This is default featured slide 1 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 2 title

Foto Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 3 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 4 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 5 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

Tampilkan postingan dengan label SUARA TAMADUN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SUARA TAMADUN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 April 2014

REFLEKSI HMI DALAM MOMENTUM REFORMASI Oleh : Kanda Mujahid




HMI yang lahir pada tanggal 5 Februari 1947 telah mengalami pasang surut perjuangan dalam memperjuangkan ideologinya mulai dari orde lama, orde baru sampai reformasi sekarang. Ketika orde baru berkuasa ideologi HMI dipecah sedemikian rupa dengan asas tunggal Pancasila sehingga ideologi HMI waktu itu ada yang nasionalis, ada yang menolak asas tunggal, dan ada yang ingin daulah islamiyah. Tetapi, kini setelah reformasi yang mengambil alih kekuasaan orde baru dan menjadikan ideologi dibebaskan justru yang terjadi adalah kekalahan islam, begitu pula HMI yang kehilangan momentum reformasi tidak memanfaatkan atau mengambil alih kekuasaan.

Sebuah kesempatan menjadi sesuatu tidak bermakna ketika umat itu tidak siap, yakni ketika reformasi meskipun perkaderan-perkaderan kita yang kita lakukan sudah cukup panjang, tetapi ternyata hasilnya tidak di dalam kekuasaan kaum muslimin. Karena pengambil alih kekuasaannya tidak seperti yang kita cita-citakan. Momentum reformasi yang terlalu cepat atau kita yang tidak siap, tetapi kemudian kita kehilangan kesempatan untuk merubah tatanan masyarakat melalui ideologi yang dimilikinya. Meskipun ada kesempatan berpartai, dan kalau sudah berpartai berarti sudah tidak mempermasalahkan ideologi negara, karena menganggap sudah final dan tinggal mengisinya, tidak usah berpikiran untuk merubah negara atau merubah dasar negara, kecuali nanti kalau partainya menang.

Ada pelajaran di Mesir, Ikhawanul Muslimin sangat konsisten ingin membangun sebuah negara islam atau daulah islamiyah dengan membentuk suatu partai dengan tujuan kalau menang untuk merubah negara, namun di dalam faktanya tidak berhasil ketika Mursyid menjadi presiden, dia memaksakan diri mengadakan dekrit kemudian gagal, seperti soekarno di Indonesia. Seharusnya, ketika di Mesir tumbangnya rezim Mubarok dilakukan referendum yang intinya merubah undang-undang dasar agar masyarakatnya dan negaranya siap berubah. Saya pernah kumpul dalam kegiatan FKUB (forum kerukunan umat beragama), saya bercerita bahwa sebetulny a kita sudah normal dengan demokrasi, artinya bahwa kalau kita mau memilih sebuah daulah bagaimana dengan metode demokrasi. Iran, alhamdulillah dia merubah negaranya itu dalam jangka panjang, tetapi tidak terjadi gangguan yang prinsipil dari rakyatnya karena membentuk negaranya dengan referendum, artinya dengan sistem yang memang diakui oleh dunia sebagai basic demokrasi, dan waktu itu menang karena memang masyarakatnya sudah disiapkan.

Kalau kembali ke reformasi kita yang terjadi tahun 98, artinya kita kehilangan momentum, dan ketika dikasih kesempatan bahwa bisa berpartai karena waktu itu hebat dan banyak sekali partai setelah reformasi, kader HMI hampir ada dimana-mana kecuali MPO yang tidak dipartai karena bisa dipertanyakan keMPOannya. Pada waktu itu ada partai yang sangat bagus, waktu itu ada orang MPO juga yang disebut partai umat islam, dipimpin oleh alumni HMI, seharusnya partai ini menang secara teoritis karena partai umat islam dan di Indonesia mayoritas umat islam tetapi ternyata kalah, karena umat islam tidak memilih. Kemudian partai islam sekarang tergrogoti, bahkan sekarang hampir ada opini bahwa kalau partai mengenakan simbol islam pasti kalah, dan ketika agak menang malah tersandung masalah dan tinggal nanti lihat ujiannya di 2014. PBB (Partai Bulan Bintang)  partai islam yang selalu sukses karena setiap tahun bisa mengikuti pemilu mudah-mudahan di tahun 2014 penentuannya, kalau tahun ini kalah maka entah bagaimana caranya bisa mengikuti pemilu tahun berikutnya. Artinya kita juga kehilangan kesempatan ketika mewarnai partai pun kita tidak ada. Sehingga dengan buah reformasipun, ideologi islam menjadi sebuah hal yang semakin jauh dari apa yang kita harapkan, dan masih ada kelompok-kelompok yang underground tetapi tidak jelas arahnya, dan kerjaannya hanya ngebom-ngebom dan kemudian musuhnya hanya polisi yang jaga-jaga, yang tidak diketahui arahnya apakah kelompok yang melawan amerika tetapi yang ditembaki adalah polisi.

Kondisi kekinian, idelogi islam menjadi sebuah hal yang jauh, tentu hal ini juga merembet pada organisasi HMI. Seperti yang saya temui ketika mengajar mahasiswa umum, ada sebuah perubahan kultur yang sangat jauh. Saya teringat ketika memberi pengantar kuliah pertama tidak ada satu mahasiswa pun yang menanyakan literaturnya, dan ada penurunan terhadap keilmuan. Waktu saya tanyakan ke dosen-dosen yang lain merasakan juga seperti itu. Hal ini berbeda dengan jaman saya kuliah dulu, suasana diskusi, suasana pendalaman kajian sangat menjadi kebutuhan mahasiswa. Sekarang tidak demikian, ketika ditanya tentang referensi mahasiswa hanya satu yaitu google, karena semuanya ada. Sehingga, kekinian ini menjadi tantangan yang sangat berat bagi organisasi kemahasiswaan dengan terjadi akulturasi kultur yang berbeda ini, agar mampu menciptakan kader-kader yang berideolog, apalagi sekarang ideologi di masyarakat cenderung pragmatis yang sangat praktis dan hedonis.

Efek dari sebuah budaya pragmatis, seseorang mengukur sesuatu dengan materialistis, dalam hal ini perkaderan yang dilakukan kawan-kawan kita menjadi sangat sulit. Sekarang ini kalau kita mengajak orang berbicara sebuah ide seperti negara islam dan yang idealis maka dinilai orang sebagai hal yang utopis, padahal dalam dunia perkaderan harus berbicara idealis, karena idealisme inilah yang  menjadi daya tarik, dari waktu ke waktu ketika menjadi kader HMI dikenal idealis karena selalu berdiskusi tentang idealisme, kalau tidak idealis dan pesimistis namanya bukan kader. Saat ini budaya diskusi sudah berkurang karena orang dengan teknologi sekarang yang ada, maka bisa menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh hal ini bisa dilihat ketika menggunakan bbm dan sms sehinggabisa dekat dengan orang yang jauh, tetapi sekarang dekat menjadi jauh karena berkurangnya budaya ngobrol, orang sudah sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri, tidak ada lagi orang ngobrol-ngobrol di terminal dan di bus misalnya.

Dengan tantangan yang dihadapi  apakah 10 tahun apalagi 20 tahun mendatang  HMI masih ada? Menurut saya, selama perguruan tinggi masih ada, masih ada yang namanya mahasiswa, islam juga masih ada maka HMI harus tetap ada, meskipun bentuknya lain. Tetapi kalau kita berbicara ideologi tidak akan ada habisnya karena persoalan nilai, budaya menjadi sebuah persoalan kemanusiaan yang tidak ada habisnya. Allah SWT akan tetap merekayasa makhluknya atau hambanya, hukum newton juga berlaku kalau ada aksi maka akan ada reaksi artinya bahwa kebatilan dan kebenaran akan selalu ada di muka bumi, kalau kemudian sebuah ideologi dicita-citakan maka ideologi tidak akan selesai dan menjadi kebutuhan yang akan datang hanya kelemahannya adalah yang menjadi sebuah tantangan apakah dengan perkembangan budaya sekarang ini HMI masih bisa ditawarkan untuk kemajuan yang akan datang dan tidak ketahui.

Di arab dulu adalah negara-negara yang established dan atau status quo ternyata juga terjadi reformasi, revolusi dan pergolakan yang tidak diperkirakan. Disitulah pergerakan masih menjadi sebuah kebutuhan. Dalam konteks pergerakan dan ideologi maka HMI seperti sekarang ini tetap menjadi sebuah hal yang harus dipertahankan dan diperlukan karena kita tetap membutuhkan orang-orang yang baik, meskipun sekarang ada kampanye hitam terhadap HMI karena yang dilihat adalah kakanda atau mas Anas Urbaningrum. Persoalannya HMI bukan individual semata, kalau ada umat islam yang terkena kasus maka islam tidak lantas jatuh. Jadi, hal yang perlu didiskusikan adalah apakah kita masih tetap komitmen terhadap ideologi yang akan kita bawa dan perjuangkan sehingga sampai kapanpun akan menjadi sebuah tantangan. Kalau saya bertemu dengan kawan-kawan yang masih di HMI, selalu saya sampaikan bahwa saya sepakat kalau HMI tetap sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan artinya bahwa harus mengkader yang banyak dan yang baik. Dulu waktu sempat berdiskusi dengan mas Suharsono, ketika ada ide untuk menjadikan HMI sebagai organisasi masyarakat kita tidak sepakat karena HMI tidak punya pandangan lengkap terhadap islam, ushuludin atau fiqih HMI juga tidak jelas karena di HMI ada yang dari muhammadiyah, NU, sehingga ushuludin dan fiqih HMI juga heterogen, yang berbeda dengan organisasi seperti muhammadiyah yang homogen, sehingga sulit untuk membangun HMI sebagai ormas, atau sebuah oraganisasi gerakan yang panjang karena tidak mempunyai basic ajaran yang tetap. Oleh karena itu HMI sampai kapanpun tetap menjadi organisasi kader, hanya pe
rtanyaannya apakah HMI tetap bisa menghasilkan kader-kader spesial yang bermanfaat bagi masyarakat ke depan yang sesuai dengan kebutuhan zamannya, inilah yang menjadi tantangan.

Kalau dulu organisasi yang bisa menghasilkan kader yang baik yakni militer dan HMI, sekarang kita harus sadar ada organisasi-organisasi lain yang juga menjadi pelahir-pelahir kader sehingga kita jangan seperti katak dalam tempurung artinya jangan merasa sudah cukup karena dunianya kecil tetapi begitu tempurungnya dibuka ternyata dunia lebih luas, kita jangan merasa hebat di dalam lingkungan organisasi kita sendiri tetapi begitu keluar ternyata kita belum apa-apa. Dulu ada aksi sosial antara lain PRD yang merupakan didikan orang-orang sosialis ternyata ada kelebihan ketika bisa menguasai masa dengan mengadakan advokasi dan sebagainya sehingga setelah reformasi mereka menjadi sebuah hal yang dibutuhkan oleh masyarakat. Hal inilah yang menjadi tantangan HMI agar perkaderannya bisa menjawab permasalahan yang akan datang sehingga mahasiswa tertarik dengan HMI. Satu hal yang bisa dilakukan survei kenapa mahasiswa sekarang tidak tertarik dengan organisasi? 

Kedepan hal yang paling mendasar adalah apakah kita masih punya cita-cita yang idealis atau tidak, kalau kita masih idealis seperti dalam ajaran agama islam yang mengajarkan kita sampai kapanpun harus bercita-cita idealis, karena islam itu ya'lu wala yu'la alaih “unggul dan tak ada yang lebih unggul darinya”. Sesuai dengan tujuan HMI “terbinanya mahasiswa islam menjadi insan ulul albab yang turut bertanggungjawab atas terwujudnya tatanan masyarakat yang diridhoi Allah Subhanahu Wata’ala” maka masyarakat yang diridhoi Allah harus menjadi sebuah ending yang harus didefenitifkan dan menjadi tanggungjwab kita bersama karena masyarakat yang sekarang makin jauh dari ridho Allah, padahal masyarakat yang diridhoi Allah satu-satunya adalah daulah islamiyah. Hal ini akan menjadi tantangan yang masih terus berjalan sesuai dengan prinsip kebathilan dan kebenaran akan selalu bertarung sampai kapanpun hingga yaumul kiyamah, sehingga kita akan mengalami masa kejayaan islam .

Rabu, 05 Mei 2010

DINAMIKA SEJARAH ISLAM



Sindi Setiyadi al Barobisyi
(Ketua Umum HMI Cabang Semarang)

Pendahuluan

Sejarah eksternal tradisi religius sering tampak terpisah dari alas an yang paling utama (raison d’)kepercayaan. Pencarian spiritualitas adalah sebuah perjalanan batin yang bersifat ruhaniah. Apalagi dalam Islam, sejarah ini lebih bersifat sebagai peletak dasar aqidah yang tentunya terbungkus dalam agama. Agama tentu saja juga mencakup kehidupan diluar ruhani yang berfungsi komprehensif sebagai sebuah way of life. Pemahaman ini hanya akan menjadi jargon saja jika saat ini tidak difahami secara totalitas yang pada akhirnya menjadi sebuah kepercayaan yang lengkap. Inilah yang menjadi titk awal dari aqidah.
Secara kebahasaan (etimologi) kata “peradaban” adalah terjemahan dari kata arab al hadlaraah atau al madaniyah, dan civilization dalam bahasa inggris. Kata peradaban sering dikaitkan dengan kata kebudayaan yang dipersamakan dengan kata al tsaqafah dalam bahasa arab, dan cultre dalam bahsa inggris.
Lalu apa bedanya kebudayaan dengan peradaban?, peradaban adalah bentuk kebudayaan yang paling ideal dan puncak, sehingga menunjukan keadaban (madaniyah), kemajuan (taqaddum), dan kemakmuran (umran) suatu masyarakay. Jika kebudayaan bersifat konsep-konsep abstrak seperti sains murni, maka peradaban adalah lebih dari itu sebagai hasil penerapan nya seperti teknologi dan produk-produknya. Ada beberapa periodesasi yang telah diupayakan sejarawan untuk menentukan waktu peradaban berlangsung. Diantaranya adalah Masa Awal (570–660 M), Perkembangan Islam (661-935 M, Puncak kejayaan (935-1500 M), Kemenangan Islam (1500-1750M), Degradasi Besar Umat Islam (1750-2000 M).

Dinamika Perkembangan Islam

a. Masa Rasulullah
Masyarakat Arab, pada khususnya Makkah mengalami perkembangan yang pesat dalam hal perdagangan, bahkan sampai-sampai Makkah disebut sebagai Kota Perdagangan, tetapi karena desakan kemakmuran, beberapa nilai kesukuan yang lama terbangun sedikit demi sedikit memudar. Orientasi materi serta nafsu kekuasaan membuat Masyarakat Quraisy hanya berkonsentrasi mencari uang dengan mengorbankan keluarga atau kelompok yang lebih miskin. Keresahan spiritual juga telah melanda Makkah dan seluruh jazirah arab. Bangsa arab tahu bahwa agama Kristen dan yahudi yang dianut oleh di Kekaisaran Byzantium dan Persia hanya bernilai tradisi menyembah berhala mereka. Ditengah kondisi seperti inilah lahir seorang penerang dunia yang diberikan tugas besar untuk memberikan petunjuk hakikat hidup yang seharusnya, dialah Muhammad bin Abdullah yang lahir pada 12 Rabiul Awal 570 M. Setelah masa kenabiannya di tahun 610 beliau memulai untuk mendakwahkan Islam kepada khalayak umum, namun baru di mulai di tahun kedua kenabiannya dengan cara (memperkenalkan tauhid kepada Allah sebagai pondasi kehidupan dalam arti menyeluruh). Dilanjutkan dengan pembangunan masjid sebagai tempat peribadatan dan pembinaan umat islam di madinah setelah berdakwah selama 10tahun di mekkah yang pada akhirnya harus ditinggal karena derasnya tekanan dari internal mekkah. Di madinah beliau melanjutkan dakwah serta melakukan pembentukan system social yang didiplomasikan berbentuk piagam madinah yang pada intinya menitik beratkan kepada system keadilan. Tahapan selanjutnya adalah beliau meletakkan dasar politik, ekonomi dan social untuk masyarakat baru. Namun dari upaya ini menghasilkan perlawanan dari golongan yahudi (musyrikin dan kafirin) karena mereka melanggar perjanjian yang telah disepakati didalam piagam madinah, yang pada akhirnya berujung kepada peperangan (badar, uhud, handaq, khaibar, mut’ah, penaklukan makkah, hunain, tabuk) setelah perjuangan panjang menyampaikan misi illahiyah (tersampaikannya wahyu Allah secara bertahap selama 23 tahun) sampailah pada akhir perjuangan yang tentunya menjadi awal bagi umat islam yang sebelumnya diakhiri denga haji wada, sebagai pertanda perpisahan nabi dengan umatnya. Rasulullah mengakhiri pesan dengan surat al maidah ayat 5. Beliau wafat pada 12 Rabiul Awal 632 M setelah menyempurkan agama Allah.

b. Masa Khulafaur Rasyidin
Sepeninggal nNabi Muhammad beliau digantikan oleh keempat orang sahabat dekat beliau yakni bu Bakar, Umar, Usman dan Ali, yang kemudian dikenal dengan sebutan Khulafaur Rasyidin. Masa Khulafah al-Rasyidin mulai oleh Abu Bakar yang berkuasa tahun 632-634 M. Pemerintahan Abu Bakar yang singkat habis untukmenyelesaikan persoalan dalam negeri, terutama tantangan yangditimbulkan oleh suku-suku Arab yang tidak mau tunduk pada Madinah. Mereka menganggap bahwa perjanjian yang dilakukanhanya dengan Nabi, sehingga secara otomatis batal dengan meninggalnya Nabi. Abu Bakar menyelesaikan ini dengan apa yangdikenal sebagai perang riddah (perang melawan kemurtadan). Pemerintahan yang dijalankan Abu Bakar mengikuti apa yangterjadi pada masa Nabi, bersifat sentralistik, dimana kekuasaan legislative, eksekutif dan yudikatif terpusat di tangan khalifah. Abu Bakar sendiri yang diangkat khalifah dengan baiat menyebut dirinya sebagai khalifah al-nabi (pengganti nabi). Umar ibn Khathab(634-644 M) menggantikan Abu Bakar lewat penunjukan langsung,. Masa ini ekspansi Islam pertama terjadi. Syiria, Palestina, sebagian besar Persia dan Mesir jatuh dalam kekuasaan Islam. Luasnya wilayah kekuasaan memaksaUmar untuk membangun system pemerintahan dan administras inegera. Dalam hal ini, ia mencontoh adiministrasi yang berkembang di Persia.
Administrasi pemerintahan dibagi menjadi 8 propinsi:Makkah, Madinah, Syiria, Jazirah, Basrah, Kufah, Palestina dan Mesir.Departemen-departemen ditingkat pusat juga dibentuk, seperti keuangan, pekerjaan umum dan pengadilan. Umar yang menyebut dirinya sebagai amir al-mukminin (komandan orang beriman) juga membentuk bait al-mal, menempa mata uang dan menciptakan tahunhijrah, menerapkan system gaji dan pajak tanah. Dalam bidang
hokum, untuk pertama kalinya system ghanimah (pembagian hartarampasan perang sesuaidengan ajaran al-Qur’an dan Sunnah) tidak diberlakukan dan diganti dengan system gaji. Ustman ibn Affan(644-655 M) yang berkuasa setelah Umar dipilih dengan system formatur yang terdiri atas 6 orang; Utsman, Ali, Thalhah,Zubair, Sa’ad ibn Abi Waqash dan Abd Rahman ibn Auf. Pada paruhpertama kekuasaannya yang panjang, tahun, Ustman meneruskan politik Umar melakukan ekspansi ke luar. Menaklukkan Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes dan yang tersisa dari wilayah Persia.Dalam keilmuan, Utsman pertama kali yang membukukan al-Qur’an yang dikenal dengan mushaf utsmani sampai sekarang, untukmembakukan system pembacaan al-Qur’an yang mulai berbeda-bedasaat itu sesuai dialek wilayah masing-masing.Akan tetapi, setelah itu, Utsman tampak mulai tidak dapat mengendalikan ambisi politik keluarganya (Bani Umaiyah) dan mengangkat mereka sebagai pejabat-pejabat penting dan “basah”.Parahnya, Utsman juga mengklaim diri sebagai khalifah Allah(pengganti Allah) bukan khalifah al-nabi sebagaimana Abu Bakar, sehingga memberi kesan dictator dan berkuasa penuh. Perubahan politik Ustaman ini kemudian menimbulkan kekecewaan danketidakpuasan di kalangan shahabat dan kebanyakan masyarakat,sehingga melahirkan pemberontakan dan berpuncak pada terbunuhnya Utsman. Ali ibn Abi Thalib (655-660 M) yang dibaiat setelah Utsman berkuasa tahun. Masa pemerintahan Ali penuh dengan gejolak sebagai warisan dari system sebelumnya dan dampak kebijakan radikal yang diterapkan Ali. Ali memecat para gubernur yang diangkat Utsman, menarik kembali tanah-tanah yang dihadiahkan Utsman dan mengembalikan kepada negara, menerapkan system pajak tahunan dan menghilangkan tunjangan shahabat. Gejolak pertama adalah pemberontakan yang dilakukan Aisyah, Zubair dan Thalhah, sedang yang kedua pemberontakan yang dilakukan oleh Muawiyah ibn Abi Sofyan, keluarga dan gubernur Syiria yang diangkat Utsman. Dua pemberontakan ini memberikan dampak teologis yang serius. Ketika Aisyah bertempur melawan Ali, sebagian shahabat seperti Abd Allah ibn Umar tidak dapat mengambil sikap dan menyerahkankeputusannya kepada Allah, karena keduanya adalah keluarga Nabi.Aisyah adalah istri Nabi yang berarti ummul al-mukminin (ibunya orang mukmin) sedang Ali adalah menantu dan orang yang sangat dekat dengan Nabi. Sikap abstain sebagian shahabat inilah yang kemudian berkembang menjadi Murjiah. Sementara itu,pertempuran Ali melawan Muawiyah melahirkan tiga aliran teologibesar dalam Islam. Mereka yang membela Ali kemudian menjadi Syiah, yang mendukung Muawiyah menjadi Jama’ah atau Sunni,sedang yang tidak puas dengan keduanya menjadi Khawarij.

c. Dinasti Umayyah
Setelah khulafaur Rasyidin memimpin umat islam, pemerintahan umat muslim berada di bawah dinasti Umayyah (661-750 M) yang berpusat di Damaskus, Syiria. Pendirinya adalah Muawiyah bin Abd Syam, tokoh Quraisy pada masa jahiliyah yang masuk islam pada fatkhul Makkah. Pemerintahan Bani Umayyah berumur 90 tahun, dengan khalifahnya berjumlah 14 orang, dimulai dengan Muawiyyah bin Abu Sufyan, dan diakhiri oleh Khalifah Marwan II. Khalifah-khalifah yang paling besara pengaruhnya adalah Muawiyyah (661-680 M), Abdul Malik bin Marwan (685-705 M), Walid bin Abdul Malik (705-720 M), Umar bin Abdul Aziz (717-720 M), dan Hasyim bin Abdul Malik (724-743 M). Wilayah kekuasaan bani umayyah sangat luas. Daerah-daerah yang berhasil dikuasai meliputi spanyol, afrika utara, syiria, palestine, jazirah arab, irak, sebagian asia kecil, persia, afganistan, pakistan, uzbek, dan kirgis di asia tengah (Yatim, 1993:44). Berbeda dengan khalifah-khalifah sebelumnya, khususnya Muawiyyah lebih banyak memasukan unsur pemerintahan dan adminstrasi dari persia, contohnya diterapkannya sistem monarki absolut dan sistem administrasi pembagian lembaga-lembaga, pakaian kebesaran seperti kaisar-kaisar persia, kurang merakyat. Penggunaan bahasa arab dan pengubahan nama mata uang Byzantium dan Pesia menjadi dinar. Sistem pemerintahan pun sudah menggunakan peran gubernur, Qadi, Shahih al Haraj dll. Namun dalam strata sosial Umayyah membagi membagi menjadi 4 yakni muslim arab, muslim non arab, non muslim dan budak (padahal ini adalah sesuatu yang R asulullah hapus, malahan dihidupkan kembali oleh Umayyah) Dalam konteks politik pun sudah dilancarkan pemaksaan pembaiatan Yazid kepada rakyat, hal inilah yang membuat rakyat merasa dipebudak oleh Muawiyyah. Terlebih dengan dihembuskannya paham Jabariah (semua telah ditentukan Allah) dengan tujuan bahwa pembaiatan Yazid sudah ditentukan jadi rakyat harus mentaati keputusan itu. Dengan adanya paham Jabariah maka muncul pula paham yang berfikir sebaliknya yakni Mu’tazilah yang menitik beratkan pada akal fikiran manusia yang akan menentukan. Dalam sisi agama Muawiyyah memerintahkan untuk memunculkan hadist yang mengunggul-unggulkan utsman agar selalu bisa diingat, keputusan ini yang kelak menyebabkan maraknya hadist palsu (oleh karenanya Muawiyyah sangat bertanggung jawab dengan banyaknya hadist palsu yang tersebar luas). Dari cabang agama yang lain yakni fiqh juga dimunculkan namun dengan tujuan untuk menciptakan hujjah masing-masing sesuai dengan harapannya (fiqh politis). Hal inilah yang pada akhirnya menjadi penyebab runtuhnya dinasti umayyah selain beberapa penyebab dintaranya yang paling benar-benar berpengaruh adalah Munculnya gerakan baru yang dipelopori oleh keturunan Al Abbas bin Abdul Muntalib yang telah mendapat dukungan dari Bani Hasyim, Syi;ah serta kaum mawali yang merasa dinomorduakan pemerintahan Bani Umayyah. Inilah akhir dinasti Umayyah.

d. Dinasti Abbasyiah
Penerus Dinasti Umayyah adalah Dinasti abbasyiah, Perwakilan dari kekhilafahan Islam yang terbesar dan terpanjang dalam sejarah islam klasik. Dinasti yang didirikan di Baghdad oleh Abu Al Abbas al saffah, keturunan Al Abbas paman Nabi Muhammad, sejak 750 M dan mengalami kejatuhan pada 1258 M. Sejumlah khalifah yang mampu membawa Dinasti Abbasyiah ke arah keemasanya adalah Al Mahdi (775-785 M), Al Hadi (785-786 M), Harun Ar Rasyid (786-809 M), Al Makmun (613-833 M), Al Mu’tasim (833- 842 M), Al Watsiq (842-847 M), dan Al Mutawakkil (847-861 M). Pembentukan dinasti ini sebagai bentuk perlawanan terhadap paham yang diciptakan muawiyyah (militeristik dan sekularistik) sedangkan pemerintahan Bani Abbasyiah adalah bercorak pluralistic-etnist, etnis, scientific dan religius. Sumbangan utama Bani Abbas dalam sejarah peradaban Islam, berbeda dengan Bani Umaiyah yang lebih mengedepankan aspekpolitik, adalah dukungannya yang besar terhadap perkembangan keilmuan, filsafat dan sains. Secara umum, kebanyakan khalifah Bani Abbas adalah orang yang gandrung ilmu dan hikmah, dan memberikan dukungan besar pada bidang ini. Al-Makmun (811-833M) adalah khalifah yang mempelopori proses penterjemahan filsafatYunani ke dalam Islam, yang kemudian didukung oleh penggantinya,Harun al-Rasyid, dengan didirikannya Bait al-Hikmah, perpustakaan besar dan pusat penelitian. Hasil terjemahan-terjemahan filsafat dan pemikiran Yunani kemudian memberikan kontribusi besar bagi perkembangan filsafat, pemikiran dan sains Islam. Bukti bahwa pada dinasti ini memunculkan khasanah baru bagi dunia islam dintaranya adalah Silih berganti orang- orang yang membawa perubahan besar diantaranya adalah Imam Madzhab Imam Hanifah ( 690- 767 M), Imam Maliki (716-796 M), Imam Syafi’i (767- 820 M), Imam Hambali (780-855 M) inilah diantaranya penggagas fiqh. Serta dari golongan rasionalis islam yakni Al Farabi (1153-1191 M), Ibn Sina (980-1037M), Al Kindi (691-878 M ) dll. Dalam perihal hadist pun berasal pada dinasti ini yakni Bukhari (w.870 m) dan Muslim (w.878 M) Penyebab jatuhnya dinasti abbasyiah diantaranya masuknya dominasi kekuatan luar dalam pusat pemerintahan baghdad, sehingga menjadikan khalifah boneka, pada periode 950 – 1050 M, banyak wilayah yang dipimpin oleh para gubernur-gubernur dari pusat Baghdad melepaskan diri, kesulitan ekonomi, ketidakjelasan sistem pergantian khalifah, dan muncul grerakan pemberontakan. Dan faktor eksternalnya adalah serangan Hulagu Khan pada 1258 M (ini yang jadi alasan paling tepat tentang jatuhnya abbasyiah) yang perlu diingat adalah pada saat negara islam menyerang negara islam yang lain adalah masalah politik, bukan masalah agama.

e. Masa Disintegrasi Politik Islam
Ketika Dinasti Abbasyiah ini mengalami kemunduran dan kemunduran, tentu pengaruhnya sangat besar terhadap konstelasi politik serta kehidupan yang lain di dunia islam. Disamping itu masa panjang kekhalifahan Abbasyiah, masa keemasannya yakni hanya di awal periode (750-950 M), berikutnya adalah masa disintegrasi (950-1050 M), kehancuran (1050-1250 M) sisanya adalah masa stagnasi. Masa disintegrasi ini ditandai dengan munculnya dinasti-dinasti kecil di barat mauoun di timur baghdad yang berusaha melepaskan diri ataupun meminta otonomi, perebutan kekuasaan oleh dinasti buwaih dari persia dan dinasti seljuk dari turki di pusat pemerintahan Bani Abbasyiah di baghdad, dan lahirnya perang salib antara pasuan islam dan pasukan salib (3 periode selama 1095-1291 M) dari Eropa. Kemudian setelah itu Dinasti Fatimiah di mesir muncul menjadi dinasti besar, dan dilanjutkan dengan dinasti murabithun di afrika utara. Kekuasaan Islam di spanyol menunjukan sebagai pengaruh islam yang luas terhadap renaisance eropa.dari 756-1031 M). Dan dilanjutkan dengan kerajaan Islam, Utsmani di turki dan kerajaan safawi di persia. Dan Kerajaan Mughal di Indi sebagai simbol minoritas muslim dalam mayoritas umat hindu-budha.

f. Masuknya Penjajahan Barat ke Islam
Sentuhan Barat ke dunia Islam sudah mulai merebak, adalah pada saat kekuasaan Islam menduduki Spanyol, perkembangan Islam yang sangat berarti dengan kemajuan peradabanya. Inilah juga yang mempengaruhi renaisance eropa. Karena dengan sumbangsih islam kota cordova sebelum dikuasai islam, telah disulap menjadi kota cantik yang penuh dengan keindahan.Peradaban yang sangat berkembang dan tentunya dengan Umat Muslim yang sangat kuat, memunculkan kecemburuannya, dan bergulirlah isu dari pihak nasrani di palestina yang mengatakan terjadi perlakuan buruk terhadap umat nasrani disana yang disampaikan kepada Raja Ferdinand dan Ratu EIsabela yang telah berada di spanyol, Hal ini yang membuat raja Ferdinand geram dan memulai untuk menghancurkan Islam yang berhasil pada tahun 1492 M. Dan usahanya berhasil menumbangkan Islam di spanyol sampai sekarang lenyap tanpa sisa padahal dulu telah menguasai sejak 756-1031 M. Bangsa portugis pun mulai turut serta yang diawali dengan mendirikan kerajaan komersial eropa pertamanya yang bertujuan juga untuk mengurangi penguasaan Islam (menguasai perdagangan, ekonomi), Said Pasya, gubernur mesir memberikan konsesi terusan suez kepada Prancis, dan menrima hutang luar negerinya yang pertama di tahun atara 1854-1856 M dan karena tidak mampu membayar hutang itu maka terusan suez di jual ke Inggris, Pemberontakan India pun berkembang karena ingin melawan kekuasaan Inggris, sekali lagi kekuasaan Islam di India tumbang oleh barat. Sir Sayyid Ahmad Khan mendesak dilakukannya reformasi Islam dengan cara Barat dan mengadopsi budaya Inggris. Di Iran Syah Reza mengkonsesi tembankau dan minyak ke Inggris. Penguasaan Inggris di iran juga sangat besar, apalagi pada saat kudeta Syah Reza dengan intelegen inggris dan CIA Mengenai berdirinya negara yahudi pun tidak lepas dari Inggris yang berdasarkan deklarasi balfour diberikan izin untuk mendirikan negara yahudi, ini dilancarkan dengan sebuah misi rahasia yang dihasilkan pada Konferensi Zionis pertama di Basel. Di Mesir pun terjadi penandatanganan perjanjian damai (Camp David) antara israel dan mesir,
dampak dari hal ini adalah Anwar Sadad sebagai presiden Mesir ditembak oleh seorang ekstrimis muslim ysng mengecam perlakuan tidak adil dan kekerasan presiden terhadap rakyat mesir serta karena penandatanganan perjanjian damai itu.

g. Perlawanan Mujahid terhadap pengaruh Barat
Peran mujahid Islam juga tidak kalah besar mengartikan peran barat. Barat dalam perspektif perkembangan peradaban telah memberikan alam pemikiran yang ilmiah, serta pengkajiannya terhadap kebebasan berfikir, meskipun literatur yang mereka dapatkan juga dari islam pada saat penghancuran kerajaan islam di spanyol. Di satu sisi ada kelompok yang ingin menjaga kemurnian Islam dengan menolak seluruh pandangan barat tanpa terkecuali. Munculnya Ikhwanul Muslimin pimpinan Hasan Al Bana membawa angin segar perjuangan yang mengarah kepada kekuatan politik terbesar di Mesir memunculkan harokah-harokah oposisi pemerintah dan ingin mengembalikan umat islam pada hakikat islam. Dia memandang ketimpangan yang telah terjadi di tengah umat memerlukan solusi islam selain reformasi illahiah. Dia membuat sekolah islam, klinik, pelatiha generasi muda dll Syeikh Ahmad Yassin menghadirkan gerakanislam modern di GazaPertama kali yang menyerukan ijtihad untuk menunjukan bahwa umat islam harus merdeka di bawah panji Qur’ani adalah Jalaludin Al Afgani (1839-1897 M) seorang aktivis Iran yang selalu mengumandangkan persatuan negara islam dalam melawan Eropa, kembali kepada tradisi Rasulullah yakni islam. Dari rekan perjuangannya, adalah ilmuan mesir Muhamad Abduh yang lebih sistematis dan mendalam, dalam fikirannya negara islam bisa menrapkan apa yang dalam barat disebut sebagai pengkajian ilmiah, namun yang beliau selali dengan rekannya yang seorang jurnalis mesir adalah ”syariah malah yang harus mengikuti zaman”. Kondisi intelektualitas barat membuat orang islam mencela islam sendiri karena mengekang keinginan umatnya dengan ditutupnya pintu ijtihad. Ridha lah yang pertama kali mengusulkan modernisme islam, tetapi sangat islami dengan berdasarkan syariah reformasi. Di India pun muncul seorang penyair dan filsuf Muhamad Iqbal (1876-1938 M) menyatakan bahwa islam sama rasionalnya dengan barat. Bahkan islam lebih rasional dan paling maju diantara semua kepercayaan. Penekanan Iqbal pada semangat empiris membuatnya mencela sufisme, dia mengajukan sistem baru yang jauh dari mistik yang sudah lazim di sunia muslim serta rasionalisme modern dianggap satu-satunya cara untuk maju. Abu A’la al Maududi (1903-1979M) mendirikan jamaah Islam dengan harapan diterapknnya syriah islam yang lebih ketat di India agar mempu memberikan pelawanan terhadap gempuran inggris yang menjadi inspirasi bagi soerang fundamental islam suni Sayyid Qutb (1906-1966 M) yang sangat menentang bentuk sekulerisme barat. Sekulerisme Naseer yang kejam menyebabkan Qutb mendukung bentuk islam yang berbeda dari masa Rasulullah, beliau meminta umat muslim meneladani Muhammad dengan kaffah (seperti hijrah seperti hijrah dari mekkah ke madinah sangat pemerintah membahayakan spiritualitas umat muslim). Perjuangan yang lain adalah Revolusi Iran (1978-1979 M), selama tahun 1960an, Ayatullah Ruhollah Khomeini (1902-1989 M) memimpin rakyat Iran untuk turun ke jalan memprotes kebijakan yang kejam dan tidak konstitusional dari Syah Muhamad Reza. Perlawana seperti inilah yang seharusnya mampu dimunculkan umat muslim sekarang agar kemurnian islam dan perjuangannya tidak tergeser dengan pengaruh barat yang ingin menghancurkan ISLAM.

h. Penutup
Pemahaman sejarah yang akaffah akan semakin mempekuat statement bahwa Islam lah satu-satunya peradaban yang mampu memberikan pencerahan aqidah dan hubungan dengan manusia yang lain. Dengan fikiran yang tetap berpegang pada Al Qur’an niscaya kita akan berani menjadi penerus Rasulullah yang mewarisi semangat juang luar biasa terhadap islam. Perang yang dilakukan selama berlangsungnya masa keemasan Islam bukan karena semangat untuk membunuh dan menyerang umat manusia yang lain, melainkan karena kecintaan islam akan umat islam yang lain yang merasa disakiti oleh orang yahudi, kafir quraisy dan pihak yang tidak memperlakukan islam sebagai agama dan bahkan memerangi dengan alasan politik dan benturan agama. Rasulullah hanya ingin memberikan pencerahan islam agar umat manusia mengetahui esensi dia hidup di bumu Allah. Totalitas aqidah sebagai misinya semoga mampu kita laksanakan dan amalkan
Pilihannya hanya BERJIHAD n SYAHID (,,selamat berjuang sahabatQ,,)

Minggu, 25 April 2010

MASALAH-MASALAH SOSIAL DALAM MASYARAKAT

Oleh: Lukni Maulana
(Direktur Rumah Pendidikan Sciena Madani)
Peperangan mungkin merupakan masalah sosial yang paling sulit dipecahkan sepanjang sejarah kehidupan manusia. Masalah peperangan berbeda dengan masalah sosial lainnya karena menyangkut beberapa masyarakat sekaligus, sehingga memerlukan kerja sama internasional yang hingga kini belum berkembang dengan baik. Perkembangan teknologi yang pesat semakin memodernisasikan cara-cara berperang dan menyebabkan pula kerusakan-kerusakan yang lebih hebat ketimbang masa-masa lampau.Peperangan merupakan bentuk pertenangan yang setiap kali diakhiri dengan suatu akomodasi. Keadaan dewasa ini yang sering disebut “perang dingin” merupakan suatu bentuk akomodasi. Akomodasi mungkin menghasilkan kerja sama seperti yang tertuang akan bentuk organisasi internasional, umpamanya Perserikatan Bangsa Bangsa. Di lain pihak akomodasi juga menyebabkan kerja sama antara satu golongan agar sanggup mempertahankan diri terhadap golongan lain yang dianggap lawan.
Peperangan juga menyababkan disorganisasi dalam berbagai aspek kemasyarakatan, baik bagi negara yang keluar sebagai pemenang, apalagi bagi negara yang takluk sebagai si kalah. Apalagi peperangan pada dewasa ini biasanya merupakan perang total, yaitu dimana tidak hanya angkatan bersenjata yang tersangkut, akan tetapi seluruh lapisan masyarakat.

a.Pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat
Yang merupakan bentuk-bentuk pelanggaran norma-norma dalam masyarakat yaitu :
Pelacuran
Pelacuran dapat diartikan sebagai suatu pekerjaan yang bersifat menyerahkan menyerahkan diri kepada umum untuk melakukan perbuatan-perbuatan seksual dengan mendapat upah. Pelacuran mempunyai pengaruh yang besar terhadap moral.
Sebab-sebab terjadinya pelacuran haruslah dilihat pada faktor-faktor endogen dan eksogen. Di antara faktor-faktor endogen dapat disebutkan nafsu kelamin yang besar, sifat malas dan keinginan yang besar untuk hidup mewah. Di anatara faktor-faktor eksogen yang utama adalah faktor ekonomi, urbanisasi yang tidak teratur, keadaan perumahan yang tidak memenuhi syariat dan seterusnya.
Usaha untuk mencegah pelacuran adalah dengan jalan meneliti gejala-gejala yang terjadi jauh sebelum adanya gangguan-gangguan mental, misalnya gejala insekuritas pada anak-anak wanita, gejala membolos, mencuri kecil-kecilan dan sebagainya. Hal itu semuanya dapat dicegah dengan usaha pembinaan sekuritas dan kasih sayang yang stabil.

Alkoholisme
Masalah alkoholisme dan pemabuk pada kebanyakan masyarakat pada umumnya tidak berkisar pada apakah alkohol boleh atau dilarang dipergunakan. Persoalan pokoknya adalah siapa yang boleh menggunakannya, di mana, bilamana, dan dalam kondisi yang bagaimana. Umumnya orang awam berpendapat bahwa alkohol merupakan suatu stimulant, padahal sesungguhnya alkohol merupakan racun protoplasmic yang mempunyai efek depresan pada system syaraf. Akibatnya, seorang pemabuk semakin kurang kemampuannya untuk mengendalikan diri, baik secara fisik, psikologis maupun sosial.
Dalam kenyataanya, masyarakat mempunyai pengaruh tertentu terhadap penggunaan alkohol. Pada umumnya proses pengaruh tersebut adalah sebagai berikut :
a.Setiap masyarakat mempunyai mekanisme untuk mengendalikan, mengintegrasikan dan membangun warganya. Proses mana tidak selalu mempunyai pengaruh yang seluruhnya posistif. Apabila ada pengaruh negatif, maka akan terlihat ketegangan atau keresahan kepada diri masyarakat. Salah satu upaya mengatasinya adalah menggunakan alkohol kalau perlu sampai mabuk.
b.Setiap masyarakat membentuk lembaga-lembaga atau pola-pola tertentu yang dapat menyalurkan rasa tegang atau rasa khawatir. Lembaga atau pola-pola tersebut mempunyai tarif kemampuan tertentu di dalam menyalurkan rasa tegang atau rasa khawatir. Taraf kemampuan itu ikut mempengaruhi luas-sempitnya kemungkinan menggunakan alkohol untuk penyaluran keresahan diri.
c.Setiap masyarakat cenderung menempatkan pemabuk sebagai pihak yang menyimpang atau bahkan melanggar. Dengan lain perkataan, peminum adalah pihak yang secara potensial merupakan pelanggar. Akan tetapi hal itu juga tergantung pada taraf ketetapan norma-norma yang mengatur perilaku yang berkaitan.
Dalam kenyataannya ketentuan-ketentuan itu secara relatif kurang diterapkan, sehingga perkara mengenai orang-orang mabuk jarang yang diumumkan di media masa. Ada kemungkinan bahwa pada waktu peraturan ini dibuat, gejala orang-orang yang mabuk dan berada di tempat umum belum begitu membahayakan oleh karena itu pasal-pasal tersebut dimasukkan dalam bab mengenai kejahatan dan pelanggaran terhadap aturan sopan-santun yang dalam KUHP dibut kejahatan dan pelanggaran terhadap kesusilaan.

II.KESIMPULAN
Sosiologi menganggap bahwa peperangan sebagai suatu gejala yang disebabkan oleh berbagai faktor.
Dari aspek sosial yang penting adalah mencegah adanya pemabuk. Disamping itu yang juga penting adalah menanggulangi keadaan di mana sudah ada pemabuk. Aspek hukum di Indonesia tampaknya mengikuti aspek sosial. Hanya saying bahwa kalangan penegak hukum belum menaruh perhatian yang proporsional terhadap masalah ini, misalnya timdakan-tindakan yang dilakukan terhadap pengedar dan pengguna narkotika.

III.PENUTUP
Demikian makalah ini kami buat, kami sadar bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun penyusunan makalah ini. Dan kami berharap semoga makalah yang kami susun ini dapat memberikan manfaat pada kita semua.


DAFTAR PUSTAKA
Abdullah Taufiq, Pemudan dan Perubahan Sosial, Jakarta : LP3ES, 1978.
M. Arifin Noor, Drs. H., Ilmu Sosial Dasar, Bandung : CV. Pustaka Setia, 1999.
Soekanto Soejarno, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1982.

Minggu, 05 April 2009

Hakekat Kepemimpinan Dalam Organisasi dan Efektifitas Perjuangan di HMI


Oleh : Agus Thohir
(Ketua Umum HMI Cabang Semarang)
Berorganisaisi adalah kodrat alamiah manusia yang pada hakekatnya manusia adalah makhluk sosial, ia tidak akan mampu hidup tanpa manusia lainnya yang ada disekitarnya. Manusia sendiri memerlukan komunitas untuk berinteraksi guna memenuhi hidupnya. Manusia sebagai mahluk individual yang memiliki dua misi di dunia yaitu misi dimensi vertikal berupa ketundukan kepada sang khalik dan misi dimensi horisontal berupa hubungan antara manusia dan alam lingkungan. Dimensi horisontallah yang mencerminkan di mana manusia menjadi kontrol sosial bagi dirinya dengan lingkungan masyarakatnya. Maka manusia berperan dalam sebuah gerakan yang di sebut organisasi, karena merupakan wadah untuk menyelaraskan dan mengseimbangankan (equilibrium) misi berjuang atau jihad untuk memakmurkan dunia.
Dari misi dimensi horisontal itulah, organisasi di perlukan sebagai perwujudan kebersamaan untuk melakukan perubahan sosial (social of change). Tidak heran jika terbentuk berbagai macam-macam komunitas ataupun organisasi. Akan tetapi yang di perlukan bukanlah perbedaan itu, namun bagaimana organisasi itu berperan sesuai visi yang berlaku. Dalam berorganisasi kita di temui berbagai macam karakter elemen gerakan dan karakter individual manusia.
Kekuatan suatu organisasi terletak pada kerjasama, bukan perbedaan untuk satu kepentingan atau kepuasan individual, tetapi kerjasama itulah wujud keberadaan dari organisasi yang didalamnya terdapat bermacam manusia (multicultural) dimana mereka membutuhkan hidup berkelompok bermasyarakat bergotong royong sesuai dengan tingkat kebudayaan dan peradaban manusia itu sendiri. Dengan adanya kerjasama yang teratur maka tujuan akan mudah dicapai. kebutuhanpun akan terpenuhi sehingga dapat melaksanakan pekerjaan berdayaguna dan menghasil guna.

Hakekat Kepemimpinan
Fokus topik kali ini yang diketengahkan sengaja dipilih untuk merenungkan kembali makna kepemimpinan yang sejati. Kepemimpinan sering diartikan dengan jabatan formal, yang justru menuntut untuk mendapat fasilitas dan pelayanan dari konstituen yang seharusnya dilayani. Meskipun banyak di antara pemimpin yang dimaknai sebagai jabatan atau sebuah amanah, namun dalam kenyataannya sedikit sekali. Kepemimpinan yang melayani dimulai dari dalam diri kita sehingga diperlukan suatu transformasi dari dalam hati dan perubahan karakter.
Dari berbagai rujukan teori kepemimpinan yang ada dapat di ambil dalam beberapa kategori. Diantaranya menurut etimologi istilah kepemimpinan bila kita telaah dapat kita konsepkan dari beberapa istilah kosakatanya. Pertama lead yang artinya pimpin berubah dengan konjugasi menjadi pemimpin “leader” dan kepemimpinan “leadership”. Dalam beberapa referensi lain bisa dimaknai dengan pemuka, pelopor, pembina, panutan, pembimbing, ketua, kepala, raja dll. Menurut hemat saya kepemimpinan merupakan proses kegiatan seseorang dalam memimpin, membimbing, mengarahkan dan bahkan mengontrol. Dalam hal ini pemimpin pastinya mempunyai pengaruh dikarenakan memiliki kecakapan.
Dalam bahasa arab istilah imamah, amir, Al Mu’minun (pemimpin orang-orang islam)/ khalifah setelah rasul wafat terutama bagi kempat khulafaurrasyidin. Amir jamaknya umara’ yang bermakna pemimpin/ penguasa sesuai dengan ayat al Quran. Bahkan dalam Al Qur’an juga ditegaskan bahwa Setiap manusia bertanggungjawab memakmurkan bumi. disisi lain kepemimpinan dalam Islam adalah dimaknai sebagai kemampuan melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Allah SWT, baik bersama atau perorangan.
Pemimpin mampu menjalankan pemerintahan haruslah dengan segala aturannya yang ditopang dengan kesehatan jasmani, keilmuan, kecakapan, dan akhlakul karimah.
Dimana kepemimpinan merupakan suatu instrumen untuk dapat menjalankan sesuatu kegiatan dalam rangka menentukan dalam mencapai tujuannya.

Aspek Peran dan Fungsi Kepemimpinan
Dalam beberapa hal yang menjadi pertimbangan bahwa pemimpin sebagai penggerak yang mempu mengkoordinasikan baik pada wilayah kebijakan dan manajemen integrasi andministrasi. Begitu peran besar yang harus dimiliki seorang pemimpin, ia harus mampu menjadi poros penengah dari berbagai keinginan, perbedaan dll. Maka disinilah sosok pemimpin dan strateginya dibutuhkan untuk memobilisasi dan perantara antara stakeholder satu dengan yang lainnya. Karena selain penentu arah yang akan ditempuh ia juga sebagai wakil organisasi yang menjadi mediator andal khususnya dalam hubungan kedalam, terutama menangani situasi konflik.
Pemimpin harus memiliki integritas, efektifitas, rasionalitas, obyektifitas dan netral. Jauh dari semua itu pemimpin jelasnya menjadi pelaksana/eksekutif, perencana (planner), pembuat kebijakan (policy maker) dan pastinya menjadi seorang ahli. Seorang leader hendaknya mempunyai konsepsi yang baik dan realistis sehingga dalam menjalankan kepemimpinannya mempunyai garis yang tepat menuju arah yang telah dicita-citakan. Ia harus mampu menuntun, memandu, membimbing, membangun motifasi kerja mengemudikan organisasi, menjalin jaringan-jaringan dan berkomunikasi dengan baik memberikan super visi yang efisien.

Efektifitas dan Visi Kepemimpinan

Kepemimpinan seolah menjadi menarik untuk dikaji, Terlepas dari begitu banyak metode dan gaya kepemimpinan yang ada pada dasarnya tidak ada yang lebih penting ketimbang efektivitas dalam kepemimpinan itu sendiri. Apapun gaya dan metode yang digunakan tidak akan ada artinya jika tidak menjadi efektif.
Seorang pemimpin organisasi tidak dinilai dari penguasaan terhadap pengetahuan yang dimilikinya. Tolok ukur seorang pemimpin adalah keputusan yang diambil dan bagaimana keputusan tersebut efektif bagi organisasi yang dipimpinnya.Untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif bagi sebuah organisasi perlu mengenali dan memahami visi organisasi yang dipimpin. Visi organisasi selanjutnya diturunkan menjadi visi kepemimpinan, dengan demikian tidak ada pertentangan antar keduanya.
Bila organisasi diibaratkan sebagai sebuah kapal lengkap dengan awaknya yang masing-masing memiliki spesialisasi, tanggung jawab dan tugasnya maka seorang pemimpin adalah kapten kapal tersebut. Seorang kapten kapal tidak sekedar berfungsi mengkoordinir bagaimana setiap bagian bekerja namun lebih dari itu dia bertugas menentukan arah dan tujuan dari kapal dan memastikan bahwa setiap fungsi melaksanakan tugasnya demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
Sama halnya dengan sebuah kapal yang ketika berlayar memerlukan tujuan, demikian pula organisasi memerlukan tujuan yang diistilahkan sebagai visi. Tanpa visi maka organisasi akan berjalan tanpa arah dan tujuan. Pada organisasi semacam ini ada dua kemungkinan yang dapat terjadi, kemungkinan pertama organisasi tersebut dalam operasionalisasi kesehariannya asal jalan saja sedangkan kemungkinan yang lain setiap individu dalam organisasi akan fokus mengejar kepentingan masing-masing dan organisasi tidak lebih dari sekedar lembaga atau brand yang menaungi mereka.
Adakah organisasi semacam ini? Tentu saja ada, saya telah melihat sendiri beberapa organisasi yang terjebak pada situasi semacam ini. Beberapa diantaranya tidak mampu bertahan sementara sisanya masih sanggup bertahan karena mereka merupakan bagian dari organisasi yang lebih besar dan untungnya organisasi yang lebih besar ini cukup memiliki visi dan kompetensi. Meski demikian organisasi semacam ini ibarat kanker bagi induknya yang akan membebani. Beban yang dimaksud bukan hanya finansial namun bisa juga berupa brand image.
Sebuah organisasi bisa terjebak pada situasi dimaksud di atas karena beberapa kemungkinan. Bisa jadi situasi ini tecipta karena organisasi didirikan oleh seorang yang visioner dan sangat berpengaruh namun kurang melakukan sosialisasi visinya kepada para kolega atau bawahan, ketika si pendiri ini mundur maka biasanya organisasi akan mengalami penurunan. Kemungkinan lain adalah organisasi terjebak mempertahankan visi yang dibentuk beberapa periode sebelumnya. Lingkungan di luar organisasi sifatnya dinamis, organisasi harus senantiasa mampu selangkah di depan perubahan yang terjadi.
Setiap organisasi bediri dengan latar belakang yang berbeda meski demikian kesemuanya memiliki tujuan yang sama yaitu menciptakan output. Output salah satunya berupa kesejahteraan bagi organisasi itu sendiri agar dapat terus bertahan dan membiayai dirinya sendiri. Kesejahteraan hanya dapat tercipta bila organisasi mampu menangkap peluang yang ada. Sebab pada dasarnya di dalam organisasi sendiri hanya ada cost, baik biaya untuk inovasi, SDM, pemasaran dan lain sebagainya. Sementara peluang ada pada lingkaran eksternal, dengan demikian penting bagi organisasi untuk menentukan strategi dalam rangka mencapai kesejahteraan dengan berkompetisi. Itulah pentingnya memahami dinamika dan kebutuhan yang ada dilingkungannya. Sayang beberapa organsasi memang terlalu “angkuh” untuk berubah demi memenuhi tuntutan.
Untuk menentukan rumusan strategi yang tepat tentunya organisasi perlu mengumpulkan berbagai informasi internal. Informasi tersebut meliputi informasi dasar mengenai cashflow, informasi mengenai kompetensi dari organisasi dan individu serta informasi mengenai alokasi sumber daya baik dana maupun SDM. dengan demikian untuk membangun link dan match antara organisasi dengan lingkungan sekitar eksternal dibutuhkan kreatifitas dan ketahana dari para pengurusnya atas tempaan yang terjadi. Kondisi inilah yang memungkinkan organisasi mencapai kesejahteraan.
Faktanya tidak sesederhana itu terutama bagi organisasi yang telah berjalan bertahun-tahun. Dalam kondisi semacam ini ternyata tidak membuat organisasi sadar dan memperbaiki diri, sebaliknya mereka tanpa peduli akan arah organisasi. Masing-masing mengejar visi pribadinya yang kebanyakan tidak menguntungkan bagi organisasi. Beberapa individu dalam organisasi memperoleh status dan nama namun tidak demikian halnya dengan organisasi yang menaungi kreatifitasnya.
Juru mudi memiliki tugas, juru mesin memiliki tugas, bahkan juru masakpun demikian. Namun setiap dari mereka hendaknya melaksanakan tugas untuk tujuan yang sama. Apa jadinya jika juru mudi hanya memperdalam kemampuan mengemudinya tanpa tahu arah kapal demikian pula juru mesin dan yang lainnya. Itulah pentingnya visi dan itulah peran seorang pemimpin untuk mengkoordinir setiap fungsi untuk mencapai sebuah tujuan bersama.
Visi dan strategi organisasi berkaitan erat dengan efektivitas kepemimpinan. Itulah sebabnya dipaparkan panjang lebar mengenai visi organisasi. Sebab seorang pemimpin bekerja berdasarkan visi organisasi dan visi pribadi. Tanpa keduanya mustahil kepemimpinannya akan efektif. Bagaimana seorang kapten kapal dapat memimpin anak buah dan kapalnya tanpa dia sendiri tahu kemana kapal ini harus berjalan?
Tanpa adanya efektivitas kepemimpinan maka seorang pemimpin tak lebih dari sekedar simbol yang tiada arti, kepemimpinannya adalah sia-sia. Menentukan gaya kepemimpinan adalah masalah kedua, sebab tanpa adanya visi organisasi dan visi sang pemimpin gaya apapun yang digunakan tidak akan memberi kontribusi yang berarti.
Pemimpin yang efektif juga harus menekankan keputusan pada sesuatu yang benar bukan sesuatu yang dapat diterima. Merasa khawatir akan apa yang dapat diterima atau tidak dapat diterima adalah inefisiensi, sebab dalam proses mencari jawaban “Apa yang dapat diterima?” biasanya beberapa hal penting yang membuat sebuah keputusan menjadi efektif akan disingkirkan.
Faktor penting lainnya yang menentukan efektif tidaknya kepemimpinan adalah peran serta dari anggota organisasi tersebut. Peran serta menjadi faktor akhir yang menentukan kepemimpinan. Organisasi sering mencari sosok super leader yang diharapkan akan membawa organisasi tersebut ke arah yang lebih baik, namun tidak jarang terjadi meski telah memperoleh seorang pemimpin yang super tetap saja organisasi tidak bergerak ke arah yang diharapkan. Hal ini disebabkan ketiadaan atau rendahnya partisipasi dari anggota. Sehebat apapun seorang pemimpin tanpa peran serta anggotanya tak akan ada artinya.
Situasi riil yang terjadi adalah di Indonesia, masalah terbesar bagi bangsa ini bukanlah mencari sosok pemimpin yang ideal namun sebaliknya mencari warga negara yang ideal yaitu warga negara yang mau berperan serta dan peduli untuk membangun bangsa. Sayang selama ini justru sosok kepemimpinan ideal yang selalu sibuk diperdebatkan. Lalu dengan melihat semua itu apakah kita akan menjadi bagian yang terlibat dalam masalah itu? Yang ikut menambah banyak beban organisasi yang kita ikuti, atau kita optimis menjadi salah satu motorik penggerak tanpa memilah dan memilih apakah itu kita menunggu sekitar kita? Begitulah adanya sehebat apapun organisasi, pemimpinnya, personelnya tapi tanpa disertai kesadaran partisipasi dan kerjasama maka takaakan ada keberhasilan. Karena keberhasilan terletak dari ilmu yang dipunyai dan semakin tinggi maka semakin cakap kita melakukan sesuatu yang terbaik.

HMI, Khittah dan Konsistensi Perjuangan Mulia
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mempunyai tujuan untuk mencetak atau membina kader-kader organisasi sesuai dengan apa yang telah dirumuskan dalam AD/ART serta pedoman-pedoman organisasi yang tercakup dalam konstitusi. Hal ini dirumuskan dan diaktualisasikan dalam aktifitasnya dan merupakan konskuensi logis dari perkaderan dan perjuangan yang bertumpu pada diri kader.
Kader merupakan elemen yang sadar dan aktif sehingga merupakan tonggak/ tulang punggung organisasi yang kelak menjadi pioner perubahan dalam masyarakat dan ummat. Untuk mewujudkan semua itu diperlukan pembinaan kader/ anggota dengan harapan setiap anggota HMI mempunyai kesadaran berideoligi (sense of ideology) dan kesadaran berorganisasi (sense of organization). Kesadaran organisasi dapat tercapai apabila ditopang oleh tiga unsur yaitu
1. Kesadaran mencapai tujuan bersama (common purpose) dengan prinsip gotong-royong
2. Kesadaran akan adanya kesatuan visi kepemimpinan (unity of commond) yang berarti kepatuhan kepada pemimpin (diziplin organization)
3. Saling mempercayai. Percaya mempercayai dalam artian positif dan dinamis yakni saling mengontrol satu sama lain dan tidak bersifat acuh tak-acuh.
Dari keberlangsungan komunikasi kebersamaan dalam visi kepemimpinan maka dibutuhkan landasan pijakan (konsepsi aktifitas) berorganisasi dan tujuan organisasi. Dimana konsep tersebut memberi visualisasi semangat ideoligis pada diri kader sehingga dapat menjawab kebutuhan tentang pentingnya immunitas pada setiap kader dalam mencapai cita-cita perjuangannya. Ini merupakan konsepsi bangunan ideologi pada diri kader dalam memberi penjelasan tentang paradigma HMI mengenai kesemestaan dan keeksistensian yang wajib diakui. Dengan memperjuangkan kebenaran untuk mencapai jalan hidup yaitu cita-cita yang diejawantahkan dalam berorganisasi. Khittah perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam merupakan sebagai dokumen dan landasan gerak organisasi yang secara integral mencakup penjelasan utuh tentang pilihan ideologis yaitu prinsip-prinsip penting dan nilai-nilai yang dianut oleh HMI sebagai tafsir asas, tujuan, usaha dan independensi HMI.
Sebagai paradigma gerakan khittah sendiri merupakan intepretasi yang menjelaskan muatan kesatuan antara landasan, tujuan dan metodologi dalam pencapaian tujuan organisasi. Didalamnya juga menjabarkan konsepsi filosofis azaz yang menjelaskan keyakinan HMI tentang Ketuhanan, Kesemestaan, Kemanusiaan dan Kemasyarakatan. Keyakinan tersebut merupakan akar dari segenap perbuatan manusia sebagai insan kamil yang mana tertuang dalam prinsip tauhid dan dipahami secara holistik bukan sekedar dogmatis melainkan kesadaran yang murni yang transenden.
Khittah merupakan tafsir tujuan HMI dan dijabarkan dalam konsep dan hakekat perkaderan sebagai upaya sistematisasi nilai cita yaitu menuju individu ulil albab dan masyarakat Islam yang dicita-citakan akan melahirkan interaksi dan hubungan sosial yang adil.
Dalam kerangka konseptual khittah khususnya di tujuan memberikan gambaran atas pijakan bahwa dalam bangunan epistemologi keilmuan sudah menjadi sandaran dalam mengetahui tentang realitas kebenaran. Pada tujuan jamaah HMI yang tertulis dan berbunyi “Terbinanya mahasiswa Islam menjadi insan ulil albab yang bertanggungjawab atas terwujudnya tatanan masyarakat yang diridhoi oleh Allah subhanahu wata’ala”. Dari sisi ini ada beberapa karakteristik diantaranya yaitu :
1. Hanya takut kepada Allah
2. Tekun beribadah tiap waktu
3. Bersungguh-sungguh mencari ilmu
4. Mampu mengambil hikmah atas anugrah Allah
5. Selalu bertafakur atas ciptaan Allah yang ada dilangit dan di bumi
6. Mengambil pelajaran dari sejarah dan kitab-kitab yang diwahyukan oleh Allah
7. Kritis mencermati berbagai pendapat, mampu memilih yang benar dan terbaik
8. Tegas dalam mengambil sikap dan pemihakan atas pilihannya
9. Tidak terpesona atas pandangan mayoritas yang menyesatkan
10. Dakwah dengan sungguh-sungguh ke masyarakat dan bersedia menanggung segala resikonya
Dari beberapa yang termaktub dalam khittah termasuk konsepsi kepemimpinan bukan sekedar dipahami sebagai referensi tapi bagaimana esensi dan subtansi atas kesemestaan, manusia sendiri sebagai khalifah dengan kemampuannya maka seharusnyalah ia mampu memahami semesta dan mengerti atas penciptaan. Inilah yang coba dibangun dalam konsep keberadaan rumusan ke-jamaah-an, yang tidak menafikkan kreatifitas individu.
Dengan semangat juang tinggi yang timbul dari individu-individu (kader) dan dukungan dari lingkungan (Jamaah) maka konskuensi terciptanya kondusifitas lingkungan atas perubahan dapat terjadi bahkan tercapai. Kemampuan akan perubahan tersebut harus dijadikan arah gerakan jamaah menuju terciptanya masyarakat yang telah dicita-citakan yaitu masyarakat “baldatun thayibatun warabbun ghafur”.
Untuk mencapai masyarakat cita diperlukan penopang yang kokoh diantaranya internalisasi nilai-nilai perjuangan dan proses perkaderan. Yaitu usaha dari kedirian entitas atas usaha dalam bentuk ikhtiar baik individu ataupun jamai dalam memperjuangkan perubahan kearah perbaikan. Inilah pijakan dasar yang harus dipahami bersama dalam menentukan hasil dari proses perkaderan dan perjuangan di HMI.
Peran ini dikembalikan pada masing-masing kader “seberapa besar apa yang dicurahkan maka sebesar itulah yang akan anda dapatkan” dengan benturan diri dengan masyarakat akan membentuk karakter pribadi kita. Posisi ini juga menentukan kualitas kekhalifahan manusia dalam kehidupan didunia dalam memaknai usaha berjihad. Karena berjihad bukan saja dimaknai perlawanan terhadap yang bathil tetapi lebih yaitu kita sebagai diri manusia harusnya melakukan perlawanan terhadap hawa nafsu yang membelenggu kita pada arah kenistaan.
Keyakinan atas bangunan mindset (niat tujuan) untuk beramar ma’ruf bukan sekedar simbolisasi ketundukan atau kepatuhan namun pemahaman yang kita miliki atas rasa syukur dan kecukupan dengan dibarengi usaha yang riil atas usaha memanifestasikan nilai-nilai Islam keranah publik dalam bentuk kesalihan pribadi dan kesalihan sosial itu yang menjadi penentu sikap. Sikap ini dengan sendirinya mampu menjadi maksimalisasi perjuangan yang dibarengi manajerial ikhtiar yang kontinue.
Semua itu adalah keniscayaan ikhtiar dalam membentuk pribadi kaum mu’min diantaranya misi diri yang kuat dan siap tempur, diantaranya dengan standar peran yang dimiliki yaitu :
Ø Muabbid menjadi insan yang tekun beribadah mulai dari ibadah yang terkait pada dirinya maupun terkait dngan lingkungannya. (terbentuk karena visi)
Ø Mujahid memiliki semangat juang yang tinggi sehingga ia memiliki pemahaman dan kemampuan berjihad dalam garis agama (kualitas spiritual dalam perjuangan)
Ø Mujtahid memiliki kemampuan berijtihad sehingga segala tindakannya didasarkan pada pilihan sadar dari dalam dirinya.( internalisasi nilai perjuangan)
Ø Mujadid memiliki kemampuan dalam melakukan pembaharuan di lingkungan sekitarnya. (untuk mewujudkan nilai tauhid dan keadilan sosial dengan menjadi agen social of change)
Pencapaian dari tahapan peran ini bukanlah mustahil untuk dibentuk dan diwujudkan apalagi menjadi pribadi yang siap tempur dan tidak tergoyahkan dalam menjalani hidup. Tidak ada satupun insan yang berani menjamin bagaimana mencapai kualiatas diri kecuali dimulai dari “change your thinking” dengan proses pembentukan kualitas diri menghadapi masalah-masalah yang melingkupi kita. Mulailah dari hal-hal kecil dan pembiasaan inilah nantinya akan menjadikan kita lebih, karena bila kita mau menjadi besar haruslah menyelesaikan hal-hal yang kecil dan jangan pernah membuat kecil masalah.
Dari kebiasaan yang kita jalani dan berpegang pada ikhtiar yang kita lakukan kita sebagai manusia “ khalifah” diciptakan dalam keadaan suci sesuai dengan fitrahnya maka kita harus memperjuangkan kemerdekaan diri dengan berproses pada optimalisasi diri baik dari fungsi amanah dan peran kita sebagai khalifah dan Abduh. Amanah akan menjadi ukuran yang relatif bila kita persepsikan dari unsur prilaku tapi bila itu dimaknai sebagai tanggungjawab moralitas transenden maka akan menumbuh-kembangkan komitmen dan loyalitas sehingga profesionalitas dapat berjalan dengan sendirinya. Kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban atas segala yang kita lakukan dan itu menjadi konskuensi logis atas pilihan yang kita lakukan.
Hidup adalah pilihan dan dunia adalah sesaat, dengan dibekali indra, akal dan hati manusia berhak menentukan pilihannya. Dengan usaha mencari dan memperoleh pengetahuan dan petunjuk keselamatan yang ada kita dapat memilah dan memilih dan semua adalah resiko yang kita hadapi baik itu resiko pengorbanan dan penderitaan, tapi itulah isyarat kesemestaan yang ditawarkan kepada kita semua sebagai manusia. Allah tidak akan menguji atau memberi cobaan yang melebihi kapasitas yang dimiliki hambanya sehingga segala resiko dapat di ambil hikmahnya selama kita berproses menuju kesempurnaan abduh.
Konsistensi dan keistiqomahan atas perjuangan kita didunia dalam melawan ketidak adilan adalah realitas yang harus dihadapi, dengan berpegang teguh pada independensi terhadap semua kebenaran dari Allah. Dengan kritis obyektif dam progresif semata-mata memperjuangkan tanpa mengenal lelah dan melawan semua bentuk penindasan atas ketidakadilan di muka bumi adalah manifestasi kita untuk mencapai dan mewujudkan tatanan masyarakat yang diridhai oleh Allah Subhanahu Wata’ala.
Billahittaufuq wal hidayah

Senin, 24 November 2008

Gerakan Revolusi Budaya melawan ”Marketisme”





Gerakan Revolusi Budaya melawan ”Marketisme”
Upaya mewujudkan Masyarakat Berkeadilan

Oleh Tim LK 2 HMI Cabang Semarang



Di tengah perkembangan dunia global dan kemudahan informasi, dunia telah terpetakan dalam proses Neokolonialissasi (penjajahan model baru) di berbagai belahan dunia. Sosok manusia ditempatkan sebagai penghuni yang paling berkuasa di muka bumi.posisi inilah yang menentukan arah hidupnya, dengan berbagai fasilitas yang dimiliki. Terhampar dihadapan manusia untuk memiliki, menikmati dan menundukkan seluruhnya untuk manusia (QS.22:65). Apakah berwujud alam nabati, alam hewani atau bahkan manusia itu sendiri ? akan tereksploitasi jika tidak saling mewaspadai.
Dalam sejarah peradaban ummat manusia, Jika dikehendaki akan terbagi dalam babak sejarah baru menginformasikan segala tingkatan yang dapat mengantarkan pada tingkatan eksistensi mazhab materialisme yang kokoh dan utama . Charles Darwin membahasakan dengan “Survival Of The Fittest” siapakah yang kuat itulah yang akan menentukan peta bumi untuk berkuasa berdasarkan kepentingan pribadi, kelompok, dan mengesampingkan kebersamaan kemanusiaan.
Hukum rimba berlaku searah dengan efektifitas manusia menguasai alam sekitar dengan tanpa kompromi, menjadikan alat manusia sebagai sarana untuk mencapai kesejahteraan. Nilai (value) dalam masyarakat telah terabaikan, tertutup dengan gaya materialisme yang berlebihan, kepemilikan bendawi akan lebih dihargai oleh masyarakat, tentu yang akan berkuasa dalam kebijakan tanpa mempertimbangkan kebijaksaanaan. Sikap mulia yang diwujudkan dalam interaksi social. Tidak akan ada fungsinya jika atribut kepemilikkan materi tidak ada. Maka nonsense arti sebuah kemanusiaan.
Terciptanya penghargaan yang lebih terhadap materialisme, Francis Fukuyama (2001) memberikan indikasi positif atas kehancuran materialisme dalam masyarakat dengan mengacu hilangnya (Modal Capital :Nilai) yang hilang dari setiap individu melakukan beberapa pemenuhan eksistensi kebutuhan sehari-hari.
Secara historis klasik di kisahkan dari contoh pergulatan Qobil-Habil putera Adam yang memperebutkan materialisme bergaya kapitalisme, dalam mengidentifikasi superioritas manusia berkuasa atas yang lain. disimbolkan dengan perebutan anak manusia dengan keinginan individu yang tak terkendali, akhirnya salah satu harus ada yang dicampakkan dalam korban atas keberingasan manusia lain.
Seiring dengan berkembangnya zaman, cara efektif (mudah) digunakan oleh manusia modern-global dimulai dari satu abad ke belakang. Negara ekonomi maju telah membuat perubahan ke dalam apa yang disebut ” Masyarakat Informasi” atau Era Post Industrial. Alvin Toffler membahasakan dengan transmisi gelombang ketiga . mengisyratkan bahwa manusia pada akhirnya akan menjadi sekuensi dengan gelombang sebelumnya yang saling terkait, dari masyarakat Pemburu- Pengumpul- Petani- Industri – Kolonialisme-Neo-kapitalisme- Informasi- Market Kultur Nation (Neo- liberalisme)-dan menuju Revolusi Budaya di tengah arus global. Tentu mengajak negara-negara berkembang mengevaluasi secara kedirian. Sejauhmana potensi yang dimiliki baik SDM-SDA yang ada dalam negeri tersebut.
Awal sejarah perkembangan masyarakat bertatanan global dimulai sejak Colombus menemukan benua Amerika dan diikuti oleh bangsa-bangsa yang mencari tanah-tanah baru di Amerika dan Asia, tak bisa berjalan sendirian. Ia juga disertai oleh strategi ekonomi kapitalis. kiranya Lenin benar ketika mengatakan bahwa Imperialisme dan Kolonialisme (baca : Globalisasi) adalah anak dari kapitalisme. Maka di Abad 18 para kolonialis mencari daerah-dearah jajahan demi menghadapi naluri kapitalisme liberalnya. Di Abad 21 ini, mereka bergerak berdasarkan hasrat Neo-liberalismenya.
Globalisai merupakan alat untuk melakukan proses perluasan dan pengintegrasian dan hubungan masyarakat dari berbagai penjuru dunia. Dalam hubungan global tersebut sebuah peristiwa yang terjadi di wilayah atau kelompok masyarakat tertentu dipengaruhi bahkan dibentuk oleh peristiwa-peristiwa di wilayah atau kelompok masyarakat belahan bumi lainnya dan begitu pula sebaliknya. Ranah ekonomi menjadi sangat superior karena Negara terpetakan dengan Negara maju dan berkembang yang tingkat ukurannya ada dalam ekonomi dan politik. Untuk mengindentifikasi kesejahteraan dalam suatu Negara.
Filosofi ekonomi liberal menganggap individu memiliki individualitas dan kebebasan. kedua hal itu, mereka bisa bersaing dalam sistem pasar di belantara pasar bebas yang diciptakan oleh negara-negara maju untuk negara-negara berkembang. Dengan instansi yang dapat memberikan angin segar pembebasan dari negara yang terbatas dengan memakai sistem pasar yang berlaku. Terbagi dalam blok pasar yang merupakan perpanjangan tangan prinsip ekonomi global yang berbentuk kesepakatan internasional berwujud “ Marketisme Global “ atau mazhab ideologi baru yang dibahasakan dengan pembentukan pasar makro, di tingkat internasional seperti GATT (General Agreement On Tariff And Trade) Menjadi tonggak awal dimulainya globalisasi di bidang ekonomi.
Di Asia dibentuk AFTA (Asean Free Trade Area), di Asia pasifik dibentuk Asia Pacific Economic Cooperation (APEC), di kawasan Eropa dibentuk Single European Market (SEM) dan di Negara-negara atlantik utara di bentuk North America Free Trade Area (NAFTA). Lembaga pasar internasional dan mekanisme Perdagangan global tersebut dilandasi motivasi utama untuk memaksimalkan keuntungan dan kekuasaan pasar sebagai penggerak peradaban baru pasca runtuhnya negara-negara berkembang di dunia (Adi Sasono: 2008).
Semua institusi global yang bercirikan pasar melatar belakangi Filosofi Neo-liberal yang meradikalkan anggapan dasar untuk meletakkan nilai ekonomis pada setiap konsep hak, kewajiban dan relasi sosial. Maka keajiban pemerintah untuk memberikan pelayanan publik mulai dari air minum, listrik, transportasi pada masyarakatnya. Semua di dekati pada nilai ekonomisnya.. Persoalannya menjadi sejauhmana kewajiban pemerintah dari hak masayarakat itu bernilai ekonomis dan sejauhmana andil partisipasi politik untuk mensejahterakan negara ?
Mana yang selera ekonomi menguntungkan, penyediaan air minum, listrik atau pun yang lain disediakan oleh pemerintah, swasta, asing?, maka andil pemerintah untuk tetap konsisten membela kepentingan rakyat masih ada atau hilang mendukung kepentingan asing demi memuaskan laku kelompok atau individu. Peta-peta itulah yang mengidentifikasi baju globalisasi mulai dipakai aktor yang peduli atau tidak peduli pada kedirian bangsanya. Kesadaran tentang waktu dan bersantai dihitung secara ekonomis, istilah waktu adalah uang atau bersantai di café menjadi makin popular apalagi peran untuk tetap mempertahankan bahwa kekayaan anak negeri tetap menjadi prioritas mensejahterakan bangsa sendiri adalah logika sosial yang harus dipertanyakan secara terus menerus agar sikap memiliki terhadap bangsa akan selalu hadir.
Dengan meletakkan nilai ekonomis dan politis global pada hampir segala kehidupan, maka perusahaan Multinasional dan Transnasionalisasi juga menciptakan strategi baru dalam menguasai dunia bermula dari bank dunia (WB), World Trade Organization (WTO), International Monetary Fund (IMF), Multinasional Cooporation (MNCs), Transnasional Coorporation (TNCs) dan lain-lain sebagai aktor pengganti dari peran negara yang semakin semakin kedaulatannya akibat dari peran strategis yang dimainkan oleh institusi besar ini.
Mereka membagi bumi dalam wilayah dominasi ekonomi mereka .mereka membagi bumi menjadi maju dan berkembang dan diciptakan untuk menjadi wilayah yang membutuhkan bantuan dan teknologi dari yang maju. Bantuan atas nama social digelontorkan kepada rakyat atas nama kesejahteraan namun sebenarnya sekedar bentuk utangan lunak yang akan ditanggung oleh rakyat denga memakai system subsidi silang dalam pengalokasiaan berbagai macam krisis yang melanda perekonomian bangsa seperti kenaikan pajak, BBM, kesempatran kerja kecil berimbas pada pengangguran. Hal itu disebabkan kontak praktek politik yang hanya berkutat pada idealisme demokrasi namun dapat dibahasakan sangat jauh panggang dari api, prinsip liberalisasi hadir yang diciptakan adalah kepentingan individu dan kelompok dengan diperkuat oleh intervensi Asing.
Semua yang dicita-citakan hanya sebuah retorika kenegaraan yang hanya menitik beratkan pada mainstream positivisme. Dengan dasar yang punya uang yang akan digerakkan. Menghancurkan nilai dalam sebuah tatanan masyarakat. Maka perombakan dari segala aspek kehidupan mulai digerakkan dalam mencandra sebuah lokalitas keindonesiaan yang perlu diselamatkan karena ketimpangan terus akan menimpa nasib negeri yang terlonta-lonta karena ideologi liberal asing terus menghinggapi dalam mainstream kita memandang kehidupan menjadi materialistik an sich. Bagaimana melawan globalisasi jika kerusakan di muka bumi terus berkelanjutan Atas keberhasilan neo- liberalisme ini.



REVOLUSI BUDAYA DAN KETERJEBKAN DALAM GELOMBANG MARKETISME MENIMBANG KESEJAHTERAAN BANGSA.
Dampak global yang ditunai dari globalisasi telah merambah berbagai segi kehidupan yang semakin hari semakin akut kondisinya. Kebijakan ekonomi dan politik telah dikuasai oleh lembaga donor internasional bahkan orang-orang lokal terjebak dengan ideologi ini. Yang kaya akan menjalin hubungan semakin mesra dengan konsep transnasionalisasi melupakan sebuah lokalitas nasional (Baca: kebangsaan) karena secara individu telah menguntungkan sepihak.
Kategori abstrak diatas telah menjebak negeri ini pada penguasaan negeri terhadap keuntungan pribadi atau kelompok yang terus mengatur negeri ini dengan berbagai kebijakan sanfat merugikan rakyat . kita dapat mengidentifikasi , sebagian pemerintah saat ini selain menjadi pejabat negara, mereka adalah pengusaha besar komprador (industri maupun sebagai pedagang), tuan-tuan tanah besar dan juga banyak dari mereka menjadi spekulan mata uang.
Kita dapat memetakan aktor-aktor pasar itu adalah Menteri KESRA Abu Rizal Bakrie adalah pemilik sejumlah Perusahaan, Perkebunan, konstruksi, pertambangan dan juga eksplorasi minyak besar. Demikian pula Yusuf Kalla. Dia menguasai perusahaan pelayaran,, pabrik semen, elektronika, konstruksi, pertambangan, dan tuan tanah besar yang menguasai konsesi sejumlah tanah dan perkebunan dan HPH. Sementara para menteri yang lain meperoleh pendapat tidak sah dari kebocoran proyek-proyek asing dan proyek yang mengada-ada yang tidak diperlukan rakyat seperti pembangunan jalan tol, dan lain-lain.
Sri Mulyani menteri perekonomian adalah bekas direktur IMF asia pasifik dan Bank Dunia, yang sangat pro terhadap kebijakan lembaga IMF dan Bank Dunia. Mereka orang-rang yang menguasai kebijakan perekonomian indonesia saat ini, bekerja dengan kawan dekatnya DPR, yang selalui senantiasa menyetujui kebijakannya.
Maka kategori miskin dalam lingkup lokal adalah meraka yang terjebak dalam lingkup struktual yang mencederai tradisi kemakmuran bangsa yang sebenarnya berdaya, budaya adat telah dihancurkan oleh sistem global yang berorientasi pasar itu semua yang sebenarnya dapat menolak keutuhan bangsa kita .
Kita mencoba keluar dari lingkaran setan penjajahan untuk merieview potensi yang ada di lokal bangsa kita., dengan mengembalikan maintream budaya yang ada dalam masyarakat kita, secara definisi budaya berarti Cipta, Rasa, Karsa manusia yang dapat diberdayakan secara lokal agar produk maupun budaya asing dapat terpetakan secara real apakah menguntungkan bangsa kita (Suryono Soekanto:1970). Kalau tidak menguntungkan mengapa mesti di bela keberadaanya? seperti imbas global budaya asing yang masih menghiasi. Corak Pasar, Stayle, Makanan, atapun liberalisasi BUMN ke Swasta, itu semua dampak global yang memakai sistem Marketisme yang kondisinya makin hari makin menyengsarakan rakyat. Tentu kebudayaan lokal semakin tergerus searah dengan pembangunan bangsa ataupun karakter bangsa yang unik yang telah melibatkan diri bergambung dengan kebudayaan global yang sangat eksploitatif pro liberal. Budaya gotong royong yang dimilki bangsa telah tergadai dengan budaya KKN yang tidak tebendung akibat maistream asing yang berdampak lokal. dimanapaun berada.
Budaya transfer nilai sudah tidak lagi menjadi panutan yang harus ditiru. melainkan hanya menawarkan konsep belaka dengan memakai jejaring market berwatak kapital liberal. Entah berwujud pesan agama atapun iklan ekonomis. Tokoh panutan sudah berbudaya asing liberal. Bukan lagi sebagai panutan ataupun memberi dalam masyarakat serta nguri-nguri budaya lokal yang harus dilestarikan dengan tidak terjebak pada mainstream pasar. Melainkan maintream bisnis atau market yang ada dalam benak mereka.. MARKETISME telah merasuki relung bangsa kita sehingga. kebangkitan memang harus dimulai dari sisi budaya yang arif yang dimulai dari lokal-lokal( daerah-daerah) keindonesiaan tentu untuk menjaga dari eksplorasi secara kebablasan.
Campur tangan lembaga transnasionalisasi dan Invisible Hand (Pro-asing) yang menjadi actor local telah merambah di berbagai instansi siap mengantarkan dari cara pandang individu yang bermain dalam local bangsa yang siap tergadai dengan perilaku destruktif yang membawa kepada keterbelakangan , kemiskinan , despotisme dan kebodohan sistemik. Hal itu berimbas pada terputusnya pada pembebasan misi kemanusiaan dan kerakyatan seperti tingkah korup dan rutinitas prosedur demokrasi yang hanya bersistem pasar . berpedoman pada mindset untung rugi dalam arti mengembangkan visi pasar itu sendiri.
Saatnya kita menyuarakan keagungan dalam perubahan sosial kebangsaan yaitu menyulut api revolusi, yang selama ini dimatikan oleh kaum neo-kapitalis, berwujud agamawan, Intelektual, Politisi, Ekonom, Lembaga Swadaya yang pro terhadap ideologi kapitalisme global. Mereka telah menjadi hamba kontra revolusioner. Jika kita memaknai revolusi sebagai anti thesis terhadap mainstream neo- kolonialis yang melanda pada negar-negara berkembang.
Term Revolusi dalam analisa social Negara berkembang dapat diterjemahkan dalam arti perubahan teknis yang hanya mendasarkan pada perubahan teknis semata. Melainkan mendasarkan pada teknis memindahkan dari institusi politik yang mapan yang tidak mampu menyalurkan saluran yang dituntut untuk mengakomodasi kelompok-kelompok social yang baru di dalam pemerintahan yang ada, atau kekuatan social baru yang sebelumnya secara langsung tidak terlibat terlibat dalam politik. kini memutuskan untuk berpartisipasi (Samuel P. Huntington:1968).
Bahkan Revolusi bisa berbalik ulang, Revolusi hanya berkembang pada periode bulan madu “Revolusioner”, yang mungkin melibatkan gelombang kritik dari kalangan moderat, aksi-aksi reaksioner dan anti revolusi, bermunculan kalangan radikal, suasana teror dan damai terjadi dan akhirnya pengahancuran lini salah satu masyarakat tidak menyentuh akar.
Bangsa kita telah kecologan aksi dari pihak yang dikecewakan secara sepihak. tidak integral dalam memahami masalah kebangsaan (baca: Keindonesiaan) Revolusi bukanlah mengulang pada Negara yang bertumpu gelombang materialisme sebagaimana yang terjadi di Rusia, Perancis, Jerman atau Rusia. Hendaknya Revolusi merupakan perlawanan atas kendaraan budaya modernitas menjadi budaya local yang arif yang mendasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan yang utuh sehingga secara bertahap perlawanan akan selalu disuarakan sehingga musuh-mush global dapat dipetakan dengan memahami nilai budaya dan lokalitas:
Pertama: Preferensi budaya manusia yang mampu menguasai bumi dengan menyingkirkan segala aspek ketuhanan dan finalitas dalam konteks pribumi masih mendasarkan kepada kepercayaan yang bersifat magic, finalitas. Budaya kapitalis neo-liberal, perlu dienyahkan semua karena budaya yang ada di bangsa kita bersifat transendental dan penuh nilai berbalik arah dengan budaya asing yang berideologi posifistik.
Kedua: Budaya dominasi pasar sebagi satu- satunya pengatur relasi, baik antar individu maupun antar bangsa dalam system ini, ketika individu adalah rival bagi yang lainnya, maka manusia serigala bagi manusia yang lain (Thomas Hobbes). Konteks Indonesia yang local yang masih menjunjung komunitas universal sejati. Dimana setiap anggota memiliki kesadaran untuk bertanggung jawab bagi nasib anggota yang lain. Dalam term kebangsaan ketika mengenal istilah gotong royong dengan semboyan berat sama dipikul , ringan sama dijinjing . mainstream lokalitas inilah yang perlu kita junjung tinggi.
Ketiga: Budaya dalam perspektif terhadap alam. Alam semesta bukan kita memandang sebagai sebuah kekayaan dan wadah yang statis, tetapi koleksi tanda-tanda (ayat) atau sebuah bahasa yang dengannya dapat berbicara kepada kita, dengan simpul jika kita memelihara dengan baik maka klestariannya akan terjaga. Dalam konteks local kita masih mempunya budaya sedekah bumi sebagai wujud pemeliharaan terhadap alam sekitar kita. Dalam bahasa agama menuntut untuk mepertanggungjawabkan dan menghargai alam serta membiarkannya berkembang. Budaya marketisme kontra pemikiran bahwa alam semesta hanya tempat akhir dari limbah yang dihasilkan dari produksi dan konsumsi manusia dan mainstream yang dibangun sangat eksplotatif. Descartes menyebut nya” Menjadi Tuan dan Pemilik alam.
Keempat: penyamaan persepsi bahwa masyarakat Indonesia lahir dari bangsa yang berbudaya. atau lahir dari local masing- masing suku yang perlu melibatkan dalam interaksi dan cara pandang untuk memiliki rasa “nasionalisme” penuh . magar dominasi global yang mengancam eksistensi lokal bdapat teresistensi dengan sikap-sikap local yang arif terhadap kediriaan bangsa tanpa terjebak pada primordialisme. Sempit. Namun menempatkan manusia pada tempatnya adalah yang tepenting, dihargai, dihormati, dimanusiakan bekerjasama, bersikap adal adalah suatu keniscayaan.
Imam Khomeini memberikan sinar harapan baru yang berkiblat pada revolusi Iran, revolusi akan terbangun jika tiga simpul saling menyatu dan berjalan secra sinergis: pertama: adalah kepemimpinan, massa rakyat, dan yang terakhir adalah doktrin islam dalam konteks keindonesiaan kita menterjemahkan dalam optimalisasi budaya-budaya yang berkembang di lokal keindonesiaan karena hal itu merupakan wujud perlawanan secara efektif.



UNIVERSALITAS ISLAM SEBAGAI PEMBANGUN PERADABAN MANUSIA SEPANJANG MASA
Islam hadir untuk memberikan kesejahteraan kepada alam, manusia dan landasan teologis kemanusiaan supaya terbebas dari penghambaan dari hamba kepada pencipta hamba. Dengan konsep ini tauhid sebagai landasan berideologi akan tercipta dan kehidupan akan berjalan secara seimbang. Semua itu akan tercipta ketika prinsip dakwah hadir dalam setiap kedirian kemanusiaan “amr ma’ruf nahi munkar” saling memberi masukan, pengertian ada dalam tatanan social sehingga dalam jangka masa waktu dimana dan kapanpun tercipta. Sehingga cita Baldah Thoyyibah Wa Rabbun Ghofur (negeri yang makmur sejahtera) akan terwujud.
HMI-MPO sebagai salah satu bagian elemen dari masyarakat akan memberikan sedikit pemikiran terhadap kondisi bangsa yang semaikin hari semakin terpuruk terjebak dalam mental “marketisme” yang sempit, terkotak pada individu dan kelompok, sehingga aksi apapun berdampak pada keuntungan ideology kapitalisme global yang semaikin hari semakin menyingkirkan ummat pada akar rumput budaya yang tercerabut dari nilai-nilai Islam yang diharapkan. Harapannya LK II (intermediate Training) menjadi tonggak untuk mengawali mencetak manusia utuh yang dapat memberi pengaruh pada penerapan nilai keadilan manusia. Yang paling utama memberikan manfaat kepada sekitarnya.

diplomasi wanita jawa


Dipolmasi Wanita Jawa

Afi'dah*


Ketika membincang persoalan kese-teraan gender, kebanyakan orang cenderung melihat Barat sebagai kiblat. Padahal di belahan Timur dunia, tak jauh di depan mata, banyak fenomena kesetaraan gender yang luput dari perhatian kita.
Di Asia saja, terdapat sederet nama yang menjadi pemimpin masyarakat. Entah itu presiden, perdana menteri, maupun yang menjadi menteri-menteri. Sebut saja diantaranya (alm.) Benazir Butho (Pakistan), Gloria Macapagal Arroyo (Filiphina) dan Megawati Soekarno Puteri (Indonesia). Nama-nama ini belum terhi-tung wanita-wanita yang menduduki jabatan penting di cabinet, legislative maupun organisasi social kemasya-rakatan. Dalam tulisan ini, penulis lebih cenderung menyebut "wanita" dan bukan "perempuan". Karena dalam falsafah Jawa, wanita mengandung kedalaman makna.
Wanita berarti wani ditata (berani diatur) dan juga berani bertapa (tirakat/-berani menderita). Potensi inilah yang menjadikan "wanita" memiliki derajat tinggi. Sementara perempuan sebatas memiliki makna yang berkonotasi pada biologis-seksualitas semata.


Kepemimpinan Wanita
Amerika yang dianggap sebagai "Negara percontohan" demokratisasi di dunia, belum pernah satu pun menem-patkan wanita sebagai presden (pemim-pin) Negara Paman Sam tersebut. Ini berbeda dengan Negara-negara (ber-kembang) yang justru lebih menghormati harkat dan martabat perempuan, de-ngan memberikan kesempatan yang sa-ma dalam kepemimpinan. Indonesia pernah seorang presiden berjenis kela-min wanita, yaitu Megawati Soekarno Puteri. Jauh sebe-lum Megawati, ada RA Kartini yang menjadi ikon feminis modern di Indonesia.
Di Pakistan, (alm.) Benazir Butho meski hidupnya berakhir dengan tragis karena ditembah oleh pembunuh gelap namun pernah menempatkan wanita meme-gang kendali pemerintahan di negeri tersebut. Hal sama terjadi di Filiphina. Dimana Gloria Macapagal Arroyo, alum-nus Harvard University ini, mampu menyi-ta perhatian public di sana, hingga akhir-nya dia pun dipercaya menjadi pemim-pin Negara.
Yang ingin penulis sampaikan di sini adalah, bahwa wanita itu bila diberi kesempatan yang sama dengan laki-laki, bisa berperan sebagaimana kaum Adam tersebut. Artinya, bahwa keseta-raan gender yang kita gembar-gembor-kan selama ini, sudah mencapai pada aras yang cukup menggem-birakan. Yang perlu dipertanykana justru Negara semacam Amerika Serikat. Di mana di alam demokrasi modern seperti sekarang ini, belum pernah satu pemim-pin wanita lahir di sana.


Wanita Jawa
Melihat fenomena wanita Jawa yang merupakan masyarakat Timur, adalah hal yang sangat menarik. Satu sisi, wanita Jawa sering dianggap tidak berdaya. Padahal di sisi lain, wanita Jawa mem-punyai peranan yang tak terperikan da-lam kepemimpinan, tidak hanya dalam realitas masyarakat modern sekarang ini, bahkan jauh sebelum Indonesia menjadi Negara merdeka.
Wanita Jawa yang sering disebut kanca wingking dalam tradisi budaya Jawa, dimana sebutan tersebut memiliki makna negative, yakni ketidakberda-yaan, tetapi wanita tertulis dalam tinta emas dalam sejarah baik pada zaman Majapahit maupun Mataram.
Anehnya, selama ini masyarakat masih memandang wajah wanita jawa dengan wajah ketertindasan. Kaum feminis umumnya melihat kultur Jawa tidak memberi ruang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.
Sementara dunia Barat, sekalipun masih mendapat mendapat protes dari kaum feminis, tetapi dianggap jauh lebih toleran dan memberi posisi yang baik bagi wanitanya.
Benarkah Barat lebih memberi posisi setara pada wanita, atau sebenarnya wanita sengaja dikondisikan untuk beker-ja, dimana dalam revolusi industri, untuk menekan modal karena upah wanita lebih murah.
Jika melihat relasi kuasa, wanita melayu (dalam konteks ini Asia Tenggara) tak terkecuali Jawa, terlihat bahwa kekua-saan bisa lahir dari ketakberdayaan.
Teori kontradiktif dikemukakan Fou-cault. Di mana dalam pandangannya, di dalam teori fisika juga dapat ditemukan teori metafisika, pun dalam puisi, dapat ditemukan dari rumus-rumus mate-matika.
Artinya, sesuatu itu bisa dihasilkan dari sesuatu yang kontradiktif. Dan realitas berbicara, di mana dalam kultur Jawa, sebagaimana riset yang dilakukan Ardhian Novianto dan christina Handayani terha-dap beberapa desa di Gunung Kidul, Yogyakarta, sebagaimana tertulis dalam buku yang diberi titel "Kuasa Wanita Jawa."
Dalam pandangan kedua peneliti tersebut, wanita Jawa tidak perlu menjadi maskulin untuk mendapatkan kekuasaan. Ia justru harus memanfaatkan watak feminis yang melekat padanya.
Kita bisa membuktikannya dengan melihat realitas terdekat, bahkan di rumah kita sendiri dengan melihat sosok Ibu, yang merupakan repesentasi wanita yang berperan nyata di area domestic sekaligus publik.
Banyaknya ibu-ibu yang berdagang di pasar atau membuka warung di rumah, yang menegaskan bahwa ia telah berperan dalam kegiatan pereko-nomian, yang tentu saja telah berperan di area publik karenanya. Inilah yang dimaksdu Diplomasi Wanita Jawa. Di mana dengan kekuatan akal-pikiran serta tenaganya, wanita mencari solusi atas problem-problem yang ada.
Sebuah pekerjaan yang maha berat. Karena selain itu, para wanita masih memiliki beban menjaga anak dan "mengabdi" kepada suaminya. Sebagai seorang ibu, wanita Jawa bukanlah sosok yang ambisius untuk mendapatkan kedudukan public tertentu. Melainkan ia memosisikan diri sebagai support untuk keberhasilan sang suami.
Mengedepankan rasa dan bukan emosi dalam menyelesaikan sebuah permasalahan, juga merupakan kelebihan yang belum tentu bisa dilakukan seorang laki-laki. Ini sekaligus menjadi penegas, bahwa wanita memiliki kecerdasan dan bisa mengelola sebuah persoalan dengan pikiran (kecerdasan) dan rasa tersebut.
Dengan berbagai hal di atas, rasanya tidak sesuatu yang berlebihan jika dikatakan bahwa wanita Jawa adalah wanita dengan segenap kelebihan yang harus diapresiasi karenanya. Bukankah demikian ?
*Aktif di Surat kabar mahasiswa "AMANAT" IAIN Walisongo Semarang

hilai dan ruyah



HILAL VS RU’YAH
Created By Muhadz Ali Jidzar*


Sabda Nabi SAW


الاختلاف امتي رحمة


''Perbedaan di antara ummatku adalah rahmat'' (Al-Hadits)


Imam Hanafi r.a berkata,


راءينا صواب يحتمل الخطاء وراءينا غيرنا خطاء يحتمل الصواب


“Pendapat kami benar, tapi bisa saja membawa kekeliruan, dan pen-dapat selain kami keliru, tapi bisa saja membawa kebenaran”.
Bulan Ramadhan merupakan bulan mulia. Demikian karenanya tersimpan rahasia besar berupa malam lailatul qadar yang merupakan malam yang lebih baik daripada 1000 bulan.
Setiap muslim dalam hal ini ten-tunya sangat mengharapkan akan ke-hadiran bulan Ramadhan tersebut. Ti-dak terkecuali tumbuhan bahkan he-wan sekalipun. Begitu berartinya bu-lan tersebut sehingga sampai setiap makhluk yang tunduk kepadaNya bersuka ria menyambut kedatangan bulan tersebut.
Bulan Ramadhan tentunya tidak terlepas dari bulan Syawwal yang mana dalam penanggalan Hijriyah ini diperlukan ketetapan untuk menen-tukan awal dan akhir Ramadhan, ser-ta penentuan awal Syawwal atau hari raya Idul Fitr.
Pada hari raya Idul Fitri 1429 H besok kemungkinan tidak akan terjadi perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan dan Syawwal. Jadi untuk bulan syawwal yang akan datang, kita dapat bersama-sama untuk meraya-kan hari raya bersama. Dari Muham-madiyah sendiri telah menetapkan bahwa awal syawwal jatuh pada tanggal 1 Oktober 2008. Berdasarkan Maklumat Nomor : 04/MLM/I.0/E/ 2008 tertanggal 26 Juli 2008. Jadi tinggal rukyatul hilal di tanggal 29 Ramadhannya. Dengan beberapa ar-gumentasi, yang pertama Jika semua sistem hisab sepakat menyatakan hi-lal masih di bawah ufuk, maka selalu hilal dilaporkan tidak terlihat. Kedua Jika semua sistem hisab sepakat menyatakan hilal sudah di atas ufuk, namun masih di bawah imkanur-rukyah 2 derajat, maka akan ikhtilaf. Seperti kasus Idul Fitri 1427 H yang akan datang, tinggi hilal Ahad Pahing, 22 Okt 2006 Cuma 00 54’, maka akan ada yang lebaran Senin Pon, 23 Okt, ada yang Selasa wage, 24 Okt 2006. Ketiga Jika ahli hisab tidak sepakat. Sebagian menyatakan hilal di atas ufuk, sebagian lainnya menyatakan dibawah ufuk, maka seringkali hilal dilaporkan terlihat. Kesaksian tersebut ditolak oleh yang berpendapat bahwa hilal masih di bawah ufuk. Namun ke-mungkinan jika tidak terjadi perbeda-an, maka yang dipakai adalah kaedah yang argumentasi yang ketiga.
Jika terjadi perbedaan, maka per-bedaan yang paling fundamen dapat terlihat dari penetapan awal bulan Ra-madhan dan Syawwal. ada yang hanya berpuasa 29 hari dan ada pula yang menggenapkannya menjadi 30 hari sesuai dengan manhaj dan metode dari masing - masing aliran.
Di Indonesia sendiri terdapat be-berapa aliran diantaranya, aliran hisab murni yang dipegang oleh Mu-hammadiyah, aliran rukyah fi wilayatul hukmi yang dipegang oleh Nahdlatul Ulama, aliran imkanur rukyah yang dipegang oleh pemerintah sendiri, aliran mazhab Kejawen dengan me-tode aboge dan asapon-nya, dan aliran rukyah global yang dipegang oleh golongan Hizbut Tahrir dan mungkin masih banyak yang lainnya. Dari beberapa aliran itu mempunyai cara dan manhaj yang berbeda- beda, sehingga dalam pelaksanaan ibadah puasa dan perayaan awal Syawwal pun berbeda pula.
Mengenai perbedaan itu sebenar-nya dilatarbelakangi terhadap pema-haman hadist Nabi SAW yang berbunyi


صوموا لرءيته وافطروا لرءيته فان غم عليه فاءستكمله ثلاثين يوما

“Berpuasalah jika melihat hilal. Jika tidak memungkinkan lengkapilah syakban menjadi tiga puluh hari”. (bukhari-muslim).
Selain dilatarbelakangi dari pema-haman hadist Nabi SAW juga didasari oleh kaedah rukyah atau kaedah hi-sab (falak) serta perbedaan dari segi memilih matla’ (tempat terbit anak bulan), dengan menggunakan kaedah satu dunia satu matla’ atau kaedah matla’ tempatan.
Dari beberapa aliran yang ada, terdapat dua aliran besar di Indonesia yaitu aliran hisab dan aliran rukyah. Yang mana dari antar aliran itu mempuyai idealisme yang berbeda pula. Dari perbedaan idealisme itulah yang kemudian memunculkan pendi-kotomian ilmu pengetahuan (falak) bahkan kalau saja sudah sampai puncaknya maka terjadilah primor-dialisme sempit antar kedua aliran tersebut. Seperti halnya yang pernah terjadi di tahun 2007 kemarin, dimana didalam sidang itsbat terjadi perde-batan hebat bahkan sampai berujung saling tuding melecehkan antar aliran.
Apakah dengan begitu, dapat menyelesaikan sengketa antar kedua kubu besar tersebut?. Apakah mereka tidak melihat ummat malah semakin dibuat menjadi bingung?. Bukannya bingung karena terjadi penetapan yang berbeda, akan tetapi yang dibingungkan mengapa egoisitas masih menyelimuti penetapan ter-sebut. Dan apakah mereka tidak mempertimbangkan problematika um-mat yang kian lama kian terpecah dan terkotak– kotak?.
Sebenarnya hisab dapat diartikan sebagai sebuah metode perhitungan yang diperoleh dari penalaran analitik dan empirik (rukyat). Sedang rukyat diartikan sebagai pengamatan sis-tematik didasarkan atas metode dan data hisab yang ada.
Dalam hal ini pemerintah mem-buat jalan tengah dengan mambuat konsep aliran baru yang dinamakan aliran imkanurrukyah yang berusaha menjembatani kedua aliran tersebut. Dengan tawaran konsepnya memper-hitungkan perhitungan yang akurat dalam hisab yang telah menunjukkan nilai derajat yang kemungkinan dapat di rukyah. Jika dalam praktek di la-pangannya tidak dapat dirukyah, maka keesokan harinya masuk tanggal satu pada bulan berikutnya.
Namun demikian aliran imkanur-rukyah yang menjadi penengahpun ki-ni juga dilanda polemik dan konflik ba-ru. Imkanurrukyah yang menjadi ba-dan otonom kemudian terinvensi dan terkooptasi oleh berbagai kepentingan yang berimbas pada politisasi agama. Ini disebabkan karena imkanurrukyah sendiri kurang konsekwen terhadap istbat yang ditetapkan. Diantaranya terdapat monopoli politik antar bebe-rapa kepentingan. Salah satu diantara yang menjadi buktinya adalah dari ke-pala departemen sendiri, yang mana jika kepala departemen itu NU dapat dipastikan penentuan istbatnya pada ekstrim NU, sebaliknya Muhamma-diyah. Yang lebih ironisnya lagi bah-
kan tidak menutup kemungkinan Imkanurrukyah menjadi bagian profit dan dikuasai para kaum pemilik mo-dal. Maka cepat atau lambat Islam pun dapat terbeli.
Selanjutnya bagaimana kita dalam bersikap? Begini salah, begitu salah. Aliran ini tidak mau toleran, sedang aliran yang lain saling menya-lahkan. Bahkan ada pula aliran yang lebih mengutamakan kepentingan pri-badi diatas golongan (umat). Dan akankah kita tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah?
Sebagai kaum muslim yang baik tentunya taat kepada pemerintah setelah taat kepada Allah SWT dan utusan-nya, sebagaimana disebutkan dalam al-Quran. Dan jika ada perselisihan, maka keputusannya di tangan pemerintah sesuai dengan kaidah


حكم الحاكم ءالزام ويرفع الخلاف

Oleh karena itulah bekal mempelajari ilmu ini sangat ditekankan bahkan diwajibkan bagi setiap muslim. Tidak hanya untuk mengetahui kapan dapat kita menjalankan puasa atau berlebaran saja, namun lebih daripada itu, semua hal yang berhubungan dengan ibadah dapat dipelajari dalam ilmu ini. Seperti halnya shalat lima waktu, arah kiblat, penentuan haji, zakat, gerhana, dan lain-lain.
Namun demikian, masyarakat harus tetap bersikap pruden dan selektif dalam mensikapi berbagai macam warna perbedaan yang melanda umat dewasa ini, dan tidak lupa semuanya pastilah dikembalikan kepada Allah dzat pemilik mayapada dengan landasan syara’ dan ilmu pengetahuan Nya yang telah dianugerahkan kepada kita semua.
Dan tentunya tidak terprovokasi oleh pihak maupun kepentingan manapun. Selanjutnya tinggal kepada keyakinan dan kepercayaan kita masing-masing dengan didasarkan bekal ilmu yang telah kita punyai dalam mensikapi beberapa perbedaan yang menjadikan kemelut umat. Dan yang paling penting tetap memegang teguh toleransi perbedaan istbat antar umat Islam.


*Muhadz Ali Jidzar
Ketua Umum Komisariat Syari’ah
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com