This is default featured slide 1 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 2 title

Foto Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 3 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 4 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 5 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

Senin, 26 Juli 2010

Meneguhkan Konsep Kedirian Kader

dalam Menggerakkan Sektor-sektor Peradaban
(Suatu Masukan bagi Dasar Pemikiran LK-III HMI Yogyakarta 2010)


Oleh : Lukman Wibowo
Apa yang orang anggap sebagai semangat zaman,
sesungguhnya adalah semangat seseorang
yang dicerminkan kepada zamannya (JWG Gothe)

Di Himpunan, pergolakan fikir telah berjalan lebih dari 63 tahun. Bukan hanya pemikiran, namun juga perbuatan yang senantiasa tumbuh secara fluktuatif. Zaman per periodik, telah mencatat itu. Bergolaknya fikiran dan konsekuensi wujudnya gerakan, hampir-hampir bisa dibilang tak pernah mengenal jeda. Harus diakui, organisasi yang terlahir dari persekutuan antara spektrum politik dan intelektual ini, bahkan telah tumbuh kian dewasa dalam spektrum-spektrum lain yang jauh lebih universal. Artinya, HMI tidak semata bergulat pada dua dimensi tersebut, tapi juga niscaya merambah ke dimensi-dimensi lain yang sesungguhnya saling menopang bagi tegaknya sebuah peradaban.
Himpunan sadar, jika eksistensinya juga tak kalah penting dengan esensinya. Aksi dan pemikiran harus manifes secara konsisten. Produktifitas kebudayaan tidak dibiarkan keluar dari nalar awalnya, yakni budi dan daya. Langkah majunya, sebuah peradaban baru yang dicanangkan HMI, harus melulu dibangun dari berbagai arah (vektor) dan tempat (sektor). Maka keharusan logis yang mesti dilaksanakan HMI adalah melahirkan kader-kader nan tangguh dalam skala internal maupun sosiomatrik yang menjangkau luas. Kader yang bukan cuma berkualifikasi intellectual exercise, namun pula petarung di segala lini. Kader yang tidak hanya berkutat sebagai jago kandang, tapi juga pemenang di berbagai kompetisi. Tentu saja, kompetisi yang dimaksud ini adalah perhelatan dalam membangun kebajikan peradaban; bukan sebaliknya.
Menjadi kader idiil semacam itu, bukanlah pertumpahan proses kekaderan yang mudah dijalani. Bagi perkaderan HMI, berhenti sejenak ketika ada interupsi, adalah kewajaran manusiawi. Namun bersikap stagnan—apalagi berbalik arah—bukanlah tradisi yang patut dihargai. Kehilangan konsep diri adalah sikap manusiawi yang tak wajar. Ini bahkan tak bisa ditolerir. Jika konsep diri hilang, maka mesti dipertanyakan toriqoh (metode) hidupnya. Dan bila metode hidupnya masih menyimpan masalah, maka manhaj (cara pandang atau framework) keorganisasiannya pastilah mengalami banalitas.
Mengukuhkan konsep kedirian menjadi amat penting. Ia bukan semata berguna bagi individu, melainkan juga peradaban. Kader-kader HMI-lah yang menentukan jalannya sistem HMI. Dalam jangka panjang, konsistensi tersebut niscaya berlaku: Benar kadernya, maka benar organisasi HMI-nya. Benar HMI-nya, maka benar masyarakatnya. Benar masyarakatnya, maka benar pula peradabannya. Pada situasi ini, konsep kosmologi bahwa yang mikro mempengaruhi yang makro, menemui titik temunya.
Kesejatian manusia adalah mikrokosmos yang mengendalikan makrokosmos. Tapi dalam catatan sejarah, kendali itu hanya dimainkan oleh sedikit manusia. Kendatipun demikian, problemnya bukanlah pada banyak atau sedikit, namun masih adakah manusia-manusia pengendali itu. Peradaban tiba-tiba saja menjadi linglung, sebab yang pinggir tidak mampu mengambil alih menjadi pusat, di saat yang pusat sudah tidak bermanfaat. Maka terjadilah suatu individu, jama’ah, bahkan peradaban yang kehilangan sentral. Lantaran sentralnya hilang, maka arah dan tujuan hidup menjadi tidak jelas.
Sebaliknya, anggapan bahwa makrokosmoslah yang mempengaruhi mikrokosmos, itu memang terjadi bagi kebanyakan orang. Tapi tidak melulu buat manusia yang faham dengan tugasnya sebagai khalifah fil ard dan pengakses prinsip teologis yang berbilang: Kami tidak menciptakan kamu, melainkan sebagai rahmat bagi sekalian alam. Hubungan kosmos mikro-makro ini, dapat dijawab dalam standar matematika pada teori integral dan diferensial. Jadi, sekali lagi, ini adalah soal pilihan. Apakah HMI sekadar ingin menjadi kontestan kehidupan, atau hendak menentukan jalannya suatu peradaban. HMI semestinya dan pasti akan menjawab di pilihan yang terakhir.
Untuk mengemban tugas berat di atas, HMI perlu terus berlatih. Mengentalkan dirinya pada sikap belajar dan mematuhi ”proses”. Berjibaku dengan problematika hidup, merupakan ikhwal yang mustahil terhindarkan. Sebagaimana spiritualitas, intelektualitas pun tidak tumbuh begitu saja tanpa proses belajar. Kearifan puncak seperti yang dikemukakan Mulla Sadra, hanya dapat berdiri tatkala spiritual serta intelektual dipelajari melalui proses individual maupun sosiologis yang berangkat dari jenjang dasar.
Bagi HMI, proses belajar dan berlatih itu adalah semantik yang terpenuhi dalam istilah: perkaderan. Tesis bahwa lingkup perkaderan HMI itu luas dan meliputi segala hal, adalah benar. Jadi benar pula bahwa perkaderan dapat dilakukan dengan berbagai alat dan cara atau metodologi.
Latihan Kader (LK) merupakan salahsatu cara yang efektif bagi pemenuhan proses perkaderan tersebut. Sebagaimana semua telah mafhum, bahwa penyelenggaraan LK telah disepakati secara berjenjang; Basic Training, Intermediate Training, dan Advance Training. Adapun konsep dasarnya telah dirumuskan dalam Pedoman Perkaderan HMI.
Seperti juga bergiatnya kegiatan-kegiatan HMI yang lain, Advance Training (LK-3) sepatutnya diselenggarakan atas dasar sintesa antara kebutuhan (realitas) dan keharusan (idealitas). Mencandra zaman adalah kuncinya. Membaca konteks perkaderan juga tak mungkin dielakkan.
Sekadar menorehkan kembali apa yang sudah jelas, LK-3 adalah bagian dari pelatihan berjenjang di HMI. LK-3 bertujuan untuk lebih mendewasakan cara hidup (dien) beserta konsep dirinya. Konsepsi diri akan menjadi pangkal pemberangkatan bagi perjuangan HMI; yang bukan ansich bersifat personal, melainkan juga berguna untuk menata sekaligus mengendalikan jejaring peradaban secara meluas—Paling tidak, bermanfaat di medan juang di mana kader individu HMI itu berada.
Di saat yang sama, membangun kapasitas keilmuan di berbagai sektor peradaban—seperti: kebudayaan, pendidikan, sains, sosial, ekonomi, hukum, dan politik—juga menjadi titik tekan dalam LK-3 kali ini. Dengan penajaman atas masalah kesemestaannya, niscaya dimungkinkan munculnya sikap tanggap hingga kemampuan menjawab persoalan secara konseptual.
Meneguhkan konsep diri beserta positioning-nya, merupakan konsekuensi logis bagi kader HMI untuk mewujudkan peradaban yang dicita-citakan. Baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur.


Usulan Materi LK-III :

1. Memperbarui paradigma dan strategi perkaderan HMI.
Peserta diharapkan mampu membangun konsepsi perkaderan HMI untuk masa kini dan mendatang. Pembaruan ini tetap berangkat dari tafsir kesejarahan, baik tela’ah terhadap dokumen-dokumen konstitusi sepanjang masa maupun proses perkaderannya dari waktu ke waktu. Sehingga estafet gagasan mampu berjalan secara berkesinambungan dan visioner.
Evaluasi (Ev) : Studi kritis atas latarbelakang dan muatan Khittah
Perjuangan HMI.
Solusi (So) : Memperbarui tafsir integral HMI untuk masa mendatang

Ev : Tela’ah kritis mengenai anatomi konstitusi HMI.
So : Memformat anatomi konstitusi HMI yang lebih kontemporer

Ev : Evaluasi atas realitas perkaderan perkaderan HMI
So : Urgensi membangun paradigma dan strategi baru bagi perkaderan HMI.

2. Visi kebudayaan Indonesia untuk masa depan
Ev : Inventarisasi problematika kebudayaan di Indonesia.
Ev : Kebudayaan telah keluar dari semantik awalnya (ber-budi dan ber-daya).
Ev : Anarkisme semiotika: budaya versus kultur.
So : konsepsi jati diri kebudayaan sebagai solusi rebuilding kultur masyarakat

3. Solusi untuk problematika pendidikan di Indonesia
Ev : Kesalahan berfikir kurikulum pendidikan Indonesia.
Ev : Standar pendidikan Indonesia adalah “pesanan” asing.
Ev : Salah arah jalannya pendidikan di Indonesia.
So : Menemukan kembali diri dan kebutuhan pendidikan khas Indonesia

4. Studi tentang integrasi sains dan kehidupan
Ev : Dilema sains dalam kehidupan.
Ev : Sains tanpa filsafat, yang melulu pragmatis, adalah pembodohan.
Ev : Dis-implementasi sains dalam agama.
So : Meneguhkan sains sebagai life tool yang dikendalikan oleh kebutuhan
proporsional.

5. Menggagas konsepsi ekonomi alternatif; upaya menyelamatkan perekonomian Indonesia
Ev : Neoliberalisme adalah “hantu”, OTB, dan sebagai the invisible enemy.
Ev : Kekeliruan-kekeliruan teori ekonomi dalam dunia akademis
Ev : Kekeliruan-kekeliruan praktik ekonomi dalam masyakarat/kenegaraan.
So : Membangun ketegasan untuk menolak neoliberalisme, dan menciptakan
sistem keekonomian berbasiskan Islam.

6. Mindset pemikiran politik di Indonesia
Ev : Indonesia adalah negara tanpa konsep politik yang jelas, sekadar
machievelis, oportunistik, dan penghambaan kekuasaan.
Ev : Kesalahan proporsi paradigma politik: Mengedepankan politik praktis, ketimbang filsafat politik dan akademia politik.
So : Pemikiran politik yang berbasis pengabdian kepada ummat.

7. Analisis permasalahan dan solusi penegakan hukum di Indonesia
Ev : Kesalahan konsep dan operasional hukum di Indonesia.
Ev : Membandingkan penegakkan hukum Indonesia dengan negara-negara lain
So : Hukum ditegakkan berdasarkan nalar awalnya, yakni kebenaran, keadilan, dan kearifan nurani; Upaya mengembangkan basis Hukum Progresif.

8. Materi Alternatif / Pilihan
a. Strategi meruntuhkan tiga pilar kapitalisme modern: Pasar Bebas (ekonomi), demokrasi liberal (politik), dan konsumtivisme (life style)
Ev : diuraikan bersama.
So : disusun bersama.

b. Studi metodologi pemikiran Islam: Klasik hingga kekinian: Dalam tradisi sunni maupun syi’ah
Ev : diuraikan bersama.
So : disusun bersama.

c. Pergulatan ideologi sosial-ideologi sosial di dunia (khususnya di Indonesia)
Ev : diuraikan bersama.
So : disusun bersama.

d. (Rekayasa intelejen; sebuah gerakan dalam menskenario jatuh-bangunnya kekuasaan)
Ev : diuraikan bersama.
So : disusun bersama.

9. Positioning dan revitalisasi HMI dalam pergulatan zaman kontemporer
Ev : tantangan-tantangan dan disposisi gerakan HMI.
Ev : Visi dan strategi HMI.
So : Repositioning dan revitalisasi perjuangan HMI.


Semarang, 25 Juni 2010
Lukman Wibowo;
Anggota Tim Perumus (dan Pemandu LK-III)

Sabtu, 17 Juli 2010

Upgrading Lapmi Cabang Semarang


UP GRADING LAPMI CABANG SEMARANG (Kunjungan Ke SM)

SEMARANG- Beberapa waktu yang lalu pada hari Rabu, 7 Juli 2010, Lembaga Pers Mahasiswa Islam Cabang Semarang yang dipimpin langsung oleh direkturnya melakukan kunjungan ke redaksi harian suara merdeka. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka Up grading LAPMI Cabang Semarang, yang memang sebelumnya juga telah dilakukan dalam bentuk yang berbeda (Diskusi-kajian, dll) yang dipandu langsung oleh pengurus LAPMI periode sebelumnya dan alumni.
Sebagai langkah awal kunjungan LAPMI ini, bertujuan untuk meneguhkan visi-misi yang telah di embannya, dan menjalin hubungan kerjasama yang sinergis LAPMI cabang Semarang dengan harian SM. Yang oleh karenanya, dalam kepengurusan kali ini banyak yang dari kalangan non jurnalistik. Sehingga UP grading ini seperti mutlak harus dilaksanakan.
Dalam lawatannya ke SM, yang diikuti + 10 Kader, LAPMI cabang Semarang di sambut hangat oleh Bapak Eko selaku pimpinan redaksi SM. yang memimpin langsung jalannya kegiatannya di Suara Merdeka. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan berupa: dialog tentang kejurnalistikan, melihat secara langsung proses cetak dan management –ruang redaksi harian SM. kunjungan di akhiri sekitar pukul 13.00 WIB, yang dilanjutkan dengan rapat Pengurus LAPMI di Halaman SM Kaligawe.
Dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat menjadi penggugah semangat untuk kepengurusan periode ini. dan menjadi motivasi bagi LAPMI untuk terus berkarya. (Crew Lapmi -BQ)
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com