This is default featured slide 1 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 2 title

Foto Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 3 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 4 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 5 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

Senin, 24 November 2008

keutama’an Ramadhan


keutama’an Ramadhan
An-Nailus As-Surur fi Fadhoilus As-Suhur

By : Al-Fikrul Al-Ilm*


Sebagian dari keuta­maan bulan rama­dhan yaitu diturun­kan­­nya al-Qur’an sebagai pe­tunjuk bagi manusia menuju kebahagiaan dunia dan ke­bahagia­an di akhirat nanti dan sebagai pembeda (mu’jizat nabi Muhammad SAW), dan pada bulan ramadhan juga terdapat malam yang mulia malam se­ribu malam yaitu Lailatul Qodar, malam diturunkannya al-Qur’an sebagaima-na firman ­Allah dalam surat al-Qodar, dalam kitab Khulashotul Kalam disebutkan tentang sebagian keuta-maan bulan puasa se­bagaimana hadis yang ber­bunyi:


اعطيث امتي في شهر رمضان خمسا, لم يعطهن نبيّ قلبئ


“Umatku pada bulan rama­­­d­h­an diberikan lima perkara ­yang tidak diberikan kepada umat setelah aku (Nabi ­Muhammad).
Keterangan tentang hadist­­ diatas tentang lima perkara yang disabdakan oleh nabi yaitu keu-tamaan yang terdapat pada bulan puasa dan di­antara keutamaan bulan puasa ­(Ramadhan) adalah sebagai berikut :
Ketika bulan Ramadhan telah datang, Allah SWT meridhoi para umatku yang melaksanakan puasa, dan siapa yang mendapat­kan ridlo dari Allah maka akan mendapatkan siksa, sebanyak apapun amal ibadah manusia jika tidak menda-patkan ridho atau kerelaan dari Allah, maka amalnya akan sia-sia belaka.
Bau mulut orang yang berpuasa, seperti bau ­minyak yang sangat wa-ngi (kasturi), yang nantinya orang yang berpuasa ter­sebut akan men-dapat balas­an seperti keutamaan, kesu­nahan ketika seorang hamba Allah memakai wangi-wangian yang hendak pergi dalam suatu ma-jelis atau pada waktu sholat jum’at.
Pada bulan puasa, Siang dan malam para malaikat memintakan ampunan dari Allah SWT, atas orang yang menjalankan ibadah puasa atas segala dosa-dosanya. Dalam sebuah hadis juga disebut-kan yang artinya : Barang siapa yang berpuasa dengan keteguhan iman dan mengharap pahala (Ridho) dari Allah maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang sudah lewat.
Allah SWT memerintahkan surga supaya bersiap-siap dan berhias menunggu ­datang­­­nya orang yang ber­puasa, yaitu Allah mem­persiap-kan pahala surga bagi mereka yang men­jalankan ibadah puasa dengan keimanan dan ke­ikhlasan.
Pada akhir bulan puasa (Rama-dhan) Allah SWT memberikan am-punan atas semua dosa-dosanya orang yang berpuasa. Sebagai­mana dijelaskan bulan ­dalam hadist nabi yang artinya: Permulaan dari ­bulan ramadhan adalah turunnya rahmat dari Allah SAW, pertengahannya adalah turunnya peng­ampunan-Nya, dan diakhir bulan ramadhan Allah ­mem­­bebaskan dari neraka.
Suatu ketika ada salah satu sahabat Nabi yang ber­tanya, ya Rasulullah apakah pengampunan dosa-dosa ter­sebut diberikan pada malam lailatul ­Qodar? Rasulullah SAW menjawab: Tidak, dan bersabda: Apa kalian tidak mengerti bahwa orang yang bekerja itu, jikkalau sudah selesai pekerjaannya tentu diberikan hasil jerih payahnya. Jawaban nabi terdapat dalam al-Qur’an surat al-Zalzalah, yang­ berbunyi :


فَمَنْ يَعْمَلْ مِسْقاَلَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهْ. وَمَنْ يَعْمَلْ مِسْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهْ

Barangsiapa yang men­gerjakan kebaikan seberat ­dzarrah­pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan ­barangsiapa yang ­men­gerja­kan kejahatan se­besar ­dzarrah­­­pun, niscaya dia akan melihat (balas­an)nya pula.
Diriwayatkan oleh Anas bin Malik, sesungguhnya ­Rasulullah SAW bersabda yang artinya :
Besok pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa itu keluar dari kubur itu dapat diketahui orang-orang yang benar-benar melaksana­kan ibadah puasa.
Dari keterangan hadist diatas dijelaskan, bahwa orang yang ber-puasa, pada hari kiamat nanti akan ketahuan mana orang yang berpuasa mana yang tidak menjalankan puasa, disebabkan oleh bau harum yang ke-luar dari mulut orang-orang yang benar-benar menjalan puasa, dan orang-orang tadi masing-masing ­menerima hi­dangan dan minum­­an yang masih ter­bungkus dengan ­rapat (segel­an), kemudian dipersilahkan untuk makan dan minum se­puasnya. Inilah salah satu balas­an yang dibe-rikan oleh Allah SWT bagi mereka yang telah menjalankan, puasa keti-ka ­orang-orang sedang enak-enak­an makan dan minum, dan orang itu telah melaksanakan ibadah dengan sepenuh hati dan hanya ­meng­­­harap ridho dari Allah SWT pada bulan puasa.
Diterangkan juga dalam kitab Irsyadul Ibda , hadis nabi yang berbunyi :


استكبثرا فيه من اربع خصال ترضون به ربكم, وخلصتين لاغنئ لكم عنهما.. الح

Perbanyaklah kalian empat perkara pada bulan Ramadhan, yang dua perkara kalian dapat melaksanakan­nya menjadi ke­relaan Tuhan­mu, yaitu memp­erbanyak membaca Laailaha Illallah dan mem­baca Istinggar
Penjelasan dari hadist Nabi diatas tentang empat, pada bulan puasa yaitu dua amalan yang akan menjadikan Tuhan­mu ridho kepadamu, dan dua lagi yaitu kalian tidak me­ninggal­­kan meminta dua ­perkara tersebut yaitu memper­banyak memohon ke­pada Allah SWT, nikmat surga dan di­jauhkan dari adzab api neraka. Dan empat perkara tadi ter­kumpul menjadi sebuah ­do’a yang dijelaskan oleh nabi pula, yang berbunyi :


لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ, اَسْتَغْفِرُالله, نَسْألَُكَ رِضَاكَ وَاْلجَنَّهْ وَنَعُوْذَ بِكَ مِنْ سَخَاتِكَ وَالنَّارْ

Dikutip dari kitab Jamiiu Shaghir, dalam sebuah hadist nabi yang sempat sedikit di­jelaskan muka disebutkan yaitu hadist yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah ra berbunyi :


عن ابي هريرة رضي الله عنه قل : قال رسول الله صلئ الله عليه وسلّّم "اول شهر رمضان لرحمة, ووسطه مغفرة واخره عتق من النار"

Dari Abu Hurairoh ra. berkata: “Telah bersabda Rasulullah SAW. Permulaan bulan ramadhan itu turunnya rahmat, dan pertengahannya adalah turunnya pengampun­an, dan diakhir bulan ­Ramadhan itu kemerdekaan (kebebasan) dari api neraka”
Seorang salafush-saleh imam an-Nakhoi dan sebagian ulama’ ahlul hikmah mengata­kan : Puasa sehari pada bulan Ramadhan itu lebih baik dari pada puasa 1000 ­bulan, dan membaca satu kalimah tha­yyibah pada bulan Ramadhan seperti membaca 1000 kali pada bulan selain ­Ramadhan, dan ber­­sedekah pada bulan ­Ramadhan itu balasannya ­seperti sodaqoh demi berjuang di agama Allah.
Hadist yang diriwatkan oleh imam Muslim dalam kitab Irsyadul Ibad berbunyi :


اذا جاء رمضان فتحت ابواب الجنه, وغلقت ابواب النار, وصفدت بالاغلال الشياطين.

Jika bulan Ramadhan telah datang maka pintu-pintu surga semuanya terbuka dan pintu neraka ditutup dan setan-setan semua dikekang.
Dari hadis dijelaskan bahwa jika bulan ramadhan datang Allah SWT, meme­rintah­kan membuka pintu-pintu sorga, untuk memberikan penghormatan pada bulan puasa, dan Allah juga, meme­rintahkan menutup pintu-pintu neraka dan membelenggu setan -setan selama bulan ramadhan.
Jika ada yang mengata­kan bahwa setan-setan semua terbelenggu pada bulan ­Ramadhan, tapi kenapa masih banyak orang-orang yang ­masih melakukan dosa dan tetap menjalankan maksiat? Pertanyaan tersebut dapat di Jawab, dibelenggunya setan itu tidak berarti semua kejahatan dan maksiat juga akan hilang, karena setiap manusia itu masih mempunyai nafsu, ­seperti yang telah disebutkan dalam al Qur’an yang artinya kurang lebih “Sesungguh­nya nafsu itu banyak sekali mengajak (pengajakannya) untuk berbuat jelek (maksiat). Jadi bedanya, jika pada bulan puasa (Ramadhan) pengaruh nafsu itu berkurang, itulah yang dimaksud, Walluhu a’lam
De­mikian beberapa ke­utamaan bulan Ramadhan yang dikutip dari bebe­rapa ringkasan­ yang termaktub dari kitab Risalatun Nailu Surur Fi Ba’dhi Fadhooilis suhuur, yang dikarang oleh al-Alim al-Alamah as-Syikh Almagfurllah KH. Mohammad Soleh, pendiri Pondok Pesantren At-Tanwir.
Dan Semoga beberapa ulasan ini dapat mem­bawa manfaat bagi ­pribadi khususnya dan bagi umat Islam pada umum­nya akhirnya ­hanya dari Allahlah kebenaran itu datang dan dari pribadi (manusia) kekhilafan dan kesalahan.


*Arif Budiarto (Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang Jurusan Tadris Biologi)

Sabtu, 22 November 2008

SYNDROME SEKULARISASI TAUHID



SYNDROME SEKULARISASI TAUHID
M. Rohmat, S.Pd.I

(Pemerhati masalah politik dan sossial keagamaan)


Sudah sekian lama sekularisme atau paham yang memisahkan urusan kedunian dari kehidupan beragamaa dikutuk oleh Islam sebagai kebudayaan setan yang akan membawa manusia pada malapetaka kehidupan. Para ulama menyerukan Islam sebagai “way of life” (pedoman hidup), sebagai “hudan li kulli syai’in” (petunjuk bagi persoalan apa saja), Islam ya’lu wala yu’la alaihi. Tidak ada sistem yang tepat selain Islam. Maka kiranya perlu telaah histories uantuk membuktikan apakah keunggulan-keunggulan Islam tersebut punya kesaktian ataukah sekedar slogan, yel-yel yang tidak bunyi ketika dibenturakan pada persoalan kemasyarakatan.


Di keseharian Negara-negara dunia ketiga, termasuk juga Indonesia banyak dijumpai persoalan kemanusiaan yang mengundang keperihatinan: ada pedagang kecil yang diobarak-abrik oleh polisi pamong peraja, ada buruh yang di tindas undang-undang tanaga kerja, ada warga yang digusur kampungnya tanpa mendapatkan ganti rugi yang sepantasnya, ada pasar tradisional yang bakar kemudian dibangun mall dan di jual pada pemilik modal besar dan masih banyak persoalan kemanusiaan lainnya. Atas semua itu tentunya Islam harus mempunyai solusi tatanan yang sempurna. Islam harus punya strategi penyelesaian kalau mengaku sebagai sistem yang tidak mendikotomikan urusan dunia dari kehidupan beragama. Islam melalui ormas-ormasnya dan lembaga keulama’annya mestinya hadir memberikan klarifikasi bahkan pembelaan kemanusiaan. Namun yang terjadi tidak demikian. Banyak kedzaliman yang dilakukan penguasa diatas kekuatan-kekuatan Islam justru “abasa wa tawalla” (berpaling dan tidak perduli).


Contoh kecil dua tahun yang lalu dalam kasus penggusuran rumah warga Cakrawala Timur Semarang Barat yang berjumlah sembilan puluh kepala keluarga terjadi proses yang sangat menyudutkan warga. LSM dan aktivis mahasiswa bermaksud menggandeng intitusi-institusi Islam untuk melakukan advokasi atau pembelaan, akan tetapi agen-agen Islam itu menolak turut serta dengan alasan bahwa penggusuran bukan persoalan agama. Menurut mereka urusan agama adalah sholat, wiridan, istighosah, ngaji dan mujahadah, sementara urusan keadilan hukum, pemerataan ekonomi, persamaan hak politik dan demokrasi termasuk urusan dunia yang tidak ada hubungannya dengan Tuhan. Rupanya sekularisme yang selama ini dikutuk oleh Islam kini dipeluk oleh para agen agama (baca: kiai) sebagai agama baru. Para agen agama itu sudah merasa dekat dengan Tuhan kalau sholatnya sudah genap. Merasa shalih kalau sudah banyak acara pengajian istighosah. Merasa sakti kalau sudah pakai serban. Bahkan merasa punya hak mengancam orang lain dengan neraka. Walhasil paradhu’afa di negeri ini menjadi seperti anak yatim yang tidak punya pelindung, walau sebenarnya mereka punya kiai-kiai yang duduk did DPR, punya ketua NU, ketua Muhammadiyah dan seterusnya. Ironisnya yang bersedia memberi perlindungan pada mereka justru para pastur dan pendeta. Maka rasa terima kasih marilah kita sampaikan kepada pastur dan pak pendeta sebab berkat pertolongan mereka saudara-saudara kita yang mustadh’afin sudah meninggalkan Islam. Seandainya pak pastur taidak datang menolong mungkin saudara-saudara kita itu sudah mengikuti Nietzhe yang mengatakan “god is death”. Tuhan telah mati.


Fenomena seperti ini barang kali yang di maksud “al Islamu mah jubun bil muslimin”. Kebaikan Islam mengajarkan “addunya mazra’at al akhirat”, urusan dunia adalah lapangan akhirat. Ini menunjukan bahwa Islam tidak mengenal di kotomi antara urusan dunia dan urusan agama. Persoalan keadilan hukum, sinergi ekonomi, politik, lingkungan hidup. Pendidikan dan seterusnya adalah persoalan dunia yang kelak di pertanggung jawabkan kepada Tuhan di akhirat. Pengingkaran atas lapangan dunia itu sendiri adalah pengingkaran atas perintah Tuhan untuk melakukan kebaikan yang dalam bahasa agama di sebut “amilu al shalihat”. Sikap ingkar bahwa arabnya adalah kafir.


Mungkin terlalu ekstrim menyebut penginkaran dengan “kafir”. Maka baiklah, anggap saja muslim tapi dengan pertanyaan “apakah termasuk mu’min?”, sebab iman adalah al Qur’an digandengakan dengan “amilu al shalihat”. Sikap aktif melakukan kebaikan-kebaikan. Pengakuan “la ilaha illa allah”, seorang mu’min akan terwujud dalam sikap aktif berupa “tahrirun nas min ibadatil ‘ibad ilaa ‘ibadatillah”. Membebaskan manusia dari menghamba kepada sesamam manusia kepada menghamba hanya kepada Allah semata. Tauhid dalam bentuk pembebasan manusia itulah yang dulu dicontohkan oleh para nabi. Para nabi diutus dengan misi utama membebaskan manusia dari para tiran (penguasa). Nabi Ibrahim membebaskan kaumnya dari raja Namrud, nabi Musa membebaskan bani Israel dari tindasan fir’aun, nabi Muhammad hadir membebaskan para budak dari penguasa jahiliyah Qura’is. Maka kalau seorang muslim ingin mempraktekan tauhid hendaklah ia menjadi seorang mu’min yang melindungi iman saudara-saudaranya dari keterdesakan ekonomi dan penghambaan para penguasa.

CITA CINTAKU



CITA CINTAKU
Oleh: Naimaturohmah
(Mahasiswi Akademi Keuangan dan Perbangkan Widya Buana Semarang)


Kegelapan malam, segelap qalbuku
Ramainya lampu diskotik, menambah kelam rasa rindu
Di sepanjang jalan hidupku, terlihat beribu duri telah menghadang, mewarnai pelangi kehidupan.
Aku telah jatuh hati, ku jatuhkan hatiku pada sosok gadis yang ketika aku melihatnya, jantung ini berdebar, ketika aku mendengar suara lembutnya mata ini terus mencari bayang dispanjang mata memandang.
Dear, Nanda


Perasaan yang terus mengebu, tak dapatku bendung untuk ku ucapkan “I love you” pada mu seiring desahan nafas ini ku yakin kaulah pilihan hatiku ku rela tinggalkan dunia gelapku
Demi engkau! Oh…..dewiku
By. Yang mendambamu
Riyan


Itulah syair yang ku kirimkan lewat sahabat dekatnya. Dengan beramplop dan berkertaskan pink ku torehkan tinta hitam sebagai pemanis, untuk ku ungkapkan perasaan yang terus mengadu di relung hatiku. Ku yakin dialah solmetku, dia adalah sosok gadis yang sangat berbeda dari gadis-gadis yang ku kenal dan yang telah ku jamah dulu. Wajah lugu lagi manis membuatku penasaran “ada apa di balik kelebihan wajahnya?. Ku coba terus merayu, mengharap cita dan cintaku terwujud bersamanya, setiap minggu ku kirimkan syair-syair indahku lewat sahabat dekatnya. Ku yakin aku akan mendapakan….surat balasan dan ketulusan hatinya tuk menjadi milikku selamanya.


Detik demi detik lamanya telah ku lewati dengan penuh kesabaran dan keyakinan hati yang dibuat penasaran. Satu bulan telah berlalu dan akhirnya ku dapatkan cinta itu. Surat balasan berwarnakan biru berada ditanganku hatiku terus bertanya-tanya :apa yang ia tulis untuk ku?. Ku mulai mencoba membuka amplop itu dengan perasaan yang semakin mengebu ku baca, ku telaah setiap kata yang tergores di kertas biru itu.
Dear, Riyan


Subhanallah….!
Maha suci Allah dengan beribu cinta dan kasih-Nya.
Aku adalah manusia biasa yang waktu selalu mendambakan cinta sejati dari-Nya
Cintamu padaku perlu ku pertanyakan?
“Apakah cintamu karena Illahi Rabbi semata atau karena faktor X yang menyesatkanmu?”
Relakah engkau untuk meninggalkan kesenangan duniawimu hanya untuk meraih cinta dan cita bersamaku?
Renungkanlah….!
Wahai mahluk Allah yang lemah lagi tak berdaya karena cinta.
By. Nanda Septiani
Ku helakan nafas panjangku he….ha aah…mulut mungilku berguman “ternyata surat balasanya bukan jawaban tapi pertanyaan”. “Gadis yang unik“. Tambah ku beberapa saat kemudian.
Pagi harinya ku temui sahabat dekatnya untuk minta penjelasan dan surat balasan Nanda. Saat ini memang aku belum berani ketemu langsung dengannya. Jantung ini takut berhenti seketika, ketika menatap mata indahnya.
“Eh…ternyata Ita mau pulang nich…! Bisik suara hatiku
“ Ta….Ita…!”. Ku berlari sambil terus memangilnya
Ita yang sudah menstater montor Shogunya terperanjat ternyata cowok preman sekolahnya sedang terengah-engah dibelakangnya yaitu aku si Riyan si jago tawuran.
“Riyan…! Ada apa?”. Kamu di kejar-kejar Setan? “. Dengan wajah berseri ia merespon.
“Setan gundulmu…!”. Ku pengin ngomong ama kamu, penting!!!”. Ku pegang tanganya. Ku sambar udara di sekelilingnya.
“Tapi Yan, aku ada acara nich…!”. Ita mencoba menolak.
aku tidak peduli. Ku tarik tangan Ita menuju taman belakang.
“Riyan, sakit lepasin tanganku…!”. Ita mulai kesal dengan sikap kasarku.
“Ta…nich masalah Nanda”. Maksud surat balasanya itu apa?
Dengan wajah kesal, Ita menghentakan tanganya yang mulai kemerah merahan akibat pegangan paksaku.
“Yaa…lepas..! Nanda…!!”. Tanyakan saja padanya?. ku raih tangan Ita dan aku tegaskan.
“Ta...ku benar-benar ga’ paham apa maksud Nanda?”.
“Kamu ingin tahu”. Sikap menantang Ita memaksaku menganggukan kepala.


“Memangnya kamu nggak nyadar apa?”. Perbuatan kamu itu sangat berkontradiksi dengan Nanda..!. Kamu sih Riyan jago tawuran, anak diskotik yang tak karuan, teman setiamu hanya botol minuman dan rokok 76. Sedangkan Nanda, dia pintar, cantik, nurut sama orang tua, alim, anak kyai. Yan, kamu tu baru anak SMU, anak SMU yang kebelengu”. Paham kamu…?
Secepat kilat Ita lenyap dari pandangan mataku. Ia meninggalkanku dengan semilirnya angin taman belakang. Ku angguk-anggukan kepala ternyata apa yang di katakana Ita ada benarnya. Ku akui aku memang anak broken home, semua kebiasaan buruk hanyalah penantian ketidak puasanku pada keadilan Tuhan. Aku merasa ketika aku bercanda dengan gadis-gadis diskotik bermesraan dengan botol minuman itulah kepuasan. Tetapi semua itu salah besar kepuasanku adalah ketika ku temukan cita dan cinta sejatiku.


Ucapan ita terngiang terus di daun telingaku dan sambil ku tatapi sepucuk surat biru. Ku bayangkan wajah berseri Nanda yang antik lagi ayu tersenyum padaku. Ku yakinkan dalam relung kalbuku, kalau cita dan cintaku tertuju padamu Nanda Septiani seorang.
Ke esok harinya…!


Bel masuk berdering di setiap telinga siswa SMUN 1 Semarang. Dengan senyum dan mentari yang setia menyinari bumi. Kulangkahkan kaki dengan pasti dan percaya diri. Hari ini sudah ku putuskan untuk membuka lembaran agenda baru bertema “pertualangan cita dan cintaku bersama Nanda Septiani, juwita hati”.


Setelah bel istirahat berbunyi. Ku beranikan diri untuk bertemu langsung dengan juwita hatiku.
“Nan, bisa kita ngobrol berdua…?”. Ternyata desiran darah dan debaran jantung ini belum bisa ku taklukan sepenuh hati.


“Ada apa Yan…?”. Sahut Nanda datar
“Bisa kita ngobrol di taman belakang berdua Nan…?”. Mataku berbinar penuh harapan.
“Berdua, Yan boleh nggak ku ajak Ita”. Nanda mencoba menawar, sebab dia tahu jika ada dua insan yang bukan muhrim berduaan yang ketiganya adalah Setan. Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan kagum ku, ku anggukan kepala.


***


“Gimana…Yan”. Suara lembut Nanda membuka keheningan setelah kita bertiga duduk-duduk di bebatuan besar taman belakang.
“Gini….Nan”. Tanganku bergetar, hatiku terus berguman, “Ayo…ayo”. Memberi support.
“Surat balasanmu dah aku baca dan ku telaah, ku paham apa maksudmu dan aku rela tinggalkan apa saja demi engkau, juwita hatiku”.


Suasana bertambah hening dan senyap. Wajah kita bertiga tampak serius dan memerah padam.
Kilat petir seakan menyambar wajah Nanda dan Ita. Mereka tidak menyangka aku seserius itu. Karena yang sesungguhnya Nanda sudah bertunggan dengan pria pilihan orang tuanya, satu bulan yang lalu. Ia melakukan itu semua demi sahabat dekatnya Ita. Ita memang jatuh hati padaku, sejak kelas satu SMU, tapi perasaan tidak dapat di paksa. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Ita tahu persis aku tidak mencintainya. Aku hanya mencintai juwita hatiku Nanda.
Ita yang tidak tahan melihat kebiasaan burukku yang selalu menambah kekelaman dunia malam mendamba perubahanku, seperti yang dulu. Memang sebelum ayah dan ibu cerai hidupku penuh kepuasan. Aku menjadi anak penurut, alim, pintar lagi tajir (pokoknya idaman semua gadis). Ita menyuruh Nanda untuk berpura-pura merespon perasaanya dengan harapan Nanda dapat merubah kebiasaan burukku dengan cita dan cinta yang sedang mengebu-gebu di hatiku.
Bel masuk berbunyi. Memecah keheningan taman belakang. Dengan sepontan Ita menyambar tangan Nanda untuk berlari ke ruang kelas.
“Yan kita lanjutkan nanti ya..?”. Itulah kalimat terakhir yang ku dengar sebelum menjauh dariku.


Langkah mereka bagaikan kilat, meningalkanku tanpa jawaban yang pasti. Mulut ini berbisik “padahal jam ke 5 kosong, Pak Hendarto guru matematka kan pergi keluar kota”. Ku penasaran “apa yang membuat Ita dan Nanda tergesa-gesa demikian ya”. Tanyaku dalam hati.
Ku langkahkan kakiku dengan santai tanpa beban tapi penuh harapan masa depan.


***


Di sudut ruang kelas Ita dan Nanda mencoba mencari solving dari masalah baru mereka.
“Ta…gimana nich Ta…?”. Kelihatanya Riyan serius


Ku nggak mungkin nerusin semua ini, ingat Ta ku udah punya tunangan. Dengan cemas, gelisah dan perasaan bersalah, bercampur menjadi satu, Nanda mengutarakan kebingungannya.
“Nan, maafin aku ya…ku juga bingung harus gimana!”.


Ita membisu seribu bahasa. Matanya mulai berkaca-kaca. Nanda merangkulnya tangan Nanda membelai hangat kepalanya, ternyata belaian lembut Nanda menumpahkan seluruh cucuran air matanya. Ita menangis dipelukan Nanda. Seiring dengan belaian lembut Nanda, terucap suara lembut Nanda menambah haru suasana. “ya..ya..ya, ku ngerti perasaan kamu, kalo boleh izinkan aku menjelaskan ini semua pada Riyan”. Bukannya kita mau mempermainkan perasaanya tapi kita melakukan ini semua karena rasa peduli dan sayang padanya. Ku yakin dia mau mengerti. Dalam keterisak-isaknya Ita pun meluapkan kegelisahannya.


“Nan, ku takut, riyan benci padaku…!”. Iya..ya..kamu tenang saja ya!, nanti aku yang ngomong ama dia. Dengan belaian tangan dan suara bijaknya nanda menenagkan hati ita.
Tiba-tiba dan tidak di sangka-sangka, terdengar suara tegasku di telinga juwita hatiku. “Nan, Ita kenapa…? Sakit…?”.


“Rian..!! kamu udah lama di sisni”. Sahut Nanda tak menyangka.
“Baru saja, emang kenapa”. Tanyaku penasaran.


“Ga, ga pa pa kok”. Ku bawa Ita ke belakang dulu ya?. Nanda bergegas membawa Ita yang masih berlumur air mata di pipi merahnya ke belakang.


***


Bel tiga kali tanda akhir pelajaran berbunyi
Tet…….tet…….tet…..tetttt….!
Jantungku berdebar kencang, hati ini mulai tidak tenang antara cinta dan harapan. Sebelum ku memangil Nanda tuk melantunkan obrolan dibelakang sekolah tadi pagi, ternyata Nanda sudah ada di belakang kursiku, ia menungguku membereskan buku di mejaku.
‎”Yan, bisa kita lanjutkan obrolan tadi pagi?”. Tanya Nanda.
“Tentu nan, ku juga sedang menunggu jawabanmu”. Sahutku.
Kita berjalan beriringan keluar dari ruang kelas, terlihat Ita sedang menunggu di samping pintu luar. “Yu Ta…!”. Sapa Nanda.
Kita bertiga melangkahkan kaki menuju taman belakang.
“begini, Yan!”. Nanda membuka pembicaraan.
“Sebelumnya kami berdua minta maaf”. Terlihat wajahku seperti orang kehilangan arah.
“lho kok “ kok kamu berdua minta maaf”. Desah Tanya hatiku
“…..tiada maksud hati untuk mempermainkan perasaanmu apa lagi sampai menyakiti hatimu, sebenarnya, mungkin kamu sudah tahu kalau ita sahabat dekatku dari dulu menaruh hai padamu. Melihat orang yang di cintainya berperang dalam kemaksiatan, hati Ita teriris cemburu.


Ia terpaksa menyuruh aku yang sejujurnya sudah punya tunangan satu bulan lalu untuk bisa merubah kebiasaan burukmu seperti yang dulu. Karena kebetulan hatimu kau jatuhkan di mata binarku. Jelas nanda panjang lebar.


Hatiku tersayat-sayat, ternyata cita dan cintaku juwita hatiku putus di tengah jalan. Ingin ku langsung berlari meninggalkan penat dihati apalah daya tangan ini tak sampai jua. Ita yang di selimuti perasaan bersalah hanya tertunduk dan membisu.
“Yan, ku tahu ini pasti menyakitkan hatimu, tapi ini kenyataan”. Aku senang kamu mau berubah tapi berubahlah untuk dirimu sendiri karena Allah semata bukan karena cita dan cinta sesaatmu Yan..!


Suara lembut Nanda benar-benar mengisi kekosongan hatiku. Tak ku sadari ku menganggukan kepala pertanda. “I agree with you my love”.
Walaupun dia sudah menjadi pinangan orang lain, tapi kenapa ku tetap merasa yakin kalo dialah juwita hati yang menggebu-gebu di relung qalbu.
“Iya….Nan…ku sadari semua itu, terima kasih untuk semuanya, harapan yang kau beri membuat ku tahu di mana keadilan Tuhan sesungguhnya ku coba tegas menatap masa depan walau hatiku tercabik-cabik berlumuran darah”.
“Ta…makasih….ya…untuk perhatian dan kasihmu, tapi ku benar-benar minta maaf, kau terlalu baik untukku tak sepantasnya kau jatuhkan hatimu padaku”. Ita hanya mengangukan kepala tanpa menegadahkanya guna menatapku.
“Nan, maafkan aku kalau aku lancang, tapi ku sudah berjanji pada diriku, kaulah juwita hatiku. Walaupun kau sudah jadi milik orang lain ku masih berharap kau datang dan jatuh dipelukan ku. Aku benar-benar merasa yakin dan sadar dengan apa yang ku katakana tadi.
Nanda hanya tersenyum lembut. “Makasih Yan”.
Tak terasa waktu berputar dengan cepatnya, kumandang adzan ashar pun mulai terdengar
“Yan, Ta! dah sore kita pulang yu….”. Celoteh Nanda sambil beranjak dari tempat duduknya. Kita bertiga beranjak pergi meninggalkan tempat yang penuh kenagan itu.


***


Matahari terperanjak lenyap ditelan bumi pertiwi. Petang datang melanda mengharapakan sunyi. Cinta memang tidak harus memiliki.
Itulah sekilas cerita cintaku di agenda “petualangan cita dan cintaku”.
Nanda Septiani juwita hatiku, yang ku ceritakan pada Robert adik kandungku seraya ku titipkan sepucuk surat biru untuk juwita hatiku. Setelah lama dua bulan berlalu, rasa rindu mengebu ingin rasa hati ini bertemu wajah Nanda yang ayu. Tapi apakah daya…..!


Dear, Nanda
Warna putih itu akan terus putih seperti wajah ayumu. Lembutnya salju tak dapat menandingi lembutnya suaramu. Jantung qalbuku ku persembahkan hanya untuk juwitaku. Wajah ayumu kan ku kenang selalu dalam relung hatiku.
Nanda mungkin ketika kau baca surat ini, kau tak akan dapat melihatku lagi. Karena aku telah terkubur dalam cita dan cintaku padamu. Oh….juwita hatiku..
Aku mengidap paru-paru basah stadium empat. Saat kutulis surat ini ku sedang terbaring lemas, tanpa…., tapi demi untuk berpamitan padamu kuterus berusaha menorehkan tinta hitam ini dikertas biru.
Selamat tingal Nanda. Semoga kau hidup bahagia bersama pilihan orang tuamu.
Kenaglah aku si Riyan yang selalu mengagumimu.
Maafkan aku Nanda Septiani, juwita hati.
Kaulah cita dan cinta ku!
By. Yang menantimu
Riyan

ISTIGHFAR



ISTIGHFAR*

Sudah lama kita tidak pernah bersyukur

Hari demi hari hanya dilewati dengan sikap takabur

Ya, takabur atas segala nikmatnyaKita terlalu sombong untuk sekedar mampir ke masjid

Untuk menemui Rabb terkasihSebenarnya nikmat

Tuhan manakah yang sudah didustakanKita terlalu kikir untuk memanjatkan doa pada-NyaPadahal segala nikmat hidup ini sudah dipenuhi-NyaMungkin bila tanah dapat berkata

Dia akan menolak jasadmu dan membuangmu dari bumi iniWahai engkau yang selalu diberi nikmat oleh AllahSudahkah kau bersyukur pada-NyaBersyukur bukan sekedar berkata

Bukan sekedar berdzikir dalam kalimat bibirSyukurkah engkau wahai manusiaBila perbuatanmu penuh noda

Dan seluruh aliran darahmu dikuasai nafsu belaka

Manusia tetap manusia penuh salah dan lupaApakah kau sekerdil itu ?

Hanya melihat fitrah manusia yang selalu lupa dan khilaf

Kebaikan bukan transparansi kesholehan

Kebaikan yang abadi datangnya memang dari hati nurani

Bisa terlihat matamu yang penuh dendam ketika saudaramu menyakiti

Bisa terlihat amarahmu yang memuncak ketika segala salahmu diketahui yang lain

Apakah kau tidak pernah mengerti bahwa aibmu sudah lama ditutupiSemua tiada sempurna wahai hamba Allah yang mulia

Tetapi pantaskah setiap kali kita terpekur oleh amarah dan dendam

Padahal Allah sudah mengajari kita untuk ikhlas

Ya, ikhlas terhadap apa yang terjadi karena Allah lebih tahu yang terbaikAkan berkata apa dunia malam

Pada hati-hati yang tidak bisa menerima takdir

Hidup itu anugerah terindah dari-Nya

Buat apa harus merasa kurang ini dan itu

Padahal Allah sudah menjadikan kita kaya

Saat tubuh ini terlahir dari rahim bundaJ

ika manusia menangis karena cintanya pada manusiaItu hal yang biasa tetapi bila ada manusia yang menangis karena dosanya

Dan takutnya kepada Rabb Pencinta Hakiki itu hal yang luar biasa

Sebenarnya hidup itu apa?Hanya numpang makan dan minum saja

Dan akhiratlah tujuan utamaHidup akan kekal selamanya di taman terindah yaitu syurga

Apakah kau tidak pernah merindukannya

Apakah hidup hanya sepekanNumpang tidur dan bermegahan

Nikmat Tuhan manakah yang telah didustakan?

Allah telah memberi air yang jernih

Sedang di tanganmulah air itu menjadi kotorAllah telah memberimu udara yang segar

Sedang karena perbuatanmu udara itu menjadi penyakitApakah kau tidak pernah mengerti seperti apa waujud kasih sayang Allah kapadamu

Keluh dan kesah selalu terpancar dari rongga mulutmu

Seperti hidupmu serasa di atas duri

Duri yang menikam segala larut waktu

Padahal karunia Allah selalu datang dan terus bertambah dari waktu ke waktuKau tidak pernah bersyukur wahai manuisiaKau selalu takabur dan menganggap nasib buruk selalu menghantuimu

Sekarang,Mari kita bermuhasabah tentang kesalahan hidup ini

Persiapan apa yang sudah kita siapkan untuk bekal di akhirat nanti

Hidup tak selamanya indah tetapi karena rasa sulitlah kita dapat belajar

Belajar untuk lebih ikhlasBelajar untuk lebih mempersiapkan diri

Ketahuilah kita tidak akan pernah tahu kapan kematian itu datang

Akankah segala kebaikan ini harus tertunda oleh hal yang sia-sia

Hidup kita sekali dan Cuma sekaliKapan lagi kita isi waktu ini untuk menjadi khalifah sejati

Menangislah…

Ayo menangislah…

Dosa-dosamu sudah terlalu tinggi

Belum tentu kebaikanmu dapat menebusnya

Menangislah…

Biarlah lelehan air mata ini menjadi saksi atas kekhilafan diri

Menangislah…

Agar hatimu yang kotor bisa bersih dengan belaian air mata suci

Ya, menangislah…

Agar dosa-dosa ini bisa luntur dan hanyut

Dan tergantikan oleh kebaikan hati yang benar-benar suci


SELAMAT MENIKMATI PUISIKU KAK JAY

SEMOGA DALAM LANGKAH HIDUP INI.

KITA SELALU MEMILIKI RASA SYUKUR YA! salam untuk saudara-saudaraku di IAIN Walisongo. Get a spirit!


*Berthilda Al Zahra Umbar ErnawatiSelimut Bumi dari jernihnya hati Semarang tak terlupakan10 juni 2008. Mahasiswa IKIP PGRI Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia

Rabu, 19 November 2008

Wajib dan Sunnah Dalam Tinjauan Fungsional



Oleh: M. Rohmat*


Suatu ketika mungkin terjadi kebakaran sebuah rumah, waktu sholat maghrib hampir habis. Suatu ketika bisa jadi kecelakaan bersamaan adzan iqomat sholat jum’at. Di hadapkan pemeluk fiqh yang setia kebakaran dan kecelakaan tersebut akan diabaikan dan lebih mendahulukan sholat, sebab sholat sudah ditentukan waktunya. Sholat adalah ibadah mahdhoh (ibadah yang tidak bias ditawar-tawar), sholat adalah amalan pertama kali yang dihisab diakhirat.
Penomorsatuan ibadah mahdhoh (baca sholat) oleh pemeluk fiqh bermula dari kecenderungan fiqh yang membagi ibadah kedalam ibadah mahdhoh, yaitu ibadah sholat, puasa, zakat dan haji, yang kemudian dikategorikan sebagai ibadah wajib dan ibadah ghoiru maghdhoh/muamalat yaitu ibadah yang berkaitan dengan kemasyarakatan yang kemudian dikategorikan sebagai sunah. Pengkategorian ini pada akhirnya menjadi acuan para pelaku fiqh dalam mengambil pola tindakan atas persoalan yang ada didepan mata seperti kasus kebakaran di atas. Tidak berhenti sampai disitu, pengkategorian wajib dan sunah atas dasar mahdhoh dan muamalat pada akhirnya melahirkan masyarakat yang euforia ritual keagamaan namun tidak punya kepedulian segi hubungan kemanusiaan. Dalam anggapan mereka yang utama dari agama adalah sholat, puasa, haji dan ritus-ritus lainnya. Bahkan pengkategorian itu juga kurang menguntungkan dari sisi hubungan manusia dengan alam atau lingkungan. Masyarakat yang sudah euforia ritual keagamaan akan menjadikan ritual sebagai dewa dalam mengatasi segala persoalan kehidupan baik masalah sosial kemanusiaan ataupun persoalan alam (lingkungan hidup).
Bencana yang bertubi-tubi menimpa negeri ini menurut kelompok ritualis adalah disebabkan para penduduk negeri ini banyak melakukan perbuatan dosa, maka seusai banjir dan tanah longsor mereka segera mengadakan taubat bersama dalam bentuk istighosah, mujahadah dan lainnya yang sejenis, namun toh bencana itu tetap saja datang setiap tiba musim penghujan. Apakah taubat negeri ini tidak diterima?
Syarat utama dalam taubat adalah menebus kesalahan-kesalahn dengan perilaku baik (‘amilu al shalihat), bukan sekedar minta ampun melalui kegiatan-kegiatan ritual, dan nampaknya komitmen tersebut yang belum dijalankan oleh penduduk negeri Indonesia raya-han ini. Pada kasus bencana longsor tadi yang seharusnya dilakukan dalam bertaubat adalah meperbaiki lingkungan yang telah dirusak dengan cara menghentikan pembalakan hutan (illegal loging) dan menambah pohon pada lahan kritis yang berpotensi longsor.
Kanada adalah contoh Negara yang rawan tanah longsor, setiap kali terjadi bencana mereka segera melakukan koreksi atas menajemen lingkungan yang telah dijalankan dan segera mengambil tindakan penyelamatan lingkungan, maka bencana longsor di Kanada tidak berulang-ulang parah, sebab orang Kanada menjalankan syarat utama dalam bertaubat berdasarkan ajaran islam, yaitu “wa at bi’isyai’atal hasanata” (mengikuti kesalahan dengan kabaikan-kebaikan), walau mereka bukan orang Islam, bahkan mengkin tidak memeluk agama.
Benang merah yang dapat ditarik dari contoh diatas adalah bahwa wajib dan sunahnya suatu hal tidaklah diukur dari segi apakah hal tersebut rukun Islam (mahdhoh/ritual) atau bukan rukun Islam (ghoiru mahdhoh). Pengkategorian wajib dan sunah atas dasar mahdhoh-ghoiru mahdhoh terbukti tidak mendayagunakan agama untuk manusia, padahal agama adalah untuk kebaikan manusia (hudan linnas).
Wajib dan sunah pada akhirnya harus menyesuaikan konteks yang biasa di istilahkan “empan papan”. Dalam kasusu kebakaran yang harus segera ditolong, rukun Islam adalah memadamkan api. Pada kasus kemiskinan yang mencekik, rukun Islam bagi yang kaya adalah membantu yang miskin bukan pergi haji. Rukun Islam adalah rukun penyelamatan. Maka wajib dan sunah sebaiknya diukur dengan konstruksi baru dan tolak ukur maslahat dan madhoro. Apabila suatu tindakan sangat mengandung maslahat serperti memadamkan api yang membakar rumah, maka tindakan itu wajib manjadi sunah. Agak sedikit maslahat (madhorot) seperti menghisab rokok, maka makruh hukumnya. Bahaya sekali semisal menghisab sabu-sabu atau minum racun tikus, maka haram hukumnya. Selamat berfikir.



*Pemerhati Sosial dan Keagamaan Tinggal di Demak

Puasa, Kekuasaan dan Ketakwaan


Puasa, Kekuasaan dan Ketakwaan
Lukni Maulana*


Membincang puasa dan kekuasaan diri upaya membangun manusia yang beriman dan bertakwa tidak terlepas dari ayat al Qur’an surat al Baqarah ayat 185, menyatakan bahwa setiap umat Islam wajib melaksanakan puasa ramadhan dan tujuannya supaya menjadi insan yang bertakwa.
Puasa bukanlah ekspresi tahunan yang datang untuk diperingati dengan kemewahan. Namun sangat ironi sekali jika puasa dijadikan satu eksploitasi baru sebab masyarakat kita yang cenderung konsumtif dan meyakini akan nilai-nilai tradisi. Sehingga dalam menyambut bulan puasa mereka berkeinginan lebih untuk menyambutnya. Semisal tradisi dukderan dan warak ngendok, sebagai hasil warisan budaya untuk menyambut bulan suci ramadhan.
Ada yang berangapan bahwa jika puasa tiba tingkat komsumsi masyarakat meningkat hingga menyebabkan harga kebutuhan pokok meningkat. Ini disebabkan culture yang sudah berkembang dan meyakini bentuk ekspresi tahunan. Padahal tujuan puasa untuk menjadikan manusia bertakwa.
Namun tidak menjadi masalah jika manusia sadar betul dalam memaknai puasa. Ada nilai lebih dari manfaat puasa selain bagaimana menahan rasa lapar dan haus. Di perintahkan pula untuk menahan nafsu. Nilai etika dan pendidikan ruhaniyah sangat tertanam dalam ajaran ibadah puasa.
Manusia dan kekuasaan diri
Manusia hidup tidak terlepas pada etika, norma dan hukum yang berlaku, begitu juga seseorang yang memeluk agama ada garis pembatas untuk melakukan sesuatu hal. Terlepas dari teori etika Karl Marx berpendapat bahwa moral manusia ditentukan oleh kondisi ekonomi berupa materi yaitu moral manusia ditentukan oleh lingkungan yang mempengaruhinya. Sifat manusia sama sekali tidak memiliki daya dan upaya terhadap kondisi lingkungan. Kondisi sekarang menunjukan bahwa kapitalisme telah menjajah manusia yang cenderung bekerja pada wilayah material.
Faham Karl Marx sampai sekarang tetap masih hidup walaupun komunisme telah hancur teriring hancurnya Negara Uni Soviet, namun faham tersebut tetap bertahan sampai sekarang yaitu mereka yang disebut dengan “wetensdhappelijke socialism” atau sosialisme ilmu.
Di Indonesia dulu aliran Marx atau biasa disebut dengan Marxisme sangat berkembang pesat, terutama kelompok politik sebut saja Partai Sosialis Indonesia (PSI), Marxisme-Trozkist dalam Partai Murba dan Marxisme-Leninist dalam Partai Komunis Indonesia (PKI).
Faham yang kedua datang dari Sigmund Freud seorang ahli “psikoanalisis”, yang menyatakan bahwa manusia sama sekali tidak berdaya terhadap kekuatan yang ada dalam dirinya yaitu berupa kekuatan libido atau kekuatan seksualitas. Semua aktifitas dan pikiran serta perilaku sesorang bersumber pada dorongan kekuatan libido atau seksual, dalam artian bahwa manusia adalah budak sek.
Pertanyaan yang kemudia muncul adalah apa hubungan teori Marx dan Freud terhadap puasa, kekuasaan dan ketakwaan?. Karl Marx dan Sigmund Freud merupakan seorang keturunan Jerman dan Yahudi. Pada teori ini dapat di tarik kesimpulan dua pemikiran yaitu manusia sebagai budak material berupa masyarakat yang cenderung kapital dan budak kekuatan seksualitas berupa perbutan kekuasaan.
Di sebutkan dalam al Qur’an surat Adz Dzariat ayat 56 menyatakan bahwa “tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepadaKu”. Manusia adalah seorang budak “abdun” atau seseorang yang menyembah. Namun realitas menunjukan lain sekarang manusia telah menjadi budak ajaran Marx dan Freud dan menginkari nikmat mereka saling berebut materi di pemerintahan. Manusia telah menjadi budak materi dan libido, kekuasaan diperebutkan banyak orang berpolitik menjadi bendera untuk meraih derajat tertinggi dimata manusia lainnya.
Begitu juga kekuatan libido menjadi dorongan kuat dalam menguasai nafsu seseorang. Nafsu untuk saling menindas, rakyat miskin berupaya keras mencari sedikit rizki namun di todong dengan mainan pistol Satpol PP. Sedangkan para petinggi republik ini saling berebut kursi kekuasaan bahkan paling parahnya para wakil rakyat ini bermesraan dengan pasangan selingkuhannya. Sungguh malang negeri ini jika masih dipimpin oleh mental Marx dan Freud serta jiwa korup yang menjadi pikiran.
Mentalitas pemimpin negeri ini sangat kacau jika masih mengikuti ajaran kapitalis berupa penindasan atas nama kesejahteraan dan kemakmuran. Kita ketahui bahwa kekuatan modal sangat berpengaruh dalam dunia ketiga atau era pasar bebas sebut saja Transnational Corporation (TNC) dan Multinational Corporation (MNC) dan bangsa Indonesia telah terjajah dengan faham kapitalisme global. Mengapa mentalitas pemimpin negeri tidak cenderung keluar dari sarang material dan seksualitas, sedangkan Negara tercinta ini masih saja menjadi budak oleh kekuatan asing.
Semua jawabannya yaitu pada kekuatan diri berupa “nafsu”. Rasulullah telah mengajarkan kepada kita bahwa jihad paling besar yaitu “jihad an nafs”, jihad melawan hawa nafsu atau melawan diri sendiri. Kekuatan nafsu menjadi pendorng mentalitas seseorang sebab jika al hawa atau nafsu al amarah menyerang diri seorang maka sifat jasmani dan ruhani manusia akan lemah dan memiliki mentalitas korup.
Kekuatan pengendali manusia berupa nafsu inilah yang menjadi senjata ampuh untuk mengikat keinginannya tehadap sifat meteri dan seksualitas. Sebab dalam pandangan Marx dan Freud pengendali manusia berkerja pada wilayah lingkungan yang cenderung kapital dan seksualitas atau libido terhadap kekuasaan ataupun selingkuhannya.
Maka saatnya seorang yang mengaku dirinya beriman kepada Allah kembali menata nafsunya. Sesegera mungkin kembali kepada nafsu mutmainah (jiwa yang tenang).
Puasa dan ketakwaan
Puasa adalah ibadah maghdhoh rukun Islam ke empat. Di dalam ajaran puasa sangat berbeda dengan rukun Isalm lainnya seperti syahadat, shalat, zakat dan haji. Puasa lebih berorintasi teosentris berupa semua hal yang dilakukan dan dikerjakan semua hanya Allah yang menilainya. Derajat takwa tidak mudah untuk diraih sebab tingkatan inilah yang menjadi dasar seseorang mengetahui diri dan perannya sebagai hamba atau budak.
Puasa hanya di syari’atkan kepada dirinya yang mengaku beriman sebab puasa merupakan pengendalian dirinya dengan Tuhannya. Karena puasa tidak dapat dilakukan atas dasar penampilan, kekuasaan materi dan kekuatan libido. Puasa menurut bahasa adalah “menahan dari segala sesuatu”. Sedangkan menurut syari’at yaitu menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri dan semua hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari
Dari ibadah puasa ini seyogyanya manusia megetahui jati dirnya, maka tidak cenderung terikat penuh dengan teori faham Marx dan Freud: Pertama, kekuatan manusia memang terikat dengan materi namun juga terikat dengan immaterial berupa kekuatan qalb (hati), puasa mengajarkan menahan nafsu materi sebab disisi Allah hanya hati bertakwa yang bias dekat dengan-Nya. Tidak semua hal dapat dipecahkan dengan kekuatan modal atau uang. Kedua, kekuatan manusia tidak hanya libido namun juga an natiq (pikiran). Nasfu seksualitas pada kekuasaan dan sek, tidak semua hal terpenuhi dengan menguasai tapi lihatlah siapa yang hidup di sekeliling kita, karena puasa mengilhami untuk menjaga nafsu libido dan memulyakan manusia lainnya, Ketiga, nafsu mutmainah bahwa manusia memiliki kekuatan selain kekuatan materi, material, libido dan pikiran. Manusia juga diberi kekuatan berupa kekuatan jiwa yang selalu dalam ketakwaan berupa nafsu mutmainah. Puasa merupakan intisari upaya membentuk jiwa seseorang dan pengemblengan mental tangguh.
Sangat jelas sekali bahwa syari’at Islam mengajarkan untuk menahan diri dari segala hal yang dilarang dan bertujuan untuk meraih tingkatan takwa. Orang yang mencapai derajat pada tingkatan takwa yaitu seseorang yang terpelihara dari segala yang menjerumuskan atau segala hal yang dilarang oleh agama. Ibarat seseorang yang dalam perjalanan ia harus membawa bekal dan tahu tujuan yang diharapkan, jadi agama menjadi bekal untuk mengarungi kehidupan didunia sebagai hamba guna meraih tujuan hidup yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat. Takwa berasal dari kalimat fi’il atau kata kerja “tattaquwn, yattaquwn”, yang berarti melaksanakan seluruh hal yang diperintahkan dan menjahui segala hal yang dilarang.
Saatnyalah manusia kembali mengkoreksi dirnya, siapa yang mengendalikan dirinya kekuatan material kah atau kekuatan libido kah. Semua bentuk penindasan datang karena kekuatan material dan seksualitas. Maka mulai saat ini kembalilah kepada jiwa yang tenang kemabali pada tali Allah berupa agama Islam yang akan mengantarkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Karena Allah menyukai dan mencintai orang yang taubat dan mensucikan diri, bukan materi dan libido.


* Saat ini diamanahi sebagai sekretaris LAPMI Cabang Semarang dan direktur sanggar ilmu&cinta (ILCI) Semarang

KEMBALI MEMERDEKAKAN INDONESIA


KEMBALI MEMERDEKAKAN INDONESIA
Oleh: Hendri Teja*




Pada dini hari 17 Agustus 1945, Mayjend Nishimura, Kepala Staf Urusan Umum Tentara Jepang, merah wajahnya. Nasionalisme Indonesia menggelinding sudah. PPKI pun sudah terbentuk. Tapi lacur, Jepang kalah dalam Perang Pasifik, dan Sekutu menetapkan status quo bagi Indonesia. Tentara Jepang di Indonesia diperintahkan untuk berperan hanya sebagai alat keamanan.
Impotensi Jepang atas pemenuhan janji politiknya membikin Soekarno naik pitam. Trlontarlah kalimat kecaman dari pemimpin besar revolusi Indonesia itu. Kalimat yang menjadi landasan filoshophi perjuangan bangsa ini di masa depan :
Kami hendak merebut kemerdekaan dengan kekerasan… kami tidak ingin diserahkan kepada sekutu sebagai inventaris. Dengan pertimbangan yang masak kami bermaksud meneruskan usaha sebagaimana telah dijanjikan Tenno Haika[1].
Bila ditelisik lebih dalam, pernyataan Soekarno tersebut mengandung beberapa makna penting bagi arah bagi pergerakan pembangunan bangsa ini. Pertama, kemerdekaan adalah harga mati, yang mesti diwujudkan bahkan dengan tindakan kekerasan. Soekarno dikenal sebagai figur yang cenderung kooperatif. Melalui desakan Soekarno, tokoh-tokoh nasional akhir sepakat untuk berkumpul dalam naungan PPPKI – yang notabene merupakan produk pemerintah Jepang untuk menarik dukungan masyarakat Indonesia. Lalu kenapa Soekarno nekad menggelontorkan istilah “merebut dengan kekerasan”? Jawabannya adalah karena masalah pemindahan kekuasaan dari Jepang kepada Sekutu, kemudian dari Sekutu kepada Belanda, merupakan persoalan substansial dan fundamental bagi perkembangan bangsa ini. Persoalan serupa itu tidak memadai untuk diselesaikan dalam kaidah politik baku
Kemerdekaan suatu bangsa dapat dimaknai sebagai kehendak bebas dari suatu bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri. Kemerdekaan adalah otoritas dari suatu bangsa untuk membentuk pemerintahannya sendiri, dalam kaitan untuk melaksanakan harapan dan keinginan luhur masyarakatnya, tanpa ada tekanan dari bangsa-bangsa manapun.Kehendak bebas adalah fitrah manusia. Dan bila kehendak bebas tersebut dipadukan maka akan terbentuk kehendak bebas kolektif. Kehendak bebas suatu bangsa. Kehendak bebas adalah hasrat dan keinginan yang kemudian menjadi motivasi bagi pemiliknya untuk melakukan aktivitas produktif. Ketiadaan kehendak bebas akan membikin manusia tergerus menjadi basyar[2].
Perjuangan mewujudkan masyarakat adil makmur tidak akan terwujud bila masyarakatnya masih bermental, berpikir, dan bersikap seperti budak. Perjuangan itu hanya akan terwujud bila bertumpu pada semangat kolektif dan partisipasi aktif dari setiap individu yang bernaung dalam masyarakat tersebut. Dengan kemerdekaan maka bumi, air, tanah dan segala kekayaan yang tergantung di dalamnya menjadi hak masyarakat tersebut, dan pengelolaannya pun bertujuan untuk mensejahterakan pemiliknya.
Konsepsi itu pernah ditegaskan Soekarno dengan pernyataan sebagai berikut :
“imperialisme berbuahkan negeri-negeri madat, daerah pengaruh… yang di dalam sifatnya menaklukkan negeri orang lain, membuahkan negeri jajahan… syarat yang amat penting untuk perbaikan kembali semua susunan pergaulan hidup Indonesia itu ialah Kemerdekaan Nasional…”[3]
Karena itu, kemerdekaan Indonesia merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Jangankan terpaksa melakukan tindak kekerasan, bahkan bila perlu nyawapun akan dikorbankan demi pencapaian tujuan tersebut. Bukankah semboyan “merdeka atau mati” begitu menguat di masa-masa itu. Harga kemerdekaan memang mahal, tapi itu masih lebih baik ketimbang hidup tertindas, terjajah dan menderita.
Kedua, kemerdekaan Indonesia adalah persoalan martabat bangsa. Soekarno sadar betul kalau sejak penjajahan VOC sampai Jepang minggir, bukan hanya kekayaan negeri ini yang dikuras. Harga diri bangsa Indonesia pun diinjak-injak. Bukan hanya masyarakat kalangan akar-rumput mengalami politik dehumanisasi penjajah. Bahkan tokoh-tokoh bangsa Indonesia yang sekolah ke Belanda pun acap merasa minder di hadapan para bule itu. Dan apalagi yang balik tepat untuk menjadi puncak penghinaan itu kalau bukan menjadikan Indonesia selayak sandal jepit atau sabun mandi yang bisa diwariskan kepemilikannya?
Dengan kondisi perekonomian penjajah yang morat-marit, pembangunan Indonesia ke depan jelas akan sangat tergantung kepada sumber daya alam dan manusianya. Indonesia masih sangat kekuarangan para teknokrat. Dan dengan anjloknya martabat bangsa, maka Indonesia jelas akan serupa bola yang disepak para atlit internasional di pasar dunia.
Ketiga, kemerdekaan Indonesia adalah ketidakberhinggaan kerja keras. Indonesia ibarat seorang gadis yang terlalu jelita untuk menerima kata talaq. Tidak ada bangsa penjajah manapun yang akan rela melepas Indonesia. Bayangkan saja, kemerdekaan Indonesia bermakna Belanda kehilangan sekitar £ 500.000.000 karena penyusutan sampai tiga perempat pendapatan kaum buruhnya[4]. Politik etis Belanda jangan pernah dimaknai sebagai politik balas budi. Kebijakan itu hanya benteng dari tekanan kalangan sosialis di negeri kincir angin, tetapi implementasinya tak lebih dari sekolah untuk para jongos keresidenan Belanda.
Bahkan, kalangan sosialis internasional pun berpendapat kalau tanah jajahan memang budak yang wajib menghasilkan keuntungan bagi penguasanya. Kongres Sosialis Internasional pada tahun 1925, memutuskan kalau Indonesia tidak boleh merdeka. Indonesia hanya diizinkan membentuk pemerintahan sendiri dalam persekutuan kemakmuaran Belanda. Penjajah Jepang juga tak jauh beda. Persatuan Asia Raya tak lebih dari candu yang membikin para pemuda berbondong-bondong mati konyol diterjang peluru bedil sekutu –demi mimpi Indonesia yang mendeka
Kemerdekaan Indonesia adalah ketidakberhingga kerja keras dan pertimbangan yang masak. Kemerdekaan Indonesia murni merupakan cucuran darah, keringat dan air mata dari entitas-entitas pembentuknya. Mulai dari perjuangan tradisionil-primordial sampai modern-kebangsaan, semua aktor sama-sama bergerak menuju tanah air yang masyarakatnya memiliki kehendak bebas.
Kaum-kaum terpelajar yang tercerahkan akan nasib bangsanya kemudian berlarat-larat melakukan perdebatan, diskusi dan bergerak untuk menyusun skenario kemerdekaan Indonesia. Mereka bergerilya untuk membangkitkan rasa cinta pada tanah air dan semangat patriotik rakyat Indonesia. Proses itu berkelindan dalam ruang refresif penjajah, sampai terbentuknya berbagai organisasi pergerakan dan kesepakatan gerakan tingkat nasional.
Kemerdekaan Indonesia memang erat kaitannya dengan hasil akhir PD II. Tetapi ibarat tanah yang subur, tak akan rimbun tetanaman di atasnya bila sang petani tak cerdas menggarap lahan. Desakan Sorkarno Hatta adalah faktor kunci lelehnya Tenno Haika sehingga janji kemerdekaan Indoensia paska 23 Agustus 1945 pun terucap. Bahkan Syahrir, untuk menghindari kecurigaan Sekutu kalau kemerdekaan Indonesia adalah rekayasa Jepang, sampai menyerukan founding father’s untuk meninggalkan PPPKI. Soekarno Hatta sebenarnya sepakat. Tetapi terpaksa membatalkan niat tersebut setelah mempertimbangkan persatuan bangsa karena tokoh-tokoh tua yang duduk di PPPKI saat itu dianggap merupakan perwakilan semua daerah.
Pemuda pun turut berpartisipasi aktif. Dengan cerdas mereka menyadap siaran radio berita kekalahan Jepang. Bahkan sampai kurang ajar, mendikte Soekarno Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan RI secepat mungkin.

Kemerdekaan Indonesia Dewasa Ini.
Beberapa bulan terakhir, media massa ramai mewacanakan kalau Indonesia yang sekarang belum dapat dikatakan merdeka. Sebab nilai-nilai luhur dari kemerdekaan tersebut, faktanya belum diadopsi penuh oleh negara, pemerintah dan rakyat Indonesia sendiri. Perlu ada perjuangan baru merebut kemerdekaan Indonesia yang hakiki. Disebut perjuangan baru karena perjuangan kali ini masih meniti pada seutas tali kegaliban musuh bersama, entah itu elit penguasa, kapitalis domestik, maupun aktor transnasional.
Pola perjuangan masa silam setidaknya bisa dipertimbangkan dalam penyusunan skenario perlawanan tersebut. Pertama, meskipun metode perjuangan bersifat konvensional, tetapi ketika situasi kondisi menuntut metode radikal progresif, maka aktor tidak selayaknya menutup mata. Mulanya pergerakan kemerdekaan Indonesia juga bersifat primordial, tetapi para intelektual produk politik etis kemudian menggagas pola baru perjuangan kemerdekaan yaitu nasionalis kebangsaan, penggorganisiran dalam organisasi tertentu, dan mulai mengedepankan aspek politik ketimbang gerakan bersenjata. Soekarno pun tak terlepas dari pola ini. Pendudukan Indonesia oleh tentara Jepang, mengubah strategi politik Soekarno dari non cooperative menjadi cooperative. Dan ketika Jepang melanggar perjanjian, Soekarno adalah salah satu tokoh yang pertama mengibarkan bendera perang terbuka dengan pasukan Tenno Haika.

Kedua, perjuangan kemerdekaan memerlukan sinergi antara ketiga pelakunya, yaitu aktor utama, elit dan rakyat. Ketiganya adalah tritunggal dengan peran masing-masing. Penguatan kapasitas ketiganya adalah hal yang penting, sementara pengkebirian peran dan penghegemonian ruang gerak kepada seluruh atau salah satunya akan memperlemah gerakan tersebut.
Ketiga, pemetaaan common enemy. Sebelum mencambuk mental budak rakyat Indonesia akan pentingnya kemerdekaan, para founding father’s, secara tidak disengaja, sukses bersama-sama menjabarkan wujud konkrit dari musuh bersama tersebut. Pengkonkritan common enemy membantu rakyat untuk memfokuskan energi perlawanannya dengan efektif dan efisien. Keempat, gerakan mesti dijiwai oleh sinergi antar pelaku, berorientasi kesejahteraan bersama, kerja keras dan keberanian, serta pemikiran cerdas dan kreatif.

*penulis adalah Direktur YASIN-Padang/ Mantan Wasekum HMI Cab Padang














[1] Handayani, Ines, Sekali PPKI Tetap Merdeka, Tempo Edisi 19 Agustus 2001
[2] Mamalia yang tegak dengan dua kaki (Syariati Ali, Tugas Cendikiawan Muslim, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta, 1995.
[3] Soekarno, Pledooi di Pengadilan Bandung : Indonesia Menggugat, 1930
[4] Hatta, Socialist Internationaal dan Kemerdekaan Indonesia, Soeloeh Indonesia Moeda, Edisi 10 September 1928

Kohati Itu Seksis
Oleh: Roni Hidayat*


Pada suatu hari saya membaca sebuah artikel bahasa di sebuah koran Nasional. Kurang ingat siapa yang menulis. Tapi poinnya adalah begini: tulisan itu menggarisbawahi bahwa Bahasa Indonesia itu cenderung tidak seksis seperti beberapa bahasa lain di dunia, Bahasa Perancis atau Bahasa Arab misalnya.
Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah surat usang yang tercecer di sekretariat PB dengan kop surat yang di tulis dengan font besar: KOHATI. Dan dibawahnya ada tertulis dengan font yang lebih kecil: Korp HMI-Wati.

Kohati? HMI-Wati?
Semula saya mengabaikannya. Tanpa saya duga sebelumnya tiba-tiba menyeruak rombongan pertanyaan di hati saya. Mereka menyampaikan aspirasinya. Pertanyaan yang agak beringasan menggedor, mendorong-dorong kesadaran saya mencari perhatian macam demonstran di gerbang gedung wakil rakyat. Mereka tidak kunjung diam apalagi menghentikan aksi meskipun sudah berulangkali saya tegaskan,” Sudah tenang. Itu bukan wewenang saya!.” Tapi mereka tetap tidak peduli. Mereka terus beraksi. Suasana memanas.
Tulisan ini saya dedikasikan kepada mereka yang sedang demonstrasi di hati saya.
Baik, kita mulai saja. Saya tidak berpretensi untuk menjelaskan aspek paradigma, pandangan dunia, problem organisatoris dan lain sebagainya yang rumit-rumit. Karena saya cukup tahu diri bahwa saya tidak cukup banyak tahu tentang seluk beluk Kohati, baik institusi apalagi pribadi-pribadinya. Saya hanya tahu sedikit, itupun berasal dari tulisan-tulisan di beberapa koran lokal di kota Semarang, Jawa Tengah tempat saya berasal.
Setelah saya pikir-pikir. Ada persoalan tersendiri mengenai perihal penggunaan istilah HMI-Wati itu sendiri. Karena Kohati sejauh ini adalah organisasi yang mewadahi para wati-wati atau akhwat HMI maka pertanyaannya adalah apakah di HMI itu anggotanya dibagi menjadi dua HMI yang ikhwan dan HMI yang akhwat. Kalau iya lalu kenapa kita tidak mengenal yang namanya Kohawan?Korp HMI- wan?
Secara prinsip saya sepakat bahwa Bahasa Indonesia itu tidak seksis alias tidak diskriminatif dalam penggunaan kata. Satu untuk semua. Meskipun memang belakangan ada kecenderungan Bahasa Indonesia menjadi seksis atau setidak-tidaknya bernuansa seksis ketika dimunculkan istilah mahasiswi, pemudi dsb. Padahal Bahasa Indonesia hanya mengenal sejarawan, ilmuwan, dermawan. Kita tidak mengenal sejarawati, ilmuwati, dan dermawati. Sejarawan, ilmuwan, dan dermawan meliputi yang berjenis laki-laki dan yang perempuan. Dan dalam sejarah kita juga tidak menulis sumpah pemudi atau aksi-aksi yang dimotori gerakan mahasiswi. Tidak. Saya kira ini bukan karena sejarah kita bias gender tapi memang bahasa kita tidak mengenal pembedaan jenis kelamin dalam pilihan kata. Bahasa Indonesia tidak seksis!
Introdusir istilah HMI-Wati dalam panggung sejarah HMI membawa persoalan bahasa yang berimplikasi kepada kekacauan semantis. Apakah ini menimbulkan kekacauan organisatoris? Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu karena sejauh pengalaman saya ber-HMI belum pernah ada persoalan terkait dengan keberadaan Kohati. Karena di Semarang tidak ada institusi Kohati, setidaknya selama satu dekade terakhir.
Selain itu HMI-Wati terdengar tidak “islami”. Kalau mau lebih islami mestinya Kohati itu singkatan dari Korp HMI-Ukhti. Agak maksa sih tapi menurut saya itu lebih “islami”. Karena wati sejauh pengetahuan saya adalah istilah yang banyak muncul di kebudayaan India, Hindu dan Budha yang memang banyak diserap sebagai nama anak perempuan di kebudayaan Jawa. Bahkan beberapa dasawarasa terakhir meluas di banyak belahan Indonesia. Itu bukanya tanpa alasan. Karena memang sudah diakui sejarah Jawa dan Nusantara adalah bagian penting penyebaran kebudayaan India di dunia. Selain banyak juga yang menuding ini adalah bagian politik jawanisasi Suharto.
Saya sendiri tidak tahu Kohati dan sejarah Kohati itu sendiri, apalagi secara detail. Saya lebih banyak mendengar kabar-kabar dari luar daripada mendalaminya secara serius. Karena mungkin ini benar-benar bukti paling konkrit dari kemalasan saya untuk membaca tapi ini bisa jadi bentuk suatu cerminan alienasi Kohati dari komunitas HMI. Dan yang saya yakini adalah saya tidak sendiri. Mungkin lebih banyak anggota HMI yang ikhwan atau bahkan yang akhwat juga tidak lebih baik dari saya perihal pengetahuan tentang Kohati.
Dalam rangka menghindari kekacauan semantis dan ketidak konsistenan bahasa maka ada baiknya kita menjernihkan ini. Kalau saya boleh usul saya lebih sepakat kalau kata Kohati itu tidak usah dipakai sebagai singkatan Korp HMI-wati. Karena ya itu tadi terlalu banyak pertanyaan dan kekacauan yang ditimbulkan dari kata HMI-Wati itu sendiri. Apalagi kalau ada yang memandangnya dari sudut feminisme. HMI-Wati bisa jadi dituduh biang bias gender. Kohati ya Kohati begitu saja.
Saya cinta Kohati. Dan mendukung kohati tetap ada meskipun memang saya sepakat dengan mereka yang mengusulkan agar Kohati mesti memperjelas posisioning dan identifikasinya. Kohati mau fokus di subyek garap atau obyek garap. Kalau di subyek garap berarti memang Kohati itu mesti anggota yang putri-putri, yang ukhti-ukhti, yang waati-wati. Sementara kalau pada bidang garap maka Kohati itu milik siapa saja. Artinya setiap anggota HMI, seperti saya yang ikhwan apalagi yang akhwat mempunyai hak yang sama untuk terlibat dalam Kohati. Jadi kalau pilihan kedua yang ditetapkan maka bisa jadi ketua Kohati adalah seorang ikhwan(!?).
Saya memiliki kedekatan emosional yang khas dengan Kohati. Karena bagi saya yang berasal dari suku jawa kata Kohati itu memiliki makna yang dalam. Bahasa jawa mengenal yang disebut kerata basa, satu kata yang tersusun dari beberapa kata. Jadi bisa jadi dulu pengusul nama Kohati adalah anggota HMI yang berasal dari suku jawa. Kohati berasal dari kata ko dan hati.Ko bisa berasal dari kata saka (baca: soko) atau seka (baca: seko) yang bermakna dari , dan ko juga bisa berasal dari kata saka (baca: soko) yang berarti pilar. Sedangkan hati berasal dari kata (h)ati yang artinya sama dengan Bahasa Indonesia; hati. Jadi kohati dari analisis kerata basa tadi mengandung arti dari hati atau pilar hati.
Saya tidak berani dan memang tidak bisa meyakinkan anda semua untuk menerima ini dengan hati puas. Apalagi jika ditanya validitasnya. Referensinya apa? Karena ya itu tadi, ini tidak lepas dari subyektivitas saya sebagai seorang jawa. Juga keterbatasan pengetahuan dan wawasan saya tentang Kohati itu sendiri. Serta terkait dengan penghayatan saya sebagai seorang HMI yang menerima takdir sebagai seorang laki-laki, dan sekaligus seorang Jawa. Yang jelas ketika menyebut Kohati selalu dua makna itu yang menyentuh hati saya.
Kohati berarti dari hati. Kohati berarti pilar hati.
Sekian dan semoga dengan ini demonstrasi di hati saya tidak menjadi-jadi.
(Mabes Poltangan, Muharram 1429 H)

*Ketua KPN (Korp Pengader Nasional) PB HMI

Pesan Etik Punakawan untuk Idul Fitri


Pesan Etik Punakawan untuk Idul Fitri

Lukman Wibowo
*


Ini kali yang ke 1429 umat Islam merayakan idul fitri. Di seluruh dunia, kaum muslim gegap-gempita memakmurkannya. Setelah penaklukan kemaksiatan diri melalui ritual ramadan, tiap orang berhak merasa menang di hari itu, kendati “sang juara” ditentukan Tuhan secara tak kasat mata.
Ironisnya (bagi banyak orang), tiap kali idul fitri dinikmati, tiap kali itu pula pintu awal kegagalan dibuka. Gagal menjadi pribadi yang saleh; gagal mewujudkan masyarakat yang unggul.
Idul fitri seyogyanya menjadi tapal batas bagi masa silam yang nir-kebajikan menuju masa mendatang yang penuh perbaikan. Bukankah idul fitri semacam jeda tahunan dalam perjalanan jihad sepanjang hidup? Seharusnya, kaki pencerahan umat, melanjutkan langkah ke depan di hari tersebut. Bukan justru sebaliknya: kembali ke pemaksiatan diri seperti tempo sebelumnya!
Pesan etik punakawan
Pesan etik yang berbunyi fatruk ma bagha nala samirana--tinggalkanlah yang durjana (maka engkau akan) memperoleh yang baik--barangkali berguna untuk diapresiasi dalam konteks idul fitri.
Konon, frase tersebut berasal dari semenanjung Arab yang dibawa oleh Sunan Kalijaga, lalu diadaptasikan ke dalam epik kebudayaan Hindu-Jawa, menjadi wayang punakawan. Para punakawan--empat serangkai yang terdiri dari Petruk, Bagong, Gareng, dan Semar--merupakan orang-orang yang menempuh metaformosis atau perubahan karakter hingga menjadi sosok yang sempurna.
Petruk dimodifikasi dari kata fatruk yang artinya tinggalkanlah. Fatruk adalah hulu dari nasehat dalam dimensi makrifat, yaitu fatruk kulla maa siwallaahi, tinggalkanlah semua kecuali Allah. Dalam pewayangan, Petruk bergelar Prabu Kantong Bolong. Kantong bolong (kosong) adalah sebentuk makna bahwa manusia mestilah menzakatkan harta serta raga, dan menyerahkan seutuhnya jiwa kepada Tuhan. Sosok Petruk adalah pesan pemurnian diri di momen idul fitri.
Bagong dinukilkan dari istilah bagha yang berarti ketercelaan. Layaknya semua gejala alam di kolong langit, “bagong (laku tercela)” adalah satu sisi yang mafhum ada dari eksistensi prilaku manusia. Pemahaman ini sejalan, mengingat Bagong tercipta dari bayangan Semar yang bijak. Bagong merupakan semacam satire, agar manusia meninggalkan kebatilan. Terlebih di lembaran baru, saat dan paska idul fitri ini.
Gareng, lengkapnya Nalagareng, adalah kodifikasi dari nala dan qorin yang artinya memperoleh teman. Alkisah bahwa Gareng adalah figur yang tak piawai berbicara, namun ia cerdik juga sakti mandraguna. Kevisian Nalagareng memberikan amanat kepada umat muslim untuk senantiasa menumbuhkan persaudaraan. Idul fitri sepatutnya dibawa ke dalam hakikat membangun perdamaian (friendship and familial relationship) intern dan antar umat beragama.
Penamaan Semar dirujuk dari kata samir alias teman yang dekat. Paras jelek Semak, berbalik dengan keluasan ilmu dan budinya. Dalam tradisi adiluhung Jawa, semantik samir disepadankan dengan istilah ismar, sang pengokoh.
Ketika esensi Semar masuk ke dalam idul fitri, ia mengajarkan adab bagaimana berkomunikasi secara dekat, menyentuh hati, dan merintis pertemanan tanpa jarak. Martabat Idul fitri tidak harus melulu dibangun dengan suasana fisik yang cantik dan meriah, tetapi yang penting adalah tumbuhnya komitmen moral dan budi pekerti, rekonsiliasi sosial, serta mengokohkan insiasi (niat) di titik nol idul fitri; pijakan untuk memulai langkah selanjutnya dalam prosesi mencapai pribadi yang purna.
Bagi para penghormat jasad, menghargai idul fitri dengan segala bentuk material (seperti perangkat busana atau penampilan) baru, tidaklah salah sepenuhnya, namun sesungguhnya yang utama adalah pembaruan jiwa.
Idul fitri bukanlah perayaan rutin yang dibiarkan selalu hampa nilai. Ucapan maaf dan pertaubatan ibarat patah tumbuh hilang berganti bagi para pendosa di jagat semesta. Idul fitri bukanlah “politik” pengampunan untuk sang penindas, melainkan wahana menuntut keadilan bagi yang tertindas. Idul fitri tidak pantas dihadirkan sebagai ruang tertawa bagi kaum pembual kata.
Tuhan menjadi saksi atas pernyataan maafmu di hari ini: Maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang membuat-Nya sakit hati.
* Dosen AKP Widya Buana;
penekun di majelis Kenduri Hani

Senin, 20 Oktober 2008

KEBUDAYAAN BANGSA YANG TERANCAM

Oleh: Sugiharti

Masih segar dalam ingatan kita ketika kesenian reog Ponorogo “dicuri” Malaysia. Hampir semua elemen Bangsa Indonesia mengecam tindakan itu.(Suara Merdeka,20/9/2008). Sekitar dua puluh sembilan artefak budaya tradisional Indonesia telah diklaim bangsa lain. Diantara artefak budaya tradisional yang “dicuri” tersebut berupa tarian, ornament, motif kain, alat musik, cerita rakyat, musik dan lagu, makanan dan minuman, seni pertunjukan, produk arsitektur dan lain sebagainya. Dari jumlah pembajakan, pencurian dan pengklaiman atas budaya tradisional Indonesia, sebanyak 64% dilakukan oleh pemerintahan Malaysia. Jika masyarakat maupun pemerintah tidak segera mengambil langkah upaya pelestarian budaya daerah, maka beberapa tahun ke depan, akan lebih banyak lagi budaya yang akan dipatenkan oleh negara lain.

Disadari atau tidak, secara tidak langsung masyarakat maupun pemerintah turut andil atas diklaimnya artefak budaya tradisional oleh negara lain. Kenyataanya, kesadaran masyarakat terhadap pelestarian budaya masih sangat minim. Begitu juga pemerintah yang hingga saat ini belum mengambil tindakan dalam upaya pelestarian budaya. Kelalaian tersebut menyebabkan kita kecolongan budaya daerah yang selama ini telah menjadi khasanah kekayaan negeri kita. Secara yuridis kita lemah dalam hal kepemilikan artefak budaya tradisional. Sulit bagi kita untuk merebut kembali budaya yang telah diklaim oleh negara lain, karena pemerintah sendiri belum memiliki semacam perlindungan hak paten yang berkekuatan hukum untuk melindungi artefak budaya tradisional.

Indonesia negara yang sangat luas dan sangat kaya ragam bahasa dan budaya. Hal ini mendororng negara-negara lain yang nota bene “miskin” kreatifitas untuk mencuri budaya tradisional kita. Kebudayaan tradisional yang telah dipatenkan tersebut dijadikan orientasi profit bagi oknum-oknum negara lain.

Perlu Bukti Otentik

Memang bukan hal mudah untuk merebut kembali budaya yang telah diklaim negara lain. Kenyataanya, Indonesia tidak memiliki badan seperti di India (National Biodiversity Authority dan Traditional Knowledge Digital Library) yang mencatat semua jenis budaya dan karya seni yang ada bukti otentik, kajian ilmiah serta berkekuatan hukum. Selain itu, masih sedikit orang Indonesia yang peduli akan kelestarian seni dan budaya. Langkah serius perlu dilakukan, terutama good will dari pemerintah untuk mengidentifikasi budaya yang ada di setiap daerah dalam rangka mencari data yang valid sebagai bukti otentik. Paling tidak, bukti otentik tersebut dapat meminimalisir terjadinya pengklaiman terhadap budaya Indonesia.

Generasi Muda dan Budaya

Generasi muda sekarang, tidak banyak yang bisa dilihat dari aktivitas mereka yang berorientasi pada pelestarian budaya, khususnya budaya tradisional. Pengaruh budaya barat memiliki andil yang besar terhadap renggangnya generasi muda pada sentuhan-sentuhan budaya lokal. Tidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan teknologi yang begitu pesat telah merubah semua perilaku masyarakat. Mereka lebih suka bercengkerama dengan tombol handphone daripada menonton acara wayang kulit. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa kemajuan teknologi telah berhasil menggilas kebudayaan yang menjadi khasanah keberagaman negeri kita.

Kini, banyak anak muda yang merasa gengsi untuk “membawa” budaya daerah di negeri sendiri. Mereka berfikir bahwa menggunakan atribut kedaerahan membuat mereka ketinggalan jaman, kampungan dan apapun itu sebutanya. Paradigma demikian memang sangat riskan terhadap lunturnya kearifan lokal. Ketika negara lain begitu kagum dengan budaya kita, dan ingin sekali memiliki, kenapa kita sendiri justru malu menunjukanya. Contoh kongkret di lapangan, anak-anak muda lebih suka menonton konser musik barat dari pada melihat panggung kethoprak maupun tari-tarian tradisional.

Pentingnya Peran Media

Media adalah sarana yang sangat strategis bagi upaya pelestarian dan pengembangan budaya tradisional. Melalui tayangan di televisi, secara tidak langsung dapat memberikan rangsangan yang positif terhadap masyarakat, khususnya generasi muda untuk lebih mengenal dan mencintai budaya tradisional. Selain itu, eksistensi budaya tradisional tersebut juga tetap terjaga dan dapat dikenal oleh masyarakat dunia ketika mereka mengakses televisi Indonesia. Oleh sebab itu, media masa khususnya televisi hendaknya dapat mencerminkan nilai-nilai budaya yang menjadi keragaman bangsa kita. Lebih penting lagi, apabila acara yang menampilkan budaya tradisional tersebut menjadi salah satu misi yang diusung oleh setiap stasiun televisi di Indonesia.

Penting bagi masyarakat maupun pemerintah untuk senantiasa bekerja sama dalam melindungi artefak budaya tradisional. Menanamkan rasa memiliki dan cinta terhadap budaya daerah yang telah diwariskan oleh nenek moyang merupakan kewajiban kita semua. Keberhasilan dalam perlindungan artefak budaya daaerah tidak terlepas dari peran semua pihak baik media, masyarakat maupun pemerintah. Kita harus dapat menunjukan kepada masyarakat luas bahwa kita mampu menghargai dan menjaga serta melestarikan warisan leluhur. Suatu saat, anak cucu kita tidak akan kehilangan identitas dan kepribadian bangsanya selama tradisi dan budaya tradisional tetap dilestarikan.

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com