This is default featured slide 1 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 2 title

Foto Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 3 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 4 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 5 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

Minggu, 01 Maret 2009

Data-data kebangkrutan Indonesia


Sumber. www.wawasan.com

Lukman Wibowo:
dosen dan peneliti di
AKP Widya Buana
KITA telah meninggalkan tahun 2008 dan memasuki tahun 2009. Selama tahun 2008 banyak hal yang sudah dilakukan pemerintah. Selama itu pula, masyarakat harap-harap cemas menanti gebrakan perubahan yang lebih produktif ketimbang tahuntahun sebelumnya. Sayangnya, kita tetap saja kecewa dengan hasil kerja dari para penyelenggara negara.

Memang harus diakui ada beberapa kemajuan yang telah diperoleh, namun masalah-masalah klasik di sejumlah sektoral masih menguak keprihatinan yang mendalam. Kita dapat merefleksikan berbagai persoalan kenegaraan yang bakal kita hadapi ulang di tahun ini; bahkan tantangannya kian berat.

Kerawanan pangan
Indonesia masih menghadapi krisis pangan. Krisis, dalam arti terus meningkatnya ketergantungan pada impor. Hal ini ditandai dengan suplai dan harga sembako yang kian mahal. Akibatnya, prahara rawan pangan merebak di berbagai daerah.

Besarnya poin krisis memiliki korelasi dengan banyaknya penduduk yang mengalami kerawanan pangan. Tahun lalu, jumlah penduduk miskin sebesar 16,6% dari 217 juta penduduk (data BPS). Jika mengggunakan standar Bank Dunia, orang miskin di Indonesia berjumlah 110 juta jiwa (50%).

Pertanian tidak menyejahterakan petani. Data BPS menunjukkan, pertumbuhan sektor pertanian dari 4,1 % pada 2004 menjadi 3,0 % pada awal 2008. Pangsa PDB pertanian menurun dari 15,5% pada 2004 menjadi 13% pada tahun 2008.

Indonesia telah kehilangan swasembada pangan. Pada tahun lalu produksi gabah kering turun 1,2 juta ton jika dibandingkan pada 2007. Sekarang, tiap tahunnya Indonesia tidak kurang mengimpor beras sejumlah 2 juta ton.

Menurut Angka Impor Pangan versi Prof Rokhmin Dahuri, Indonesia adalah pengimpor beras terbesar (2,5 juta ton/thn) dan pengimpor gula terbesar kedua di dunia (2,0 juta ton/thn). Selain itu, kita juga mengimpor kedelai (1,2 juta ton), jagung (1,3 juta ton), dan sapi (550.000 ekor) pada tahun kemarin (sumber: Muchtar Effendi Harahap, 2 Des 2008).

South Centre memperkirakan bahwa 90% perdagangan pangan dunia dikontrol 5 perusahaan transnational coorporation (TNCs); 75% perdagangan serealia dikuasai 2 TNCs; 3 TNCs menguasai 85% perdagangan teh; 5 TNCs menguasai 70% produksi tembakau; 7 TNCs menguasai 83% produksi gula; dan 4 TNCs menguasai 2/3 pasar pestisida, serta 100% pasar global bibit transgenik. TNCs bisa mengontrol harga input, membentuk harga kartel, mendepak perusahaan lokal, dan membeli komoditas petani dengan harga super murah.

Sesuai data Departemen Perdagangan RI, harga kebutuhan pokok, terutama di masa Pemerintah SBY dari tahun ke tahun mengalami kenaikan yang relatif tinggi.

Sumberdaya alam dan kehutanan
Kekuatan asing dan elemen-elemen pemerintah telah berkonspirasi dengan Bank Internasional, menjarah kekayaan alam yang menyebabkan Environmental Crime, Mineral Crime, dan Tax Crime. Sistem Kontrak Karya dengan pihak asing telah merugikan Indonesia.

Menurut BP Migas, produksi minyak bumi Indonesia mengalami penurunan hingga 16%. Mulai 2006 penurunan produksi ini mencapai 30.000 barel/hari.

Indonesia mengekspor minyak mentah namun mengimpornya kembali dengan harga 0,38 - 3,95 USD/barel lebih mahal. Impor minyak mentah sebenarnya tak perlu dilakukan seandainya ekspor tak dilakukan. Produksi minyak KPS bisa dibeli pemerintah dan dapat diolah di kilang dalam negeri. Negara dirugikan 3 - 4 triliun rupiah/tahun.

Perimbangan Perdagangan Minyak Mentah (Crude Oil) dan Produksi Minyak (Oil Product) makin minus khususnya sejak 2003. Data Trade Balance of Oil and Oil Product menunjukkan Indonesia bukan lagi negara pengekspor minyak, melain sudah menjadi pengimpor minyak.

Dominasi koorporasi internasional dalam eksplorasi migas sudah memiskinkan bangsa kita. 85% produksi migas dikuasai kontraktor asing, utamanya Chevron-eks Caltex, termasuk Unocal, CNOOC, Exxon Mobil, BP, dan Vico. Kontraktor nasional (termasuk Pertamina) cuma memproduksi 15%.

Produksi migas lebih ditujukan untuk ekspor. Lebih 58% produksi gas diekspor. Defisit gas di dalam negeri mencapai 2.036,64 MMSCFD. Lebih dari 40% produksi minyak mentah masih diekspor, padahal kebutuhan dalam negeri yang mencapai 1,4 juta barel/hari sudah melebihi kapasitas produk yang hanya 1 juta/hari.

Makin melemahnya posisi tawar (bargaining power) pemerintah terhadap kontraktor migas bisa dilihat dari indikasi ini: 1) Pemberlakuan DMO Holiday: kontraktor tidak wajib menjual minyak ke dalam negeri untuk jangka waktu tertentu. 2) Perubahan DMO fee: pemerintah harus membeli minyak yang di DMO-kan dengan harga pasar. 3) Perubahan batas atas cost recovery dari 40%- 60% menjadi 100% dan bahkan 120% untuk lapangan marginal. 4) Split bagi hasil 0% bagi pemerintah, 100% kontraktor (kasus Natuna D Alpha). 5) Disepakatinya kontrak ekspor gas/LNG dengan harga 3-4 USD/MMBTU, padahal harga pasar sudah mencapai 9 USD/MMBTU.

Sub-sektor Minerba didominasi perusahaan asing. Penerimaan negara dari Minerba relatif tidak signifikan, rata-rata 3% dari total penerimaan negara. Lebih kecil dibandingkan penerimaan dari devisa (remittance) TKI yang mencapai 30 triliun rupiah. Devisa dari Minerba hanya 20,9 triliun rupiah (Data: DESDM).

PT Freeport Indonesia dan Newmont Nusa Tenggara menguasai 100% produksi konsentrat tembaga di Indonesia. Dua perusahaan ini menguasai lebih 86% produksi emas dan perak. Royalti emas dan perak hanya 1% dari gross revenue, sedang royalti tembaga cuma 3,5%.

Lebih dari 67% produksi batubara dihasilkan oleh kontraktor batubara asing, seperti Arutmin, Adaro, Kaltim Prima Coal, dan Kideco. Lebih 95% produksi beragam mineral diekspor. Lebih 70% produksi batubara juga diekspor.

Untuk minyak sawit mentah (CPO), pemerintah lebih melayani permintaan luar negeri ketimbang kepentingan dalam negeri. Tahun lalu, 53% CPO diekspor ke Eropa. Akibatnya, minyak goreng langka dan harga di dalam negeri melonjak. Kerugian akibat salah urus dalam pengelolaan SDA seperti pertanian, kehutanan dan kelautan sebesar 30 triliun rupiah/tahun.

Hasil Indonesia mengekspor ikan tangkap hanya 2 miliyar USD/tahun, sedangkan Thailand sebesar 11 miliyar USD. Padahal Thailand memiliki garis pantai hanya 2.400 km, sedangkan garis pantai Indonesia sepanjang 81.000 km. Sementara kerugian akibat pencurian ikan sebesar 4 miliyar USD/tahun.

Kerusakan hutan terus melaju dengan mengorbankan rakyat. Menurut Departemen Kehutanan (per 20/8/2006), Indonesia memiliki hutan seluas 120,35 juta ha (62,6% dari luas daratan) yang memiliki kekayaan mega biodiversity ketiga setelah Brazil dan Kongo. Namun, laju kerusakannya termasuk dalam deforestasi tercepat. Setiap jam, kawasan hutan lenyap seluas 300 lapangan sepak bola. 2 tahun lalu, laju kerusakan hutan Indonesia sudah mencapai 2,72 juta ha. Maraknya illegal logging mengakibatkan negara rugi 40 triliyun rupiah/tahun.

Bersamaan kerusakan hutan, persoalan konversi lahan terus meningkat. Khususnya di kawasan ekologis genting atau kawasan pesisir yang terkena abrasi tinggi dan terumbu karang mengalamai kehancuran hebat. Sisa terumbu karang yang baik kini tinggal 6%.

Pertambangan yang merusak masih saja bebas mencemari sungai, laut dan udara. Semburan Lapindo sebagai drama perusakan terbesar sepanjang abad juga kurang mampu diatasi Pemerintah SBY-JK. Lingkungan hidup selama 3 tahun tak pernah memegang posisi kunci.

Pengurasan SDA telah mendatangkan bencana bagi masyarakat di sekitar daerah yang dieksploitasi, karena dampak lingkungan dan menciutnya lahan pertanian. Akibatnya kini terdapat perbedaan sangat kontras dalam penguasaan lahan. Petani hanya menguasai lahan 0,4-1,3 ha untuk budidaya, sedangkan 1 perusahaan perkebunan menguasai rata-rata 1.780 ha dan 10 group penguasa HPH menguasai 24 juta ha dari 51 juta ha hutan produksi.

Sebanyak 85% bencana alam yang dilaporkan Bakornas PB disebabkan oleh dampak kerusakan lingkungan akibat pengurasan SDA. Sementara hak masyarakat atas pengelolaan SDA tak pernah jelas dan tak pernah diatur.

Ancaman kekurangan air akan dihadapi jutaan penduduk di Pulau Jawa, yang jumlahnya 65% total penduduk di Indonesia. Cadangan air di Jawa hanya 4% dari total cadangan stok nasional akibat tangkapan air selalu dihancurkan. Lima tahun belakangan ini banjir di Pulau Jawa meningkat 3 kali lipat.

Misalnya saja, kondisi Bengawan Solo belakangan ini makin memrihatinkan. Hutan di Daerah Aliran Sungai yang memasok air ke Bengawan Solo hanya tinggal 1%.

Pemerintah sekarang tidak memberikan anggaran signifikan untuk bencana alam karena 70% anggaran justru habis untuk aparat pemerintahan. Sumber daya alam kita, kini telah berubah, dari berkah menjadi petaka.

Industri dan perdagangan
Keberadaan pasar tradisional belakangan ini makin tergilas oleh maraknya supermarket. Di Jakarta, misalnya, sekitar 80% pedagang tradisional saat ini tak mampu tumbuh, karena kalah bersaing dengan pasar modern. Bahkan, beberapa pasar regional dan wilayah saat ini dikuasai produk impor.

Menurut Bank Dunia, tiada supermarket di manapun di dunia yang begitu bergantung pada produk impor seperti di Indonesia. Sekitar 60% sayur mayur dan buah yang dijual berasal dari impor. Angka ini 2-3 kali lebih besar dari produk impor di supermarket di Thailand, Meksiko, dan Cina.

Ketergantungan industri pengolahan pada bahan baku impor demikian besar. Industri keramik, misalnya mengimpor tanah liat hingga pelapis. Lebih dari 90% kapas untuk industri tekstil juga diimpor. Ketergantungan impor pun terjadi pada besi, plastik, produk turunan minyak bumi, dan permesinan. Industri makanan olahan juga masih bergantung pada impor. Untuk komoditas yang melimpah di negeri ini, seperti kayu dan rotan, industri pengolahannya masih meneriakkan kelangkaan bahan baku. Sebaliknya, industri kayu - rotan di Cina dan Vietnam yang tak memiliki sumber bahan baku justru maju pesat.

Media massa dan telekomunikasi
Menurut MPPI (Masyarakat Pers dan Penyiaran Indonesia), kepemilikan televisi swasta mengarah pada monopoli kepemilikan. Adanya pelanggaran UU No 32/2002: dimana suatu badan hukum paling banyak hanya memiliki dua izin penyelenggaraan penyiaran televisi yang ada di dua provinsi berbeda.

MPPI menunjukkan, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNC) adalah badan hukum bukan penyelenggara usaha di bidang penyiaran telah memiliki dan menguasai 3 Lembaga Penyiaran Swasta sekaligus, yaitu 99,99% pada RCTI, 75% pada TPI dan 99,99% pada Global TV.

Kondisi ini jelas tidak sehat, membuat masyarakat tak punya banyak pilihan dan juga dapat membodohi masyarakat karena informasi yang diterima akan relatif seragam dan cenderung tidak mendidik. Bahkan, televisi sudah dipakai untuk kepentingan tertentu pada Pemilu 2009. Saat ini ada sejumlah pemilik televisi yang memakai medianya untuk membela diri ketika terkena persoalan. Lembaga penyiaran seharusnya sesuai dengan asas diversity of ownership dan asas diversity of content.

Korporasi asing telah memonopoli usaha telekomunikasi. Salah satu fakta yakni Keputusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang menetapkan Temasek Holdings (milik Singapura) telah melanggar UU NO 5/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli, karena memiliki saham di dua perusahaan telekomunikasi: yaitu PT Telekomsel dan Indosat Temasek, lewat Singtel dan ST Telemedia, menguasai 35% saham Telekomsel dan 41,94% saham Indosat.

Infrastruktur, maritim, dan pertahanan
Menurut ECONIT"s Economic Outlook 2008, setelah 3 tahun Pemerintah SBY hanya terbangun 48 km (3.7%) dari target 1.300 km atau 260 km/tahun (2005-2009). Hasil dari dua kali Infrastructure Summit, tentang percepatan pembangunan infrastruktur lebih merupakan respon birokratik ketimbang upaya konkrit menyelesaikan masalah pembangunan infrastruktur.

Seluruh pelabuhan dan kapal Indonesia dinilai tidak aman sehingga terancam "diboikot asing" (Peringatan US Coast Guard). Hal ini disebabkan adanya penilaian bahwa masih banyak perusahaan pelayaran dan pelabuhan di Indonesia yang belum melakukan kode keamanan maritim ISPS CODE. Dalam perhitungan volume lalu lintas barang, resiko ini menjadi hambatan bagi ekspor dan impor sebesar 400 juta ton/thn.

Dalam bingkai kemandirian bangsa, bidang pertahanan dan keamanan Indonesia terlihat masih dalam posisi sebagai objek. Misalnya, dalam kasus DCA (Defence Cooperation Agreement) dengan Singapura; penyelesaian hukum pelanggaran HAM oleh prajurit TNI; serta alat persenjataan.

Singapura berani melakukan perluasan wilayah dengan menimbun pasir yang diambil dari wilayah Indonesia. Perbatasan Indonesia-Malaysia di sepanjang Kalimantan makin lama makin merugikan kita. Sebagian kawasan perkebunan di Sabah dan Serawak sudah menjorok 7 km ke dalam wilayah Indonesia, dijadikan kawasan Malaysia.

Ketergantungan Indonesia sangat tinggi terhadap impor persenjataan militer. Ketergantungan ini, terutama pada AS (34%), Prancis (12%), Jerman (12%), Rusia (10%) dan Inggris (9%). Industri strategis domestik hanya mampu memberikan kontribusi sebesar 5%. Menurut INFID, negaranegara NATO mendominasi sebagai sumber pengadaan Alutsista TNI. Indonesia telah menjadi bagian aliansi strategis NATO.

Indonesia termasuk negara paling rendah alokasi anggaran belanja pertahanan dari persentase PDB. Hanya sekitar 0,76-0,88% dari PDB. Padahal secara normatif tingkat ideal 5%; tingkat wajar 3%; tingkat minimal 2% dari PDB. Anggaran pertahanan Indonesia adalah yang terkecil di antara negara tetangga.

Politik luar negeri, politik hukum, dan korupsi
Masalah nasib TKI, kita hanya mampu defensif, bukan proaktif melobi-terutama otoritas negara Malaysia dan negara lain di mana TKI bekerja-untuk melindungi WNI di luar negeri, sembari mendesakan penyelesaian hukum terhadap WNA, agar bisa diadili di negaranya.

Pemerintah terlalu lemah saat berhadapan dengan IMF, atau bankbank internasional dan negara-negara investor yang menyebabkan sebagian besar sumber daya kita telah dikuasai pihak asing.

Indonesia tidak mampu mempertahankan prinsip politik luar negeri bebas aktif, misalnya kasus dukungan terhadap Resolusi PBB tentang urusan negara lain. Posisi Indonesia masih berdiri sebagai follower dibandingkan sebagai negara yang bediri equal apalagi point maker.

Sekalipun tidak semua, terdapat peraturan perundang-undangan (UU, PP, juga Perda) terbit dalam pengaruh kepentingan kelompok usaha bisnis/kapital, atau uang pinjaman lembaga multilateral seperti IMF dan Bank Dunia, bukan memihak negara dan rakyat. Indikasi keberpihakan bukan untuk rakyat kebanyakan, antara lain pada: UU Migas, UU Privatisasi Air, UU Privatisasi BUMN, UU Penanaman Modal, atau UU No. 27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau- pulau Kecil di wilayah Indonesia.

PP No. 2/2008 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berasal dari Penggunaan Kawasan Hutan untuk Kepentingan Pembangunan di luar Kegiatan Kehutanan yang berlaku pada Departemen Kehutanan, ditandatangani Presiden SBY 4 Februari 2008. Menurut Siti Maemunah (dari JATAM), yang paling bersorak dikeluarkannya PP ini adalah pelaku pertambangan. Ada 14 perusahaan yang mendapat pengecualian meneruskan tambangnya di hutan lindung. Sebagian besar adalah perusahaan tambang asing sekelas Freeport (AS), Rio Tinto (Inggris), Inco (Kanada) dan Newcrest (Australia) (Kompas, 21/02/08).

Untuk konteks korupsi, hasil penelitian ICW melalui 86 media massa menyebutkan, tindak pemberantasan korupsi selama ini gagal menyentuh pejabat berkuasa, khususnya pejabat di tingkat pusat. Uang negara yang dapat dikembalikan baru sedikit. Padahal hasil audit BPK pada petengahan 2007 menemukan 5.717 kasus penyimpangan penggunaan anggaran dengan nilai penyimpangan 8.805 triliun rupiah.

Hasil jajak pendapat tahun ini, 50% responden masih merasakan tidak puas atas upaya pemerintah dalam menangani jenis kasus korupsi, politik dan pelanggaran HAM. Proses hukum seringkali harus tunduk pada arus kepentingan elite dan tersamarkan dalam spekulasi serta kepentingan pemilik kapital.

Pendidikan dan kesehatan
Saat tahun 2008, pemerintah (dalam APBN dan APBD) belum melaksanakan keputusan MK untuk menyediakan anggaran 20% untuk pendidikan.

Pemerintah tampak memaksakan agar tahun 2008 RUU Badan Usaha Pendidikan selesai dibahas di DPR, dan menjadi UU. Menurut banyak pihak, Format BPH tak ubahnya kapitalisasi pendidikan yang kelak membuka jalan bagi pihak asing untuk memegang saham sampai 49% untuk tiap satuan pendidikan.

Lemahnya akses bagi penduduk miskin. 70,85% masyarakat miskin memeroleh akses pendidikan pada jenjang menengah saja, sementara kelompok kaya 94,58%.

Konstitusi dan UU Sisdiknas mengamanatkan wajib belajar 9 tahun. Menurut Komnas Perlindungan Anak, sepanjang 2007 ada 33,9 juta anak dilanggar hak pendidikannya; 11 juta anak berusia 7-8 tahun buta huruf dan sama sekali belum pernah mengecap bangku sekolah, sisanya putus sekolah. Bila diperinci, 4.370.492 anak putus sekolah dasar, 18.296.332 anak putus sekolah menengah pertama. Adapun 11 juta sisanya (lebih dari 30%) anak buta huruf karena tak pernah bersekolah.

Indeks Pembangunan Pendidikan (IPP) menurut Laporan EFA (Education for All), dalam Global Monitoring Report 2008 oleh PBB (UNESCO)-dengan mengompilasi data pendidikan dari 129 negara di dunia-Indonesia berada pada "EDI sedang" bersama 53 negara lain. IPP Indonesia menunjukkan adanya pergeseran posisi dengan Malaysia. Jika pada tahun sebelumnya peringkat Indonesia selalu berada di atas Malaysia, kini telah di bawahnya.

World Bank menilai kondisi kesehatan Indonesia sebagai Unfinished Agenda karena di satu pihak kasus penyakit tidak menular (NCDs) terus meningkat (penyakit jantung 30% penyebab kematian di Indonesia, juga tergolong satu dari 10 angka penderita Diabetes). Penderita gizi buruk semakin bertambah. Kalau 2005 anak balita yang menderita gizi buruk sebanyak 1,8 juta jiwa, pada 2008 menjadi 4 juta jiwa. Lebih memrihatinkan lagi, 3 dari 10 anak balita di 72 kabupaten terkena busung lapar, dan 11 juta dari 31 juta anak usia sekolah kini mengalami anemia gizi.

Angka Kematian Balita (AKB) di Indonesia 30,8/1000, masih merupakan salah satu angka tertinggi di ASEAN. Angka Kematian Ibu (AKI-MMR) sebesar 224/100.000 dan merupakan tertinggi di ASEAN.

Sekitar 94% masyarakat Indonesia terkena penyakit depresi mental, mulai dari tingkat ringan hingga berat, yang berakibat munculnya perilaku amoral, pemalas, ketidakpatuhan hukum, peminta-minta dll.

Menjamurnya Rumah Sakit Swasta milik asing yang berorientasi pada profit dan menempatkan pasien kaya sebagai sasaran utama. Abai terhadap kelompok miskin.

Menurut Badan Narkotika Nasional, tiap hari di Indonesia ada 40 orang yang meninggal karena narkoba. Ada 3,6 juta pecandu narkoba di Indonesia, separoh dari jumlah itu tinggal di Jakarta. Hasil Survei BSN menunjukkan 32% dari total 3,2 juta pengguna narkoba dan obat terlarang secara nasional adalah pelajar dan mahasiswa (1.037.682 orang). Survei yang dilakukan pada 33 provinsi menunjukkan, prevalansi penyalahgunaan narkotik dalam satu tahun terakhir mencapai 5,3%. Artinya, dalam tahun terakhir, di antara 100 pelajar dan mahasiswa, terdapat 5 pemakai narkoba.

Ini adalah sedikit dari data-data dekandensi Indonesia. Semua data yang diajukan adalah sekadar gambaran tentang kondisi kenegaraan serta kebangsaan kita di akhir dan saat menempuh tahun yang baru. Selamat merefleksikan Indonesia; selamat datang tahun baru 2009 yang penuh tantangan. lind

Senin, 23 Februari 2009

MUSYAWARAH KORP PENGADER CABANG (KPC) HMI CABANG SEMARANG

HADIRILAH MUSYAWARAH KORP PENGADER CABANG (KPC) HMI CABANG SEMARANG
Hari/tanggal : Sabtu, 28 Februari 2009
Tempat : Wisma Perjuangan Jl. Lemah Gempal No. 59 Bulu Stalan Bulu Semarang

Training For Trainer KPC HMI Semarang


SEMARANG (22 Februari 2008). Tepat di Wisma Kedamaian dan perjuangan HMI Cabang Semarang di Jl. Lemah Gempal IV Bulu Stalan Semarang , berlangsung acara Training For Trainer dengan tema "Mencetak Pengader Profesional Kreatif Menuju Pengader yang kondusip". Acara tersebut di adakan oleh Korp Pengader Cabang Semarang dalam rangka pembekalan para calon pengader untuk menjadi pengader yang profesional dan membekali mereka dengan berbagai materi pelatihan di HMI. Pada dasarnya acara tersebut terselengara supaya pengader di wilayah HMI Semarang dapat membangun citra diri dan memberikan konsep pelatihan umum di HMI serta mengetahui fungsi multimedia, tegas Tasropi sekaligus sebagai Ketua KPC Semarang.

Kemeriahan nampak pada acara kali ini yang di hadiri para ekstrainer Senior Course dari Wonosobo yang berjumlah 8 orang (Nesfi, Siti, Sugi, retno, Akrom, Rohmad, Gunadi dan Sigit. Sedangkan pelatihan kali ini di pandu oleh tiga orang mereka yaitu Lukni Maulana, Ahmad Khunaifi dan Muhammad Zaid.

Acara semacam ini sangat penting bagi para calon pengader untuk membekali diri supaya menjadi pengader profesional. Dengan pelatihan ini kita akan mendapatkan paradigma baru dan mampu menyajikan konsep pelatihan yang menarik serta dapat memberikan nilai-nilai ke-HMIan untuk para kader, tegas Akrom salah satu pesert Trining For Trainer.

Selasa, 17 Februari 2009

EKSISTENSIALISME KOHATI


Oleh: Lukma Wibowo

Dalam sekapur sirih “The Tao of Islam”, Ratna Megawangi menceritakan pada periode 1960 dan 1970-an terjadi aksi pemberontakan besar-besaran kaum feminis barat yang diwarnai tuntutan kebebasan dan persamaan hak antara kaum lelaki dan permpuan dalam hal kekuasaan. Gerakan feminisme ini nyaris sepenuhnya di pengaruhi oleh filsafat eksistensilisme yang dikembangkan oleh seorang pemikir perancis Jean Paul Sartre. Dalam pandangan Sartre, bahwa manusia tidak mempunyai sifat alamiah, melainkan esensi manusia dibentuk oleh “socially created” atau dipengaruhi oleh lingkungan dimana manusia berada. Eksistensilaisme menolak eksistensi perbedaan stereoptip gender lelaki dan wanita. Akhirnya filsafat ini menekankan para perempuan untuk harus melepaskan diri dari norma-norma patriarkhi, agar kaum permpuan dapat menentukan eksistensinya sendiri.

Feminisme liberal misalnya, lebih bergerak dalam usaha mengubah undang-undang, hukum agama, peraturan atau apapun yang dianggap merugikan kaum perempuan. Sementara feminisme-marxisme menuntut pembebasan perempuan dari fungsi domestik untuk menunjang terciptanya masyarakat tanpa kelas.

Hebatnya secara cepat isu-isu ini berkembang kepada berbagai masyarakat dunia, dengan dalih emansipasi dan kesetaraan gender.

Tanpa hambatan yang berarti, feminisme juga pelan-pelan menyusup ke Indonesia anehnya, bersamaan itu HMI sedang memulai aktivitas-aktivitas khusus keputrian. Sehingga muncul dugaan jika HMI juga terkena imbas gerakan emansipasi. Meski tak mudah bisa dipertanggung jawabkan argumentasinya, hal ini bisa diamati dengan dilakuikannya latihan kepemimpinan khusus Hmi Putri Se-Indonesia. Serta tiga tahun kemudian terpatnya 17 September 1966 terbentuklah Lembaga Corp HMI-Wati atau KOHATI.

Cikal bakal pelarian Kohati, menurut Mastur Thoyyib mengandung beberapa kelemahan, misalnya dalam hal gender pola pemikiran yang mendominasi banyak terkotaminasi idealisme barat-sekuler yang kurang memahami spirit Islam tentang wanita.

Nah, persoalannya apakah betul kohati juga “lahir” dari filsafat eksistensialisme, emansipasi sekuler atau isu kesetaraan gender ala barat ?. pertanyaan ini jelas amat terlambat!. Karena saya sadar sepenuhnya, saya hanyalah “anak kecil” dihadapan kohati yang sudah berumur 39 tahun.

Kohati, selmat ulang tahun

Semarang, 01/09/05

Tatapan mata, Mata-nya, Mata hati

-->
Tatapan mata
Ketika aku berbicara didepan mimbar, semua mata tertuju padaku. Sorot-sorot mata mereka begitu tajam seolah ingin menerkamku saja. Aku jadi merinding, ku coba untuk menatap balik mereka satu persatu ku pandangi mata mereka tenyata tatapan mereka tidak segalak yang aku duga. Itu semua hanya perasaanku saja.
Kini aku jadi terbiasa menatap audiens. Menatap mata mereka yang penuh dengan keingin tahuan. Yah...tatapan mereka ternyata tatapan ingin tahu, ingin tahu apa yang ku katakan. (Sugiarti)

Betapa nikmatnya hidup yang dapat dirasakan ini, kita telah diberi banyak sekali kelebihan yang ada pada diri kita, kadang orang lain tidak memilikinya. Kita harus bersyukur atas semua ini, terutama betapa dasyatnya dunia ironi adanya mata. Kita bisa melihat dengan ke dua mata dan makan dengan rizki yang tidak bisa kita hitung dari nikmat-nikmat lain yang tidak bisa kita ukur dengan harta maupun benda apapun. Oh...mata’ betapa bersyukurnya aku telah memilikimu sehingga aku dapat melihat dirimu (Istifaizah)

Mata-nya
Sayu...
Lebam...
Seakan deriota nestapa tertumpah hanya untuknya
Bukan Tuhan tidak adil,
Lihatnlah kengerian itu
Begitu terpancar dari sorot mata-nya
Pekar,
Seperti gelap malam
Lusuh,
Seperti tak pernah tersentuh
Mata itu
Telah kehilangan pancaran kebinaranya
Kembali tertusuk
Sakit, perih...
Seolah bening yang selalu menggenang di sela-selanya
Sudah menjadi bagian dari keberadaanya...
Siapa yang peduli dengannya!
Tangan siapakah yang mauy meraihnya?
Tuhan...
Ijinkan aku menyeka air mata-nya
Jika tidak,
Lebih baik dihilangkan mata ini saja
Agar tak pernah lagi melihat
Perih nestapa dan derita
Yang terus terpancar dari
Mata bisunya...
(Present To Someone (Awam) In Blue Sky) Umi Latifah ”Minory”.

Mata hati
Berbicara tentang hati dan perasaan memang tidak akan pernah ada penyelesaian tuntas. Begitu komplek dan rumit, bahkan mungkin membingungkan., bagaimana tidak, karena semuanya berawal dari satu kata itulah ”mata hati”.
Kata inilah yang menjadi poros dari segala fenomena dalam kehidupan manusia. Terbaik ketika kita kuatkan dengan fenomena yang dialami para remaja saat ini, entah itu ikhwan maupun akhwat. Semuanya seakan tak terasa untuk menahan gejala hati.
Sekali lahi hati adalah hati. Banyaknya hal yang timbul dari karena hati. Banyak kasus yang bersumber dari hati. Maka tidak heran jika kita tiba-tiba melihat atau mendengar orang yang terjatuh karena tak kuasa menahan hati.
Adkah yang tahu rahasia mata hati ?. tempatnya yang tersembunyi inilah yang justru berefek besar terhadap sesuatu hal. Orang yang korupsi karena hati, seorang menjadi ulama karena hati, seorang menjadi penulis terkenal karena hati. Maka tidak heran seorang penulis terkenal menjadi piawai dalam kepenulisan,mengangkat mata dan perasaan untuk mengawali menulis, janganlah kamu meremehkan pikiranmu. Tapi cukup kau menulis apa yang kau rasakan dimata hatimu. Sungguh luar biasa mata hati memang dirimu vital yang dimiliki pada diri seseorang.
Tentu kita ingat apa yang dikatakan ustas AA. Gym, yang paling familiar ”jagalah hati”. Kata mata memang biasa, tapi ketika kita kaitkan dengan hati alias ”mata hati” maka hasilnya akan jadi luar biasa.
Mata hati tidak bisa dibohongi. Entah itu rasa suka maupun duka. Sungguh luar biasa bukan! Antum! Semuanya tahu, segala masalah mengodanya dari nama ? dari hati! Bukan!. (Zahroh Latifah)

-->
SAAT CERMIN…
TAK LAGI PANTAS UNTUK BERHIAS
Asthagfirullahal’adzim
Hanya kata ini yang tidak afdhol ku ucapkan. Saat terlebih lagi tiada pernah diprediksi kehadirannya. Seakan semua datang silih berganti susul-menyusul hingga terkadang tak jarang diri ini kelabakan untuk menghadapinya.
Dan...
Berkali-kali hanya kata ”Asthagfirullahal’adzim”.
Bukan saatnya lagi menyalahkan keadaan sekitar.
Karena jikapun keadaan itu sendiri balik menyalahkan, ”apakah ia menghendaki hal demikian ?”.
HMI...
Entahlah jika aku mengharapkan semua yang baik-baik padamu. Rasa-rasanya menafik sekali. Toh, kau hanyalah sebuah lembaga, wadah atau sesuai kepanjanganmu ”Himpunan”. Yang dalam keberadaanmu hanya sebagai fasilitator untuk membangunkan tempat berperoses dan bukalah pula tempat satu-satunya kebaikan, melainkan bagian kecil dati tempat untuk mengenyam menjadi diri lebih baik.
Namun, saatku temui secuil kecacatan yang ada padamu. Seakan mengabsudkan segala kebaikan yang coba kau rajut selama ini.
Bukan salahmu, karena kau hanya benda mati dan...bukan pula menyalahkan yang saat ini tengah bernaung didalammu sebagai tempat berteduh ataupun tempat singgah untuk menghilangkan kepenatan sesaat.
Apapun yang terjadi ku bangga padamu. Yang telah mengajari diri untuk coba menerima dan melihat jelas realita. Bahwa:
”dunia ini tak selamanya indah dan tak sempurna keberadaanya”
Karena dakan tiap diri penuh nokhtah hitam dan putih
Sekarang barulah ku paham
Cermin ini bukanlah HMI...
Melainkan hikmah,manusia pelajaran, realita kehidupanlah yang pantas untuk berhias dan menata diri menjadi lebih baik. Dengan mencoba legawa dan penuh kesabaran dalam menapakinya
Allah...
Telah kau ajari diri memandang dan bercermin dari banyak hal, tak terkecuali melalui perantara HMI juga.
Semoga dengan banyaknyalah pelajaran yang saat ini tengah ada dihadapkan mata ini, menjadikan cermin dari untuk tetap komitmen berjalan di risalah-Mu sebagaimana orang-orang yang tunjuki dijalan-Mu. (Widya Nur Wibawanti)

Kamis, 12 Februari 2009

WORKSHOP FOTOGRAFI KOMPAS GRAMEDIA BOOK FAIR 2009


SEMARANG (10 Februari 2009) – Sedikitnya ada 50 orang memadati kursi yang telah tersedia di acara workshop fotografi, acara ini berlangsung pada pukul tiga sore. Dengan nara sumber Mas Buana dan Mas Rendra dari pihak Kompas. Workshop fotografi yang diadakan oleh kompas ini sebagai rangkaian acara besar yaitu momentum ”Kompas Gramedia Edu Dan Book Fair 2009”, yang diadakan di Java Supermall Semarang selama enam hari.

Acara berlangsung dengan meriah tampak dari peserta yang sangat antusias dalam mengikuti acara ini hingá akhir. Bahkan workhop kali ini diwarnai dengan hubungan timbal balik antara peserta dengan pembicara. Paling menariknya selain mendapat suguhan workshop jurnalistik gratis, para peserta juga mendaptkan kartu undangan dan setiap sesen acara mendapatkan doorprize menarik dari panitia penyelengara. Hal tersebut menjadikan kegiatan ini semakin diminati, bahkan bagi mereka yang belum paham dunia fotografi sekalipun.

Workshop fotografi ini menyajikan pelatihan dan pengenalan seputar fotografi jurnalistik. Dalam artian visualisasi yang dapat di interprestasikan kedalam tulisan berita, sehingga para pembaca mendapatkan informasi yang benar, akurat, dan menjadikan kesan indah pada koran atau majalah.

Pada setiap kegiatan fotografi perlu ketelatenan dan kepekaan dalam setiap pengambilan gambar, sebab jika seorang fotografer tidak dapat memanfaatkan momentum maka ia akan kehilangan hasil yang memuaskan. Ada beberapa hal yang perlu di perhatikan bagi mereka yang suka dunia fotografi khususnya fotografi jurnalistik. Pertama, dapat memafaatkan momentum yang sekiranya sangat menarik dan pantas untuk diberitakan. Kedua, membutuhkan kepekaan dan kepercayaan diri pada setiap pengambilan gambar. Ketiga, pada saat pengambilan gambar hendaknya pilih yang kiranya menarik dan sangat terkesan. Keempat, setiap detik adalah peluang untuk pengambilan gambar, maka jangan lengah. Kelima, kita harus pandai dalam pengambilan gambar, hal ini perlu pelatihan mendalam untuk mengambil gambar yang indah.

Untuk menjadi fotografer profesional khususnya bidang jurnalistik kita harus terus berusaha berkelanjutan dan kamera sekiranya selalu ada ditangan kita. Karena setiap orang memiliki potensi untuk menjadi fotografer yang handal. Maka hal itu bagi fotografer pada setiap waktu selalu ada hal yang menarik dan perlu ada konskwensi untuk terus belajar. (redaksi)

SELAMAT UNTUK FORMATUR TERPILIH HMI CABANG SEMARANG



















SEMOGA DAPAT MENGEMBAN AMANAH SATU PERIODE DENGANPENUH TANGGUNG JAWAB

MENGENANG KONFRENSI HMI CABANG SEMARANG KE- XLIX


Team penyusun:

  1. Desi (HMI FPBS IKIP PGRI Semarang)
  2. Syarif (HMI AKP Widya Buana Semarang)
  3. Muslimah (HMI Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang)

Konfrensi merupakan struktur kekuasaan tertinggi di tingkatan HMI Cabang. Di dalamnya terdapat pembahasan tentang Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) kinerja pengurus cabang selama satu periode kepengurusan dan pembahasan program kerja umum untuk periode selanjutnya. Konfrensi dilakukan setahun sekali dan dihadiri oleh utusan-utusan komisariat (perwakilan), kemudian dilakukan evaluasi sejauh mana keberhasilan pengurus cabang dalam menjalankan amanah satu periode kepengurusan.

Ada beberapa hal tidak tertulis namun telah menjadi kesepakatan bersama, yaitu konfrensi dijadikan sarana komisariat untuk ”unjuk gigi” dan ”ajang latihan mental” kader sebagai latihan bicara di depan publik. Makanya ”debat kusir” sering kali mewarnai jalanya konfrensi. Wajar pro kontra mewarnai setiap pembahasan baik tata tertib maupun dalam evaluasi cabang. Namun ”perang mulut” sering tidak terhindarkan sebab perbedaan tafsir pada setiap kader.

Di HMI ”bantai – menbantai” untuk mencapai mufakat memang sudah mendarah daging. Kader selalu di didik bagaimana menjadi seorang muabbid, mujahid, mujtahid dan mujaddid sehingga oto kritik sangat melekat pada diri kader. Membuat, mengkonsep, melaksanakan, dan evaluasi sendiri, itulah yang menjadikan kader HMI memiliki konskwensi dengan apa yang diucapkan. Bertanggun jawab dalam setiap hal dan amanah kepengurusan serta terus berjuang untuk orang lain, berusahan menegakan kebenaran dan keadilan. Meski pahit rasanya ”Qulil haqqa walaw kanna murran”, dimanapun berada selalau menjadi ”rahmnatal’lil alamin”. Jika benar-benar kader sejati artinya kader yang benar-benar mencintai HMI dan melaksanakan nilai-nilai ke-HMIan.

Selama setahun ini cabang sudah cukup baik dalam menjalankan amanahnya terhadap HMI (organisasi) itu sendiri. Namun perlu di garis bawahi dalam teknis atau pelaksanaannya belum ada suatu ke-optimalan terhadap sistem yang sudah dibangun baik itu struktural maupun teknisnya. Intinya masih ada beberapa kekurangan yang mestinya sebagai bahan acuan bagi kepengurusan cabang mendatang. HMI Cabang Semarang masih cacat dalam mengemban amanahnya sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa faktor yang menyebabkan hal itu bisa terjadi.

Pertama, masalah struktural cabang, dimana banyak terjadi kesemrawutan. HMI Cabang Semarang tidak mampu dalam mempertahankan team yang solid di kepengurusan organisasi. Kedua, masalah eksternal yang melibatkan bidang jeringan dan kajian startegis (Jangkar) ini sedah cukup baik, akan tetapi dalam proses perkaderan ataupun regenerasinya akan mengalami keterpurukan sebab landasan pendidikan yang kurang untuk para kader. Secara umum Laporan Pertangung Jawaban (LPJ) HMI Cabang Semarang periode ini kurang begitu menarik, entah apa sebabnya. Deskripsi dan pengamatan LPJ Cabang Semarang dalam konfrensi XLIX

1. Kekurangan siapan cabang dalam menyelengarakan konferca (LPJ).

2. Konfrensi bukan lagi sebagai ajang evaluasi, akan tetapi menjadi forum paparan setiap pihak yang berkepentingan.

3. Forum LPJ kali ini tidak menjadi solusi unutk HMI kedepan, akan tetapi hanya sebagai ajang kreasi satu periode.

4. Bahwa HMI Cabang Semarang dalam menjalani satu periode kepengurusan, banyak terjadi konflik internal.

5. Forum komisariat se-Semarang menjadi agent penyampaian resolusi ke depan.

6. Konfrensi kali ini tidak adanya pertanggung jawaban yang komprehensif.

Minggu, 08 Februari 2009

HMI Mati Suri

Rintik hujan basahi bumi
Angin malam mulai menusuk relung hati

Hari ini HMI kehilangan 1 jari
Kader kompetisi ego diri

Aku tidak mengerti kenapa ini terjadi

Mungkin hanya mimpi

Atau salah arti


Para pecundang minta di hargai

HMI menjadi roti
di perebutkan sebab nilai atau independensi
HMI mati suri
Dan malampun menjemput pagi (31/1/09)
By: Lukni Maulana (http://lukni.blogspot.com)

Minggu, 01 Februari 2009

Pemboikotan KONFERCA HMI Cabang Semarang

(Semarang/01/02/09). Forum tertinggi komisariat se-Semarang atau biasa disebut KONFERCAB (Konferensi Cabang) Semarang berlangsung meriah dan ramai dipenuhi delegasi komisariat. Kemeriahan KONFERCAB tersebut ditandai dengan Pemboikotan Forum KONFERCAB.

Pemboikotan forum ini dilaukukan komisariat atas dasar ketidak sepakatan pengurus cabang dengan komisariat. Pemboikotan forum tersebut mengakibatkan agenda yang seharusnya untuk merencanakan masa depan HMI Semarang ke depan menjadi tertunda. Hal ini ditengarai dengan pemboikotan 1x24 jam, menunjukan bahwa pemboikotan tersebut tentunya sangat berpengaruh sekali dengan efektifitas dan efisensi waktu dan pendanaan serta kinerja HMI .

Mengapa sampai terjadi pemboikotan tentu ada berbagai alasan. "pemboikotan ini kami lakukan atas dasar citra hmi ke depan, independensi hmi telah di pertaruhkan di gedung partai. Independensi di HMI masih terlalu abstrak jadi perlu pembahasan yang serius", kata Akrom (Ketua HMI FPBS IKIP PGRI).

Sangat jelas sekali aksi pemboikotan kali ini terjadi akibat dari ketidak harmonisan antara pengurus cabang dengan komisariat. "HMI akan kehilangan citra diri jika forum besar ini sampai dilakukan di gedung partai. Sebab HMI adalah organisasi yang independensi maka kita tidak boleh terikat dengan instansi dalam melaksanakan forum besar ini", Kata Nur Rohmad ) Ketua HMI FPMIPA IKIP PGRI).

Setelah dikonfirmasikan ke pengurus cabang bahwa acara yang diadakan di gedung partai sebenarnya tidak menyalahi sistem independensi HMI. Sebab sebelumnya forum konferca pernah dilakukan di gedung partai.

Menurut panitia mengapa hal ini sampai terjadi, "pengurus cabang yang kurang tanggap dan tidak memberikan pengarahan yang jelas mengenai tempat konferca", kata Lutfi
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com