Selasa, 17 Februari 2009

Tatapan mata, Mata-nya, Mata hati

-->
Tatapan mata
Ketika aku berbicara didepan mimbar, semua mata tertuju padaku. Sorot-sorot mata mereka begitu tajam seolah ingin menerkamku saja. Aku jadi merinding, ku coba untuk menatap balik mereka satu persatu ku pandangi mata mereka tenyata tatapan mereka tidak segalak yang aku duga. Itu semua hanya perasaanku saja.
Kini aku jadi terbiasa menatap audiens. Menatap mata mereka yang penuh dengan keingin tahuan. Yah...tatapan mereka ternyata tatapan ingin tahu, ingin tahu apa yang ku katakan. (Sugiarti)

Betapa nikmatnya hidup yang dapat dirasakan ini, kita telah diberi banyak sekali kelebihan yang ada pada diri kita, kadang orang lain tidak memilikinya. Kita harus bersyukur atas semua ini, terutama betapa dasyatnya dunia ironi adanya mata. Kita bisa melihat dengan ke dua mata dan makan dengan rizki yang tidak bisa kita hitung dari nikmat-nikmat lain yang tidak bisa kita ukur dengan harta maupun benda apapun. Oh...mata’ betapa bersyukurnya aku telah memilikimu sehingga aku dapat melihat dirimu (Istifaizah)

Mata-nya
Sayu...
Lebam...
Seakan deriota nestapa tertumpah hanya untuknya
Bukan Tuhan tidak adil,
Lihatnlah kengerian itu
Begitu terpancar dari sorot mata-nya
Pekar,
Seperti gelap malam
Lusuh,
Seperti tak pernah tersentuh
Mata itu
Telah kehilangan pancaran kebinaranya
Kembali tertusuk
Sakit, perih...
Seolah bening yang selalu menggenang di sela-selanya
Sudah menjadi bagian dari keberadaanya...
Siapa yang peduli dengannya!
Tangan siapakah yang mauy meraihnya?
Tuhan...
Ijinkan aku menyeka air mata-nya
Jika tidak,
Lebih baik dihilangkan mata ini saja
Agar tak pernah lagi melihat
Perih nestapa dan derita
Yang terus terpancar dari
Mata bisunya...
(Present To Someone (Awam) In Blue Sky) Umi Latifah ”Minory”.

Mata hati
Berbicara tentang hati dan perasaan memang tidak akan pernah ada penyelesaian tuntas. Begitu komplek dan rumit, bahkan mungkin membingungkan., bagaimana tidak, karena semuanya berawal dari satu kata itulah ”mata hati”.
Kata inilah yang menjadi poros dari segala fenomena dalam kehidupan manusia. Terbaik ketika kita kuatkan dengan fenomena yang dialami para remaja saat ini, entah itu ikhwan maupun akhwat. Semuanya seakan tak terasa untuk menahan gejala hati.
Sekali lahi hati adalah hati. Banyaknya hal yang timbul dari karena hati. Banyak kasus yang bersumber dari hati. Maka tidak heran jika kita tiba-tiba melihat atau mendengar orang yang terjatuh karena tak kuasa menahan hati.
Adkah yang tahu rahasia mata hati ?. tempatnya yang tersembunyi inilah yang justru berefek besar terhadap sesuatu hal. Orang yang korupsi karena hati, seorang menjadi ulama karena hati, seorang menjadi penulis terkenal karena hati. Maka tidak heran seorang penulis terkenal menjadi piawai dalam kepenulisan,mengangkat mata dan perasaan untuk mengawali menulis, janganlah kamu meremehkan pikiranmu. Tapi cukup kau menulis apa yang kau rasakan dimata hatimu. Sungguh luar biasa mata hati memang dirimu vital yang dimiliki pada diri seseorang.
Tentu kita ingat apa yang dikatakan ustas AA. Gym, yang paling familiar ”jagalah hati”. Kata mata memang biasa, tapi ketika kita kaitkan dengan hati alias ”mata hati” maka hasilnya akan jadi luar biasa.
Mata hati tidak bisa dibohongi. Entah itu rasa suka maupun duka. Sungguh luar biasa bukan! Antum! Semuanya tahu, segala masalah mengodanya dari nama ? dari hati! Bukan!. (Zahroh Latifah)

-->
SAAT CERMIN…
TAK LAGI PANTAS UNTUK BERHIAS
Asthagfirullahal’adzim
Hanya kata ini yang tidak afdhol ku ucapkan. Saat terlebih lagi tiada pernah diprediksi kehadirannya. Seakan semua datang silih berganti susul-menyusul hingga terkadang tak jarang diri ini kelabakan untuk menghadapinya.
Dan...
Berkali-kali hanya kata ”Asthagfirullahal’adzim”.
Bukan saatnya lagi menyalahkan keadaan sekitar.
Karena jikapun keadaan itu sendiri balik menyalahkan, ”apakah ia menghendaki hal demikian ?”.
HMI...
Entahlah jika aku mengharapkan semua yang baik-baik padamu. Rasa-rasanya menafik sekali. Toh, kau hanyalah sebuah lembaga, wadah atau sesuai kepanjanganmu ”Himpunan”. Yang dalam keberadaanmu hanya sebagai fasilitator untuk membangunkan tempat berperoses dan bukalah pula tempat satu-satunya kebaikan, melainkan bagian kecil dati tempat untuk mengenyam menjadi diri lebih baik.
Namun, saatku temui secuil kecacatan yang ada padamu. Seakan mengabsudkan segala kebaikan yang coba kau rajut selama ini.
Bukan salahmu, karena kau hanya benda mati dan...bukan pula menyalahkan yang saat ini tengah bernaung didalammu sebagai tempat berteduh ataupun tempat singgah untuk menghilangkan kepenatan sesaat.
Apapun yang terjadi ku bangga padamu. Yang telah mengajari diri untuk coba menerima dan melihat jelas realita. Bahwa:
”dunia ini tak selamanya indah dan tak sempurna keberadaanya”
Karena dakan tiap diri penuh nokhtah hitam dan putih
Sekarang barulah ku paham
Cermin ini bukanlah HMI...
Melainkan hikmah,manusia pelajaran, realita kehidupanlah yang pantas untuk berhias dan menata diri menjadi lebih baik. Dengan mencoba legawa dan penuh kesabaran dalam menapakinya
Allah...
Telah kau ajari diri memandang dan bercermin dari banyak hal, tak terkecuali melalui perantara HMI juga.
Semoga dengan banyaknyalah pelajaran yang saat ini tengah ada dihadapkan mata ini, menjadikan cermin dari untuk tetap komitmen berjalan di risalah-Mu sebagaimana orang-orang yang tunjuki dijalan-Mu. (Widya Nur Wibawanti)

0 komentar:

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com