This is default featured slide 1 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 2 title

Foto Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 3 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 4 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 5 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

Kamis, 29 Oktober 2015

HMI CABANG SEMARANG SUKSESKAN TRAINING PERKADERAN 2015

{Sabtu, 24 Oktober 2015}. HMI cabang Semarang melaksanakan Training Perkaderan. Kegiatan ini merupakan salah satu bagian dari agenda HMI cabang Semarang bidang Pembinaan Komisariat dan Pengembangan Organisasi (PKPO). Kegiatan ini termasuk bagian dari model perkaderan sebagaimana termaktub dalam Konstitusi HMI, yakni Pendidikan Pelatihan Khusus. Acara yang dilaksanakan di obyek wisata hutan tinjomoyo ini dilaksanakan selama 2 hari (24- 25 Oktober 2015).

Sebelum lebih jauh pembahasan pada materi- materi yang akan disampaikan, Sebagai agenda awal terlebih dahulu dilakukan bedah tema training perkaderan tersebut. Yang sebelumnya dilakukan pembukaan oleh ketua cabang, akhi Saeful Rozak
Tema dalam traning perkadera itu sendiri yaitu : “ Melalui Training Perkaderan, Kita Tingkatkan Daya Manajemen Organisasi Hmi Untuk Mewujudkan Perkaderan Yang Strategis.”
Acara tesebut diikuti oleh 17 peserta dari delegasi komisariat- komisariat se- cabang Semarang, yakni komisariat UNDIP, IKIP VETERAN, PBS, MIPATI, TARBIYAH Dan FSEI UIN Walisongo Semarang.
“Acara ini dilatarbelakangi oleh mulai menurunnya kuantitas dan kualitas di kalangan kader komisariat- komisariat di cabang Semarang. Dilihat dari beberapa komisariat saat melaksanakan Latihan Kader (LK) 1 jumlah pesertanya semakin menurun. Dari segi kualitas, dalam hal kewacanaan dan manajemen organisasi pun mulai lemah.” Terang akhi Ulil Albab selaku Kepala Bidang PKPO.
Namun yang bersangkutan enggan mengatakan komisariat- komisariat yang terindikasi tersebut. Dia hanya memberikan penjelasan agar kegiatan ini menjadi refleksi bagi semua komisariat untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitasnya.  Sehingga keberlangsungan HMI MPO di Semarang dapat terus terjaga. Pungkasnya
Dengan dilaksanakannya training perkaderan ini diharapkan kualitas dan kuantitas kader- kader di komisariat makin meningkat melalui srategi- strategi dan pola- pola masing- masing komisariat.
Dalam kesempatan malam tersebut sebelum acara penutupan dimulai, diadakan pula rapat pembentukan panitia LK II. Dimana acara tersebut akan diagendakan dalam waktu dekat ini. Seusai rapat pembentukan panitia LK II, acara pun diakhiri dengan upacara peneutupan.@@_mujib.
pemberian tanda ucapan terimakasih oleh KABID PKPO kepada pemateri

suasana forum training perkaderan oleh pemateri dan peserta

 

Sabtu, 17 Oktober 2015

Diskusi KPK pada Pelantikan LAPMI Cabang Semarang

Jum’at (16/10). Bertempat di asrama HMI Cabang Semarang, Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) Cabang Semarang menggelar pelantikan kepengurusan periode 1436-1437 H/2015-2016.
Acara yang dihadiri anggota HMI se-Semarang ini dimulai dengan agenda stadium general yang membahas tema,”KPK dalam Dilematisasi Kepentingan dan Kekuasaan”.
Didapuk sebagai pemateri, Wardjito Soeharso, seorang pegiat anti korupsi di Semarang menyampaikan bahwa Indonesia telah diserang bakteri yang bernama korupsi. “Bakteri” korupsi itu telah menggerogoti di semua lini. Sehingga memerlukan penanganan yang sangat kompleks.
Dibentuknya KPK adalah salah satu upaya menanganinya. Namun Wardjito menyayangkan adanya upaya pelemahan KPK dalam UU. Hal ini menandakan bahwa penyelenggara baik yudikatif dan eksekutif hilang komitmen untuk memberantas korupsi.
“UU itu memberikan batas kekuasaan KPK. Sementara mereka berupaya membiarkan kekuasaan untuk korupsi,” kata Wardjito.
Maka, setidaknya kita bisa mengurangi korupsi melalui ranah pendidikan, lanjutnya. Sebab dengan pendidikan akan meningkatkan derajat hidup dan corak berpikirnya.
“terutama pendidikan karakter yang dibentuk untuk membenci korupsi, Contoh kecil, kita memasang jargon anti korupsi di mana pun, di meja kerja dan tempat yang menggerakan melakukan korupsi sehingga menjadi alarm kita untuk tidak melakukan korupsi sekecil apa pun” pungkasnya.
Acara diskusi ditutup dengan pembacaan puisi para penyair yang tergabung dalam buku antologi "Topeng Monyet Pendidikan" yang diterbitkan oleh Komunitas Sastra (Komsas) Semarang.
Acara pelantikan sendiri dilaksanakan pukul 21.00. Hadir sebagai pelantik Abdul Razak selaku ketua HMI Cabang Semarang. Dalam sambutannya, ia mengharapkan dengan adanya kepengurusan LAPMI baru, greget menulis kader HMI semakin terbangun. Ia meminta agar LAPMI melakukan program yang membangkitkan semangat kader untuk menulis.
Sementara jajaran kepengurusan baru LAPMI Cabang  Semarang yang dilantik adalah Muhamad Faizun (Direktur), Ahmad Mas’ud (sekretaris), A. Abdul Mujib (Bendahara), Ibnu Himawan dan Fajar (Staff).
Mereka pun mendapatkan jabatan selamat dari para peserta
[A. A. Mujib]
pembicara pak wardjito soeharso memberikan materi diskusi KPK

ketua umum hmi cabang semarang melantik pengurus LAPMI periode 2015-2016

Senin, 09 Februari 2015

Training Jurnalistik dan Rekruitmen LAPMI

Silakan bagi Kader HMI yang belum mengikuti Training Jurnalistik yang diadakan LAPMI. Akan sangat bermanfaat sekali. Kalian bisa menuliskan ide-ide jernih hasil diskusi sebagai mana seorang jurnalis handal. Ayo, kabarkan kepada yang lain....

Kamis, 03 Juli 2014

HMI-ISME: PENUHI JANJI-JANJIMU*

 Oleh: Ibnu Himawan (Kom. Syariah IAIN Walisongo)
Himpunan Mahasiswa Islam merupakan organisasi mahasiswa tertua di Indonesia saat ini, meski sebelumnya telah ada Persatuan Mahasiswa Yogyakarta yang didominasi oleh partai sosialis, organisasi ini berdiri pada tanggal 5 Februari 1947M bertepatan dengan 14 Robiul Awal 1366H, diprakarsai oleh mahasiswa STAI Jogjakarta (sekarang UII) yaitu Lafran Pane. Filosofi berdirinya organisasi ini ada 2 penyebab yaitu mempertahankan serta mempertinggi derajat bangsa indonesia dan menegakkan serta mengembangkan ajaran islam, karena HMI lahir paska kemerdekaan serta tiada keleluasaan bagi para pemeluk agama islam untuk menjalankan ajarannya.
Semangat HMI terhadap perkembangan ajaran islam ini  mestinya menjadi pembelajaran pemuda muslim, meski dari awal 90-an sampai tumbangnya periode orde lama beberapa dari anggota harus menjadi buronan dari birokrasi serta kroni-kroninya karena mempertahankan idealism akan keislaman mereka, hingga kemudian mereka menjadi embrio dari HMI-MPO (Majelis Penyelamat Organisasi). HMI-MPO merupakan sempalan dari HMI terdahulu yang menjadi pewaris semangat idealismenya, bahkan kiblat berfikir HMI-MPO pun mengacu pada pejuang islam dalam teologi pembebasannya  seperti; Imam Khomaeni, Ali Syariati, Ismail Raji Alfaruqi, Jalaluddin Al-Afghani dsb. Yang tetap istiqomah dengan islamnya, ini merupakan upaya sebuah organisasi supaya menjadi agent social of change yang berdasar pada hadits “من راي منكرا فاليغير بيده---الخ”, maka HMI harus terus bergerak tuk wujudkan perubahan ke arah positif.
Saking pentingnya semangat islam bagi HMI, maka salah satu  materi inti dalam latihan dasarnya  adalah  “keyakinan muslim”, bahkan materi itu menjadi bahasan utama dalam khittah perjuangan dari HMI-MPO, dalam khittoh telah terang relevansi antar asas, usaha hingga tujuannya ketika asas itu islam,  jelas adanya bahwa hmi merupakan wadah aktualisasi islam bagi para kadernya, wadah sebagai upaya para kader mencari jatidiri kemuslimannya. Islam dalam HMI mempunyai arti luas dan tak harus sama antar kadernya, ini dapat dilihat dari salah satu kader HMI yaitu Nurcholis Madjid yang dalam bukunya-Islam Dokrin dan Peradaban- menyatakan bahwa “islam merupakan ketundukan kepada tuhan sang pencipta seru sekalian alam, hingga terkadang islam ditemukan justru pada pemeluk agama lain”, meski ia dianggap tokoh liberal.
HMI-isme atau sifat HMI ini seharusnya terus menjadi warisan yang tiada habis-habisnya bagi kadernya, hingga nantinya terdapat kata HMI-is-me (HMI adalah saya), meskipun dalam khittoh perjuangan HMI disebutkan bahwa HMI bukanlah hanya output dari organisasi baik berupa kader yang tangguh maupun karya dari HMI, setidaknya kader menjadi part of HMI, karena HMI menuntut kadernya agar menjadi pribadi yang independent, tak bergantung pada siapapun tanpa terkecuali, ia hanya boleh mentransendensikan dirinya pada tuhannya.
Namun ini menjadi pekerjaan rumah yang tak mudah, jika dilihat dari keaadaan sekarang bahwa tiada lagi sekat bagi seluruh rakyat indonesia untuk mengimplementasikan segala ajaran yang dianut -meski nilai lebih dari HMI adalah tiadanya pengkotak-kotakan antar paham satu dan lainnya- yang menjadikan berkurangnya semangat perjuangan, hingga HMI tak semenarik dahulu dalam setiap perkaderannya, mungkin disini teori spirit of kepepet berlaku. Atau justru ketidak sadaran para kader akan arti keterjajahannya, seperti yang dikatakan Abul A’la Maududi bahwasannya tiada negara islam ataupun mayoritas islam yang tak tejajah baik secara politik maupun ideologi, kader yang hidup di negeri yang terhegemoni oleh ideologi barat ini tak sadar betapa prinsip-prinsip mereka selalu dicincang-cincang tiap hari oleh sifat hedonisme.
Bahkan islam sekarang hanya dimaknai secara simbolis semata, siapa yang bergamis, bersorban, rajin ke masjid, rajin dalam majlis pengajian mereka yang suci, bersih dan beriman, sedang mereka yang jauh dari itu semua adalah najis, musrik dan kafir. Bagaimana islam akan dikenal secara kaffah jika demikian adanya pemaknaan islam, amar ma’rufnya hanya dalam tempat peribadatan semata sedang nahi munkar selalu berbentuk anarkis -baik bakar tempat perjudian, pukuli pelaku zina dilokalisasi dan hancurkan semua sarana maksiat-, lantas dimana rahmatan lil ‘alamin islam ? bukankan ketika nabi tersakiti ketika hendak berdakwa hanya berdoa “اللهم اهد قومي فانهم لايعلمون” - ya Allah berilah hidayah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak tahu- ketika ditawari jibril untuk membumi hanguskan kafir Quraisy pada saat itu.
Bukan lagi waktu yang tepat untuk selalu menikmati romantisme sejarah yang menggetarkan hati atas perjuangan para pendahulu, kita tak hidup dalam angan, kita tak hidup untuk kagum semata, kita hidup untuk berjuang karena setiap kita akan dimintai pertanggung jawabannya. Kita harus mempunyai semangat hidup mulya atau mati syahid ! sesuai dengan sabda rasulullah pada kaumnya “اعمل لدنياك كانك تعيس ابدا واعمل لاخرتك كانك تموت غدا” –berbuatlah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup untuk selama-lamanya dan berbuatlah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati esok hari.
Sekarang saatnya untuk bangkit bagi kaum muslim terutama para kader HMI, tegakkan bendera rahmatan lil’alamiin sebagai jargon islam, selamatkan semua mahluk dari kesesatan yang mulai tak kasat mata lagi. Penuhi janji-janjimu seperti tujuan organisasimu, binalah mereka menjadi insan yang kenal tuhannya, insan yang taat, insan yang bertanggung jawab akan lingkungan sekitarnya, penyelamat alam. Penuhi tugasmu sebagai kholifah, tegakkan panji-panji keadilan pada siapapun itu tanpa pandang bulu, hunus pedangmu pada kemungkaran, selamatkan kaum mustadl’afien dari para imprealisnya, lindungi hak setiap insan. 
Kini HMI menunggumu wahai kader pilihan, merindukan akan setiap langkah ikhlasmu memperjuangkan kehendak keadilan, membutuhkan fayakun berasaskan islammu, jangan tunggu semua orang menyuruhmu, sampaikan dari rosulmu walau satu ayat, kau harus jadi teladan sebagaimana rosulmu dahulu, “ابدا بنفسك” mulailah dari dirimu!!!!!

* Tulisan dibukukan dalam "HMI-ISME, HMI-MISS-ME, HMI-IS-ME" diterbitkan LAPMI Cabang Semarang

Rabu, 18 Juni 2014

Nasionalime Politik dan Ideologi Anti Neoliberal*


Oleh: Lukni Maulana– Pengasuh Sciena Madani



Nasionalisme merupakan tuntutan politik, sebagaimana bunyi sila ketiga, Persatuan dan Kesatuan. Semangat nasionalisme menjadi semangat perjuangan dan pergerakan untuk menuntut kedaulatan. Sebagaimana dilakukan oleh para pemuda dan pelajar terdahulu yakni pada akhir tahun 1920-an konsep nasionalisme mendapat bentuknya yang dipelopori oleh tiga organisasi pergerakan yaitu Perhimpunan Indonesia, Indonesische dan Algemeene Studie Club. Ketiga organisasi kepemudaan ini menjadi peletak dasar nasionalisme di Indonesia yang lebih terkonsep dan praktis.
Namun nasionalisme hanya sebagai sebuah simbol nasionalisme politik yang bertujuan untuk memasukan idiologinya. Sebagaimana terdahulu sosialis-komunis mengambil wadah dalam ISDV (Indische Sociaal Demockratische Vereniging) yang dipelopori oleh Belanda dan Indonesia. Dari pihak yakni Sneevliet, Brandstender dan Dekker, sedangkan dari Indonesia adalah Semaun. Namun pada tahun 1920 ISDV berubah nama menjadi Perserikatan Komunis Hindia. Begitu juga dengan SI (Serikat Indonesia), tujuan awalnya sebatas bidang ekonomi yang berdasarkan ajaran Islam. Akan tetapi perkembangaanya berubah masuk wilayah politik yang mana anggotanya tidak hanya orang beragama Islam.
Setiap ideologi menawarkan beragam konsep, gagasan, ide dan langkah praksis untuk mencapai kedaulatan rakyat. Namun masyarakat dapat menemukan dan menentukan pilihannya sendiri sebagai wadah perjuangan. Organisasi menjadi wadah perjuangan, baik organisasi politik, ekonomi, keagamaan maupun sosial seperti dahulu ketika para priyayai tergabung dalam Budi Utomo, kaum santri dalam wadah Sarekat Islam dan abangan memilih PKI.
Inilah keberagaman ideologi di masyarakat kita dahulu, dengan adanya keberagaman ideologi menunjukan bahwa bangsa Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Dari keberagaman itulah keluar satu kata untuk saling bersama menjunjung persatuan dan kesatuan berupa membangun nasionalisme untuk mencapai kemerdekaan. Bagaimana dengan sekarang dimana bangsa ini lepas dari penjajahan fisik, namun masih dibelenggu penjajahan globalisasi sehingga saat ini merasakan ketertindasan ekonomi.
Tahun 2014 ini menjadi momentum kebangkitan atau keterpurukan?, dimana telah meloloskan 14 partai, 3 partai lokal di Aceh. Sedangkan 11 partai tersebut yakni Partai Nasdem, PKB, PKS, PDI-P, Golkar, Gerindra, Demoktar, PAN, PPP, Hanura, PBB dan PKPI. Kesebalas partai tersebut membawa ideologi masing-masing dan memiliki karakter tersendiri. Masih ingatkah kita Partai Cinta Damai, pada pemilu tahun 2009. Partai ini dibentuk oleh kaum tarekat yang digagas oleh seorang ulama ahli ilmu tasawuf yakni Prof. Dr. H. Saidi Syeikh Kadirun Yahya Muhammad Amin, M.Sc. partai Cinta Damai bersifat terbuka yang memiliki visi ilahi yakni Anta Maqsudi wa Ridhaka Mathlubi (Hanya Enkaulah yang kutuju dan Keridhaan-Mu yang kudambakan).
Hal ini menunjukan keterbukaan, apapun ideologimu dan masyarakat bisa menentukan sendiri dimana wadah yang cocok bagi perjuangan dan pilihannya. Beragamnya ideologi tersebut layaknya mejadi tempat untuk membangun nasionalisme baru untuk menjadi bangsa yang berdikari seperti cita-cita pendiri negara ini Ir. Soekarno.

Politik Kepentingan
Sepertinya nasionalisme telah luntur, setiap ideologi memiliki kepentingannya sendiri yang berwujud dan berbentuk partai. Slogan anti korupsi sering terdengar, namun banyak kader partai yang terjerat dalam kungkungan arus korupsi. Adakah partai yang berani melawan musuh yang lebih perkasa dari perilaku korup, musuh itu yakni kapitalisme dan liberalisme yang berwujud globalisasi.
Akan tetapi dengan beragam ideologi yang saat ini ada, dalam membangun nasionalisme untuk kesejahteraan rakyat hanya seperti pepesan kosong apalagi anti neoliberalisme. Partai sepertinya hanya menjadi tempat nasionalisme politik, begitupun masyarakat cenderung apatis terhadap partai. Hal ini sesuai pandangan, tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini. Kata-kata itu menjadi slogan jiwa masyarakat pada umumnya sehingga melahirkan politk transaksional. Dengan politik transaksional cara berfikir manusia mengalami perubahan baik cara manusia berfikir dalam berpolitik maupun berbudaya.
Partai politik dan ideologinya pada akhirnya menempati kedudukan yang terhormat di era demokrasi. Memiliki kedudukan terhormat ini dikarenakan partai politik menjadi lumbung perwakilan bagi rakyat. Seiring politik transaksional, partai politik menjadi tawar menawar dalam artian bahwa partai politik yang mengedepankan ideologinya sepertinya akan sulit bersaing di pemilu 2014 ini. Sekarang ini partai politik lebih mengedepankan seorang tokoh dibandingkan dengan ideologi seperti PDI-P dengan Jokowi, Hanura dengan Wiranto, PBB dengan Yusril Ihza Mahendra, dan Golkar dengan Aburizal Bakrie. Sosok figur menjadi penentu kemenangan Partai untuk menarik simpati masyarakat.
Tidak ada lagi semangat nasionalisme untuk berdirkari, apalagi anti neoliberalisme. Itulah sepengal kalimat yang cocok untuk politik transaksional sekarang ini. Isu membangun nasionalisme dan anti neoliberalisme hanya sebatas senjata para politisi untuk menarik simpati publik. Tidak seperti dulu nasionalisme sebagai simbol politik yang bertujuan memasukan ideologinya, kini nasionalisme hanya sebatas untuk kepentingan partai politik dan kepuasan individu serta dinasti politik.
Seperti perkataan Tan Malaka dalam bukunya, Merdeka 100%, Tiga Percakapan Ekonomi Politik; Saatnya kita merdeka 100% yang berarti negara benar-benar memiliki kekuatan untuk mengatur bangsa dan negaranya sendiri. Uang tidak perlu! Tapi yang perlu ialah kemerdekaan 100%. Sekali lai! Uang sebagai kapital asing tidak perlu, malahan membahayakan. 
Semoga perkataan Tan Malaka menjadi pemicu semangat kebangsaan, untuk membangun kembali nasionalisme yang berideologi. Dicari wakil rakyat yang merakyat dan presiden anti neo-liberal.

*Tulisan dimuat dalam Majalah Ber-SUARA LAPMI Cabang Semarang Edisi XXVIII April 2014M/1435H
Info & Berlangganan : lapmics@gmail.com


Kamis, 05 Juni 2014

KEKERINGAN INTELEKTUAL SEBAGAI IDENTITAS APATISME KADER



Oleh: Ahmad Mas’ud (Komisariat Syari'ah IAIN Walisongo Semarang)

Sepintas agak mengerikan ketika coretan demi coretan penulis goreskan diatas lembaran putih ini, rasa gelisah mulai menghampiri benak fikiran yang juga berstatus sebagai kader HMI. Terpaksa lahirlah tulisan dari perenungan alam bawah sadar yang serasa menyesakkan hati. HMI, begitulah namanya yang sangat sakral dan penuh arti. Dimana HMI sebagai organisasi mahasiswa tertua di Indonesia dan telah menyumbangkan aspirasi kepada pemerintah dan ikut serta dalam kontrol sosial kepada rakyat. Secara tegas didalam khittah perjuangan HMI merupakan paradigma gerakan atau manhaj yang merupakan pilihan ideologis. Yaitu prinsip-prinsip penting dan nilai-nilai yang dianut oleh HMI sebagai tafsir utuh antara azas, tujuan, usaha dan independensi HMI.

Dilihat dari tujuan HMI yaitu kata insan ulil albab, sebagai kader pemikir yang kritis di berbagai bidang, intelektualitas sebagai simbol yang dijunjung. Ini mungkin menjadi refleksi aktualitas kita sebagai tanggung jawab sosial, cak nur pernah berkata dalam forum HMI “anda semua itu ahli waris Indonesia yang paling representatif”. Tetapi rekan-rekan sebagai kader HMI sekarang ini seakan-akan melihat sebelah mata akan komitmen pada cita-cita dan spirit perjuangan berproses menjadi seorang insan pemikir, intelek dan peka. Terhanyut pada arus nafsu yang menyesatkan, down nya budaya semangat membaca, bolongnya forum diskusi,  jebolnya karya kreatif kader dalam menorehkan tinta emas diatas lempengan perak peradaban dan karya ilmiah dibidang keilmuan, keislaman, realitas sosial dan sebagainya. Yang menjadi pertanyaan siapa yang disalahkan, siapa yang bertanggung jawab atas keringnya karya, sumbangsih peradaban, maupun aura gerakan kader?”, banyak yang bersifat apatis, mementingkan dirinya sendiri, bersifat senioritas atas kader dibawahnya ini mungkin terjadi, ketidak seriusan mendekati, membimbing dan mengarahkan kader baru setelah LK 1, kurangnya ngopeni, -ngingoni, -ngragati,-ngayomi kader biasa terhadap bawahnya, sehingga menimbulkan sebab buta arah melangkah sang kader baru. Fenomena buta arah menyebabkan gagalnya cetakan calon sang ideologi dan non aktifnya jasad, dikotomi hubungan harmonisasi antar kader karena suatu hal, yang menyebabkan terjadinya miss bahkan mendiskreditkan antar kader HMI, yang memungkinkan perpecahan pendapat dengan membentuk firqoh maupun berpoligami dengan  firqoh yang lebih nyaman.

Refleksi diri

Tidak ada organisasi yang sempurna di muka bumi ini, Organisasi hanyalah merupakan wadah pengembangan skill mahasiswa. Lebih dari itu HMI merupakan organisasi yang orientasinya pada keimanan, islam dan amal, yang ketiganya saling bersinergi dan singkron bagaikan pohon dengan akarnya, batangnya beserta cabang dan buahnya yang saling berkaitan dan menguatkan. Dan ketiga unsur tersebut mati apabila tidak ada roh maupun jiwa keseriusan yang hidup dan mengisi didalamnya. Membuang rasa arogansi, apatisme, senioritas dan merefleksikan maupun muhasabah diri, apa yang baik di junjung, apa yang kurang dilengkapi, apa yang jelek dibuang dan di pendam dalam-dalam dalam relung bumi. Mencontoh perjuangan para pendahulu intelektual yang telah mencurahkan dirinya terhadap HMI ini, dan harapan utama para kader HMI dapat menjadi pengganti sang maestro intelektual terdahulu. Amin

Semarang, 29-12-2013

*Tulisan dimuat dalam Majalah Ber-SUARA LAPMI Cabang Semarang Edisi XXVII Maret 2014M/1435 H
Info & Berlangganan : 085640281855

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com