This is default featured slide 1 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 2 title

Foto Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 3 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 4 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 5 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

Tampilkan postingan dengan label Travel Journalism. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travel Journalism. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Februari 2014

STUDY BUDAYA SUNAN MURIA DALAM MASYARAKAT COLO MURIA

Bapak KH. Mastur, Ketua Dewan Pembina Yayasan Sunan Muria
 Kearifan lokal merupakan sikap dan kemampuan suatu komunitas di dalam mengelola lingkungan rohani dan jasmaninya. Hal ini memberikan pertumbuhan dan kemampuan dalam hal kelakuan dan adat istiadat yang mengakar baik di dalam kehidupan masyarakat Colo, Kudus.
Salah satu tradisi yang dibawa oleh Sunan Muria terhadap masyarakat Colo Muria adalah realitas budaya syukuran sebagai bentuk rasa syukur kepada alam dan Tuhannya dengan membawa ikan bakar, sambel teri, gudangan, dan saus pace yang secara masal dilaksanakan oleh masyarakat Colo Muria. Akan tetapi, budaya itu sampai saat ini sudah punah, entah karena pergeseran nilai-nilai budaya atau kehidupan moral.
Bukan hanya itu saja, setiap Hari Besar Islam tak luput Warga sekitar gunung Muria mengadakan sebuah acara yang dinamakan bancakan. Semacam acara tahunan yang bertujuan untuk menghormati dan mensyukuri apa yang ada di dunia ini, khususnya untuk masyarakat sekitar Sunan Muria. Ada pula Haul atau peringatan satu tahun masyarakat Muria yang ramai didatangi para peziarah baik di pasar maupun sekitar makam Sunan Muria.
Disamping itu pula tradisi yang masih berlaku pada saat ini dan masih menjadi kepercayaan desa Colo adalah masyarakat Colo khususnya tidak berani bekerja maupun ada kerjaan, hajat dan sebagainya pada hari Kamis Legi dan Jumat Pahing, karena konon hari tersebut merupakan hari istimewa bagi Sunan Muria yaitu hari dimana Sunan Muria melakukan sarasehan terhadap masyarakat dan hari dimana untuk melakukan pengajian.
Dan apabila masyarakat Colo ingin melakukan pekerjaannya maupun ada hajat tertentu, maka masyarakat Colo tersebut sebelumnya harus ziarah ke makam Sunan Muria dan melakukan selametan agar tidak mendapat balak maupun sesuatu yang tidak baik. Salah satu keberhasilan dakwah Sunan Muria sebagaimana para wali lainnya terletak pada kemampuannya memahami kondisi sosiologis masyarakatnya. Tradisi dan budaya yang dikembangkan oleh sunan muria kepada masyarakat Colo Muria masih terdapat unsur anamisme dan dinamisme yang amat kental sampai sekarang ini, dan menjadi kekayaan budaya dan kearifan lokal di tanah pertiwi ini.
Reporter: Mas’ud, Welas, dan Nurul Umi Makhmudah

Rabu, 29 Januari 2014

POTENSI ALAM DI SEKITAR MAKAM SUNAN MURIA


            Sunan Muria merupakan salah satu sunan yang ikut menyebarkan agama islam, khususnya di daerah kudus dan jawa tengah. Makam Sunan Muria ini terletak dipegunungan muria tepatnya di daerah kudus. Meskipun Sunan Muria sudah wafat, namun masih membawa rezeki dan karomah bagi para masyarakat sekitar dan para peziarah yang selalu datang berbondong-bondong dari berbagai daerah.
            Fenomena alam yang ada disekitar makam Sunan Muria menambah suasana pengunjung semakin ramai. Di sekitar Makam Sunan muria terdapat air terjun yang diberi nama air terjun monthel, air tiga rasa, dan juga terdapat  makam seorang Ulama besar yang konon katanya merupakan seorang Guru dari Sunan Muria yaitu Syeikh Sadzali.
Syekh Sadzali dahulu datang dari Arab, beliau merupakan salah seorang yang juga berkontribusi besar terhadap peperangan Sam Po Kong, yang memberikan wasilah kepada Sunan Muria sehingga memenangkan peperngan tersebut. Disekitar makampun terdapat banyak makam yang dahulunya merupakan pengikut Syekh Sadzali, diantaranya Syeh Ali Murtadha, dan Abu Sulam, Syeh Abdul Rohman dan masih banyak lagi.
            Keistimewaan yang diatawarkan bukan hanya sebatas sejarah dan unsure religiusitas, tetapi juga sterdapat keindahan alam yang begitu menakjubkan, yang memiliki nilai lebih tersendiri sehingga bisa dikatakan merupakan sebuah potensi yang perlu dikembangkan. Air Terjun Monthel, Air Tiga Rasa, merupakan beberapa tempat yang menjadi focus pembahasan kali ini. untuk menuju kesana hanya memerlukan waktu ± 2 jam ditempuh dengan berjalan kaki. Mari coba kita telaah secara seksama dan bersama.

Air Terjun Monthel
Air terjun Monthel terletak tidak jauh dengan makam Sunan Muria. Biasanya para peziarah setelah selesai berziarah ke makam Sunan Muria mereka tidak langsung pulang, akan tetapi menikmati suasana keindahan obyek wisata yang tidak jauh dengan Makam Sunan Muria. Air terjun Monthel merupakan salah satu obyek wisata tambahan yang berada di sekitar Makam Sunan Muria. Dengan adanya obyek wisata tersebut, para pengunjung dan para peziarah dapat melepaskan rasa capeknya setelah perjalanan yang sangat melelahkan, biasanya mereka menikmati air tejun montel dengan mandi di bawah air terjun atau hanya berfoto-foto untuk mengabadikan keindahanya.
Begitu sangat disayangkan ketika keindahan bisa kita peroleh dengan mudah dan murah tetapi kadar keindahannya berkurang untuk tiap tahunnya. Debit air yang di air terjun tersebut merupakan salah satu daya tarik pengunjung tiap tahunnya mengalami penurunan, apalagi di musim kemarau debit air Montel semakin sedikit dan bahkan hampir kering, ini sungguh ironis ditengah makin populernya air terjun montel sebagai salah satu tujuan wisata di kabupaten Kudus. Pembalakan liar dan alih fungsi hutan sebagai lahan pertanian disinyalir menjadi sebab atas fenomen ini. sehingga tidak menjadi hal yang mustahil jika pada tahun-tahun yang akan datang pesona keindahan alam air terjun montel tidak bisa dinikmati oleh genersi mendatang.

Air tiga rasa dan makam Syekh Sadzali beserta pengikutnya
Obyek wisata air tiga rasa, sebagai bagian dari situs rejenu peninggalan dari Syekh Sadzali menjadi daya tarik bagi pengunjung untuk mengunjungi obyek wista tersebut. Pada umumnya pengunjung meyakini bahwa air ini bermanfaat sebagai maun al syifa’ ( obat), maun al hayat (penghidupan atau keabadian) , maun ilmi (kepandaian), melamcarkan usaha dsb. Air tiga rasa ini bersumber dri tiga buah sendang yang memiliki rasa air yang berbeda-beda. Menurut kepercayaan pengunjung dan masyarakat sekitar rasa air tiga rasa tergantung akan amal ibadah orang yang meminumnya, dan terkadang rasanya berubah ubah. Sedangkan menurut kami yang menggunakan penelitian yang lebih ilmiah rasa air yang berbeda-beda ini disebabkan oleh tanaman-tanam obat yang ada disekitar ketiga sendang tersebut.
Obyek wisata air tiga rasa dan makam Syekh Sadzali terletak dibalik bukit air terjun Monthel. Suasana di obyek wisata tersebut tidak seramai Makam Sunan Muria, karena letaknya yang sangat jauh dan melewati jalan yang menanjak dan menurun. Sehingga para peziarah dan para pengunjung jarang yang datang untuk berziarah dan merasakan air tiga rasa. Dan mungkin dengan jarak yang jauh, para pengunjung tidak mengetahui jika dibalik bukit air terjun menthol terdapat sebuah makam dan air tiga rasa.
Peziarah yang datang di obyek wisata ini, setelah mereka melakukan ziarah ke makam Syekh Sadzali, biasanya mampir ketiga sendang yang tidak jauh dari makam. Mereka mencoba merasakan air dan membasuh wajah mereka dari sendang satu ke sendang lainya , karena ketiga tersebut mempunyai rasa yang berbeda dan kebanyakan mereka sengaja membawa botol dan mengisinya dengan air tiga rasa untuk dibawa pulang.
Namun amat disayangkan kondisi situs sejarah rejenu sudah mengalami banyak kerusakan , sisa-sisa peninggaln syekh sadzali dan pengikutnya seperti bekas pondasi bangunan, dan gerabah-gerabah seperti keramik dsb, sudah banyang hilang dan musnah.
Team Reporter (Potensi Alam)
Rinwantin, Edy, Ulil, Irna, dan Mas Tian PY.



Jumat, 24 Januari 2014

KONDISI DAN POTENSIAL SOSIAL EKONOMI KAWASAN SUNAN MURIA

Kawasan makam muria terletak didesa Colo, Kudus dengan potensi alam serta terdapat salah satu makam dari walisongo penyebar agama islam yang terkenal dijawa yang disebut dengan sunan muria, menjadikan kawasan ini menarik minat bagi para peziarah dan sekaligus sebagai objek wisata dimana terdapat keindahan air terjun montel.
Dengan adanya pemakaman sunan muria dan objek wisata air terjun montel, menjadikan desa Colo sebagai tempat ziarah dan kawasan wisata sehingga desa ini lebih produktif dalam hal ekonomi daripada desa-desa yang lain, karena sebagaian dari mereka bekerja sebagai pedagang dan tukang ojek. Dari profesi ini warga sekitar dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan kegiatan sosial dengan para pengunjung tidak hanya dalam kota tapi juga berasal dari luar kota kudus.
Berawal dari warung kopi depan pintu makam Sunan Muria yang kami sambangi, kami menemukan fakta menarik atas kawasan tersebut yang memang perlu untuk di ekspose lebih dalam. Obrolan kami mebahas tentang keberadaan pedagang yang ternyata diharuskan dari warga sekitar atau pendatang yang mukim lama di daerah itu. Meski pedagang adalah orang lokal namun untuk beberapa item barang yang dijual di daerah itu didatangkan dari kota lain, seperti; kerajinan ukir dari Bojonegoro, blangkon dari demak, batik dari pekalongan dan barang serta kota lainnya.
Medan jalan selain dimanfaatkan warga sekitar untuk mengantar peziarah ketempat ziarah juga dimanfaatkan sebagai tempat untuk berdagang. Adapun hasil alam yang paling banyak dijajakan oleh pedagang asongan dan warung-warung yang ada di sekitar tempat makam, diantaranya; pisang tanduk, alpukat, delima, jeruk bali, tales, ganyong, petai dan sirsak.
Semakin kami korek data dari mereka banyak hal yang akhirnya kami dapat dari sana, pedagang tersebut mengakui bahwa memang kawasan tersebut telah di atur sedemikian rupa oleh pihak yayasan sunan muria, sehingga tak dapat kami temui kesenjangan antar pedagang. Untuk menejemen para pedagang, yayasan memberi kewajiban kepada para pedagang dengan harga variatif, untuk warung seluas 2,5 x 4 meter yang kami kunjungi, pedagang warung makan dan snack mengaku dibebani harga Rp. 450ribu untuk sewa kios, sedangkan daerah dibawah kawasan merupakan hak milik pribadi hingga tidak ada biaya beban bagi mereka.
Untuk waktu dagang sendiri pedagang mengakui mulai membuka warung dari pagi hingga sekuat tenaga mereka, namun biasanya sampai sekitar jam 21.30wib mereka menututup warung. Apabila menuruti pengunjung maka pedagang dapat membuka warungnya selama 24jam. Dengan demikian pendapatan pedagang satu dengan yang lain berbeda karena dipengaruhi oleh jumlah pengunjung. Pengunjung meningkat terjadi pada saat hari libur dan hari besar keagamaan.
Lebih menariknya mereka mempunyai organisasi untuk pedagang kawasan tersebut, dari beberapa agenda mereka adalah ziarah bersama yang dilakukan rutin selama satu tahun sekali guna mempererat hubungan antar warga yang menjadi pedagang disana.

Reporter: Nafis, Ibnu, Anis

Jumat, 25 Oktober 2013

Merapi membawa HMI Komisariat FPBS semakin Solid



Travel Journalism By Koniatun (staff Lapmics)



Magelang – Bidang Bakat Minat HMI Komisariat FPBS IKIP PGRI Semarang mengadakan agenda muncak bareng ke Merapi pada pada Sabtu-Minggu (19-20/10/2013) yang berakhir dengan rasa solidaritas tinggi antar anggota.

Ketinggian puncak Merapi yang mencapai 2.968 m dpl , per 2006 ternyata tidak membuat gentar para anggota HMI untuk menjelajahi indahnya puncak Merapi. Agenda muncak bareng  yang memang menjadi agenda dari Bidang Bakat Minat HMI Komisariat FPBS ini mampu mengundang apresiasi dari anggota lain, sehingga agenda ini tidak hanya diramaikan oleh internal pengurus HMI Komisariat FPBS saja, namun juga diikuti oleh HMI Cabang Semarang, Lapmi Cabang Semarang, HMI Komisariat FPMIPA, Veteran, dan mahasiswa.

Demikian banyak yang berpartisipasi dalam kegiatan ini, tentunya suasana yang tercipta menjadi semakin meriah dan semangat. Medan yang cukup menantang serta cuaca yang kurang mendukung tidak menyurutkan semangat para pendaki. Problematika yang timbul ketika mendaki puncak Merapi justru membawa hikmah tersendiri bagi teman-teman HMI, yaitu bahwa hanya dengan rasa solidaritas tinggi yang melekat pada pribadi masing-masing anggota, kesusksesan dalam mencapai puncak Merapi akan dapat dinikmati bersama. “Tidak hanya untuk satu tapi semua”, demikian kata penulis. 
Fakta di atas tidak hanya menjadi dongeng penyejuk kalbu di kala merasa terpuruk, namun dapat dijadikan sebagai analogi dari tanda-tanda dari alam. Bahwa dalam ber-HMI tidak cukup hanya membangun niat, apalagi ambisi. Rasa kekeluargaan, saling bantu dan bahu yang lebih akrab dengan kata “solidaritas” merupakan harga yang tidak dapat di tawar lagi dalam pencapain dan tujuan dalam ber-HMI. Bagaimana hasil akhir nanti yang akan dipetik? Hal tersebut akan kembali pada pribadi masing-msing ketika menjalani. Dan akhirnya dari penulis mengatakan bahwa, “Mendaki puncak Merapi tidak hanya memberikan pengalaman akan indahnya alam, namun juga memberikan spirit untuk terus menjaga solidaritas demi tercapainya tujuan yang telah diidamkan”. (Andini)
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com