Kamis, 07 November 2013

Alhamdulillah, Majalah Ber-SUARA edisi XXV telah terbit



Mengurai Relasi Tuhan, Alam dan Manusia melalui Perspektif Ekofeminisme

Berawal dari sebuah diskusi kecil bersama dengan Kanda Muh. Arbain Mahmud, membahas sebuah tema menarik yakni Ekofeminisme, maka Majalah Bersuara Edisi XXV kali mencoba Mengurai Relasi Tuhan,  Alam dan Manusia melalui Perspektif Ekofeminisme.
Ekofeminisme adalah sebuah istilah baru utuk gagasan lama yakni cabang feminisme gelombang ke tiga, yang tumbuh dari berbagai gerakan sosial-gerakan feminis, perdamaian dan ekologi di akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an. Istilah Ekofeminisme atau Ecofeminism pertama kali dipergunakan oleh Francoise D’ Eaubonne dalam bukunya Le Feminisme ou la Mort (Feminisme atau Kematian), namun baru menjadi populer seiring munculnya berbagai protes dan aktivitas menentang perusakan lingkungan hidup, yang semula dipicu oleh bencana ekologis yang terjadi secara berulang-ulang. Terminologi ini dihadirkan kembali oleh Vandhana Shiva dan Maria Mies dalam bukunya “Ecofeminism, Perspektif Gerakan Perempuan & Lingkungan” sebagai kritik mereka terhadap pendekatan pembangunan dalam proses globalisasi yang tidak memperhatikan keberlangsungan ekologis sekaligus meminggirkan salah satu entitas manusia di dalamnya, yaitu perempuan.
Pergerakan ekofeminis yang pertama dimulai sekitar tahun 1974 oleh sekelompok perempuan di utara India, mereka menamakan dirinya ”Chipko Movement”.  Mereka memprotes penebangan hutan yang dilakukan oleh kolonial Inggris. Gerakan Chipko  terinspirasi dari kepahlawanan perempuan untuk menyelamatkan lingkungan terhadap titah sang raja, Abhay Singh untuk menebang pohon Khejri 300 tahun lalu di Desa Bishnoiu, Rajastan India. Mereka melakukan protes dengan memeluk pohon Khejri, akibatnya 363 (tiga ratus enam puluh tiga) penduduk desa tewas terbunuh.
Ekofeminisme tidak hanya mengaitkan perempuan dan lingkungan, tetapi juga spiritualitas. Spiritualitas ini yang lenyap dalam semua kosa kata feminisme barat. Menurut Vandana Shiva, feminisme barat lahir dari lingkungan pengetahuan modern yang maskulin dan meniscayakan dualism dengan mewajibkan keterpisahan antara subyek yang meneliti  (alam semesta). Karena keterpisahan itulah tercipta jarak antara manusia dan alam. Alam semesta pun akhirnya diperlakukan sebagai obyek, yang bahkan bisa diperlakukan semena-mena. Menurut Sachiko Murata dalam bukunya “The Tao of Islam”, eksploitasi terhadap alam dan kekerasan antar manusia sebagai akibat manusia mengidentifikasi dirinya dengan “The Father God”, sebagai yang kuasa aktif, terpisah, independen, jauh dan dominan. Sebaliknya manusia tidak mengidentifikasi dirinya sebagai The Mother God  sebagai yang dekat, kasih, penerima, pemelihara, pasif, dan berserah diri. Dengan kerangka ajaran ekofeminisme, hubungan antar sesama manusia dengan alam bukan hubungan ekploratif melainkan hubungan kasih sayang dan humanis.
Ekofeminisme adalah kata ajaran baru di dalam kajian keislaman. Secara istilah saja, terdengar asing di telinga umat islam. Akan tetapi, secara ide, konsep ekofeminisme sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran islam sebagaimana termaktub di Quran dan Hadits, Allah telah menjamin kesetaraan antar makhluknya, baik dalam eksistensi, peran, tugas dan tanggung jawab. Perintah untuk menjaga lingkungan hidup dapat kita lihat dalam QS. Al-Qhosos ayat 77 “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi. Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.
Ayat di atas telah mengabarkan bahwa manusia sebagai Khalifah (al insan), tak layak jika tak melindungi lingkungan. Khalifah (dalam feminisme Islam, diartikan setiap insan, setiap manusia-tidak terbatas “hanya laki-laki”) mengemban amanat di dalam dirinya, tanggung jawab sesama manusia dan terhadap lingkungan, apapun kelas sosial-ekonominya. Dan perempuan merupakan manifestasi dari Bumi, yang tersia-siakan dalam sejarah, dan yang tidak boleh disia-siakan dalam ekofeminisme Islam. Sebagaimana ungkapan dalam Hadits  “Sesungguhnya dunia ini sangat manis dan indah menarik perhatian dan Allah menyerahkannya kepada kamu untuk melihat bagaimana kamu berbuat. Karena itu berhati hatilah dalam menghadapi dunia dan berhati hatilah pada perempuan. Sesungguhnya pertama fitnah ujian Bani Israil karena wanita.” (HR.Muslim).
Semoga edisi Majalah Bersuara kali ini memberikan wawasan tentang konsep ekofeminisme dan menggali nilai-nilai spiritualitas ekofeminisme dalam mengurai relasi antara Tuhan, Alam, dan Manusia dalam perspektif Ekofeminisme. Semoga isu ekofeminisme dapat dikembangkan dalam kajian-kajian khususnya bagi kader HMI MPO sehingga dapat menjadi agen dalam menyelamatkan lingkungan hidup dan menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat muslim. Selamat membaca!!


Semarang, Oktober 2013


Noor Rochman 
Direktur Lapmi

0 komentar:

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com