This is default featured slide 1 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 2 title

Foto Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 3 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 4 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 5 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

Kamis, 22 Januari 2009

STARTING POINT TOWARD A CHANGE


STARTING POINT TOWARD A CHANGE

oleh: Retno Aprillia*


One evidence which will never cheat is your life
Look for at neighbor’s garden which in flower
Surely, You never find it
Togetherness, sincerity in struggling, and sacrifice is indivisible matter

(Femyla As-Sa’diyah; 2008)
An endless change is how we act consciously and head for detected, survive and make a change is my first aim live here. Now, we are faced with the real common enemy and automatically we must be alert in this world. HMI conveys many values that can make somebody feel that this is their real life. Real evidence that we require to make a move is caused by a grind and injustice in all aspect. Every society own the values believed with. Dimiciling value in a society not only as life guide but also as meaning giver for charitable its member. Harmony value can differentiate which is there are in a society become a beautiful life panorama. Therefore, values is always viewed as vitally something even hold high by all member a society.
If we express our felling when join in this community, no words can be said. Students in University usually have different perception when look into the organization itself, even they don’t care about their responsibility. When we join with a community and association, firstly we have the same mission and goal of course, from that point I feel HMI is the suitable community of Islamic Students that can explore their capability in managing time, people, system, etc. But the basic thing that can build our awareness is our belief. Islam give the biggest contribution in human being QS. Ali Imron : 19

This verse tells that Islam is the best of life. Allah declares that Islam the perfect religion for Human being and the universe.
Ulil Albab as name that given for a human ask us to think and do with a reference. For example: We must know why we live in this world, what is our aim, and what should we do?? That questions must be answered by yourself of course with Tauhid perceptions. What a beautiful ISLAM it is. So, what will you wait for now. Let join us if you care and aware about your duty in this world as a human. Because a change never be done by yourself and now. Save struggling for Allah. Last but not least, I just want to say thank you for Allah that make us as family and please don’t separate us and gathered in the heaven Amin…Thanks for all Mujahid and Mujahidah in HMI Allah blesses you and your family. Yakin Usaha Sampai…..(femyla)


* Kader HMI FPBS IKIP PGRI Semarang

INSAN ULIL ALBAB: HARAPAN MASYARAKAT INTRNATIONAL


INSAN ULIL ALBAB: HARAPAN MASYARAKAT INTRNATIONAL

Oleh : Tasropi, S.Kel*


Era globalisasi selalu ditandai dengan keterbukaan dan arus informasiyang sebegitu cepat. Perubahan yang terjadi di suatu pelosok negeribisa diketahui oleh masyarakat dunia dalam hitungan waktu yang cepat.Hal ini dikarenakan perkembangan teknologi dan komunikasi sedemikianpesatnya. Dunia seakan berada pada satu "global village" yangmenghilangkan sekat-sekat antar negara. Ini terutama karenaperkembangan teknologi informasi telah menjadi konsumsi wajib bagiwarga dunia.

Hilangnya batas negara pun sangat dirasakan dalam bidangekonomi. Arus modal sedemikian liarnya merwambah ke seluruh pelosokdunia tanpa ada pengendali yang mampu memegang tali kekangnya. Liarnyaarus modal ini menjadikan masyarakat dunia berada pada 'rimba'pertarungan bebas, dimana yang kuat memakan yang lemah dan yang lemahseakan semakin lemah tinggal menunggu seleksi alam untuk disingkirkan,seakan membenarkan teori Darwin tentang "survival of the fittest".Bayangkan saja pendapatan seorang terkaya di dunia bisa mengalahkanpendapatan satu negara miskin. Hingga hiperinflasi yang terjadi diZimbabwe seakan peristiwa yang tak terlalu mengejutkan, sepotong rotidi Zimbabwe bisa seharga 10 Miliyar Dolar Zimbabwe (10.000.000.000,-ZWD).

Liarnya arus modal asing dan pertukaran mata uang yangspekulatif memungkinkan terjadinya fenomena tragis ini.Adanya fenomena semacam ini, bukanlah suatu kejadian yang berdirisendiri. Masih banyak fenomena-fenomena lain yang seakan mengundangtanya "Ada Apa Dengan Dunia?". Jika kita mau melihat lebih jernih adaapa di balik fenomena-fenomena itu, kita akan menemukan neumena yangsebenarnya. Kita mungkin bisa mengatakan ini akibat "paradigma duniayang menyesatkan". Dus.

Kapitalisme selalu menjadi lakon utama dalamkita membincangkan masalah dunia. Wjah dunia bagaimana pun akan tetapberubah, tapi perubahan itu yang mesti kita control. Jangan samapiperubahan yang terjadi semakin menempatkan manusia pada jurangkehancurannya, dehumanisasi. Manusia seakan bukan lagi manusia, disatu sisi dia berlaku seperti robot, yang hanya deprogram untukmenjadi sekrup-sekrup system superindustri global, di sisi lainmanusia berlaku seperti hewan yang bersaing satu sama lain tanpamemperhatikan nilai-nilai kemanusiannya. Akibatnya terjadi dekadensimoral, hilangnya nilai etika dan simulacra wujud manusia. Dimanamanusia akan kehilangan jati dirinya.

Dunia tak slamanya suram selama masih ada orang-orang yang memikirkannasibnya dan berusaha menubahnya kearah yang lebih baik. Keresahan iniakan melanda kaum intelektual di manapun di seluruh dunia. Orang-oranginilah yang diharapkan sebagai "creative minority" dalam memberikansolusi alternative untuk menjawab persoalan yang dihadapi olehmasyarakat dunia saat ini. Dalam terminology Al Quran inilahorang-orang yang disebut sebagai Ulil Albab, orang yang selalu resahmemikirkan nasib dunia dan seisinya.

Dunia dalam masa globalisasi inisemuanya serba global, ada kapitalisme global, pemanasan global,informasi global, krisis keuangan global dan lain-lain. Intinya segalasesuatu sifatnya bisa menjadi global, oleh karenanya akan dirasakanakibatnya oleh masyarakat di seluruh dunia. Seperti krisis keuanganglobal saat ini, yang semula hanya sejumlah kecilperusahaan-perusahaan besar di Amerika ternyata berimbas juga keEropa, Afrika dan Asia. T

entu Indonesia termasuk negara yang beradadalam keresahan ini, sampai-sampai harus mengemis kembali ke IMF danWorld Bank.Kembali ke Ulil Albab, terminology yang menjadi jargon kebanggan HMI.Karakter cita ideal yang ingin dicapai untuk kader-kadernya. Tentunyaharus melalui usaha yang sungguh-sungguh untuk mencapainya, sehinggakarakter : mujahid, muabid, mujadid, mujtahid dan mubaligh bukansesuatu yang utopis dan hanya bisa dicapai di alam mimpi.Karakter-karakter itu memang suatu yang normative dan perluinterpretasi yang rigid untuk bisa menjadi sesuatu yang fungsional.

Maksudnya karakter-karakter itu diejowantahkan oleh kader dalampribadi yang dinamis dan bisa menjawab persoalan apapun yang menjaditanggung jawabnya. Tentu ini perlu penafsiran cerdas untuk bisamenjawab persoalan kontemporer yang dihadapi manusia (masyarakatinternasional) saat ini, jika terminology ulil albab ini memangdimaksudkan ke arah sana. Misalnya mujahid kita artikan sebagaipribadi yang berani dan berintegritas, muabid pribadi yangberdedikasi, mujadid pribadi yang inovatif, mujtahid pribadi yangsolutif, dan mubaligh adalah pribadi yang dinamis dan progresif.

Oleh karena terminology ulil albab bersumber dari istilah "berbau"agama maka unsur utama pembangun karakter ini adalah keberimanan.Dimana unsur keberanian, inofvasi dan daya kritis semua bersumber danbermuara pada keberimanan itu sendiri. Segala sesuatunya mestidipertanggung jawabkan kepada Tuhan.Melihat persoalan dunia yang kita hadapi saat ini dengan kondisi HMIyang juga menhadapi berbagai macam persoalan terutama internalnya,memang bukan perkara mudah untuk mencapai "cita-cita suci" ini. Olehkarenanya kita mentasbihkan diri sebai organisasi perjuangan danperkaderan. Dinamakan perjuangan karena hal yang ingin dicapai masihterlalu jauh dan dikatakan perkaderan karena mesti ada orang-orangyang mesti kita didik, kita persiapkan dan kita arahkan untuk mencapaicita-cita ini. Ulil albab adalah 'man of the future' yang akanmenjawab persoalan-persoalan saat ini dengan melihat jauh ke depan,bukan melulu berorientasi pada masa lalu (romantisme) dan berkeluhkesah dengan apa yang dihadapi saat ini (pragmatisme). Kejayaan masalalu boleh kita anggap sebagai pemacu semangat bukan tujuan dan masakini sebagai modal dalam mengahadapi persoalan di masa depan.

Selalu saja menjadi sorotan bahwa HMI mendidik orang menjadi pemimpinyang berorientasi pada kekuasaan. Libido politik memang selalumenggiurkan dan banyak orang yangterjebak di dalamnya. Akan tetapikeinginan untuk berada pada inner circle kekuasaan, tanpa ditopangkemampuan yang mumpuni dan integritas moral yang cukup hanya akanmenjadikan lahirnya pemimpin-pemimpin yang menopang peradaban rapuhini. Lebih baik menajadi pemimpi, jika mimpinya adalah mengubahperadaban daripada menjadi pemimpin tapi menopang peradaban kapitalisdan hanya menjadi sekrup-sekrup dari system global yang ada.Ulil albab mungkin hanya akan berperan layaknya sebongkah batu yangakan menjadi pondasi bagi peradaban masa depan, atau juga sebutirpasir yang menyusun tembok peradaban Tauhid (Islami) bagi kehidupanmanusia yang akan datang. Maka "The End of Capitalisme" bukan teriakanpepesan kosong orang-orang yang sedang ngelindur.
* Ketua Korp Pengader Cabang (KPC) HMI Cabang Semarang 2007-2008

Percayalah, kamu bisa berubah


Percayalah, kamu bisa berubah

Oleh: Naning Hidayah*


Manusia memang unik dengan keunikannya sendiri-sendiri. Ada yang tinggi, pendek, berpostur besar, kurus, berkulit putih, hitam, ada yang pintar, cerdas, ada yang sabar, pemarah, penyayang dan macam-macam lainnya. Tapi satu hal yang pasti, manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tak ada yang sempurna. Mungkin, hampir semua dari kita sepakat akan hal tersebut. Nah, aku ingin bercerita tentang satu hal itu.
Terkadang, seringkali aku dengar ungkapan "Aku ya….orangnya begini. Gak bisa dirubah.". Bahkan tak jarang ditambah dengan "ini sudah bawaan,", "sudah dari sananya" atau "watakku sudah begini". Ya. Kita semua memang memiliki kekurangan. Tapi parah dan fatal akibatnya jika muncul ungkapan-ungkapan seperti diatas. Sebuah bentuk kepasrahan, takdir dan cap negatif atas diri kita sendiri. Memang sih, tiap manusia punya watak yang berbeda-beda tetapi kalau sudah pasrah, berhubungan dengan takdir maka itu bukan perkara sepele karena menyangkut Tuhan-seperti lagu Desi Ratnasari yang bermasalah dan disensor karena menyebut takdir-.
Allah SWT menciptakan manusia dengan sebaik-baik ciptaan. Artinya bahwa fitrah yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah sebuah potensi kesucian yang akan semakin membawa manusia dekat kepada Sang Kudus. Jika ternyata muncul sifat buruk dalam diri manusia pastinya bukan merupakan takdir dari Allah yang artinya bisa dirubah dan diperbaiki.
Persoalannya adalah pertama, apakah dia menyadari sifat buruknya tersebut dan kedua apakah dia sudah berusaha merubahnya. Sebab, tidak jarang juga ada orang yang menyadari tetapi menganggap sifat tersebut sebagai sesuatu yang forgiven. Sehingga muncul ungkapan-ungkapan seperti diatas. Watakku memang begini. Titik. Dan dampak yang luas lagi kalau sudah menyangkut jamaah, masyarakat, teman. Kita bias dibuat "makan hati" dengannya.
Kesempurnaan hanya milik Allah, Kata Dorce. Tidak ada manusia yang sempurna koq. So, kita gak usah pesimis dan pasrah dengan keadaan. Orang yang sudah berusaha meskipun gagal, lebih baik daripada orang yang tidak berusaha sama sekali.

* Saat ini tercatat sebagai pengurus Korp Pengader Nasional (KPN) PB HMI

Jumat, 16 Januari 2009

HIJRAH DAN PERUBAHAN DIRI*


HIJRAH DAN PERUBAHAN DIRI*


Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi Ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh Telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (An-Nisa: 100)


Hijrah merupakan moment monumental yang digoreskan Nabi Muhammad. Hijrah secara etimologi berasal darai kata “hajara” yang memiliki arti menghindar atau berpisah. Sedangkan secara trimonologi memiliki makna sebuah peristiwa besar yang dilakukan Nabi Muhammad berupa perjalanan dari Makkah ke Madinah (dulu ”Yatsrib”). Perjalanan yang dimaksud disini merupakan perpisahan peradaban di Makkah yang banyak fitnah dan kebohongan, perpisahan ini untuk mengihindari hal yang buruk, tidak benar, dan segala hal yang tidak di ridhoi Allah.
Kota Yatsrib menjadi tujuan hijrah dikarenakan masyarakatnya yang memiliki toleransi dan menghargai kaum lain. Dalam perjalanan menuju Madinah, kemudian Nabi, Sahabat dan Rombongan ditolong penduduk setempat. Sikap penolong penduduk Madinah inilah yang kemudian masyarakatnya disebut dengan ”kaum anshar” (penolong). Dari pertolongan inilah kemudian mereka yang selalu berpegang teguh kepada tali Allah menjalin persaudaraan Islam (ukhuwah islamiyyah). Rasa persaudaraan Islam inilah yang semakin menguatkan posisi Islam pada saat itu, melalui rasa saling memiliki dan tanggung jawab kemudian dibangunlah benteng Islam dan peradaban baru. Dari pembengungan peradaban tersebut Yatsrib menjadi peradaban maju, yang kemudian nama Yatsrib diganti menjadi Madinah yang berarti ”kota”. Perubahan ini yang menjadi dasar konsep peradaban tamadun atau masyarakat madani (civiel society).
Di sebutkan pada ayat diatas bahwa hijrah dijalan Allah memiliki makna perpisahan untuk menjadi yang lebih baik. Dalam artian diarus globalisasi yang sudah tidak terbendung ini, kita dituntut untuk melakukan hijrah dalam menjauhi segala perbuatan yang dilarang baik berupa kemungkaran dan kemaksiatan. Sebab Allah telah melimpahkan disetiap perjalanan untuk melakukan hijrah berupa rizki yang terbentang di bumi. Hal ini mengisyaratkan bahwa ketika kita melakukan hijrah, Allah selalu memberikan kita pencerahan baik berupa rizki maupun limpahan rahmat dan nikmat.
Bahkan barangsiapa mati dalam melakukan hijrah maka Allah telah menganugerahkan dia pahala dan tentunya aroma surga akan menyegarkan seluruh tubuhnya. Hijrah dapat pula mengandung isyarat untuk melakukan perjalanan menuju ”jihad fi’sabilillah”, berpisah dengan sesuatu yang tidak di ridhoi dan berjuang atau berperang melawan hawa nafsu ketamakan, keserakahan dan kejahiliyahan.
Hijrah juga berarti pindah dari suatu tempat ke tempat yang lebih baik yang memberikan jaminan kebahagiaan dan keselamatan. Dalam peristiwa hijrah Nabi Muhammad mengisyaratkan perubahan yang lebih baik. Bahkan sebelum peristiwa hijrah ini, ada satu kisah dari Ashabul Khafi dalam melaukan hijrah yaitu upaya menghindar dari penguasa yang zalim. Kemudian Allah menyelamatkanya menuju gua dan ditidurkannya para Askabul Uhudu tersebut bersama seekor anjing yang selalu menemani perjalannya.
Dari sedikit uraian diatas dapat ditarik sedikit pengertian bahwa hijrah bukan berarti suatu peristiwa yang hanya dilakukan pada masa itu akan tetapi hijrah juga dapat dilakukan di era sekarang seperti halnya peristiwa Ashabul khafi.
Melihat kenyataan zaman modern ini telah banyak ketimpangan dan kejahiliyahan baru, maka kita dituntut untuk melakukan hijrah. Bahkan dalam hijrah tersebut kita ada tuntutan membangun startegi untuk bekal jihad yaitu perubahan menjadi yang lebih berarti dan bermakna.
Marilah kita bermuhasabah dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad ini dengan sedikit mendalami makna yang tersembunyi. Kita bisa melakukan hijrah pada detik ini; pertama, hijrah aqliyah (akal) yaitu berusaha untuk berfikir maju (progresif) sebab perubahan zaman yang begitu cepat dengan kecangihan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut umat Islam untuk selalu berproses menjadi yang terdeparn dalam setiap bidang. Kedua, hijrah nafsiyah (nafsu diri) melalui perubahan yang terus berkelanjutan dari perbuatan yang tidak baik menjadi baik, tidak berarti menjadi berarti. Selalu mengasah emosional dengan berperilaku dan bersikap sesuai ajaran Islam dan memperkaya spiritual dengan mendekatkan diri dan bersujud ke pangkuan-Nya. Ketiga, hijrah amaliyah (perbuatan) yaitu dengan melaksanakan hal-hal yang diperintahkan syariat dan selalu melakukan amal shalih.
Melalui perubahan diri menuju hijrah yang di ridhoi inilah akan dibukakan pintu rahmat. Setelah membekali diri dengan hijrah ada tuntutan berupa jihad yaitu dengan memberikan tauladan hijrah kepada keluarga, kerabat, dan lingkungan masyarakat. Melalui ketauladanan tersebut akan terbangun kesadaran diri menuju kesadaran kolektif yang pada akhirnya tumbuh ”ukhuwah islamiyyah” yaitu menuju masyarakat madani atau peradaban yang di ridhoi Allah. Amin

Waktu Subuh, 29/12/08 atau tepat 1 Hijriyah 1430
* Skretaris LAPMI dan Direktur Sanggar ILCI

Puisi cah Gemblung HMI semarang


Selingkuh malam*
Hai…sedang apa di tengah malam begini
Rumput dan batu berzikir memujanya
Lha...kamu sendiri kenapa tertunduk
Di bahtera lautan hempasan gelombang angin
Kau belum menjawab pertanyaanku
Kenapa kau balik tanya kepadaku
Atau...
Akhiri saja episode ini
Anggap aja semua ini tak pernah terjadi
Enak saja kau akhiri
Padahal aku baru memulai
Selingkuh ditengah malam seperti ini
Ingat...
Jangan bilang siapa...siapa!
Ini rahasia antara kau dan aku
Aku ingin melebur dengan nafasmu
Aku ingin menyatu bersama malammu
16/12/08

Tambah Bingung
Mata kau bilang hidung
Hidung kau sebut mulut
Tangan kau angap kaki
Air liur kau namakan darah
Rambut kau jadikan jangut
Aku semakin bingung
Atau...terserah kamu saja
Pikiranmu teralalu cerdas untukku
Sampai tak tahu mana yang benar
Aku tambah bingung
Tapi...itu semua keinginanmu
Perilakumu sangat menyimpang dariku
Tak tahu mana yang baik
Aku tak habis pikir
Masih saja ada orang sepertimu
Atau aku yang tak tahu
Atau kamu yang tak punya malu
16/12/08

* Direktur Sanggar ILCI

Kamis, 15 Januari 2009

NEW SPIRIT IN 1430 H

Hijrah di Tahun Baru

Telah berlalu tahun 1429 H dan selamat datang tahun baru 1430 H. Tahun baru Islam 1430 H ini lebih awal dari tahun baru masehi. Namun, sadarkah kita akan hal ini. Mungkin penyambutan tahun baru islam tidak semeriah dan gegap gempita seperti tahun baru masehi. Karena dalam Islam sendiri pun tidak mengajarkan sesuatu yang berlebih-lebihan. Akan tetapi, apa yang bisa kita maknai dari pergantian tahun? Mungkin saja sebagian dari umat Islam tidak begitu “ngeh” (baca: peduli) dengan pergantian tahun baru umatnya (hijriyah). Beberapa agenda besar telah dipersiapkan dan beberapa pesta kembang api pun telah siap dilaksanakan dalam penyambutan tahun baru masehi. Astagfurillahaladzim. Penyambutan sesuatu secara berlebihan tidaklah membawa madharat kemungkinan mudhorotnya juga semakin besar.

Di sebagian besar kota, pusat-pusat kota telah dipadati banyak orang yang menunggu pergantian malam tahun baru masehi dengan berbagai kegiatan lainnya seperti konser musik. Tapi ingatkah kita ketika malam pergantian tahun Hijriyah???

Apa yang kita lakukan? Ingatkah kita atas keAgunganNya? Sadarkah kita atas kesengsaraan dan ketidakadilan yang menimpa saudara-saudara lainnya (muslim)? Di luar sana masih banyak rakyat kecil yang kekurangan, kelaparan bahkan tertindas. Daripada kita mengadakan pesta pora kenapa tidak kita perbantukan saja alokasi dana itu untuk mereka yang membutuhkan. Atau kita adakan kegiatan lain yang lebih bersifat social sehingga kebahagiaan pun bisa dirasakan rakyat kecil. Berapa puluh juta yang dianggarkan untuk pengadaan sebuah konser musik? Alokasi dana tersebut lebih diharapkan bagi mereka golongan ELIT (baca : Ekonomi Sulit). Krisis global yang menghadang dunia semakin mencekik leher rakyat kecil untuk mampu bertahan hidup. Harga barang logistic mahal, bahan bakar yang mahal dan semakin sulit di dapat karena permainan para tengkulak. Para petani yang kesusahan mendapat pupuk, dengan harga mahal pula. Tergugahkah kita dengan segala fenomena semua ini?

Tahun baru mari kita maknai sebagai hijrah. Sebagaimana kita runut tentang penanggalan Islam (Hijriyah). Ada peristiwa apa di jaman Rasulullah dan para sahabat dulu. Bulan muharram adalah bulan pertama penanggalan Islam (Hijriyah). Di tetapkan pertama kali oleh Khalifah Umar Ibnu Al-Khattab atas saran menantu Rasulullah SAW, Imam Ali Bin Abi Thalib. Nabi Muhammad SAW sendiri atas perkenaan Allah dalam firmanNya menetapkan bahwa bulan Muharram salah satu dari bulan mulia (Rajab, Dzulqoidah, Dzulhijjah, Muharram). Dan didalamnya dilarang untuk melakukan peperangan dan tindak kekerasan lainnya walaupun kemudian beberapa ulama memansukh kan bahwa telah terjadi banyak pembantaian dan peperangan di bulan ini. Seperti halnya pembantaian atas diri Imam Huseyn Bin Ali di Padang Karbala, 10 Muharram, 61 Hijriyah. Rasulullah SAW juga menetapkan bahwa bulan Muharram adalah bulannya Allah (shahrulLah) dan merupakan bulan mulia sesudah Ramadhan.

Sebagai umat Islam, sepatutnya kita menyambut pergantian tahun yang ditentukan Allah SWT sebagai tahun yang dipakai dalam penentuan waktu dalam menjalankan syariat Islam. Cara memperingati tahun baru seperti halnya yang di sabdakan Rasulullah SAW : “Barangsiapa yang berpuasa sehari di akhir bulan Dzulhijjah, dan puasa sehari pada bulan Muharram, maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa”. Dan Allah SWT menjadikannya kaffarat / tertutup dosanya selama 50 tahun.

Pada awal tahun hijriyah itulah, diawali dengan hijrahya Nabi Muhammad SAW beserta para sabiqulan awwalun dari kota Mekkah ke kota Madinah. Itulah tonggak sejarah Islam, umat Islam dicanangkan ke seluruh dunia. Jika di kontekkan saat ini, hijrah tidak hanya dimaknai secara fisik, tapi bagaimana kita berhijrah dari jahiliyah kepada islam, kufur kepada iman, lemah kepada kuat, sesat kepada kebenaran, kegelapan kepada cahaya, dosa kepada pahala, mundur kepada maju. Untuk memaknai hijrah secara ruh, marilah kita melakukan hijrah secara kaffah atau totalitas dalam semua aspek kehidupan. Sebagaimana kita ketahui, hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah telah membawa perubahan besar terhadap peradaban manusia, dari jaman jahiliyah ke jaman madaniah dengan naungan Cahaya Illahi Robbi. Nabi melakukan perubahan yang fundamental dari kehidupan yang tidak memiliki peradaban kearah kehidupan yang penuh rahmat ampunan dan kasih sayang.

Kita bisa meneruskan teladan dari Rasulullah yaitu senantiasa membangun peradaban baru di masa yang akan datang. Kita dapat belajar dari beliau yang membangun peradaban dari tataran individual menuju tataran social yang lebih baik. Pada tataran individual, beliau menegakkan hakidah nafsiah ke dalam diri setiap insan. Hal ini dapat dimaknai bahwa segala sesuatu yang kita rencanakan untuk berubah justru dimulai dari melakukan perubahan terhadap diri sendiri . Perubahan yang kemudian meluas membangun sebuah komitmen bersama dalam mewujudkan masyarakat yang madani.

Muhammad SAW tidak hanya sukses membangun peradaban baru Islam, tetapi juga mampu mengkombinasikan unsur sekuler dan agama dalam racikan peradaban Madina. Tentunya semangat hijrah, bisa menjadikan semangat umat islam untuk memulai sejarahnya pada detik ini dan masa selanjutnya. Sehingga makna hijriyah harus bisa terinternalisasi dalam diri kita dan diolah menjadi sikap yang luhur dan dinamis dalam menata masa depan yang lebih baik. Sekiranya Bangsa Indonesia bisa memaknai hijrah secara maknawi, Indonesia butuh semangat hijrah dari kemerosotan ekonomi, politik, social dan hukum menuju peradaban yang mencerahkan. Peradaban yang lebih menjamin kesejahteraan masyarakat, keterbukaan dan penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Kita bisa menuju perubahan yang subtantif dengan menuju masyarakat yang berkeadaban. Untuk menuju perubahan yang diharapkan, sudah semestinya semua pihak yaitu pemerintah dan masyarakat bersama-sama menata diri dengan kesadaran pribadi bahwa diluar sana masih ada orang lain. Dan orang lain itu belum semuanya sejahtera, kepedulian terhadap sesama bisa mengangkat derajat mereka menjadi lebih layak. Semoga kita bagian dari perubahan itu sendiri. Wallahu’alam. ( L15 D)

Sabtu, 10 Januari 2009

RAPAT ANGGOTA KOMISARIAT (rak) UNESS

RAPAT ANGGOTA KOMISARIAT (rak) UNESS

Hari: Sabtu
Tanggal: 10 Januari 2008
Di Semarang

HMI FPBS BEDAH FILM

Tanggal 10 Januari 2009

HMI FPBS ada "BEDAH FILM"

Sabtu, 03 Januari 2009

Generasi Baru Muhammad


SYUKUR ALHAMDULILLAH ATAS KELAHRIAN PUTRA PERTAMA
(2 Januari 2009)
Dari pasangan Kanda Iqbal dan Yunda Tatik.

Semoga menjadi anak yang sholeh berbakti untuk bangsa, Negara dan masyarakat serta kedua orang tuanya
Menjadi penerang di batera rumah tangga yang penuh barokah, mawwadah wa raohmah.

Generasi Muhammad
Bukan kau
Karena dosa
Tidak pula sebab noda
Adam dan Hawa bercinta
Di antara rerimbun pohon khuldi di surga

Benar kau
Khalifah di bumi
Pikul amanah kemakmuran
Yusuf dan Zhulaikhah merindu
Di kerajaan kasih penuh melati cinta

Salah kau
Para thaqhut
Buat rusak tumpah darah
Ali dan Fatimah Az-Zahra mengeja
Di tapak kaki mengejar jejaknya

Salam untuk yang bukan, benar atau salah
Para pembimbing ajarkan cinta di hatinya Adam, Yusuf dan Ali
Di semesta syahadatkan tulisan berbingkai gugusan bintang
Selamat datang generasi Muhammad terlahir penuh semangat
Setiap kedip mata dan helaan nafas menjadi saksi perjuanganmu
02/01/09 (23.33 WIB)

Seminar Nasional pendidikan. HMI kom FPBS IKIP PGRI Semarang


SEMINAR NASIONAL
Membincang Solusi Alternatif Terhadap Hegemoni Kapitalisme Pendidikan


Pelaksanaannya:
Hari/tanggal : Senin, 5 Januari 2009
Waktu : 08.00 – 12.00 WIB
Tempat : Ruang Seminar IKIP PGRI Semarang


Pemateri :
Prof. Dr. Abu Su’ud (Pakar Pendidikan)
Iqbal Wibisono (DPRD Komisi E)
Sindi Setiyadi (Ketua Senat IKIP PGRI Semarang)


Hanya Rp. 10.000, 00 dapatkan fasilitasnya :
Sertifikat
Snack
Blocknote
Stiker
Wawasan ilmu dan ruang yang nyaman


CP :
Akrom (085290549799)
Retno (085640448563)
Syaiful (08995927886)


Presented By :
HMI Komisariat FPBS IKIP PGRI Semarang
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com