This is default featured slide 1 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 2 title

Foto Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 3 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 4 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

This is default featured slide 5 title

Majalah Bersuara LAPMI Cabang Semarang

Kamis, 26 September 2013

Akademi Hijau Hitam (AHH) HMI Cabang Semarang


Akademi Hijau Hitam (AHH), Kuatkan Aparat Organisasi

Bidang Pembinaan Aparat Organisasi (PAO) HMI Cabang Semarang adakan Akademi Hijau Hitam (AHH) dengan tema “Internalisasi Ruh HMI Melalui Penguatan Peran & Fungsi Aparat Upaya Mewujudkan Citra Diri Kader”. Akademi ini dilaksanakan pada Sabtu (21/9/2013) pagi sampai Minggu (22/9) siang di Pendopo rumah Kanda Khoirrudin, Banyumanik. Kegiatan ini diikuti oleh 32 peserta yang merupakan pengurus-pengurus Komisariat Se-Semarang, terdiri dari: FPBS (15), MIPA (6), FIP (1), PPKN (4), SYRIAH (1), TARBIYAH (2), UNDIP  (1) dan VETERAN (3). Kegiatan ini diselenggarakan dengan tujuan 1) Mengaktualisasikan pemahaman pengurus akan peran dan fungsinya. 2) Mempertegas pemahaman kader terhadap makna perkaderan dan perjuangan. 3) Mempertegas citra diri kader HMI.
"Perkaderan di HMI tidaklah berhenti sampai pada saat tidak menjadi anggota tetapi setelah menjadi alumni juga masih dikader, seperti menjadi pembicara dalam training dan diskusi kegiatan HMI" papar Kanda Singgih.
Seperti kultur dari kegiatan-kegiatan HMI pada umumnya, kegiatan ini diisi dengan diskusi materi-materi perkaderan antara lain : 1) Strategi perkaderan yang disampaikan oleh kanda M Sri Handodko. 2) Pengelolaan Perkaderan oleh kanda Singgih. 3) Kedirian Aparat oleh kanda Sindi Setyadi. Selain itu, kegiatan ini juga diisi dengan tadarus bersama (ba’da maghrib dan ba’da subuh), shalat lail berjamaah, sharring perkaderan dan out bond. Follow_up dari kegiatan ini adalah setiap komisariat  wajib melakukan strategi perkaderan yang aktual, sesui dengan permasalahan-permasalahan yang dialami oleh komisariat masing-masing dan akan dipantau oleh cabang selama 2 bulan, yang kemudian kegiatan tersebut akan kembali di-sharring-kan setelah 2 bulan berlangsung. 
Kepanitian dari kegiatan ini diambil pengurus HMI Cabang Semarang dan kader-kader komisariat sebagai berikut. SC : Chusnul Chotimah, Zuliatun Saadah, Johan mahendra, Taufikkurrohman. OC: Beta, Rida, Nisa, Nurul, Budi, Ifa, Ria. Meskipun telah dipersiapkan dalam evaluasinya ada beberapa kendala yang dihadapi antara lain: 1) Tujuan dari kegiatan tersebut belum bisa tercapai secara maksimal, karena peserta yang hadir hanya sebagian pengurus dari seluruh komisariat yang ada di Semarang. 2) Ada beberapa peserta yang tidak full time mengikuti rangkaian kegiatan, sehingga materi yang disampikan tidak mereka terima secara penuh. 3) Tempat yang cukup panas, membuat peserta kurang nyaman. (NR)

Selasa, 24 September 2013

PELANTIKAN LAPMI CABANG SEMARANG 1434-1435H




Alhamdullilahirrabilalamien....Acara pelantikan pengurus LAPMI CABANG Semarang periode 1434-1435 H/2013-2014 M berjalan dengan lancar. Pelantikan ini diadakan pada Minggu, 22 September 2013 bertempat di sekretariat HMI Cabang Semarang dan dihadiri 30 kader HMI se-Semarang. Prosesi acara dimulai dengan ikrar pelantikan dan dilanjutkan diskusi bersama Kanda Alfin Hidayat S.Pdi (Journalist majalah). Diskusi ini membahas tema "Optimalisasi Potensi Jurnalistik Islam menuju Profesionalitas Jurnalis". Beliau mengawali pembicaraannya bahwa HMI sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan juga pastilah dalam perjuangannya dilandasi dengan ilmu. Ilmu memberi kita alternatif arah yang akan kita tuju. Sehingga kita tidak akan gagap dalam melaksanakan perkaderan atau berjuang di dalamnya.

Beranjak kepenjelasan berikutnya tentang apa itu jurnalis, pers dan jurnalis islam ? Jurnalis dikatakan beliau, merupakan pekerjaan profesi yang kita sebut wartawan. Sedangkan pers adalah sebuah kegiatan mengumpulkan atau mengolah informasi yang didapatkan oleh jurnalis. Dalam Pasal 33 UU No. 40 1994 fungsi pers meliputi : sebagai media informasi, media pendidikan, media hiburan, dan control sosial. Pers juga ikut andil besar dalam membentuk dan mengarahkan opini publik, paparnya. Ada beberapa ciri-ciri jurnalis islam diantaranya : 1. beragama islam dan musyadid (menulis berita yang benar), 2. Mujahid, 3. Muwahid (Mengedepankan Persatuan Islam) dan 4, Profesionalitas. LAPMI Cabang Semarang mestinya menjadi wadah dan icon bagi kader-kader HMI untuk senantiasa menulis, apapun itu. Kepada saudara-saudari kita semua NOOR ROCHMAN, TIAN PURWO YUWONO, BELO LESMONO,saudari ANDINI SIWI ARGO dan saudari KONIATUN semoga bisa menjalankan amanah sebagai pengurus LAPMI yang baru.. keep brotherhood...




Selasa, 12 Maret 2013

Memperingati hari korupsi

(Refleksi Hari Antikorupsi Sedunia)
Persoalan Sosiologis – Filsafati dan Strategi Memerangi Korupsi
Oleh Lukman Wibowo
Sumber : www.harianjoglosemar.com
(Artikel ini telah dimuat di Harian Joglosemar, 8/12/2009)
Setiap jatuh tanggal 9 Desember, kita memperingati Hari Antikorupsi Internasional. Tujuannya, agar seluruh negara di dunia terbebas dari perkara korupsi. Bahkan di bulan ini, untuk mengapresiasi momentum tersebut, aksi massa bakal digelar secara serentak di berbagai penjuru tanah air Indonesia. Terkait dengan hal tersebut, Presiden SBY—lewat pidatonya kemarin (4/12)—sempat khawatir pada kemungkinan terjadinya anarkisme yang berjalan di luar kontrol. Kekhawatiran semacam itu seyogyanya tak perlu berlebihan, mengingat aksi massa tersebut adalah bersifat gerakan moral semata; bukan kudeta.
Apa yang menarik dari perayaan Hari Antikorupsi di negara kita ini? Jawabannya: Kita sedang merayakan sebuah perang melawan kejahatan korupsi yang terjadi secara sistemik.
Ya, perang yang kian sulit. Jika dahulu korupsi dilakukan di bawah meja, kini korupsi dilakukan di atas meja. Sejalan dengan asumsi ini, Transparency International Indonesia (TII) menuliskan laporannya: Runtuhnya Orde Baru tidak memperkecil kasus korupsi, justru sekarang keadaannya kian parah.
Sepanjang era Reformasi, beraneka institusi dibentuk untuk mengawasi sekaligus melibas sepak terjang para koruptor. Namun Indonesia masih tetap saja menjadi lahan persemaian tindak korupsi; mulai dari pejabat tinggi hingga merembet ke level pejabat rendah; juga tak hanya terjadi di pusat kota, tapi telah menyebar ke tingkat kelurahan maupun desa.
Masa Transisi; Persoalan Sosiologis dan Filsafati
Skala fluktuatif tumbuhnya prilaku korupsi, dapat dilihat dari kacamata sosiologi-politik masyarakat kita dewasa ini. Samuel Huntington dalam Political Order in Changing Society mengemukakan 3 hal penyebab suburnya korupsi di negara yang sedang memasuki fase transisi di era modern.
Pertama, modernisasi menawarkan norma-norma baru yang lebih rasional ketimbang norma yang berlaku sebelumnya. Akibatnya, benturan antarnorma tak dapat dielakkan. Dalam suasana transisi ini—yang bisa memakan waktu selama 1-2 generasi—dimana norma baru belum diakui, sementara norma lama mulai goyah, maka terbukalah kesempatan orang untuk berbuat semaunya tanpa legitimasi dari kedua macam norma tersebut. Tindakan amoral korupsi, tumbuh leluasa di luar kontrol dua norma yang sedang berbenturan itu.
Kedua, dibukanya sektor industri yang memunculkan sumber-sumber kekayaan baru. Masuknya modal asing berdampak pada terciptanya relasi jembatan emas untuk menjalin kerjasama antara pemilik “kekuasaaan politik tapi miskin harta” dengan pemilik “harta tapi miskin kekuasaan”. Akhirnya, “hubungan gelap” di antara kedua pihak tersebut muncul, untuk berbagi kuasa dan kekayaan.
Ketiga, pada masa transisi, biasanya negara membuat banyak lembaga maupun undang-undang yang baru. Efek sampingnya, terjadilah “negosiasi” antara penegak hukum dengan mereka yang menjadi sasaran hukum. Dengan demikian, pemerintahan yang sedang melakukan perbaikan (reformasi) sistem politiknya, di saat yang sama juga akan membengkakkan jumlah tindak korupsi. Perseteruan KPK-Polri-Kejaksaan, adalah contoh konkretnya masalah ini.
Ditegaskan juga oleh Harvey Cox dalam The Secular City, korupsi akan kian tak terkendali jika negara tersebut terdiri dari berbagai suku yang amat plural. Ikatan primordial dan nepotisme yang masih kuat, akan memberi iklim kondusif untuk berbuat korupsi. Cox pun menambahkan, bahwa korupsi sulit diberantas karena korupsi melibatkan banyak pihak. Sehingga sesiapa yang coba melacaknya, malah justru terjebak di dalamnya.
Apa yang diulas Huntington dan Cox, kini sedang terjadi di Indonesia. Reformasi sebagai masa transisi sosial-politik, tak hanya melahirkan semangat baru, namun juga di arah yang berbeda, telah nenambah kronisnya hambatan-hambatan bagi reformasi itu sendiri. Jalan reformasi terganjal oleh pihak-pihak yang ingin memupuk kekayaan, dengan memanfaatkan kesempatan masa transisi yang labil.
Di luar kacamata sosiologi-politik, kita juga bisa merujuknya dari 2 aliran filsafat yang berbeda; cara pandang fungsionalis dan strukturalis. Dalam filsafat fungsionalis, tindak korupsi disebabkan oleh watak. Artinya, korupsi hanya sanggup diberantas ketika watak korup pelakunya bisa diperbaiki. Filsafat strukturalisme justru melihatnya dari sudut yang berseberangan. Korupsi bukanlah watak yang ajeg. Sifat manusia tumbuh di bawah pengaruh struktur sistem di luar dirinya. Sistem yang baik akan menciptakan manusia yang baik, demikian sebaliknya; sistem yang korup niscaya menciptakan manusia yang korup.
Dua filsafat tersebut memiliki proporsi kebenaran yang sama. Ini berarti, sinergisitas antara perbaikan sistem dan perbaikan moral, harus terus dikuatkan.
Strategi Memerangi Korupsi
Ada beberapa agenda strategis yang dapat ditempuh dalam rangka memerangi korupsi sistemik di negara ini.
Pertama, melakukan sterilisasi terhadap institusi-institusi kenegaraan—terutama institusi penegak hukum (seperti Polri, MA, dan Kejaksaaan)—dari peluang berlaku korup. Untuk itu perlu dilakukan seleksi ulang Hakim Agung dengan memperkuat posisi Komisi Yudisial (KY). Selain itu, KY harus di-support dengan efektifitas hadirnya Komisi Pengawas Kejaksaan, dalam mengawasi kinerja para jaksa di pusat sampai daerah.
Untuk institusi kepolisian, langkah yang bisa ditempuh adalah dengan cara melakukan perubahan sistem internalnya. Secara garis besar, 3 aspek sistem yang bermasalah ini adalah: Aspek instrumental (paradigma dan kerangka filsafat); aspek struktural (desain kelembagaan dalam hubungannya dengan lembaga-lembaga lain); dan aspek kultural (operasional sehari-hari, baik itu masalah manajemen ofisial maupun kinerja polisi di lapangan).
Otoritas kepolisian juga harus dinormalisasi: Kewenangannya tak boleh terlalu besar seperti saat ini. Otoritas polisi dapat didistribusikan ke berbagai institusi pemerintahan. Dalam konteks ini, kita bisa belajar dari Amerika Serikat; yang telah meletakkan depositioning polisi di bawah sejumlah departemen.
Selain itu, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) dan Indonesia-Police Wacth (IPW) patut diberdayakan secara optimal. Dua lembaga pengawas ini harus diposisikan independen, baik secara struktural maupun kultural.
Kedua, membangun mekanisme peradilan korupsi yang efektif. Perlu dibuat khusus satu lembaga peradilan korupsi. Semua kasus korupsi prosesnya dilaksanakan dalam lembaga khusus ini, bukan oleh pengadilan umum (PN) atau pengadilan Ad Hoc. Ini penting dibuat guna meminimalisir terjadinya praktik suap di PN dan KPK.
Ketiga, mengelola kasus-kasus korupsi dengan transparan agar tak ada politik dagang sapi (judicial coruption) dalam proses pengadilan. Transparansi ini bisa disusun dengan memanfaatkan teknologi informasi (e-court) untuk pelayanan publik.
Keempat, melakukan eksaminasi (pengujian) publik atas putusan perkara korupsi. Jika terjadi kontroversi atas putusan tersebut, maka publik (kalangan akademisi dan penggiat hukum) dapat melakukan kontrol hukum dengan semangat yang lebih objektif (Riewanto, 2007).
Kelima, lebih membudayakan sikap antikorupsi di seluruh lapisan masyarakat. Banyak hal strategis maupun taktis yang mampu kita perbuat untuk memberantas korupsi. Itikad bersama yang kuat adalah kuncinya.
* * *
Tiada yang sulit untuk memerangi kejahatan korupsi. Selama masih ada political will yang kokoh dari seluruh stakeholders negara maupun masyarakat, korupsi pasti bisa dilumpuhkan.
Selamat merayakan Hari Antikorupsi, selamat berperang melawan korupsi!
Lukman Wibowo—Buruh bangunan;
Aktivis kebudayaan;
Tinggal di pinggiran kota Semarang

Minggu, 03 Maret 2013

Korupsi menjadi Kebutuhan para Pejabat


Sejak tahun 2000, atau selama 12 tahun sampai waktu ini, bisa dikatakan waktu yang sangat maju dan berkembang di Negara kita ini. Namun, perkembangan yang begitu signifikan harus tercemar oleh keadaan yang pahit dari pejabat negeri yang korupsi.
Negara yang begitu berlimpah ruah SDM dan perkembangan teknologi serta birokrasi, menjadi luapan sifat materailis kaum hedonis para pejabat negeri ini. Dalam hiasan hegemoni kekuasaan yang seharusnya bisa dijadikan harapan rakyat menjadi kemerosotan yang begitu “bobrok” untuk dirasakan rakyat.


Degradasi 

Inilah keadaan yang sedang terjadi di Indonesia Negara paling korup nomor 5 setelah Negara Kamerun dari 146 negara di dunia, baik dari aspek moral sampai kekuasaan semua telah terdegradasi dari nilai kehidupan yang sesungguhnya. yaitu hidup dengan idealisme Negara timur  yang dijunjung tinggi di Negara ini. Pejabat negeri yang dijadikan sebagai figur penolong sekarang mejelma menjadi sosok yang arogan dan tak mau tahu dengan apa yang ada disekitarnya. Rakyat telah terbodohi hampir 3 Triliun lebih keuangan negara ini amblas tertelan para kaum borjuis yang hanya bertindak tanpa berfikir.
Sekarang apa yang bisa dibanggakan lagi dari negara ini? Jika semua pejabat hanya mengedepankan materi tanpa kinerja yang baik, semuanya hanya memperkaya diri sendiri dan memiskinkan para rakyat yang akan merasakan penderitaan.
Menurut Masrukhan S.Pd., salah satu pengamat politik dan aktif menjadi pengajar di salah satu Instansi di Daerah Demak mengatakan, budaya Korupsi terjadi karena bebarapa factor yang mempengaruhi,
Pertama, kurangnya penghayatan atas ajaran yang dianutnya, sehingga moral tergadaikan dengan hal yang sifatnya materi saja. lebih parah lagi Negara Indonesia yang dikenal dengan Negara yang berpenduduk mayoritas muslim sekarang dipandang oleh Negara lain dengan sebelah mata karena perkara korupsi yang sering muncul sekarang ini.
Kedua, lingkungan pekerjaan yang mendukung juga menjadi aspek penting yang mendukung para pejabat melakukan tidakan korupsi tanpa ada rasa takut sekalipun karena semua yang ada dalam lingkungan itu memiliki idealisme yang sama yaitu idealime materalistik.
Ketiga, karena kebutuhan keluarga yang hanya mengedepankan sifat materialisme sehingga para pejabat negeri ini berlomba-lomba untuk menebalkan kantongnya sendiri tanpa menilik ke belakang nasib para rakyat nantinya akan menjadi seperti apa?inilah kebodohan para pejabat negeri yang tak berdemokrasi dengan rakyat.

Perubahan
walaupun terjadi permasalahan yang sangat pelik di negeri ini rakyat Indonesia masih tetap memiliki integritas untuk berubah memperbaiki celah-celah kosong yang ditinggal para dictator tak berkepribadian ini. Salah satunya adalah ikut serta berpartisipasi dan berperan membantu KPK dalam menyibak kasus korupsi yang ada, dengan cara inilah masyarakat bisa menjadi agen of change bagi kemajuan Negara.

                            By : Arief Liverpudlian

ANAK DEMAK_dpm DARI PARTAI MAWAR 
ikip pgri semarang

Jiwa Yang Lengah.


Manusia butuh cahaya.
Tepat disaat terperangkap gelap.
Setelah mendapat cahaya.
Mereka merasa tenang.
Tenangnya mereka menjadi sebab.
Kelengahan.
Kecerobohan.
Kesombongan.
Mereka merasa sudah dekat.
Dengan Tuhan mereka.
Mereka tidak sadar.
Bahwa mereka mulai menjauh.
Menjauh dari terangnya jiwa mereka.
Mereka terus melangkah dalam gelap.
Mereka tak pernah lagi menoleh kebelakang.
Mereka mengira masih terus mengingat Tuhan.
Padahal sesungguhnya.
Mereka hanya mengingat.
Perbuatan - perbuatan mereka.
Perbuatan.
Yang menjadikan mereka dipuji  sesamanya.
Ya Allah, jagalah kami dari lemahnya jiwa. 

By; adie sotoy_yusron
komsat fpbs ikip pgri semarang yg bercita-cita jadi mandara

Jumat, 01 Maret 2013

“Sinopsisku dan Dia”


Berbicara sains dan Islam dalam Konsepsi Alam Semesta, geblah uyah yang rame dari diskusi rabu 24 Oktober 2012 di Serambi Masjid IKIP PGRI, namun bermakna akan keringnya pemahaman kita mengenai alam semesta. Semoga dalam nostalgia dosen saya bisa menginspirasi dosen-dosen lain. Ilmu Baru gartis dari SKS, namun Ilmu lama masih saja menjadi Idola bagi mereka meski membayar tak terkira.hmm... semuanya kembali lagi ke individunya masing-masing. Semoga teman-teman seperjuangan ini masih menjaga api dalam diri untuk meningkatkan lagi ke air, angin dan Ikhlas.amin
thanks for Pak Sigit Ristanto, S.Si, M.Sc. alumni HmI Komisariat Teknik UGM.
            Tadi sampai mana??? Sains dan islam dalam konsepsi Alam Semesta, pertama Pendefinisian Sains, Islam, dan Alam Semesta. Apa itu Sains? Dan beliau menerangkan, sains adalah alam itu sendiri, yang bisa teramati oleh indrawi kita. Yang nantinya menjadi hukum-hukum, postulat, teorema, kesepakatan ilmiah, karena memakai metodologi eksperimen, pengamatan, serta memadukan teori. Dan inilah Sains tertutup. Sains bersifat relatif terhadap ruang-waktu sehingga kebenarannya pun relatif.
            Islam merupakan agama. Disini al qur’an berperan penuh menjawab permaslahan yang tak bisa dijawab oleh sains. Pendekatan Kauniyah dan Kauliyah serta iktiar manusia dengan akalnya, menjawab keganjilan-ganjilan semesta. Dan agama adalah pendekatan yang komprehensif. Agama benar disisi Allah dengan pemahaman hakiki. Sebagai sandaran bagi mereka yang kering spiritual. Agama bersifat transeden.
Perjalanan pemahaman Sains dan Agama menjadi dikotomi, dari zaman Renesaince, berawal hukuman mati terhadap Galileo Galilei karena pemahaman bumi sebagai pusat alam semesta, dan Copernicus yang mengutarakan pusat tata surya adalah matahari dan sebagai pusat alam semesta,  pada waktu itu bertentangan dengan doktrin gereja.
Abad 17, abad Newtonian dan Leibniz “Fisika Klasik” pandangan alam semesta secara mekanistik, seperti kita melihat cara kerja sepeda, ada roda yang berputar, dan alam semesta merupakan keteraturan dari gerakan mekanis. Pandangan saat itu ruang-waktu bersifat mutlak.
Mekanika Newton dan Kalkulus Leibniz yang mendongkrak revolusi industri di Perancis. Adanya penemuan-penemuan dari mekanika.
Abad 19, abad Albert Einstein “Fisika Modern” pandangan ruang-waktu bersifat relatif, dunia dalam alam mikrokopis, teori-teori atom berkembang. Pandangan partikel elementer keberadaannya ada dengan pendekatan probabilitas. Ruang kosong dalam atom lebih banyak daripada ruang yang berisi inilah yang menjadikan Dunia Ilusi(The World of Illusion)
Adalah makroskopis, Dunia astrofisika yang mempelajari sistema tata surya di langit, benda-benda langit beserta siklus kehidupan bintang. Berbicara bintang materi yang memiliki energi panas yang menghasilkan spektrum cahaya. Materi menjadi energi baru. Energi menjadi materi, yang menjadi konsen saya, ketika membahas api” apakh api suatu materi? Dan Pak Sigit menjawab itu bukan materi, tetapi kenampakan energi. ketika membahas materi plasma, apakah plasma perwujudan dari jin? Nah...pertanyaan ini pun saling menggelitik... mengingat E= mc2. Energi ini memiliki massa dan dalam ruang –waktu beserta kecepatan cahaya.
Abad 21, “Dunia Fisika Baru” by. Ficrof Capra
Partikel kecil(elementer) tidak ada. Kenapa tidak ada? Berbanding terbalik pada dunia Fisika Modern mengenai “Materi” materi terkecil yaitu Quark, dan quark masih terbagi lagi up dan down, dunia Fisika Baru melejitkan pendekatan mistisme. Pertanyaannya di dunia ini terdapat materi gelap dan energi gelap serta the hidden connection , apa itu materi gelap dan energi gelap serta the hidden connection? Apakah semua itu saling terkait? Lalu apakah ada alat indikator untuk mencerna ini? Untuk saat ini adalah intuisi yang mencerna.
Berbicara teori String, 11 dimensi. Untuk penjelasan teori String monggo dicari...
Nah,,,berbicara teori string maka ane mulai muled,,, so sumonggo Mas Shoim bisa memberi bimbingan dan arahan buat kami “_”v


by: abi shunu_KOMSAT MIPA IKIP PGRI SEMARANG

Kamis, 28 Februari 2013

Sajak tak berjudul


 
Dia mengatakan ya-
Dia juga mengatakan tidak
Aku berharap ya
Dia berharap tidak
Aku menangis
Dia tertawa
Aku menyentuh
Dia menampar
Aku terdiam
Dia ketawa
Aku berjalan
Dia malah merangkak
Apa sih yang menjadi beda?
Tak lihat sama.
Tapi beda
Tak rasa benar,
Tapi salah
Seperti angan yang selalu ku rasa kemarin, sekarang, dan
Besok yang akan datang!
Dan ternyata aku dibohongi rasa……


BY; AKANG MAARIF ANAK DEMAK TULENN

Jalan Licin



Dibelakangku kau teriak keras…
Tak ada rasa malu pun risih
kau lakukan dibalik sadarmu…
Saat ku melangkah mnuju arah

Ketika aku menatap langkah mu….
Kau melemparkan diri..
Bak seperti tertutup misteri..
Semua pnuh sandiwara…

Apa yang sedang terjadi?

Hujan gerimis menyertai langkahku
Ketika kau mengucap suara…
Saat kaki lepas dari harapan..
Jalan penuh dengan rintangan
Saat itulah aku mendapat kenyataan…

Ternyata kau telah hanyut oleh  jalan yang licin…..
By : Arief Liverpudlian

Kembalikan Guru sebagai Pendidik



Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal (1) mengatakan bahwa “ Guru adalah pendidik Profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.
Pada pasal (2) juga ditegaskan bahwa Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga professional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Diakui sebagai tenaga professional jika bisa dibuktikan dengan sertifikat pendidik.
Uraian tersebut mengisyaratkan bahwa seorang guru mempunyai tugas yang amat berat. Mendidik yang tidak sekadar mendidik, mengajar yang tidak sekadar mengajar, membimbing peserta didik dengan berbagai latar belakang, dan seterusnya. Harapannya, dengan penuh kesabaran (Guru) mampu menanamkan berbagai konsep pemahaman pada banyak cabang ilmu.
Selain menanamkan berbagai konsep ilmu tadi, Guru harus membentuk “karakter yang baik” pada anak didiknya. Mengingat masalah karakter menjadi salah satu kebutuhan yang sangat mendesak di negeri ini. Dalam berbagai sudut pandang, Guru menjadi trend topic yang banyak diperdebatkan. Artinya, masih banyak sekali masalah yang melekat pada diri guru. Mulai dari masalah kompetensi, sampai pada karakter guru itu sendiri.
Banyak masyarakat yang mengidamkan profesi guru terlihat dari angka masuk perguruan tinggi sampai pada pendaftar terseleksi calon Pegawai Negeri Sipil akhir-akhir ini. Namun, sebagian dari mereka mengartikan bahwa guru adalah sebuah pekerjaan. Sehingga yang ada dalam pikiran mereka adalah sekadar bekerja untuk mendapatkan gaji.
Sungguh ironis, ketika bangsa ini perlu banyak sosok guru yang tanpa lelah, tanpa pamrih, tanpa mengenal waktu untuk memperbaiki kualitas generasi jaman sekarang, akan tetapi kenyataan begitu adanya. Pemerintah sebenarnya tidak tinggal diam menanggapi masalh ini, hanya saja mungkin butuh waktu lebih lama untuk mengembalikan sosok guru sebagai pendidik.
Sederet kebijakan untuk peningkatan mutu guru juga telah dikeluarkan oleh pemerintah, alhasil belum juga menemui titik terang yang jelas. Mungkin sudah waktunya semua unsur yang ada dalam dunia pendidikan kita meng-instal ulang pemikiran kita. Sehingga bisa kembali menjadi pendidik yang benar-benar professional dan bisa mengemban amanat undang-undang yang selama ini menjadi perbincanga. Dengan demikian, semoga pendidikan kita dapat berkembang pesat dengan berlandaskan karakter yang berkualitas pula.

by; AREF MIFTAKHULL DPM PARTAI MAWAR IKIP PGRI SEMARANG
ASLI KOTA WALI

Karya Monumental August Comte “Course Of Phositive Philosopy”




Auguste Comte (1798), lahir di Montpellier, Perancis, adalah pendiri positivisme. Dia menganalogikan masyarakat layaknya organ tubuh manusia. Tidak heran, karena filsafatnya masih terpengaruh oleh aliran biologis/naturalisme. Dia terkenal dengan hukum tiga tahap perkembangan masyarakat: teologis, metafisik, positif. Hukum ini ia sebutkan dalam karyanya “Course of Positive Philosophy” yang ia buat sebanyak 6 jilid dari tahun 1830 sampai dengan 1842. Konsepsinya dalam buku ini didasari akan kekhawatirannya akan kacaunya masyarakat sehingga mereka membutuhkan suatu metode untuk mencapai keteraturan sosial. Comte menemukan itu ada dalam gejala-gejala ilmu pengetahuan dan kaitan antara semua ilmu tersebut. Buku ini pun menjadi dasar bagi aliran positivisme. Karya monumentalnya yang berikutnya adalah “System of Positive Politics” yang menjelaskan tentang agama humanitas. Latar belakang pembuatan karya besar keduanya itu dipengaruhi oleh pujaan hatinya Clothilde de Vaux yang sangat membekas dalam jiwanya. Menariknya kedua karyanya tersebut seperti sebuah seri dari pemikiran Comte. Dalam Course, Comte mengatakan sains bertransformasi menjadi filsafat; sedangkan dalam System, filsafat bertransformasi menjadi agama.
Buku dengan judul asli Cours de Philosophie Positive (Pelajaran Filsafat Positif) adalah garapan dari karyanya sebelumnya yaitu Systeme de philosophie positive (1824) (Sistem filsafat positif). Course memuat dua tujuan, yaitu fondasi untuk sosiologi (yang ia sebut fisika sosial) dan koordinasi semua ilmu positif. Dalam tiga volume awal, ia menjelaskan lima ilmu sains yang fundamental (matematika, astronomi, fisika, kimia, biologi) dan tiga volume berikutnya adalah ilmu sosial. Ilmu-ilmu alam telah ada pada waktu itu dan Comte hanya meringkas poin-poin dari doktrin dan metodologi utama mereka dengan membangunnya lewat analisa objektif dan historis.

Awal mula positivisme yang dikembangkan Comte adalah kesadarannya akan Revolusi Perancis yang menurutnya adalah krisis yang cenderung ke arah reorganisasi masyarakat secara besar-besaran. Ia menyatakan bahwa reorganisasi itu hanya berhasil, masyarakat yang adil akan tercipta, jika orang mengembangkan metode berpikir yang baru tentang masyarakat. Comte melihatnya dalam sains dan mencoba mensistematisasikan metode itu. Lahirlah metode positif yang sesuai hukum-hukum ilmu alam: diarahkan pada fakta-fakta, pada hal yang berguna, ke arah kepastian, dan kecermatan. Sarana bantu bagi sains seperti observasi, eksperimen, dan perbandingan ditambah dengan metode historis yang ditujukan untuk mengungkapkan hukum-hukum yang menguasai perkembangan gagasan-gagasan di masyarakat.
Comte memberikan analisis komprehensif tentang kesatuan filosofis dan metodologis yang jadi dasar ilmu alam dan sosial dalam Course. Dalam bukunya itu, Comte memperlihatkan bahwa evolusi filosofis yang dialami matematika, geometri, astronomi, fisika, kimia, biologi dan fisika sosial (sosiologi) adalah melewati tahapan perkembangan yang sistematis. Ia menjelaskan urutan gejala-gejala (statika) dan kaitan organis gejala-gejala (dinamika) ilmu-ilmu tersebut. Dalam ilmu alam, aspek statis dan dinamis yang berkaitan dengan objek yang mati dinamakan tetap dan gerak, sedangkan yang berkaitan dengan objek yang hidup dinamakan anatomi dan fisiologi. Dalam ilmu sosial yang mengambil objek gejala-gejala masyarakat, aspek-aspek tadi berhubungan dengan tata (keteraturan) dan kemajuan. Tata merupakan dasar dan hasil kemajuan, dan kemajuan hanyalah mungkin atas dasar tata. Jadi hukum-hukum yang harus ditemukan dengan pertolongan metode positif dapat dibagi dalam dua kelas, yaitu hukum-hukum mengenai urutan gejala-gejala sosial dan hukum-hukum mengenai kaitan gejala-gejala itu.[1]
Comte menjelaskan urutan gejala-gejala sosial dinyatakan dalam tiga tahap. Tahapan yang dibuat menunjukkan cara berpikir masyarakat pada saat itu. Titik awalnya adalah tahapan teologis dimana pikiran manusia saat itu dalam pencarian akan asal dan sebab akhir segala sesuatu, manusia mencari hal-hal itu dalam kekuatan-kekuatan alam dan benda-benda angkasa yang ia anggap punya kekuatan. Pada tahapan berikutnya, tahap metafisik, keterkaitan dengan sesuatu yang supranatural digantikan dengan entitas yang abstrak. Manusia mengalihkan perhatiannya pada kecintaan akan tanah air, pembelaan terhadap bangsa atau nasionalisme, dan sebagainya. Tahap ini adalah tahap kritis pemikiran teologis dan persiapan menuju stadium positif. Pada tahap positif yang mana akal manusia telah mencapai puncak ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, orang tidak lagi mencari pengetahuan absolut tentang sebab-sebab akhir tapi menanyakan kaitan statis dan dinamis gejala-gejala.
Dalam kaitan antara gejala-gejala sosial, Comte menyebutkan meskipun cara pandang zaman prapositif lebih rendah daripada di zaman positif, namun cara berpikir di zaman terdahulu ini memberi sumbangan bernilai berupa konsensus atas seperangkat pandangan dan kepercayaan bersama yang penting bagi keteraturan sosial. Tahap positif tidak mungkin ada tanpa adanya tahap teologis yang mendahuluinya dan tahap metafisik yang menjembataninya. Benih-benih menuju tahapan berikutnya selalu ada, seperti pada masa fetisisme timbul pemikiran untuk beralih dari cara hidup yang berpindah-pindah menjadi menetap sebagai hasil usaha menjelaskan gejala dengan takhayul primitif. Masa itu digantikan dengan masa politeistik dimana manusia mulai menganggap adanya suatu kekuatan di luar dirinya dan menjadi monoteistik saat manusia mulai mengenal tuhan. Tapi sistem kepercayaan seperti itu mendorong manusia untuk mudah memisahkan kehidupan rohani dan duniawi sehingga kehidupannya diarahkan pada kekuatan lain yang sifatnya abstrak. Saat ilmu pengetahuan berkembang sebagai hasil kesempurnaan akal manusia, teknologi diciptakan dan manusia menuju tahap dimana kekuatan itu diarahkan pada benda-benda atau materi. Industri menjadi tipe organisasi sosial di era positif. Sedangkan tipe keteraturan sosial di tahap teologis mencerminkan tipe organisasi sosial yang militer. Di tahap metafisik, dominan dengan hukum karena masyarakat saat itu didominasi oleh mereka yang berusaha menarik doktrin sosial politik dari pemahaman tentang hukum alam.
Pandangannya ini sempat dipuja oleh John Stuart Mill di Inggris. Bahkan ia terang-terangan menyatakan diri sebagai pengikutnya dan menjadi penyebar paham positivisme yang giat. Tapi kekecewaan mendalam harus ditelannya begitu Comte mengeluarkan buku fenomenalnya yang kedua, System of Positive Politics. Banyak yang menganggap Comte sudah gila karena cinta karena dalam bukunya tersebut, ia menyatakan pentingnya suatu agama di zaman positif (yang seharusnya ada dalam tahap teologis). Comte menyebutnya dengan “agama humanitas”. Ini adalah perubahan mendasar dalam karya Comte, ia berbalik dari seorang positivis menjadi seorang yang humanis. Kritik yang dilontarkan padanya pun berdatangan dari kaum positivis, termasuk dari Mill yang menganggap Comte dengan Course-nya adalah “Comte yang baik”, sedangkan Comte dengan System-nya adalah “Comte yang buruk”.
Dalam bukunya ini, akal yang semula diagungkannya seakan dimerosotkan di bawah apa yang kita sebut cinta. Memang pada waktu menulis System, ia sedang dimabuk cinta atau bahkan bisa disebut mengalami cinta sejati sepanjang hidupnya. Ia mempersembahkan buku ini untuk mengenang istri yang tidak pernah digaulinya, yaitu Clothilde de Vaux. Kekuatan emosi begitu kentara dalam karyanya yang satu ini. Comte seakan lebih mengagungkan perasaan daripada akal budi dalam mempertahankan tata keteraturan sosial yang ia kemukakan dahulu.
Bagi Comte, karyanya ini adalah realisasi dari metode positif yang ditujukan untuk keteraturan sosial dalam bukunya yang pertama. Jika kita ingat metode positif yang juga memakai metode historis untuk mengamati masyarakat, Comte melihat bahwa agama telah menjadi tonggak keteraturan sosial yang utama di masa lampau. Agama merupakan dasar untuk konsensus universal dalam masyarakat dan juga mendorong identifikasi emosional individu dan meningkatkan altruisme.[2] Namun bukan agama tradisional seperti yang dipahami pada masa teologis yang dimaksud Comte. Ia menciptakan suatu agama baru yang mencakup hukum-hukum universal yang memungkinkan keteraturan sosial itu eksis, yaitu agama humanitas. Sumber utama agama humanitas adalah moralitas dan cinta yang sesuai dengan standar-standar intelektual dan persyaratan positivisme. Runtuhnya tatanan sosial tradisional yang mengarah pada anarki akibat Revolusi Perancis, menyebabkan Comte melihat moral sebagai sesuatu yang harus menundukkan ilmu sehingga reorganisasi masyarakat menjadi sempurna.
Bertolak dari gagasan pikiran adalah hamba bagi hati, Comte melihat dalam biologi tabel otak manusia terdiri dari 18 fungsi internal, yaitu 10 kekuatan afektif, 5 fungsi intelektual, dan 3 sifat praktis. Dari sini tampak dominannya hati dalam meningkatkan energi dan menurunkan harga diri. Bagi Comte yang positivis, ini bukan psikologi, tapi semata-mata biologi. Moral menjadi suatu kekuatan yang dominan dan Comte melihatnya dalam agama. Agama memiliki 2 fungsi: fungsi moral, agama seharusnya mengatur setiap individu; dan fungsi politik, agama seharusnya menyatukan semua individu. Agama juga memiliki tiga komponen, sesuai dengan pembagian tabel otak, yaitu doktrin, ibadah, dan hukum moral (disiplin). “Cinta datang dan membawa kita pada iman, sepanjang pertumbuhan itu bersifat spontan; tapi begitu tersistematisasi, keyakinanlah yang membangun tindakan cinta”, kata Comte.
Karyanya ini kurang diterima secara luas. Dalam Course, kita akan menemukan dasar-dasar dari positivisme yang berkembang hingga sekarang. Course sangat meninggikan akal sebagai tahapan akhir perkembangan manusia. Perkembangan masyarakat dari semenjak ketergantungannya akan supranatural, alam metafisik, dan berlanjut kepada alam pikiran positif dijelaskan dalam Course sebagai suatu fase yang pasti. Namun, gagasan Comte yang optimistis ini seakan ditafsirkan kembali dalam System bahwa yang diinginkan adalah reorganisasi masyarakat atas dasar humanitas. Comte, terlepas dari perkembangan jiwanya setelah ditinggal mati Clothilde, telah mengubah pandangannya menjadi moralistik dan penuh gairah cinta. Baginya, reorganisasi masyarakat baru sempurna jika dibangun atas cinta dan moralitas dalam agama yang ia sebut agama humanitas. Setinggi apapun akal manusia, tetap tidak akan bisa mengalahkan moralitas yang menyatukan mereka. Comte melihat ini lewat sejarah agama zaman dahulu. Dengan menyingkirkan sifat tradisionalnya dan fokus pada faktor-faktor dari agama yang menyatukan masyarakat, Comte tetap menghendaki positivisme sebagai wujud akhir masyarakat yang teratur.
by: ARIEF miftakhull si DPM IKIP PGRI SEMARANG
alamat demak......

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com