This is default featured slide 1 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 2 title

Foto Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 3 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 4 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 5 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Mei 2014

Cerpen: BIARKAN BERLALU



Oleh: Reni Aprilia Ekasari (Komisariat FPBS Universitas PGRI Semarang)

Semarang, 2 April 2013
  Lima belas hari lagi usiaku genap 20 tahun tapi aku yakin belum ada sesuatu yang berkesan dalam hidupku selain rutinitasku selama ini. Belum ada sesuatu yang menginspirasiku untuk suatu perubahan yang bisa ku rabah hasilnya diwaktu ini. Namaku Reva Fauziah tapi kebanyakan yang mengenalku memanggilku Re, entah dengan motiv apa mereka memanggilku seperti itu yang jelas aku nyaman dengan panggilan itu. Meskipun selama ini belum ada sesuatu yang merubahku tapi akhir- akhir ini ada satu masalah yang prediksiku bakal buat hari Ultahku ngag sempurna. Tahu kenapa?
Begini aku punya kekasih namanya Anam kita satu kampus beda fakultas, jelasnya lagi dia kakak kelasku, satu periode di atasku. kita baru aja pisah entah apa persepsinya tentang problem hubungan ini, tapi bagiku inilah makna lain dari kata putus. Kebanyakan orang memaknai putus adalah sesuatu yang menyakitkan dan tepat itulah yang aku rasakan saat ini.
Dari : OnyetQ
18/02/3013
15:34
kngen dek, qu lega rsanya udah dpet izin pcran dri ort, tapi dri ortu nikahnya harus usia 27 thun, gmn dek?
Itu message dari mas Anam yang membuat aku optimis ini adalah pintu gerbang untuk mewujudkan harapan kami ke depan. Message ini juga yang membangun kembali hatiku yang sebelumya sempat hancur. Entah karena apa hatiku memilihnya, yang aku sendiri belum begitu tau perasaanya ke aku kayak gimana. Kemarin pas hubungan kita sekitar tiga bulanan mas Anam menghilang entah untuk apa. Ia beralasan ingin fokus sama UASnya bulan Januari, dari alasan ini aku merasa ndak pernah mengganggunya berkaitan dengan study, tak seperti kebanyakan pasangan kekasih yang ini-itu harus selalu diturutin, yang mau-ngag mau, bisa-ngag bisa harus ketemu tapi entah kenapa ia pilih alasan demikian. Hari demi hari UAS pun usai tapi tak kunjung membuat ia menunjukan rasa sayangnya ke aku, malah semakin ia menjauhiku jangankan sekedar menyapa menatap pun sepertinya ogah. Sampai- sampai rencanaku yang ingin membuat surprize di hari Ultahnya tanggal 26 Januari lalu, pun turut gagal karena problem yang aku sendiri tak begitu faham penyebabnya. Ku terima kabar lagi alasan yang ke dua kalinya adalah ia belum dapat restu pacaran dari Ortunya. Meskipun begitu aku tetap bisa terima, walau jarak yang begitu jauh ini, perasaan bimbang ini, rasa sakit ini harus ku kubur jauh didasar hati hingga tak seorangpun mengerti makna kecerian yang senantiasa aku sajikan di wajahku tak  terkecuali  dengan dirinya. Semua ini aku lakukan karena memang aku  menyayanginya.
Hingga akhirnya aku peroleh message itu, harusnya aku berontak, harusnya aku marah, harusnya aku pergi, harusnya aku pilih putus tapi semua itu tak ada yang aku lakukan walaupun tak ada yang berpihak kepadaku. Bahkan ketakberpihakan itu nyata aku peroleh dari orang- orang terdekatku.
“Alah Re, kenapa dengan kamu? Apa istimewanya dia? Apa kamu pikir di dunia ini cuman ada dia?!” Sungut Pupu suatu ketika, yang hanya aku balas dengan senyuman.
“Mbak Re, apa yang kamu suka darinya? Apa dia membuatmu bahagia?” Sahut satu lagi kawanku yang bernama Yani.
“Lho kok gitu dek?” Sambil berlalu ku bela diriku yang sudah merasa terpojok tanpa pembela, namun aku yakin mereka seperti itu karena tak tega melihatku terpuruk. Pilihan terakhir yang aku pikir bisa sejalan dan cocok dengan hatiku yaitu kawanku yang bernama Sukma. Tanpa berpikir panjang aku telah keluar dari kamarku dan telah sampai dikamar sebelahku, yang tak  lain adalah kamar Sukma.
“Kenapa mbak?” Mendadak Sukma menyapaku dengan sedikit panik . Sikap yang demikian ku artikan sebagai bentuk partisipasinya sebagai sahabat. Tanpa sungkan- sungkan ku ungkapkan semua yang ku alami selama liburan kemarin.
“Nggih dek, mas Anam masih sayang aku, aku yakin itu dek. Cuman memang seperti inilah cara ia menuangkan perasaan sayangnya ke aku, seperti inilah realisasi cintanya.” Kalimatku mengakhiri curahan hati kepada Sukma.
“Iya udah mbak, kalau mbak sudah yakin ya dipertahanin aja. Yakinlah kalau tak ada pengorbanan yang sia-sia meskipun harus perasaan yang jadi korbannya mbak.” Dengan ekspresi yang ceria, seperti biasanya Sukma membuat aku semakin yakin dengan keputusanku. Tak ada ungkapan lagi dariku baik itu berupa sanggahan ataupun sebuah kalimat tanya. Refleks yang aku lakukan hanya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan bersama dengan sunggingan di bibir tipisku.
“Begitu dong, gag boleh sedih lagi. Lagian mbak kan pernah bilang bahagia akan tiba pada waktu yang tepat” dengan tanpa menghentikan kesibukannya Sukma masih menenteng sapu lantai di tangan kanannya.
“Nggih dek” jawabku pasrah pada waktu.

* * *
Mulai dari sinilah buhunganku dengan mas Anam kembali normal, bahkan lebih baik dari sebelumya, yang aku rasakan bukan hanya kasih sayangnya tapi juga kesabaranya membimbingku menjadi sosok yang baik di mata orang-orang disekitarku juga Insyaallah baik di hadapan Tuhanku. Sebutan anak manja yang dulu menempel di kepribadianku surut-menyurut kian berkurang walau. Bersamaan dengan itu kini aku mulai merintis Semester 4, kebanyakan orang berpersepsi kalau semester pertengahan bagi seorang mahasiswa adalah semester yang harus ekstra hati-hati dan jangan terlalu dibuat hati karna akan banyak cobaan yang menghadang. Untuk awalnya aku kurang sepakat dengan persepsi itu. Ku awali semeter ini dengan lebih mengenal dan masuk dalam organisasi baik Internal maupun Eksternal yang aku anggap sesuai dengan tujuanku dan aku berniat akan menyibukkan diri dengan senantiasa mengusahakan kontribusi untuk itu. Dari Internal sendiri aku kini sebagai Staff Bidang Pers dan Jurnalistik, di UKM aku juga anggota rebana walau masih dalam tingkatan pemula. Sedangkan di Eksternal aku ikut salah satu organisasi islami yang pelantikan kepengurusannya sebentar lagi. Kontribusi awalku untuk eksternalku ditandai dengan pindahanku ke Wisma organisasi yang membuatku harus meninggalkan sahabat-sahabat penyemangatku. Walaupun awalnya sangat sulit karena harus meninggalkan mereka, memulai dengan kawan- kawan baru yang semula belum begitu mengenal sisi lain mereka apalagi mas Anam juga belum begitu setuju dengan keputusanku. Namun yang ada dipikiranku adalah bagaimana caranya aku bisa senantiasa stand by setiap kali ada agenda organisasi.
Hari demi hari kujalani dengan bersemangat mungkin karena semangat dari mas Anam pula, kadang rasa capek berubah menjadi semangat menggelora. Posisi mas Anam juga satu Eksternal denganku tapi beda Kompi. Dulunya sih ia benar-benar menolak turut serta dalam Organisasi ini. Ku pikir dengan turut serta dalam Organisasi Islam ini akan sangat membimbing hubunganku dengannya  jadi bersihkeras ku bujuk ia hingga akhirnya terbukalah pintu hatinya untuk turut serta dalam Organisasi ini. Setelah aku berada dan turut mengayuh bersama organisasi- organisasiku, aku merasa semakin cinta  dan memiliki tanggung jawab di dalamnya. Meskipun aku tau organisasi Internalku bertentangan dengan eksternalku, tapi aku pikir itu hanya hasil dari mereka yang salah persepsi. Dari sini aku berpikir seandainya antar organisasi faham dan saling menghargai visi- misi satu sama lain pastilah kampus ini akan damai, itu baru lingkup kampus belum lagi organisasi- organisasi besar lingkup Negara. Oleh karena itu sebisa mungkin aku tetap bertahan karena dari sini pulalah aku memulai perjuangan, sekalipun baru titik terkecil dari sistem negeriku. Tak salah aku meluruskan niat untuk berorganisasi. Di Internal aku bisa bersumbangsih untuk Progdiku, di eksternal aku bisa bersumbangsih untuk Agamaku, ku berpikir apa yang aku bisa lakukan untuk Agamaku selain memulainya dari diri sendiri dan yang ada di sekitarku?
“dhek, mas diminta menjabat sebagai Kabit Kerohanian. Pripun dhek?” suara lirih mas Anam dari sambungan telepon yang sontak membuat aku bangga pada sosok kekasih sepertinya.
“Nggih bagus ta mas, itu tandanya njengan dianggap mampu. Aku yakin mas mampu untuk itu, jadi kenapa ngag?” sanggahku dengan sedikit sifat sok tauku namun tetap dengan ketulusan sepenuh hati.€
“Bener dhek? walau itu artinya kita harus benar-benar merubah segalanya dari saat itu”. Masih seperti tak percaya, agaknya kalimat itu dilontarkan mas Anam padaku.
“Nggih mas, lha memangnya kenapa? toh memang seperti ini lebih baik, njengan bebas dengan kesibukan njenengan begitu juga denganku namun tak menghapuskan perasaan kasih kita satu sama lain. Aku rasa itu akan lebih baik” jawabku meyakinkan kekasihku untuk pengambilan keputusannya.
“Ou nggih sampun nek ngoten dhek, lha njenengan sampun pelantikan?” Tanya mas Anam yang aku artikan sebagai bentuk perhatiannya kepadaku.
“Alhamdulillah sampun mas, kemarin. Aku Straffnya mbak Fatmah di bidang Perkaderan” Sedikit malas-malasan ku jawab pertanyaan yang baru saja ku dengar itu.
“Nggih bagus ta dhek, pripun mpun kerasan di Wismanya?” masih terus memberikan semangat seakan ucapan itu dilontarkannya pada ku.
“Iya begitulah seperti yang njenengan lihat saat ini” sambil terus membolak-balik buku yang dari tadi ku pegang dan tak sedikitpun ku lirik.
“Nggih sampun, semangat nggih” ucap mas Anam tanpa meninggalkan konotasi memotivasi.
Hingga tak terasa perbincangan kami telah berakhir, yang hasilnya ditunjukkan dengan perubahan wajah kucelku menjadi secerah bulan purnama saking bahagianya. Aku bersyukur mengenalnya, berkesempatan menyayanginya walau aku tak tau seperti apa perasaannya ke padaku. Andai sebuah gelas maka cintaku padanya seperti air mengalir yang mengisi gelas itu hingga penuh bahkan melebihi volume, meski hati ini terus menangis menahan rasa sakit yang sering kali menghampiri karenanya tapi kulakukan semua demi cinta. Sampai kadang terbesit dalam benakku Bagaimana jadinya aku bila harus tanpanya, yang segera ku tepis pikiran konyol itu. Terkadang aku tak mampu menyimpan perasaan ini sendiri tapi tiap aku ungkapkan pada kawan-kawanku yang aku dengar kebanyakan adalah kontra akan ungkapanku.
“Kok bisa sih Re kamu segitu sayangnya sama seseorang?” Kata seseorang yang aku tuakan di Wisma  yang akrab ku panggil Ukhti yang sering kali aku abaikan.
“Aku yakin suatu saat kamu akan tau mengapa aku menyayanginya ukht” jawabku asal-asalan sebagai bentuk pembelaan tak nyata dariku.
“Emt, Re aku jujur pengen banget punya pacar. Entah kenapa aku pikir dengan aku punya pacar aku bisa berjuang bersama dia dalam segala hal” Balas Ukhti yang kemudian membuatku terkekeh.
“Kok bisa gitu Ukh?” tanyaku semakin penasaran padanya, soalnya dia baru aja dilantik sebagai salah satu Kabit dalam struktur kepengurusan kemarin denganku.
“Iya bisa aja, kan enak tuh.” jawabnya ringan diikuti senyuman imutnya.
“Ukh, denger-denger mas Anam pas pelantikan nanti juga diberi amanah Kabit” ungkapku lirih sejajar dengan suara  bisikan actor di panggung teater yang biasa aku saksikan.
“Ou, ya bagus dong” seraya melepas jilbab.
“Hemmt…” aku sebagai lawan bicaranya hanya bisa menarik nafas penuh harapan.
Padahal berawal dari sinilah perasaanku mulai tak seperti biasanya. Perasaan takut kehilangan sosok kekasih yang aku sayangi karena suatu hal, dan entah alasan apapun. Namun tetap aku yakinkan hati ini bahwa ia yang aku sayangai tak seperti perkiraanku. Dengan begitu aku akan tetap bersemangat dalam segala agendaku kemudian. Sampai beberapa hari setelah percakapan itu, seingatku hari senin tanggal 25 bulan 03 sekitar pukul sebelas siang kuterima message dari mas Anam.
Dari: OnyetQ
25/03/2013
Dek ada yang ingin qu bcrakan, dan ne mslah serius.
Setelah tuntas membacanya aku kaget, ini message pertama darinya setelah message  beberapa hari yang lalu. Membuat ku penasaran apa masalah yang ingin ia bicarakan itu, dua menit kemudian telah terkirim message balasan ku.
Dari: aQ M3
25/03/2013
Nggih ngomong mawon mz, mslh npo?
Tak seperti beberpa hari yang lalu, dimana aku butuh waktu bermenit-menit hanya untuk satu message balasan darinya. Kali ini message balasannya begitu cepet.
Dari: OnyetQ
25/03/2013
Dek kita harus mengakhiri hubungan ne smentara wktu, karena hanya itu yang harus qu lakukan sebelum pelantikan Kabit.
Ironis. Seakan perasaan tak enakku selama ini telah terbukti dan inilah bukti nyatanya. Sempat terlintas dalam benakku kalimat bijak yang pernahku dengar Logika memang tau bagaimana membuat keputusan yang benar, tapi hati tau mana yang bisa membuat bahagia, bahkan jika itu keputusan yang salah. Aku tak bisa lagi membendung air mataku, satu menit saja aku telah berhasil memerahkan seluruh wajahku, membuat mendidih hati yang tadinya membatu.
Dari: aQ M3
aQ akan bljar ikhlas mz…
Insyallah,,,
nggih maav aja nek slama ini aQ banyak salah…
maksih bwt smua yg pernh mz berikan kpdQ mz…
mkasih…

Entah apa yang ada dipikiranku hingga hanya balasan seperti itulah yang bisa aku kirimkan.
Dari: OnyetQ
25/03/2013
Tapi qu mau ngomong langsung dlu sm njengan dhek.
Awalnya ku tolak ajakan yang ku pikir hanya akan membuatku lebih hancur itu. Aku optimis banget pembelaanku tak akan ada artinya jika memang keputusan awal yang ia buat seperti itu, aku bersamanya sudah 8 bulan jadi aku yakin aku lebih mengerti dia di banding kawan-kawan barunya. Karena hatiku gelisah banget setelah itu, maka aku lebih memilih bisa dekat dengan semangat-semangatku, mereka sahabat-sahabatku yang selalu ada untukku. Bahkan ketika itu juga Yani langsung menjemputku, menenangkan diriku.
Satu hari aku tak berada di wisma hingga sore harinya. Aku sengaja menghindar entah kepada siapa, tapi entah kenapan di kampus aku di pertemukan dengannya disaat aku benar-benar kalut. Aku tak ingin terlihat lemah dihadapannya, namun apa yang aku bisa?
Sore harinya mas Anam menemuiku, aku tak bisa menolak karena jujur aku masih ingin melihatnya walau hanya 1 detik.
“Pripun dek, aku cuman ngag mau mereka tau, aku telah pacaran sama njengan setelah pelantikanku. Aku pengen mereka tau dan dengan itu bisa dijadikan pertimbangan mereka” ucapnya lirih tanpa sedikit senyum dibibirnya.
“Tapi mas… Apakah ini harus?” tanyaku sedikit menyelidik.
“Kemarin sempet Ukhti Nana, sama Akhi Roni menegurku agar bisa-ngag bisa kita harus pisah. Bahkan sempat ia menganggapku ngag percaya sama Kuasa Allah karena telah pacaran. Tapi aku janji dek, akan ku tunggu sampai adek lulus”. Seakan kalimat itu telah dihafalkan lama sehingga begitu lancarnya mas Anam mengucapkannya.
Aku tak mampu berucap lagi, hanya air mata yang belum berhasil ku hentikan yang mewakili ungkapan hatiku.
“Apa kita sama-sama keluar saja dek? Jika itu yang bisa membuatmu lebih baik” masih tanpa senyuman mas Anam memberikan penegasan itu dan aku yakin itu bukan kehendak hati yang sesungguhnya, hal seperti itulah yang tak ku suka.
“Ndak mas, jika salah satu dari kita keluar hanya karena masalah kayak gini aku ngag suka. Ok mereka ngag salah telah membenarkan larangan_Nya, dan aku juga ngag akan memaksa njengan buat mempertahankanku” sanggahku tanpa berpikir panjang lagi. Sampai sempat terbesit dalam benakku satu kata orang bijak, bahwasannya Orang yang benar-benar menyayangimu tak akan kehabisan alsan untuk mempertahankanmu dan tak akan mencari alasan untuk meninggalkanmu.
“Nggih sampun dek, tak ada kata putus diantara kita” ucap mas Anam kemudian yang seakan terpaksa.
Aku terdiam tanpa kata, tak tau apa yang harus aku tanyakan atau aku sanggah ataukah aku usulkan selain diam dan mencoba mengerti. Hingga mas Anam mengakhiri percakapanny dan berpamit pulang. Tanpa dendang ku langkahkan kakiku yang semakin loyo ke dalam kamar. Setelah kejadian itu jarang lagi ku dapat kabar tentangnya, ingin hati mengirim message tapi segera ku tepis karena  aku tak yakin akan ia respon. Meski terkadang masih satu dua message ku terima darinya namun diriku merasa begitu terbebani, aku masih bingung apa statusku dihadapannya, apa artinya kehadiranku untuknya, masihkah aku diharapkan ataukah hanya sebuah keterpaksaan saja agar aku tak melakukan suatu hal bodoh sebagai pelampiasan sakit hatiku. Aku tak menyalahkan siapa-siapa atas kejadianku ini, aku yakin akulah yang salah.





Jumat, 09 Mei 2014

Cerpen: KEAJAIBAN BINTANG


By: Zahratunisa

Dalam menggapai indahnya keajaiban yang diciptakan oleh Tuhan adalah sebuah permainan yang sedang diciptakan oleh-Nya. Sesuatu yang sempurna beranjak dari hal yang tidak sempurna. Begitu pula dengan apa yang dialami oleh Anisa Livia Sari.
Indahnya panorama sang fajar terhiasi oleh ayat-ayat yang mengalun sangat indah dan begitu menakjubkan. Rutinitas yang dikerjakan oleh Via begitulah ia disapa oleh teman-temannya, untuk mencurahkan isi hatinya kepada sang pemberi hidup.  Indahnya pancaran bintang selalu menjadi kekuatan bagi Via disaat Ia terpuruk oleh sekelebat masalah yang coba hinggap dalam hidupnya.
Pagi yang cerah menyambangi jendela, memperlihatkan keelokan pada sang pemilik rumah bahwa pagi ini adalah pagi yang menyenangkan dan awali hari dengan senyuman. Ketika Via akan bergegas menuju ke kamar mandi, langkahnya terhenti tepat di depan kamar Ifan.
“bagaimana kabar Ifan ya? sudah dua hari aku tidak bertemu dengannya. Apa dia belum bangun? Padahal dia juga harus sekolah, ah mungkin bibi lupa membangunkannya, kalau begitu aku bangunkan saja dia.”
Dengan gerak cepat Via mengetuk pintu kamar Ifan berulang kali, tetapi tidak ada jawaban sama sekali, Via berinisiatif untuk membuka pintunya. Dengan rasa terkejut ketika Via membuka pintunya Ifan tidak ada di tempat.
“tumben anak ini jam segini tidak ada di kamarnya, biasanya jam segini masih molor. Kemana perginya ya?”
Via mencoba mencarinya kebelakang kali saja dia sedang makan, tetapi hasilnya nol, Via langsung teringat tempat favoritnya yaitu rumah pohon yang berada di belakang rumah, tempat tersebut juga menjadi tempat favorit Via.
Ternyata benar, si Ifan berada disana sedang tidur. Rumah pohon ini memang sengaja dibuat oleh ayah untuk kita sebagai tempat untuk bermain, tempatnya sungguh sangat nyaman untuk di tempati, desainnya juga sangat bagus dan terlihat sangat unik, bisa dibilang rumah pohon inilah tempat kedua kita. Via dengan gesit memanjat untuk membangunkan Ifan untuk ke sekolah karena ini sudah siang.
“Ifan bangun, kamu harus siap-siap untuk ke Sekolah, nanti terlambat. Kamu pasti semalam tidak bisa tidur lagi ya? Apa yang sedang kamu pikirkan sampai kamu tidak bisa tidur?”
Dengan segera Ifan terbangun dari tidurnya, dia teringat bahwa dia hari ini harus menemui seseorang.
“aduh, kak Via kenapa baru bangunin Ifan sih, jadi kesiangan nih. Bibi juga, kenapa nggak bangunin Ifan dari tadi!”
“kamu tuh Fan kebiasaan menyalahkan orang lain, siapa juga yang tahu kalau semalem kamu tidur di sini. Bibi mungkin saja sudah bangunin kamu berulang kali, tapi kamu nggak ada di kamar. Makannya kalau mau tidur di sini bilang dulu. Ya sudah ayo cepetan siap-siap katanya ada janji.”
“iya..iya.. dasar kak Via bawel!”
Tak salah jika Ifan adik laki-laki Via terkadang merasa iri dengan Via, karena selama ini Via itu istimewakan oleh orang tuanya, tetapi berbeda dengan Ifan, dia sering dimarahi oleh ibunya terutama sama ayahnya. Mungkin karena dia laki-laki maka Ifan mendapat didikan keras dari orang tuanya supaya menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Terkadang Via juga merasa kasihan kepada adik semata wayangnya itu. Dia selalu mendapat perlakuan yang kurang adil baginya. Tidak dapat dipungkiri lagi, bagaimanapun juga Ifan masih terlalu kecil untuk mengerti bagaimana kehidupan yang sebenarnya. Anak kelas enam sekolah dasar yang dia tahu hanya bermain dengan teman-temannya tanpa harus meninggalkan prestasi yang harus diraihnya di sekolah. Begitulah orang tua Via dan Ifan mendidik anak-anaknya. Boleh bermain tetapi prestasi tetap nomor satu. Via yang duduk di bangku kelas tiga SMP agaknya sedikit demi sedikit mulai tahu, betapa susahnya menjalankan kehidupan yang sebenarnya. Via merasakan betapa sibuknya kedua orang tuanya yang setiap hari harus bekerja dengan keras agar kebutuhan yang diperlukan anak-anaknya dapat terpenuhi. Sampai-sampai tidak ada waktu untuk berkumpul bersama seperti yang didambakan oleh sekian banyak orang.
Sepulang dari sekolah Via langsung menuju ke kamarnya. Tempat yang menurutnya paling nyaman untuk menyendiri selain rumah pohon. Via masih penasaran dengan apa yang dijanjikan oleh ibu.
Dengan sangat tak terbiasa ibu pukul 16.00 WIB sudah sampai rumah, biasanya sehabis maghrib baru sampai rumah. Tetapi ibu juga datang dengan raut muka yang tidak gembira. Sebuah pekerjaan menjadi wakil kepala sekolah memang sangat melelahkan. Tugas dari kepala sekolah yang dikerjakan oleh ibu sangat banyak, bahkan tak jarang pula ibu membawa pekerjaannya ke rumah.
Ketika di meja makan pun ibu belum mengatakan kejutan yang dijanjikan oleh ibu tadi malam. Setelah makan malam selesai Via langsung menuju ke kamarnya, tak berapa lama kemudian tiba-tiba pintu kamar Via ada yang mengetuk, hingga menyadarkan lamunan Via. Dengan segera Via membuka pintu kamarnya.
Rasa penarasan dan tidak mengerti apa maksud kedatangan ibunya menghampiri dirinya dengan perubahan raut muka yang terlihat berbeda dari sebelumnya. Ibu kini terlihat sangat berseri ketika kedua bola mataku bertemu dengan tatapan bola mata ibu. Dengan nada sayang ibu menyampaikan suatu hal terhadap diri Via. Ibu memberikan kejutan yang sama sekali semuanya di luar dugaan dan pemikiran Via. Hal yang sangat tidak setuju bahkan kecewa setelah mendengar semuanya. Bukan kejutan mengenai hari bahagia yang dia tunggu akan tetapi sebaliknya. Ibu menginginkan Via unuk melanjutkan studi ke Yogyakarta yang itu artinya Via harus mempersiapkan dirinya untuk jauh dari orang tuanya. Itu menjadi pilihan yang sulit bagi Via untuk menjawab iya atau bahkan menolaknya.
Via mulai berfikir jauh untuk dia merasakan hidup pisah dari keluarganya. Meskipum di sana nanti Dia masih bersama kakek dan neneknya akan tetapi akan terasa sekali perbedaannya ketika dia tinggal dengan orang tua dan adiknya. Dalam angan Via terbangun ketika ibu mulai akan menjelaskan alasan beliau menggambil keputusan yang mestinya sudah dipertimbangkan sebelumnya. Ibu menginginkan adanya sikap yang sepadan antara Via dan Adiknya, Ifan. Akan tetapi Via yang kini harus menanggungnya. Bukan antara tanggungan akan tetapi suatu kebijakan dan keadilan agar sama-sama memperlakukn anak dengan rasa sayang dari kedua orang tuanya.  
Dengan linangan air mata Via menerima kenyataan yang begitu berat bagi anak seumurannya. Desiran angin yang ikut merasakan suasana hati Via mengingatkan kebiasaan yang dilakukan oleh Via di rumah pohon. Malam yang semakin larut menggerakkan hati Via untuk mengambil air wudlu dan segera menjalankan sholat tahajud. Dibawah hangatnya sinar rembulan dan cahaya lentera yang bertebaran diangkasa selalu menemani malam yang begitu indah, teman yang selalu setia menemani setiap sujudnya dimalam hari, indahnya pancaran bintang seolah mengerti kegundahan hati yang dialami Via. Begitulah cara Via menenangkan hatinya, tidak pernah seharipun ia melupakan untuk menyapa temannya itu. Setelah menyapa temannya itu ia kembali ke kamarnya untuk istirahat.
Via sebisa mungkin tidak mengecewakan orang tuanya, oleh karena itu dia buktikan dengan prestasi yang didapatkan disekolah. Via selalu mendapatkan juara 1 di kelasnya, hal ini yang selalu membuat teman-teman yang lain ada yang merasa iri dengan kesempurnaan yang dimiliki oleh Via, memang Via itu begitu sangat anggun dan cantik begitu teman-temannya menilai Via, ditambah lagi pintar serta hidup berkecukupan. Walaupun teman-temannya selalu menilai Via seperti itu, tetapi Via tidak pernah merasa sombong bahkan sebaliknya, dia begitu ramah dan sangat baik kepada teman-temannya, selain itu Via juga sangat sederhana dan rendah hati, oleh sebab itulah bukan hal yang mustahil lagi kalau banyak lawan jenis yang menyukai Via. Tetapi Via selalu menganggapnya sebagai teman biasa. Bahkan tak jarang pula banyak teman yang sering main ke rumah Via untuk sekedar minta diajarin mengenai pelajaran yang menurut teman-temannya itu sulit, dengan senang hati dan sabar Via mengajari teman-temannya itu sampai mengerti. Pada waktu Via mengajari teman-temanya tiba-tiba Ia pingsan, teman-teman yang berada disekitarnya begitu panik melihat Via yang tiba-tiba pingsan, tetapi tidak untuk orang rumah. Hal seperti itu sudah terbiasa dialami oleh Via jadi tidak kaget lagi, bibi pun tahu bagaimana yang seharusnya dilakukan ketika Via seperti ini. Namun, Via tidak mau teman-temanya itu mengetahui sakit yang dialami Via, jadi selama ini teman-temanyapun tidak ada yang mengetahui keadaan Via yang sebenarnya. Dengan segera Bibi dibantu teman-teman Via mengangkat Via ke kamarnya.
Malam harinya ditemani oleh ibu dan ayah, Via cek up ke rumah sakit yang biasa menangani Via dari kecil.
“aduh bu ngapain sih kita ke rumah sakit lagi? Via kan sudah tidak apa-apa.”
“nggak apa-apa gimana, buktinya tadi kamu pingsan lagi. Ibu takut kalau kamu itu... ah sudahlah, semoga saja nanti hasilnya baik-baik saja.”
Benar saja, apa yang ditakutkan ibu selama ini, sakit jantung yang diderita Via kini naik menjadi stadium dua, hal ini membuat kedua orang tuanya kaget. Padahal kemarin perkembangannya sempat membaik. Tetapi, mengapa sekarang menjadi memburuk. Via selalu menutupi rasa sakitnya supaya ayah dan ibu tidak terlalu khawatir mengenai keadaannya. Bila malam menjelma, memayungi semesta Via pun bergegas mengambil air wudlu dan langsung menuju rumah pohon. Bintang yang gemerlapan tahu bagaimana menghibur temannya yang sedang bersedih itu. Perasaan damaipun menyelimuti Via setelah melaksanakan sholat tahajud. Tiba-tiba Via melihat bintang jatuh begitu indah, bintang yang selalu memberikan kekuatan pada Via.
“Ada apa gerangan mengapa engkau turun sahabatku?”
Setelah melaksanakan sholat tahajud Via belum merasakan kantuk, untuk mengisi waktunya itu, Via membuka buku pelajaran untuk mempelajarinya, tinggal menghitung hari ujian akhir akan dilaksanakan, dan waktu itu juga Via harus bersiap-siap untuk meninggalkan Jakarta.
“Kenangan bersama keluarga dan teman-teman takan aku lupakan, dan aku pasti sangat merindukan rumah pohonku itu.”
-oo0oo-
Ujian akhir telah dilaksanakan Via dengan sangat lancar, Via optimis akan mendapatkan nilai yang bagus, karena Via tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya yang telah bekerja keras selama ini. Via ingin membuat orang tuanya bangga dengan hasil yang diperolehnya.
Waktu terasa lebih cepat dilalui oleh Via, saat-saat yang memberatkan bagi Viapun terjadi. Dengan hasil ujian yang memuaskan itulah Via dapat melukiskan senyum pada wajah kedua orang tua yang sangat Ia cintai, dengan cara seperti itulah Via menghibur dirinya dari rasa keputusasaan akan masa depan yang gelap karena sakit yang diderita selama ini.
Kota gudeg adalah tujuan Via setelah lulus dari SMP. Sebuah sekolah Favorit dikota gudeg menjadi pilihan Via, selain dekat dengan rumah sakit, letak sekolah yang dekat dengan rumah kakek dapat mempermudah Via selama di Jogja. Kehidupan yang baru telah Ia jalankan seperti biasa, sampai pada akhirnya Via menemukan sesosok laki-laki yang kini memberikan warna dalam hidupnya, Andre seorang pemuda yang santun, baik dan juga begitu perhatian dengan Via. Walaupun Via telah memiliki seseorang yang telah memberikan warna dalam hidupnya, tidak dengan begitu saja Ia melupakan sahabatnya selama ini. Dalam waktu malam Ia selalu menemani Via dalam sujud kepada sang Khalik. Kebiasaan di rumah pohon tidak akan pernah Ia lupakan walaupun sekarang Ia melakukannya tidak di rumah pohon.
Tiga tahun telah Via lalui dengan guratan-guratan cerita yang sangat indah, sampai pada akhirnya Via dibenturkan dengan kenyataan yang begitu pahit dan memilukan. Andre yang selama ini ia kenal sebagai pemuda yang santun dan bertanggung jawab ternyata kini Ia telah menorehkan luka yang sangat dalam pada hati suci yang selama ini telah menyayanginya dengan tulus. Sebuah pengkhianatan yang dilakukan oleh Andre membuat keadaan Via menjadi sangat frustasi dan tertekan. Via menjadi lebih sering keluar masuk rumah sakit karena permasalahan yang menguji kadar keimanannya benar-benar membuatnya terpuruk sampai pada titik jenuh yang sangat tinggi. Dalam keterpurukan itulah sahabat sejatinya membangunkan kesadaran yang selama ini tidak dapat Via rasakan dalam permasalahan yang menyelimutinya saat ini. Via tersadar bahwa saat paling dekat seorang hamba dengan RabbNya yaitu ketika dia sujud, Via menemukan kedamaian yang tidak dapat Ia gambarkan dengan sebuah kata, berjuta bintang diatas sana menunjukkan keelokannya membuat siapa saja yang memandang menjadi terpesona dibuatnya. Keajaiban bintang telah menyadarkan Via bahwa hidup ini tidak hanya selebar daun kelor, karena akan selalu ada cinta dalam nurani yang bersih, akan selalu ada senyum pada wajah-wajah yang diliputi cahaya Allah, akan selalu ada doa pada hati yang ikhlas, akan selalu ada hikmah pada lisan yang cinta pada kebenaran, ada sapa dalam setiap ukhuwah dan akan selalu ada kedamaian bagi orang-orang yang cinta pada RabbNya. 
Bila malam menjelma, memayungi semesta, rasa hati tercipta mengenang yang maha Esa, bintang yang gemerlapan ditemani cahaya rembulan, terukir rasa yang terasing pabila nurani dunia menghampiri, tercipta rasa yang terindah dalam setiap malam. Sujud Via sewaktu di rumah pohon sampai Ia di Yogya telah mengantarkannya pada kedamaian yang sesungguhnya. Keajaiban bintang yang selama ini menjadi sahabatnya ketika malam menyapa telah membentuk sebuah prinsip bahwa Via tidak akan semudah itu menjalin hubungan dengan seorang laki-laki selama ketenangan yang Ia rasakan tidak seperti ketika Ia bersama sahabatnya. Karena Via telah menyadari bahwa manusia yang sejati adalah manusia yang dapat menghargai sesamanya.

Jumat, 04 Juni 2010

SYAHADAT VS SYAHWAT


“Da, kamu ini beragama Islam ya, kapan bersyahadat”, tanya Kambing kepada Kuda.
“Iya, kapan saya ngak tau. Jelasnya orang tuaku beragama Islam dan mungkin saat pelajaran pendidikan agama di sekolah SD dulu. Sekarang setiap shalat pastikan mengucap syahadat”, jawab Kuda sambil mengingat-ingat.
“Mengapa masuk agama perlu syahadat, seperti ngelamar kerja ada saratnya”, komentar Kambing.”Seperti kamu masuk rumah orang, masyak tingal masuk begitu aja. Ntar di kira kamu pencuri”.
”Syahadat itu perlu, tapi sekarang kan banyak syirik atau berhala modern. Tidak seperti dulu penyembah patung”.
”Iya...musuh sekarang ini bukan lagi soal bagaimana meng-Esakan Allah. Tapi persoalan syahwat dunia”, retorika kuda semakin menjadi-jadi.
”Lha…kok, emang bedanya syahadat dan syahwat itu apa. Kok musuh kita urusan syahwat”, tanya Kambing
”Syahadat ketegangan jiwa dengan Allah sedangkan syahwat ketegangan kelamin dan nafsu dunia antar manusia”.


Wisma Perjuangan
Semarang, 3 Juni 2010

Kamis, 08 April 2010

CATUR PERADABAN


Enak rasanya menikmati secangkir kopi ditengah malam untuk menemani bermain catur. Walau lelah dan rasa capek telah menusuk tulang dan otot terasa tegang sehabis melakukan aktivitas di siang hari. Seharusnya istirahat sih..!, akan tetapi kehendak pikiran tidak dapat di kendalikan oleh nafsu. Antara pikiran dan nafsu bekerja sesuai dengan arah dan waktu yang berbeda serta saling mempengaruhi, namun sangat indah karena perpaduan itu dapat membangun lingkaran jiwa yang tenang.
Di sini tidak akan membahas, apa itu nafsu, jiwa, pikiran dan bagaimana memadukan hal tersebut. Kita lanjutkan perjalanan ceritanya, seperti ingin mendongengkan anak yang ingin tidur aja heh hee. Tapi ngaklah, hanya berusaha memastikan bahwa engkau mengikuti alur ceritanya.

Secangkit kopi untuk menemani bermain carut. Kita tahu permaian catur dengan 16 (enam belas) butir serdadu, di situ ada; pion yang berjumlah delapan, 2 menteri, 2 beteng, 2 kuda, 1 sterr dan 1 raja. Sangat indah rupanya permainan tersebut, dengan perbedaan karakter yang tajam. Dari berbagai butir serdadu tersebut memiliki karakter sendiri. Menteri yang berjalan menyilang, kudang yang berjalan leter el, beteng yang berjalan vertikal dan horisontal, pion dan raja yang hanya bisa berjalan perpetak serta sterr yang bisa berjalan semuanya namun tidak bisa berjalan seperti karakternya kuda.
Itu semua mengisyarakatkan perbedaan dalam satu team lembaga atau organisasi. Mereka memiliki karakter dan tugas yang berbeda. Membentuk satu kesatuan untuk dapat mencapai tujuan bersama yaitu kemenangan dalam menghadapi rintangan dan tantangan pihak lain yang berusaha menjajah.
Mari kita lanjutkan ceritanya, diatas sudah dijelaskan sedikit tentang satu dimensi yakni kebersamaan team. Secangkir kopi telah membasahi bibir kemerah-merahan itu. Otaknya terus berjalan guna memenangkan pertandingan catur. Kita simak bersama pertandingan tersebut. Ya..pastilah dengan saling memahami bukannya menganggu pikiran mereka.
Ternyata kelelahan itu membuat menjadi diri kita semangat, karena telah menjalankan kinerja otak yang semestinya akan selalu bekerja terus. Jika otak ini hanya di diamkan maka akan terasa kaku dan dapat menyebabkan matinya daya akal kita. Selamat bagi mereka yang menjalankan otaknya sesuai fungsinya, bukannya berfikiran ngeres he he he.
Sunguh beruntung kita dianugerahi akal pikiran yang membedakan kita dengan mahluk tuhan lainnya. Maka sepatutunya kita bersyukur dan berterima kasih karena dengan akal pikiran itu kita menjadi mahluk yang beradab. Bersambung dulu ya....ah..lanjutkan aja..ok.
Permainan catur mengisaratkan kelompok atau himpunan yang terdiri dari berbagai golonganm, suku, agama dan ras. Membentuk suatu kerajaan atau negara yang memiliki raja, menteri dan rakyat. Raja atau pemimpin dilindungi rakyatanya, makanya dalam permainan catur raja terletak ditengah paling belakang. Hal ini menunjukan peran pemimpin sangat vital dan dijunjung tinggi oleh rakyatnya yang rela berkorban. Begitu juga pemimpinnya menjaga tahta singasanannya demi kemakmuran dan keadilan negeri.
Bukannya pemimpin yang memanfaatkan situasi untuk menindas rakyatknya. Atau bahkan memanfaatkan rakyat demi kepentingan pribadi dan politiknya. Di situlah sejatinya kepemimpinan yang dapat mengayomi semua pihak.
Catur adalah sebuah peradaban yang dibangun berdasarkan satu visi yaitu membangun masyarakat yang di rihoi Allah. Dengan misi untuk kedamaian negeri dan menjunjung harkat martabat manusia dan alam semesta.
Catur merupakan simbol permainan raja-raja, yang dimainkan oleh para bangsawan sejak kerajaan Babilonia di Andalusia Spanyol. Karena dengan bermain catur para bangsawan tidak hanya sekedar menikmati permainan dan seduhan teh manis. Akan tetapi sebagai media untuk mengasah dan teliti untuk mengatur startegi perang. Tidak heran jika masa lalu seorang pemimpin bukanlah dari mereka yang memiliki otak yang pandai, cerdas, baik hati dan keturunan raja.
Pemimpin adalah orang yang dapat mengatur startegi perang dan memiliki kekuatan fisik yang tangguh. Maka seorang pangeran atau anak turunan raja pasti diberikan bekal ilmu pengetahuan sastra, politik dan ekonomi dan yang paling utama adalah pelajaran berkuda, memanah, berenang dan berperang.
Aduhh...rasanya lagi males nih, tapi jangan terlalu males ah. Katanya intelektual kok males, dilanjutin ceritanya dong. Tapi sepertinya sampai di sini aja dulu ya. Sebelum itu, akan diberikan sedikit permainan catur.
Sesungguhnya dalam bermain catur akan mengasah kita untuk berfikir tenang dan kosentrasi. Melatih daya evaluasi jika akan diserang lawan. Memberikan kesegaran mata untuk memandang yang lebih jeli. Dan yang paling indah adalah kebersamaan antara kau dan aku untuk memainkan catur ini.
Terima kasih, dan akupun berjabatan tangan dengan dia. Walaupun aku bermain dengan dia dengan hasil seri.
Jangan mudah menyerah dan merasa kalah. Sejatinya pada diri kita tercermin kekuatan untuk menang. Hanya pikiran negatiflah yang mengendalikan kita untuk menyerah. Sebenarnya pada diri kita tersimpan energi untuk mematahkan lemahnya semangat dan memunculkan kembali semangat perjuangan.
Catur ialah simbol kehidupan, didalamnya ada kerukunan dan tali persaudaraan. Maka jagalah tali ukhuwah silatuhrahmi itu walau sekedar minum kopi dan menikmati permainan catur.

Lukni Mualana
17 – 19 Maret 2009
Wisma Idaman Kemiri, RT 05 RW 01, Sukorejo, Mojotengah, Wonosobo, 56351

Rabu, 18 Maret 2009

Sadar dalam ketidaksadaran…


Umi Latifah (HMI FPBS IKIP PGRI Semarang)
Beberapa malam yang tidak pernah mengenal apa arti dari kesadaran membuatku sadar akan tujuan hidupku. Aku harus berada di jalan yang mana? Jalan berliku tapi rata dan datar atau jalan yang lurus tapi rusak dan bergelombang. Menggunakan cara yang bagaimana?. Menghitung hari atau memanfaatkan hari.
Mendengarkan atau didengarkan
Mencintai atau dicintai. Menjadi orang yang duduk diam dan termenung atau pasif…
Atau orang yang selalu jalan ke sana kemari atau aktif. Menjadi orang yang selalu tersenyum tapi menyimpan dendam atau orang yang selalu cuek tapi tidak pernah mengenal apa itu dendam. Orang yang menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang berguna atau hanya menjadi orang yang duduk di depan komputer hanya untuk melihat-lihat hal yang tidak begitu berarti. Berpikir ke depan atau hanya berpikir untuk hari ini. Menikmati hidup di masa muda atau menikmati hidup di masa tua. Mencintai satu pria dan hanya memikirkannya atau mencintai satu pria tapi memikirkan banyak pria. Sekarang aku sudah sadar dan mengerti apa yang dikatakan hidup ini. Mengenal banyak karakter manusia memang belum lah cukup untuk menjadi bahan pembelajaran bagiku. Tapi bagiku, harus sampai kapan aku berada dalam karakteristik orang lain. Tenggelam dalam begitu banyak problem manusia yang kualami. Karena, setiap kali aku mempelajari orang lain seolah-olah aku menjadi orang tersebut. Ironis memang, tapi itu lah hidupku. Hidup yang memiliki karakter yang berbeda-beda. Banyak yang bilang kalau aku membingungkan. Benar, Karena aku sebelumnya juga bingung melihat diriku. Diam sesaat untuk berpikir dan menahan nafas. Dan mulai bernafas dengan semangat yang baru…


Take actions!
Miracles will happen…

Selasa, 17 Februari 2009

Tatapan mata, Mata-nya, Mata hati

-->
Tatapan mata
Ketika aku berbicara didepan mimbar, semua mata tertuju padaku. Sorot-sorot mata mereka begitu tajam seolah ingin menerkamku saja. Aku jadi merinding, ku coba untuk menatap balik mereka satu persatu ku pandangi mata mereka tenyata tatapan mereka tidak segalak yang aku duga. Itu semua hanya perasaanku saja.
Kini aku jadi terbiasa menatap audiens. Menatap mata mereka yang penuh dengan keingin tahuan. Yah...tatapan mereka ternyata tatapan ingin tahu, ingin tahu apa yang ku katakan. (Sugiarti)

Betapa nikmatnya hidup yang dapat dirasakan ini, kita telah diberi banyak sekali kelebihan yang ada pada diri kita, kadang orang lain tidak memilikinya. Kita harus bersyukur atas semua ini, terutama betapa dasyatnya dunia ironi adanya mata. Kita bisa melihat dengan ke dua mata dan makan dengan rizki yang tidak bisa kita hitung dari nikmat-nikmat lain yang tidak bisa kita ukur dengan harta maupun benda apapun. Oh...mata’ betapa bersyukurnya aku telah memilikimu sehingga aku dapat melihat dirimu (Istifaizah)

Mata-nya
Sayu...
Lebam...
Seakan deriota nestapa tertumpah hanya untuknya
Bukan Tuhan tidak adil,
Lihatnlah kengerian itu
Begitu terpancar dari sorot mata-nya
Pekar,
Seperti gelap malam
Lusuh,
Seperti tak pernah tersentuh
Mata itu
Telah kehilangan pancaran kebinaranya
Kembali tertusuk
Sakit, perih...
Seolah bening yang selalu menggenang di sela-selanya
Sudah menjadi bagian dari keberadaanya...
Siapa yang peduli dengannya!
Tangan siapakah yang mauy meraihnya?
Tuhan...
Ijinkan aku menyeka air mata-nya
Jika tidak,
Lebih baik dihilangkan mata ini saja
Agar tak pernah lagi melihat
Perih nestapa dan derita
Yang terus terpancar dari
Mata bisunya...
(Present To Someone (Awam) In Blue Sky) Umi Latifah ”Minory”.

Mata hati
Berbicara tentang hati dan perasaan memang tidak akan pernah ada penyelesaian tuntas. Begitu komplek dan rumit, bahkan mungkin membingungkan., bagaimana tidak, karena semuanya berawal dari satu kata itulah ”mata hati”.
Kata inilah yang menjadi poros dari segala fenomena dalam kehidupan manusia. Terbaik ketika kita kuatkan dengan fenomena yang dialami para remaja saat ini, entah itu ikhwan maupun akhwat. Semuanya seakan tak terasa untuk menahan gejala hati.
Sekali lahi hati adalah hati. Banyaknya hal yang timbul dari karena hati. Banyak kasus yang bersumber dari hati. Maka tidak heran jika kita tiba-tiba melihat atau mendengar orang yang terjatuh karena tak kuasa menahan hati.
Adkah yang tahu rahasia mata hati ?. tempatnya yang tersembunyi inilah yang justru berefek besar terhadap sesuatu hal. Orang yang korupsi karena hati, seorang menjadi ulama karena hati, seorang menjadi penulis terkenal karena hati. Maka tidak heran seorang penulis terkenal menjadi piawai dalam kepenulisan,mengangkat mata dan perasaan untuk mengawali menulis, janganlah kamu meremehkan pikiranmu. Tapi cukup kau menulis apa yang kau rasakan dimata hatimu. Sungguh luar biasa mata hati memang dirimu vital yang dimiliki pada diri seseorang.
Tentu kita ingat apa yang dikatakan ustas AA. Gym, yang paling familiar ”jagalah hati”. Kata mata memang biasa, tapi ketika kita kaitkan dengan hati alias ”mata hati” maka hasilnya akan jadi luar biasa.
Mata hati tidak bisa dibohongi. Entah itu rasa suka maupun duka. Sungguh luar biasa bukan! Antum! Semuanya tahu, segala masalah mengodanya dari nama ? dari hati! Bukan!. (Zahroh Latifah)

-->
SAAT CERMIN…
TAK LAGI PANTAS UNTUK BERHIAS
Asthagfirullahal’adzim
Hanya kata ini yang tidak afdhol ku ucapkan. Saat terlebih lagi tiada pernah diprediksi kehadirannya. Seakan semua datang silih berganti susul-menyusul hingga terkadang tak jarang diri ini kelabakan untuk menghadapinya.
Dan...
Berkali-kali hanya kata ”Asthagfirullahal’adzim”.
Bukan saatnya lagi menyalahkan keadaan sekitar.
Karena jikapun keadaan itu sendiri balik menyalahkan, ”apakah ia menghendaki hal demikian ?”.
HMI...
Entahlah jika aku mengharapkan semua yang baik-baik padamu. Rasa-rasanya menafik sekali. Toh, kau hanyalah sebuah lembaga, wadah atau sesuai kepanjanganmu ”Himpunan”. Yang dalam keberadaanmu hanya sebagai fasilitator untuk membangunkan tempat berperoses dan bukalah pula tempat satu-satunya kebaikan, melainkan bagian kecil dati tempat untuk mengenyam menjadi diri lebih baik.
Namun, saatku temui secuil kecacatan yang ada padamu. Seakan mengabsudkan segala kebaikan yang coba kau rajut selama ini.
Bukan salahmu, karena kau hanya benda mati dan...bukan pula menyalahkan yang saat ini tengah bernaung didalammu sebagai tempat berteduh ataupun tempat singgah untuk menghilangkan kepenatan sesaat.
Apapun yang terjadi ku bangga padamu. Yang telah mengajari diri untuk coba menerima dan melihat jelas realita. Bahwa:
”dunia ini tak selamanya indah dan tak sempurna keberadaanya”
Karena dakan tiap diri penuh nokhtah hitam dan putih
Sekarang barulah ku paham
Cermin ini bukanlah HMI...
Melainkan hikmah,manusia pelajaran, realita kehidupanlah yang pantas untuk berhias dan menata diri menjadi lebih baik. Dengan mencoba legawa dan penuh kesabaran dalam menapakinya
Allah...
Telah kau ajari diri memandang dan bercermin dari banyak hal, tak terkecuali melalui perantara HMI juga.
Semoga dengan banyaknyalah pelajaran yang saat ini tengah ada dihadapkan mata ini, menjadikan cermin dari untuk tetap komitmen berjalan di risalah-Mu sebagaimana orang-orang yang tunjuki dijalan-Mu. (Widya Nur Wibawanti)

Sabtu, 22 November 2008

CITA CINTAKU



CITA CINTAKU
Oleh: Naimaturohmah
(Mahasiswi Akademi Keuangan dan Perbangkan Widya Buana Semarang)


Kegelapan malam, segelap qalbuku
Ramainya lampu diskotik, menambah kelam rasa rindu
Di sepanjang jalan hidupku, terlihat beribu duri telah menghadang, mewarnai pelangi kehidupan.
Aku telah jatuh hati, ku jatuhkan hatiku pada sosok gadis yang ketika aku melihatnya, jantung ini berdebar, ketika aku mendengar suara lembutnya mata ini terus mencari bayang dispanjang mata memandang.
Dear, Nanda


Perasaan yang terus mengebu, tak dapatku bendung untuk ku ucapkan “I love you” pada mu seiring desahan nafas ini ku yakin kaulah pilihan hatiku ku rela tinggalkan dunia gelapku
Demi engkau! Oh…..dewiku
By. Yang mendambamu
Riyan


Itulah syair yang ku kirimkan lewat sahabat dekatnya. Dengan beramplop dan berkertaskan pink ku torehkan tinta hitam sebagai pemanis, untuk ku ungkapkan perasaan yang terus mengadu di relung hatiku. Ku yakin dialah solmetku, dia adalah sosok gadis yang sangat berbeda dari gadis-gadis yang ku kenal dan yang telah ku jamah dulu. Wajah lugu lagi manis membuatku penasaran “ada apa di balik kelebihan wajahnya?. Ku coba terus merayu, mengharap cita dan cintaku terwujud bersamanya, setiap minggu ku kirimkan syair-syair indahku lewat sahabat dekatnya. Ku yakin aku akan mendapakan….surat balasan dan ketulusan hatinya tuk menjadi milikku selamanya.


Detik demi detik lamanya telah ku lewati dengan penuh kesabaran dan keyakinan hati yang dibuat penasaran. Satu bulan telah berlalu dan akhirnya ku dapatkan cinta itu. Surat balasan berwarnakan biru berada ditanganku hatiku terus bertanya-tanya :apa yang ia tulis untuk ku?. Ku mulai mencoba membuka amplop itu dengan perasaan yang semakin mengebu ku baca, ku telaah setiap kata yang tergores di kertas biru itu.
Dear, Riyan


Subhanallah….!
Maha suci Allah dengan beribu cinta dan kasih-Nya.
Aku adalah manusia biasa yang waktu selalu mendambakan cinta sejati dari-Nya
Cintamu padaku perlu ku pertanyakan?
“Apakah cintamu karena Illahi Rabbi semata atau karena faktor X yang menyesatkanmu?”
Relakah engkau untuk meninggalkan kesenangan duniawimu hanya untuk meraih cinta dan cita bersamaku?
Renungkanlah….!
Wahai mahluk Allah yang lemah lagi tak berdaya karena cinta.
By. Nanda Septiani
Ku helakan nafas panjangku he….ha aah…mulut mungilku berguman “ternyata surat balasanya bukan jawaban tapi pertanyaan”. “Gadis yang unik“. Tambah ku beberapa saat kemudian.
Pagi harinya ku temui sahabat dekatnya untuk minta penjelasan dan surat balasan Nanda. Saat ini memang aku belum berani ketemu langsung dengannya. Jantung ini takut berhenti seketika, ketika menatap mata indahnya.
“Eh…ternyata Ita mau pulang nich…! Bisik suara hatiku
“ Ta….Ita…!”. Ku berlari sambil terus memangilnya
Ita yang sudah menstater montor Shogunya terperanjat ternyata cowok preman sekolahnya sedang terengah-engah dibelakangnya yaitu aku si Riyan si jago tawuran.
“Riyan…! Ada apa?”. Kamu di kejar-kejar Setan? “. Dengan wajah berseri ia merespon.
“Setan gundulmu…!”. Ku pengin ngomong ama kamu, penting!!!”. Ku pegang tanganya. Ku sambar udara di sekelilingnya.
“Tapi Yan, aku ada acara nich…!”. Ita mencoba menolak.
aku tidak peduli. Ku tarik tangan Ita menuju taman belakang.
“Riyan, sakit lepasin tanganku…!”. Ita mulai kesal dengan sikap kasarku.
“Ta…nich masalah Nanda”. Maksud surat balasanya itu apa?
Dengan wajah kesal, Ita menghentakan tanganya yang mulai kemerah merahan akibat pegangan paksaku.
“Yaa…lepas..! Nanda…!!”. Tanyakan saja padanya?. ku raih tangan Ita dan aku tegaskan.
“Ta...ku benar-benar ga’ paham apa maksud Nanda?”.
“Kamu ingin tahu”. Sikap menantang Ita memaksaku menganggukan kepala.


“Memangnya kamu nggak nyadar apa?”. Perbuatan kamu itu sangat berkontradiksi dengan Nanda..!. Kamu sih Riyan jago tawuran, anak diskotik yang tak karuan, teman setiamu hanya botol minuman dan rokok 76. Sedangkan Nanda, dia pintar, cantik, nurut sama orang tua, alim, anak kyai. Yan, kamu tu baru anak SMU, anak SMU yang kebelengu”. Paham kamu…?
Secepat kilat Ita lenyap dari pandangan mataku. Ia meninggalkanku dengan semilirnya angin taman belakang. Ku angguk-anggukan kepala ternyata apa yang di katakana Ita ada benarnya. Ku akui aku memang anak broken home, semua kebiasaan buruk hanyalah penantian ketidak puasanku pada keadilan Tuhan. Aku merasa ketika aku bercanda dengan gadis-gadis diskotik bermesraan dengan botol minuman itulah kepuasan. Tetapi semua itu salah besar kepuasanku adalah ketika ku temukan cita dan cinta sejatiku.


Ucapan ita terngiang terus di daun telingaku dan sambil ku tatapi sepucuk surat biru. Ku bayangkan wajah berseri Nanda yang antik lagi ayu tersenyum padaku. Ku yakinkan dalam relung kalbuku, kalau cita dan cintaku tertuju padamu Nanda Septiani seorang.
Ke esok harinya…!


Bel masuk berdering di setiap telinga siswa SMUN 1 Semarang. Dengan senyum dan mentari yang setia menyinari bumi. Kulangkahkan kaki dengan pasti dan percaya diri. Hari ini sudah ku putuskan untuk membuka lembaran agenda baru bertema “pertualangan cita dan cintaku bersama Nanda Septiani, juwita hati”.


Setelah bel istirahat berbunyi. Ku beranikan diri untuk bertemu langsung dengan juwita hatiku.
“Nan, bisa kita ngobrol berdua…?”. Ternyata desiran darah dan debaran jantung ini belum bisa ku taklukan sepenuh hati.


“Ada apa Yan…?”. Sahut Nanda datar
“Bisa kita ngobrol di taman belakang berdua Nan…?”. Mataku berbinar penuh harapan.
“Berdua, Yan boleh nggak ku ajak Ita”. Nanda mencoba menawar, sebab dia tahu jika ada dua insan yang bukan muhrim berduaan yang ketiganya adalah Setan. Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan kagum ku, ku anggukan kepala.


***


“Gimana…Yan”. Suara lembut Nanda membuka keheningan setelah kita bertiga duduk-duduk di bebatuan besar taman belakang.
“Gini….Nan”. Tanganku bergetar, hatiku terus berguman, “Ayo…ayo”. Memberi support.
“Surat balasanmu dah aku baca dan ku telaah, ku paham apa maksudmu dan aku rela tinggalkan apa saja demi engkau, juwita hatiku”.


Suasana bertambah hening dan senyap. Wajah kita bertiga tampak serius dan memerah padam.
Kilat petir seakan menyambar wajah Nanda dan Ita. Mereka tidak menyangka aku seserius itu. Karena yang sesungguhnya Nanda sudah bertunggan dengan pria pilihan orang tuanya, satu bulan yang lalu. Ia melakukan itu semua demi sahabat dekatnya Ita. Ita memang jatuh hati padaku, sejak kelas satu SMU, tapi perasaan tidak dapat di paksa. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Ita tahu persis aku tidak mencintainya. Aku hanya mencintai juwita hatiku Nanda.
Ita yang tidak tahan melihat kebiasaan burukku yang selalu menambah kekelaman dunia malam mendamba perubahanku, seperti yang dulu. Memang sebelum ayah dan ibu cerai hidupku penuh kepuasan. Aku menjadi anak penurut, alim, pintar lagi tajir (pokoknya idaman semua gadis). Ita menyuruh Nanda untuk berpura-pura merespon perasaanya dengan harapan Nanda dapat merubah kebiasaan burukku dengan cita dan cinta yang sedang mengebu-gebu di hatiku.
Bel masuk berbunyi. Memecah keheningan taman belakang. Dengan sepontan Ita menyambar tangan Nanda untuk berlari ke ruang kelas.
“Yan kita lanjutkan nanti ya..?”. Itulah kalimat terakhir yang ku dengar sebelum menjauh dariku.


Langkah mereka bagaikan kilat, meningalkanku tanpa jawaban yang pasti. Mulut ini berbisik “padahal jam ke 5 kosong, Pak Hendarto guru matematka kan pergi keluar kota”. Ku penasaran “apa yang membuat Ita dan Nanda tergesa-gesa demikian ya”. Tanyaku dalam hati.
Ku langkahkan kakiku dengan santai tanpa beban tapi penuh harapan masa depan.


***


Di sudut ruang kelas Ita dan Nanda mencoba mencari solving dari masalah baru mereka.
“Ta…gimana nich Ta…?”. Kelihatanya Riyan serius


Ku nggak mungkin nerusin semua ini, ingat Ta ku udah punya tunangan. Dengan cemas, gelisah dan perasaan bersalah, bercampur menjadi satu, Nanda mengutarakan kebingungannya.
“Nan, maafin aku ya…ku juga bingung harus gimana!”.


Ita membisu seribu bahasa. Matanya mulai berkaca-kaca. Nanda merangkulnya tangan Nanda membelai hangat kepalanya, ternyata belaian lembut Nanda menumpahkan seluruh cucuran air matanya. Ita menangis dipelukan Nanda. Seiring dengan belaian lembut Nanda, terucap suara lembut Nanda menambah haru suasana. “ya..ya..ya, ku ngerti perasaan kamu, kalo boleh izinkan aku menjelaskan ini semua pada Riyan”. Bukannya kita mau mempermainkan perasaanya tapi kita melakukan ini semua karena rasa peduli dan sayang padanya. Ku yakin dia mau mengerti. Dalam keterisak-isaknya Ita pun meluapkan kegelisahannya.


“Nan, ku takut, riyan benci padaku…!”. Iya..ya..kamu tenang saja ya!, nanti aku yang ngomong ama dia. Dengan belaian tangan dan suara bijaknya nanda menenagkan hati ita.
Tiba-tiba dan tidak di sangka-sangka, terdengar suara tegasku di telinga juwita hatiku. “Nan, Ita kenapa…? Sakit…?”.


“Rian..!! kamu udah lama di sisni”. Sahut Nanda tak menyangka.
“Baru saja, emang kenapa”. Tanyaku penasaran.


“Ga, ga pa pa kok”. Ku bawa Ita ke belakang dulu ya?. Nanda bergegas membawa Ita yang masih berlumur air mata di pipi merahnya ke belakang.


***


Bel tiga kali tanda akhir pelajaran berbunyi
Tet…….tet…….tet…..tetttt….!
Jantungku berdebar kencang, hati ini mulai tidak tenang antara cinta dan harapan. Sebelum ku memangil Nanda tuk melantunkan obrolan dibelakang sekolah tadi pagi, ternyata Nanda sudah ada di belakang kursiku, ia menungguku membereskan buku di mejaku.
‎”Yan, bisa kita lanjutkan obrolan tadi pagi?”. Tanya Nanda.
“Tentu nan, ku juga sedang menunggu jawabanmu”. Sahutku.
Kita berjalan beriringan keluar dari ruang kelas, terlihat Ita sedang menunggu di samping pintu luar. “Yu Ta…!”. Sapa Nanda.
Kita bertiga melangkahkan kaki menuju taman belakang.
“begini, Yan!”. Nanda membuka pembicaraan.
“Sebelumnya kami berdua minta maaf”. Terlihat wajahku seperti orang kehilangan arah.
“lho kok “ kok kamu berdua minta maaf”. Desah Tanya hatiku
“…..tiada maksud hati untuk mempermainkan perasaanmu apa lagi sampai menyakiti hatimu, sebenarnya, mungkin kamu sudah tahu kalau ita sahabat dekatku dari dulu menaruh hai padamu. Melihat orang yang di cintainya berperang dalam kemaksiatan, hati Ita teriris cemburu.


Ia terpaksa menyuruh aku yang sejujurnya sudah punya tunangan satu bulan lalu untuk bisa merubah kebiasaan burukmu seperti yang dulu. Karena kebetulan hatimu kau jatuhkan di mata binarku. Jelas nanda panjang lebar.


Hatiku tersayat-sayat, ternyata cita dan cintaku juwita hatiku putus di tengah jalan. Ingin ku langsung berlari meninggalkan penat dihati apalah daya tangan ini tak sampai jua. Ita yang di selimuti perasaan bersalah hanya tertunduk dan membisu.
“Yan, ku tahu ini pasti menyakitkan hatimu, tapi ini kenyataan”. Aku senang kamu mau berubah tapi berubahlah untuk dirimu sendiri karena Allah semata bukan karena cita dan cinta sesaatmu Yan..!


Suara lembut Nanda benar-benar mengisi kekosongan hatiku. Tak ku sadari ku menganggukan kepala pertanda. “I agree with you my love”.
Walaupun dia sudah menjadi pinangan orang lain, tapi kenapa ku tetap merasa yakin kalo dialah juwita hati yang menggebu-gebu di relung qalbu.
“Iya….Nan…ku sadari semua itu, terima kasih untuk semuanya, harapan yang kau beri membuat ku tahu di mana keadilan Tuhan sesungguhnya ku coba tegas menatap masa depan walau hatiku tercabik-cabik berlumuran darah”.
“Ta…makasih….ya…untuk perhatian dan kasihmu, tapi ku benar-benar minta maaf, kau terlalu baik untukku tak sepantasnya kau jatuhkan hatimu padaku”. Ita hanya mengangukan kepala tanpa menegadahkanya guna menatapku.
“Nan, maafkan aku kalau aku lancang, tapi ku sudah berjanji pada diriku, kaulah juwita hatiku. Walaupun kau sudah jadi milik orang lain ku masih berharap kau datang dan jatuh dipelukan ku. Aku benar-benar merasa yakin dan sadar dengan apa yang ku katakana tadi.
Nanda hanya tersenyum lembut. “Makasih Yan”.
Tak terasa waktu berputar dengan cepatnya, kumandang adzan ashar pun mulai terdengar
“Yan, Ta! dah sore kita pulang yu….”. Celoteh Nanda sambil beranjak dari tempat duduknya. Kita bertiga beranjak pergi meninggalkan tempat yang penuh kenagan itu.


***


Matahari terperanjak lenyap ditelan bumi pertiwi. Petang datang melanda mengharapakan sunyi. Cinta memang tidak harus memiliki.
Itulah sekilas cerita cintaku di agenda “petualangan cita dan cintaku”.
Nanda Septiani juwita hatiku, yang ku ceritakan pada Robert adik kandungku seraya ku titipkan sepucuk surat biru untuk juwita hatiku. Setelah lama dua bulan berlalu, rasa rindu mengebu ingin rasa hati ini bertemu wajah Nanda yang ayu. Tapi apakah daya…..!


Dear, Nanda
Warna putih itu akan terus putih seperti wajah ayumu. Lembutnya salju tak dapat menandingi lembutnya suaramu. Jantung qalbuku ku persembahkan hanya untuk juwitaku. Wajah ayumu kan ku kenang selalu dalam relung hatiku.
Nanda mungkin ketika kau baca surat ini, kau tak akan dapat melihatku lagi. Karena aku telah terkubur dalam cita dan cintaku padamu. Oh….juwita hatiku..
Aku mengidap paru-paru basah stadium empat. Saat kutulis surat ini ku sedang terbaring lemas, tanpa…., tapi demi untuk berpamitan padamu kuterus berusaha menorehkan tinta hitam ini dikertas biru.
Selamat tingal Nanda. Semoga kau hidup bahagia bersama pilihan orang tuamu.
Kenaglah aku si Riyan yang selalu mengagumimu.
Maafkan aku Nanda Septiani, juwita hati.
Kaulah cita dan cinta ku!
By. Yang menantimu
Riyan
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com