama­­­d­h­an diberikan lima perkara ­yang tidak diberikan kepada umat setelah aku (Nabi ­Muhammad).
Keterangan tentang hadist­­ diatas tentang lima perkara yang disabdakan oleh nabi yaitu keu-tamaan yang terdapat pada bulan puasa dan di­antara keutamaan bulan puasa ­(Ramadhan) adalah sebagai berikut :
Ketika bulan Ramadhan telah datang, Allah SWT meridhoi para umatku yang melaksanakan puasa, dan siapa yang mendapat­kan ridlo dari Allah maka akan mendapatkan siksa, sebanyak apapun amal ibadah manusia jika tidak menda-patkan ridho atau kerelaan dari Allah, maka amalnya akan sia-sia belaka.
Bau mulut orang yang berpuasa, seperti bau ­minyak yang sangat wa-ngi (kasturi), yang nantinya orang yang berpuasa ter­sebut akan men-dapat balas­an seperti keutamaan, kesu­nahan ketika seorang hamba Allah memakai wangi-wangian yang hendak pergi dalam suatu ma-jelis atau pada waktu sholat jum’at.
Pada bulan puasa, Siang dan malam para malaikat memintakan ampunan dari Allah SWT, atas orang yang menjalankan ibadah puasa atas segala dosa-dosanya. Dalam sebuah hadis juga disebut-kan yang artinya : Barang siapa yang berpuasa dengan keteguhan iman dan mengharap pahala (Ridho) dari Allah maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang sudah lewat.
Allah SWT memerintahkan surga supaya bersiap-siap dan berhias menunggu ­datang­­­nya orang yang ber­puasa, yaitu Allah mem­persiap-kan pahala surga bagi mereka yang men­jalankan ibadah puasa dengan keimanan dan ke­ikhlasan.
Pada akhir bulan puasa (Rama-dhan) Allah SWT memberikan am-punan atas semua dosa-dosanya orang yang berpuasa. Sebagai­mana dijelaskan bulan ­dalam hadist nabi yang artinya: Permulaan dari ­bulan ramadhan adalah turunnya rahmat dari Allah SAW, pertengahannya adalah turunnya peng­ampunan-Nya, dan diakhir bulan ramadhan Allah ­mem­­bebaskan dari neraka.
Suatu ketika ada salah satu sahabat Nabi yang ber­tanya, ya Rasulullah apakah pengampunan dosa-dosa ter­sebut diberikan pada malam lailatul ­Qodar? Rasulullah SAW menjawab: Tidak, dan bersabda: Apa kalian tidak mengerti bahwa orang yang bekerja itu, jikkalau sudah selesai pekerjaannya tentu diberikan hasil jerih payahnya. Jawaban nabi terdapat dalam al-Qur’an surat al-Zalzalah, yang­ berbunyi :


فَمَنْ يَعْمَلْ مِسْقاَلَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهْ. وَمَنْ يَعْمَلْ مِسْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهْ

Barangsiapa yang men­gerjakan kebaikan seberat ­dzarrah­pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan ­barangsiapa yang ­men­gerja­kan kejahatan se­besar ­dzarrah­­­pun, niscaya dia akan melihat (balas­an)nya pula.
Diriwayatkan oleh Anas bin Malik, sesungguhnya ­Rasulullah SAW bersabda yang artinya :
Besok pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa itu keluar dari kubur itu dapat diketahui orang-orang yang benar-benar melaksana­kan ibadah puasa.
Dari keterangan hadist diatas dijelaskan, bahwa orang yang ber-puasa, pada hari kiamat nanti akan ketahuan mana orang yang berpuasa mana yang tidak menjalankan puasa, disebabkan oleh bau harum yang ke-luar dari mulut orang-orang yang benar-benar menjalan puasa, dan orang-orang tadi masing-masing ­menerima hi­dangan dan minum­­an yang masih ter­bungkus dengan ­rapat (segel­an), kemudian dipersilahkan untuk makan dan minum se­puasnya. Inilah salah satu balas­an yang dibe-rikan oleh Allah SWT bagi mereka yang telah menjalankan, puasa keti-ka ­orang-orang sedang enak-enak­an makan dan minum, dan orang itu telah melaksanakan ibadah dengan sepenuh hati dan hanya ­meng­­­harap ridho dari Allah SWT pada bulan puasa.
Diterangkan juga dalam kitab Irsyadul Ibda , hadis nabi yang berbunyi :


استكبثرا فيه من اربع خصال ترضون به ربكم, وخلصتين لاغنئ لكم عنهما.. الح

Perbanyaklah kalian empat perkara pada bulan Ramadhan, yang dua perkara kalian dapat melaksanakan­nya menjadi ke­relaan Tuhan­mu, yaitu memp­erbanyak membaca Laailaha Illallah dan mem­baca Istinggar
Penjelasan dari hadist Nabi diatas tentang empat, pada bulan puasa yaitu dua amalan yang akan menjadikan Tuhan­mu ridho kepadamu, dan dua lagi yaitu kalian tidak me­ninggal­­kan meminta dua ­perkara tersebut yaitu memper­banyak memohon ke­pada Allah SWT, nikmat surga dan di­jauhkan dari adzab api neraka. Dan empat perkara tadi ter­kumpul menjadi sebuah ­do’a yang dijelaskan oleh nabi pula, yang berbunyi :


لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ, اَسْتَغْفِرُالله, نَسْألَُكَ رِضَاكَ وَاْلجَنَّهْ وَنَعُوْذَ بِكَ مِنْ سَخَاتِكَ وَالنَّارْ

Dikutip dari kitab Jamiiu Shaghir, dalam sebuah hadist nabi yang sempat sedikit di­jelaskan muka disebutkan yaitu hadist yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah ra berbunyi :


عن ابي هريرة رضي الله عنه قل : قال رسول الله صلئ الله عليه وسلّّم "اول شهر رمضان لرحمة, ووسطه مغفرة واخره عتق من النار"

Dari Abu Hurairoh ra. berkata: “Telah bersabda Rasulullah SAW. Permulaan bulan ramadhan itu turunnya rahmat, dan pertengahannya adalah turunnya pengampun­an, dan diakhir bulan ­Ramadhan itu kemerdekaan (kebebasan) dari api neraka”
Seorang salafush-saleh imam an-Nakhoi dan sebagian ulama’ ahlul hikmah mengata­kan : Puasa sehari pada bulan Ramadhan itu lebih baik dari pada puasa 1000 ­bulan, dan membaca satu kalimah tha­yyibah pada bulan Ramadhan seperti membaca 1000 kali pada bulan selain ­Ramadhan, dan ber­­sedekah pada bulan ­Ramadhan itu balasannya ­seperti sodaqoh demi berjuang di agama Allah.
Hadist yang diriwatkan oleh imam Muslim dalam kitab Irsyadul Ibad berbunyi :


اذا جاء رمضان فتحت ابواب الجنه, وغلقت ابواب النار, وصفدت بالاغلال الشياطين.

Jika bulan Ramadhan telah datang maka pintu-pintu surga semuanya terbuka dan pintu neraka ditutup dan setan-setan semua dikekang.
Dari hadis dijelaskan bahwa jika bulan ramadhan datang Allah SWT, meme­rintah­kan membuka pintu-pintu sorga, untuk memberikan penghormatan pada bulan puasa, dan Allah juga, meme­rintahkan menutup pintu-pintu neraka dan membelenggu setan -setan selama bulan ramadhan.
Jika ada yang mengata­kan bahwa setan-setan semua terbelenggu pada bulan ­Ramadhan, tapi kenapa masih banyak orang-orang yang ­masih melakukan dosa dan tetap menjalankan maksiat? Pertanyaan tersebut dapat di Jawab, dibelenggunya setan itu tidak berarti semua kejahatan dan maksiat juga akan hilang, karena setiap manusia itu masih mempunyai nafsu, ­seperti yang telah disebutkan dalam al Qur’an yang artinya kurang lebih “Sesungguh­nya nafsu itu banyak sekali mengajak (pengajakannya) untuk berbuat jelek (maksiat). Jadi bedanya, jika pada bulan puasa (Ramadhan) pengaruh nafsu itu berkurang, itulah yang dimaksud, Walluhu a’lam
De­mikian beberapa ke­utamaan bulan Ramadhan yang dikutip dari bebe­rapa ringkasan­ yang termaktub dari kitab Risalatun Nailu Surur Fi Ba’dhi Fadhooilis suhuur, yang dikarang oleh al-Alim al-Alamah as-Syikh Almagfurllah KH. Mohammad Soleh, pendiri Pondok Pesantren At-Tanwir.
Dan Semoga beberapa ulasan ini dapat mem­bawa manfaat bagi ­pribadi khususnya dan bagi umat Islam pada umum­nya akhirnya ­hanya dari Allahlah kebenaran itu datang dan dari pribadi (manusia) kekhilafan dan kesalahan.


*Arif Budiarto (Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang Jurusan Tadris Biologi)

Sabtu, 22 November 2008

SYNDROME SEKULARISASI TAUHID



SYNDROME SEKULARISASI TAUHID
M. Rohmat, S.Pd.I

(Pemerhati masalah politik dan sossial keagamaan)


Sudah sekian lama sekularisme atau paham yang memisahkan urusan kedunian dari kehidupan beragamaa dikutuk oleh Islam sebagai kebudayaan setan yang akan membawa manusia pada malapetaka kehidupan. Para ulama menyerukan Islam sebagai “way of life” (pedoman hidup), sebagai “hudan li kulli syai’in” (petunjuk bagi persoalan apa saja), Islam ya’lu wala yu’la alaihi. Tidak ada sistem yang tepat selain Islam. Maka kiranya perlu telaah histories uantuk membuktikan apakah keunggulan-keunggulan Islam tersebut punya kesaktian ataukah sekedar slogan, yel-yel yang tidak bunyi ketika dibenturakan pada persoalan kemasyarakatan.


Di keseharian Negara-negara dunia ketiga, termasuk juga Indonesia banyak dijumpai persoalan kemanusiaan yang mengundang keperihatinan: ada pedagang kecil yang diobarak-abrik oleh polisi pamong peraja, ada buruh yang di tindas undang-undang tanaga kerja, ada warga yang digusur kampungnya tanpa mendapatkan ganti rugi yang sepantasnya, ada pasar tradisional yang bakar kemudian dibangun mall dan di jual pada pemilik modal besar dan masih banyak persoalan kemanusiaan lainnya. Atas semua itu tentunya Islam harus mempunyai solusi tatanan yang sempurna. Islam harus punya strategi penyelesaian kalau mengaku sebagai sistem yang tidak mendikotomikan urusan dunia dari kehidupan beragama. Islam melalui ormas-ormasnya dan lembaga keulama’annya mestinya hadir memberikan klarifikasi bahkan pembelaan kemanusiaan. Namun yang terjadi tidak demikian. Banyak kedzaliman yang dilakukan penguasa diatas kekuatan-kekuatan Islam justru “abasa wa tawalla” (berpaling dan tidak perduli).


Contoh kecil dua tahun yang lalu dalam kasus penggusuran rumah warga Cakrawala Timur Semarang Barat yang berjumlah sembilan puluh kepala keluarga terjadi proses yang sangat menyudutkan warga. LSM dan aktivis mahasiswa bermaksud menggandeng intitusi-institusi Islam untuk melakukan advokasi atau pembelaan, akan tetapi agen-agen Islam itu menolak turut serta dengan alasan bahwa penggusuran bukan persoalan agama. Menurut mereka urusan agama adalah sholat, wiridan, istighosah, ngaji dan mujahadah, sementara urusan keadilan hukum, pemerataan ekonomi, persamaan hak politik dan demokrasi termasuk urusan dunia yang tidak ada hubungannya dengan Tuhan. Rupanya sekularisme yang selama ini dikutuk oleh Islam kini dipeluk oleh para agen agama (baca: kiai) sebagai agama baru. Para agen agama itu sudah merasa dekat dengan Tuhan kalau sholatnya sudah genap. Merasa shalih kalau sudah banyak acara pengajian istighosah. Merasa sakti kalau sudah pakai serban. Bahkan merasa punya hak mengancam orang lain dengan neraka. Walhasil paradhu’afa di negeri ini menjadi seperti anak yatim yang tidak punya pelindung, walau sebenarnya mereka punya kiai-kiai yang duduk did DPR, punya ketua NU, ketua Muhammadiyah dan seterusnya. Ironisnya yang bersedia memberi perlindungan pada mereka justru para pastur dan pendeta. Maka rasa terima kasih marilah kita sampaikan kepada pastur dan pak pendeta sebab berkat pertolongan mereka saudara-saudara kita yang mustadh’afin sudah meninggalkan Islam. Seandainya pak pastur taidak datang menolong mungkin saudara-saudara kita itu sudah mengikuti Nietzhe yang mengatakan “god is death”. Tuhan telah mati.


Fenomena seperti ini barang kali yang di maksud “al Islamu mah jubun bil muslimin”. Kebaikan Islam mengajarkan “addunya mazra’at al akhirat”, urusan dunia adalah lapangan akhirat. Ini menunjukan bahwa Islam tidak mengenal di kotomi antara urusan dunia dan urusan agama. Persoalan keadilan hukum, sinergi ekonomi, politik, lingkungan hidup. Pendidikan dan seterusnya adalah persoalan dunia yang kelak di pertanggung jawabkan kepada Tuhan di akhirat. Pengingkaran atas lapangan dunia itu sendiri adalah pengingkaran atas perintah Tuhan untuk melakukan kebaikan yang dalam bahasa agama di sebut “amilu al shalihat”. Sikap ingkar bahwa arabnya adalah kafir.


Mungkin terlalu ekstrim menyebut penginkaran dengan “kafir”. Maka baiklah, anggap saja muslim tapi dengan pertanyaan “apakah termasuk mu’min?”, sebab iman adalah al Qur’an digandengakan dengan “amilu al shalihat”. Sikap aktif melakukan kebaikan-kebaikan. Pengakuan “la ilaha illa allah”, seorang mu’min akan terwujud dalam sikap aktif berupa “tahrirun nas min ibadatil ‘ibad ilaa ‘ibadatillah”. Membebaskan manusia dari menghamba kepada sesamam manusia kepada menghamba hanya kepada Allah semata. Tauhid dalam bentuk pembebasan manusia itulah yang dulu dicontohkan oleh para nabi. Para nabi diutus dengan misi utama membebaskan manusia dari para tiran (penguasa). Nabi Ibrahim membebaskan kaumnya dari raja Namrud, nabi Musa membebaskan bani Israel dari tindasan fir’aun, nabi Muhammad hadir membebaskan para budak dari penguasa jahiliyah Qura’is. Maka kalau seorang muslim ingin mempraktekan tauhid hendaklah ia menjadi seorang mu’min yang melindungi iman saudara-saudaranya dari keterdesakan ekonomi dan penghambaan para penguasa.

CITA CINTAKU



CITA CINTAKU
Oleh: Naimaturohmah
(Mahasiswi Akademi Keuangan dan Perbangkan Widya Buana Semarang)


Kegelapan malam, segelap qalbuku
Ramainya lampu diskotik, menambah kelam rasa rindu
Di sepanjang jalan hidupku, terlihat beribu duri telah menghadang, mewarnai pelangi kehidupan.
Aku telah jatuh hati, ku jatuhkan hatiku pada sosok gadis yang ketika aku melihatnya, jantung ini berdebar, ketika aku mendengar suara lembutnya mata ini terus mencari bayang dispanjang mata memandang.
Dear, Nanda


Perasaan yang terus mengebu, tak dapatku bendung untuk ku ucapkan “I love you” pada mu seiring desahan nafas ini ku yakin kaulah pilihan hatiku ku rela tinggalkan dunia gelapku
Demi engkau! Oh…..dewiku
By. Yang mendambamu
Riyan


Itulah syair yang ku kirimkan lewat sahabat dekatnya. Dengan beramplop dan berkertaskan pink ku torehkan tinta hitam sebagai pemanis, untuk ku ungkapkan perasaan yang terus mengadu di relung hatiku. Ku yakin dialah solmetku, dia adalah sosok gadis yang sangat berbeda dari gadis-gadis yang ku kenal dan yang telah ku jamah dulu. Wajah lugu lagi manis membuatku penasaran “ada apa di balik kelebihan wajahnya?. Ku coba terus merayu, mengharap cita dan cintaku terwujud bersamanya, setiap minggu ku kirimkan syair-syair indahku lewat sahabat dekatnya. Ku yakin aku akan mendapakan….surat balasan dan ketulusan hatinya tuk menjadi milikku selamanya.


Detik demi detik lamanya telah ku lewati dengan penuh kesabaran dan keyakinan hati yang dibuat penasaran. Satu bulan telah berlalu dan akhirnya ku dapatkan cinta itu. Surat balasan berwarnakan biru berada ditanganku hatiku terus bertanya-tanya :apa yang ia tulis untuk ku?. Ku mulai mencoba membuka amplop itu dengan perasaan yang semakin mengebu ku baca, ku telaah setiap kata yang tergores di kertas biru itu.
Dear, Riyan


Subhanallah….!
Maha suci Allah dengan beribu cinta dan kasih-Nya.
Aku adalah manusia biasa yang waktu selalu mendambakan cinta sejati dari-Nya
Cintamu padaku perlu ku pertanyakan?
“Apakah cintamu karena Illahi Rabbi semata atau karena faktor X yang menyesatkanmu?”
Relakah engkau untuk meninggalkan kesenangan duniawimu hanya untuk meraih cinta dan cita bersamaku?
Renungkanlah….!
Wahai mahluk Allah yang lemah lagi tak berdaya karena cinta.
By. Nanda Septiani
Ku helakan nafas panjangku he….ha aah…mulut mungilku berguman “ternyata surat balasanya bukan jawaban tapi pertanyaan”. “Gadis yang unik“. Tambah ku beberapa saat kemudian.
Pagi harinya ku temui sahabat dekatnya untuk minta penjelasan dan surat balasan Nanda. Saat ini memang aku belum berani ketemu langsung dengannya. Jantung ini takut berhenti seketika, ketika menatap mata indahnya.
“Eh…ternyata Ita mau pulang nich…! Bisik suara hatiku
“ Ta….Ita…!”. Ku berlari sambil terus memangilnya
Ita yang sudah menstater montor Shogunya terperanjat ternyata cowok preman sekolahnya sedang terengah-engah dibelakangnya yaitu aku si Riyan si jago tawuran.
“Riyan…! Ada apa?”. Kamu di kejar-kejar Setan? “. Dengan wajah berseri ia merespon.
“Setan gundulmu…!”. Ku pengin ngomong ama kamu, penting!!!”. Ku pegang tanganya. Ku sambar udara di sekelilingnya.
“Tapi Yan, aku ada acara nich…!”. Ita mencoba menolak.
aku tidak peduli. Ku tarik tangan Ita menuju taman belakang.
“Riyan, sakit lepasin tanganku…!”. Ita mulai kesal dengan sikap kasarku.
“Ta…nich masalah Nanda”. Maksud surat balasanya itu apa?
Dengan wajah kesal, Ita menghentakan tanganya yang mulai kemerah merahan akibat pegangan paksaku.
“Yaa…lepas..! Nanda…!!”. Tanyakan saja padanya?. ku raih tangan Ita dan aku tegaskan.
“Ta...ku benar-benar ga’ paham apa maksud Nanda?”.
“Kamu ingin tahu”. Sikap menantang Ita memaksaku menganggukan kepala.


“Memangnya kamu nggak nyadar apa?”. Perbuatan kamu itu sangat berkontradiksi dengan Nanda..!. Kamu sih Riyan jago tawuran, anak diskotik yang tak karuan, teman setiamu hanya botol minuman dan rokok 76. Sedangkan Nanda, dia pintar, cantik, nurut sama orang tua, alim, anak kyai. Yan, kamu tu baru anak SMU, anak SMU yang kebelengu”. Paham kamu…?
Secepat kilat Ita lenyap dari pandangan mataku. Ia meninggalkanku dengan semilirnya angin taman belakang. Ku angguk-anggukan kepala ternyata apa yang di katakana Ita ada benarnya. Ku akui aku memang anak broken home, semua kebiasaan buruk hanyalah penantian ketidak puasanku pada keadilan Tuhan. Aku merasa ketika aku bercanda dengan gadis-gadis diskotik bermesraan dengan botol minuman itulah kepuasan. Tetapi semua itu salah besar kepuasanku adalah ketika ku temukan cita dan cinta sejatiku.


Ucapan ita terngiang terus di daun telingaku dan sambil ku tatapi sepucuk surat biru. Ku bayangkan wajah berseri Nanda yang antik lagi ayu tersenyum padaku. Ku yakinkan dalam relung kalbuku, kalau cita dan cintaku tertuju padamu Nanda Septiani seorang.
Ke esok harinya…!


Bel masuk berdering di setiap telinga siswa SMUN 1 Semarang. Dengan senyum dan mentari yang setia menyinari bumi. Kulangkahkan kaki dengan pasti dan percaya diri. Hari ini sudah ku putuskan untuk membuka lembaran agenda baru bertema “pertualangan cita dan cintaku bersama Nanda Septiani, juwita hati”.


Setelah bel istirahat berbunyi. Ku beranikan diri untuk bertemu langsung dengan juwita hatiku.
“Nan, bisa kita ngobrol berdua…?”. Ternyata desiran darah dan debaran jantung ini belum bisa ku taklukan sepenuh hati.


“Ada apa Yan…?”. Sahut Nanda datar
“Bisa kita ngobrol di taman belakang berdua Nan…?”. Mataku berbinar penuh harapan.
“Berdua, Yan boleh nggak ku ajak Ita”. Nanda mencoba menawar, sebab dia tahu jika ada dua insan yang bukan muhrim berduaan yang ketiganya adalah Setan. Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan kagum ku, ku anggukan kepala.


***


“Gimana…Yan”. Suara lembut Nanda membuka keheningan setelah kita bertiga duduk-duduk di bebatuan besar taman belakang.
“Gini….Nan”. Tanganku bergetar, hatiku terus berguman, “Ayo…ayo”. Memberi support.
“Surat balasanmu dah aku baca dan ku telaah, ku paham apa maksudmu dan aku rela tinggalkan apa saja demi engkau, juwita hatiku”.


Suasana bertambah hening dan senyap. Wajah kita bertiga tampak serius dan memerah padam.
Kilat petir seakan menyambar wajah Nanda dan Ita. Mereka tidak menyangka aku seserius itu. Karena yang sesungguhnya Nanda sudah bertunggan dengan pria pilihan orang tuanya, satu bulan yang lalu. Ia melakukan itu semua demi sahabat dekatnya Ita. Ita memang jatuh hati padaku, sejak kelas satu SMU, tapi perasaan tidak dapat di paksa. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Ita tahu persis aku tidak mencintainya. Aku hanya mencintai juwita hatiku Nanda.
Ita yang tidak tahan melihat kebiasaan burukku yang selalu menambah kekelaman dunia malam mendamba perubahanku, seperti yang dulu. Memang sebelum ayah dan ibu cerai hidupku penuh kepuasan. Aku menjadi anak penurut, alim, pintar lagi tajir (pokoknya idaman semua gadis). Ita menyuruh Nanda untuk berpura-pura merespon perasaanya dengan harapan Nanda dapat merubah kebiasaan burukku dengan cita dan cinta yang sedang mengebu-gebu di hatiku.
Bel masuk berbunyi. Memecah keheningan taman belakang. Dengan sepontan Ita menyambar tangan Nanda untuk berlari ke ruang kelas.
“Yan kita lanjutkan nanti ya..?”. Itulah kalimat terakhir yang ku dengar sebelum menjauh dariku.


Langkah mereka bagaikan kilat, meningalkanku tanpa jawaban yang pasti. Mulut ini berbisik “padahal jam ke 5 kosong, Pak Hendarto guru matematka kan pergi keluar kota”. Ku penasaran “apa yang membuat Ita dan Nanda tergesa-gesa demikian ya”. Tanyaku dalam hati.
Ku langkahkan kakiku dengan santai tanpa beban tapi penuh harapan masa depan.


***


Di sudut ruang kelas Ita dan Nanda mencoba mencari solving dari masalah baru mereka.
“Ta…gimana nich Ta…?”. Kelihatanya Riyan serius


Ku nggak mungkin nerusin semua ini, ingat Ta ku udah punya tunangan. Dengan cemas, gelisah dan perasaan bersalah, bercampur menjadi satu, Nanda mengutarakan kebingungannya.
“Nan, maafin aku ya…ku juga bingung harus gimana!”.


Ita membisu seribu bahasa. Matanya mulai berkaca-kaca. Nanda merangkulnya tangan Nanda membelai hangat kepalanya, ternyata belaian lembut Nanda menumpahkan seluruh cucuran air matanya. Ita menangis dipelukan Nanda. Seiring dengan belaian lembut Nanda, terucap suara lembut Nanda menambah haru suasana. “ya..ya..ya, ku ngerti perasaan kamu, kalo boleh izinkan aku menjelaskan ini semua pada Riyan”. Bukannya kita mau mempermainkan perasaanya tapi kita melakukan ini semua karena rasa peduli dan sayang padanya. Ku yakin dia mau mengerti. Dalam keterisak-isaknya Ita pun meluapkan kegelisahannya.


“Nan, ku takut, riyan benci padaku…!”. Iya..ya..kamu tenang saja ya!, nanti aku yang ngomong ama dia. Dengan belaian tangan dan suara bijaknya nanda menenagkan hati ita.
Tiba-tiba dan tidak di sangka-sangka, terdengar suara tegasku di telinga juwita hatiku. “Nan, Ita kenapa…? Sakit…?”.


“Rian..!! kamu udah lama di sisni”. Sahut Nanda tak menyangka.
“Baru saja, emang kenapa”. Tanyaku penasaran.


“Ga, ga pa pa kok”. Ku bawa Ita ke belakang dulu ya?. Nanda bergegas membawa Ita yang masih berlumur air mata di pipi merahnya ke belakang.


***


Bel tiga kali tanda akhir pelajaran berbunyi
Tet…….tet…….tet…..tetttt….!
Jantungku berdebar kencang, hati ini mulai tidak tenang antara cinta dan harapan. Sebelum ku memangil Nanda tuk melantunkan obrolan dibelakang sekolah tadi pagi, ternyata Nanda sudah ada di belakang kursiku, ia menungguku membereskan buku di mejaku.
‎”Yan, bisa kita lanjutkan obrolan tadi pagi?”. Tanya Nanda.
“Tentu nan, ku juga sedang menunggu jawabanmu”. Sahutku.
Kita berjalan beriringan keluar dari ruang kelas, terlihat Ita sedang menunggu di samping pintu luar. “Yu Ta…!”. Sapa Nanda.
Kita bertiga melangkahkan kaki menuju taman belakang.
“begini, Yan!”. Nanda membuka pembicaraan.
“Sebelumnya kami berdua minta maaf”. Terlihat wajahku seperti orang kehilangan arah.
“lho kok “ kok kamu berdua minta maaf”. Desah Tanya hatiku
“…..tiada maksud hati untuk mempermainkan perasaanmu apa lagi sampai menyakiti hatimu, sebenarnya, mungkin kamu sudah tahu kalau ita sahabat dekatku dari dulu menaruh hai padamu. Melihat orang yang di cintainya berperang dalam kemaksiatan, hati Ita teriris cemburu.


Ia terpaksa menyuruh aku yang sejujurnya sudah punya tunangan satu bulan lalu untuk bisa merubah kebiasaan burukmu seperti yang dulu. Karena kebetulan hatimu kau jatuhkan di mata binarku. Jelas nanda panjang lebar.


Hatiku tersayat-sayat, ternyata cita dan cintaku juwita hatiku putus di tengah jalan. Ingin ku langsung berlari meninggalkan penat dihati apalah daya tangan ini tak sampai jua. Ita yang di selimuti perasaan bersalah hanya tertunduk dan membisu.
“Yan, ku tahu ini pasti menyakitkan hatimu, tapi ini kenyataan”. Aku senang kamu mau berubah tapi berubahlah untuk dirimu sendiri karena Allah semata bukan karena cita dan cinta sesaatmu Yan..!


Suara lembut Nanda benar-benar mengisi kekosongan hatiku. Tak ku sadari ku menganggukan kepala pertanda. “I agree with you my love”.
Walaupun dia sudah menjadi pinangan orang lain, tapi kenapa ku tetap merasa yakin kalo dialah juwita hati yang menggebu-gebu di relung qalbu.
“Iya….Nan…ku sadari semua itu, terima kasih untuk semuanya, harapan yang kau beri membuat ku tahu di mana keadilan Tuhan sesungguhnya ku coba tegas menatap masa depan walau hatiku tercabik-cabik berlumuran darah”.
“Ta…makasih….ya…untuk perhatian dan kasihmu, tapi ku benar-benar minta maaf, kau terlalu baik untukku tak sepantasnya kau jatuhkan hatimu padaku”. Ita hanya mengangukan kepala tanpa menegadahkanya guna menatapku.
“Nan, maafkan aku kalau aku lancang, tapi ku sudah berjanji pada diriku, kaulah juwita hatiku. Walaupun kau sudah jadi milik orang lain ku masih berharap kau datang dan jatuh dipelukan ku. Aku benar-benar merasa yakin dan sadar dengan apa yang ku katakana tadi.
Nanda hanya tersenyum lembut. “Makasih Yan”.
Tak terasa waktu berputar dengan cepatnya, kumandang adzan ashar pun mulai terdengar
“Yan, Ta! dah sore kita pulang yu….”. Celoteh Nanda sambil beranjak dari tempat duduknya. Kita bertiga beranjak pergi meninggalkan tempat yang penuh kenagan itu.


***


Matahari terperanjak lenyap ditelan bumi pertiwi. Petang datang melanda mengharapakan sunyi. Cinta memang tidak harus memiliki.
Itulah sekilas cerita cintaku di agenda “petualangan cita dan cintaku”.
Nanda Septiani juwita hatiku, yang ku ceritakan pada Robert adik kandungku seraya ku titipkan sepucuk surat biru untuk juwita hatiku. Setelah lama dua bulan berlalu, rasa rindu mengebu ingin rasa hati ini bertemu wajah Nanda yang ayu. Tapi apakah daya…..!


Dear, Nanda
Warna putih itu akan terus putih seperti wajah ayumu. Lembutnya salju tak dapat menandingi lembutnya suaramu. Jantung qalbuku ku persembahkan hanya untuk juwitaku. Wajah ayumu kan ku kenang selalu dalam relung hatiku.
Nanda mungkin ketika kau baca surat ini, kau tak akan dapat melihatku lagi. Karena aku telah terkubur dalam cita dan cintaku padamu. Oh….juwita hatiku..
Aku mengidap paru-paru basah stadium empat. Saat kutulis surat ini ku sedang terbaring lemas, tanpa…., tapi demi untuk berpamitan padamu kuterus berusaha menorehkan tinta hitam ini dikertas biru.
Selamat tingal Nanda. Semoga kau hidup bahagia bersama pilihan orang tuamu.
Kenaglah aku si Riyan yang selalu mengagumimu.
Maafkan aku Nanda Septiani, juwita hati.
Kaulah cita dan cinta ku!
By. Yang menantimu
Riyan
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com