Kamis, 28 Februari 2013

PERMATA YANG INDAH




Senja kala itu menyelimuti bumi dengan guratan kesedihannya, seolah tau apa yang sedang dirasakan oleh Kiara Cantika Putri. Di dalam sebuah ruangan yang menjadi favorit Ara begitulah ia biasa disapa. Duduk termenung melihat kenyataan yang sedang dihadapinya.
“mengapa papah begitu tega berbuat seperti itu terhadap mamah, apakah mereka tak mengerti apa yang sedang kurasakan sekarang?”
Tiara dan Indra adalah dua orang sahabat yang mengerti semua yang terjadi pada Ara, karena merekalah Ara tegar menghadapi semua permasalahan yang ada di dalam keluarganya. Bisa dibilang Tiara dan Indralah sahabat Ara yang selalu memberikan semangat disaat Ara terpuruk. Tiga sahabat inilah yang menjadi iri setiap orang yang melihat karena kekompakan dan kesolidan mereka yang begitu kuat.
Seperti biasa Ara yang selalu menghampiri Tiara ketika akan berangkat ke sekolah dengan pak jon supir Ara yang selalu menemaninya dan mengantarkan kemanapun Ara pergi. Maklumlah orang tua Ara yang super sibuk tidak dapat menemani Ara setiap saat. Berbeda dengan orang tua Tiara yang sangat perhatian dengan Tiara dan kasih sayang pun tak kurang Tiara dapatkan dari orang tuanya. Itulah mengapa Ara sering main ke rumah tiara, karena keharmonisan keluarganyalah yang membuat Ara selelu ingin datang ke rumah Tiara.
“Selamat pagi Tiara,” ucapan itulah yang menandakan bahwa Tiara harus berangkat ke sekolah bersama Ara yang sudah menunggu di depan rumahnya.
“Oke Ara, ayo kita berangkat,”
“Ara kamu tahu Indra kan, anak kelas XII ipa 1 itu?”
“iya kenapa Tiara, bukannya Indra itu sering main bareng kita juga kan?”
“yuhu... 100 untuk Ara,”
“tapi mengapa kamu begitu gembira menyebutkan nama Indra?”
“ah Ara kamu ini bisa aja”
Di sekolah pada waktu jam istirahat Ara, Tiara dan Indra selalu ke danau dekat sekolahan. Itulah tempat favorit mereka bertiga untuk sekedar melepaskan penat karena mata pelajaran yang begitu menguras isi kepala, tidak seperti biasa Ara yang  selalu ceria tetapi mengapa pagi ini terlihat pucat.
“Ara kamu tidak apa-apa kan?”
Ara yang sedang melamun tersentak kaget.
“ah, tidak apa-apa kok Tiara, mungkin aku kecapean saja, karena tadi malam kan aku baru pulang menjenguk kak Adi di Bogor”
Ketika Ara akan bangun dari tempat lamunannya tiba-tiba saja Ara jatuh pingsan disertai darah yang keluar dari hidungnya. Tiara dan Indra yang panik saat itu juga langsung membawa Ara ke rumah sakit serta menghubungi kedua orang tuanya.
Satu hari Ara belum juga sadar dari pingsannya itu, karena mengingat penyakit yang diderita Ara yaitu kangker otak yang sudah menginjak stadium tiga. Selama ini Ara memang merahasiakan dari kedua sahabatnya itu. Karena Ara menganggap dia tidak mau melihat hanya karena Ara kak Adi, Indra dan juga Tiara menjadi sedih. Pukul 22.00 Ara telah sadar dari pingsannya, dilihatnya sekeliling ruangan dengan suara mesin pendeteksi detak jantung yang begitu keras, serta melihat mulutnya telah terpasang alat bantu bernafas yaitu oksigen. Di ruangan itu ada kak Adi yaitu kakak kandung Ara yang selalu menghawatirkan keadaan adik kesayangannya itu dan kedua orang tua Ara yang akhir-akhir ini bertengkar terus setiap malam, karena kesibukan yang membuat mereka seperti itu.
“kak Adi, Ara mau pulang kak. Ara tidak mau disini, besok kan Ara harus sekolah.”
“iya Ara, kak Adi tahu besok Ara itu sekolah, tetapi Ara kan harus banyak istirahat supaya cepat sembuh dan bisa bertemu teman-teman di sekolah.”
“tidak mau kak, pokoknya Ara besok harus berangkat ke sekolah, pah, mah boleh kan besok Ara berangkat ke sekolah?”
Melihat semangat yang dimiliki Ara begitu besar untuk berangkat sekolah, akhirnya ke dua orang tuanya pun mengijinkan Ara besok untuk pergi ke sekolah.
“baiklah besok Ara boleh berangkat ke sekolah tetapi, syaratnya besok harus mendapatkan ijin dari dokter kalau Ara memang sudah baikan”
“baiklah mah kalau begitu, Ara akan berusaha sekuat mungkin agar besok lebih baik lagi dan dapat berangkat sekolah.”
Tarnyata Ara memang menunjukkan perkembangan yang begitu pesatnya sehingga dokter pun mengijinkan Ara untuk dirawat di rumah. Mendengar berita itu Ara gembira karena sebentar lagi akan berangkat ke sekolah dan bertemu teman-teman di sekolah. Tiara yang begitu kaget melihat Ara sudah berangkat ke sekolah, yang padahal dia masih sakit. Begitu juga dengan Indra
“Ara, kenapa kamu sudah masuk sekolah?”
“Ara sudah tidak apa-apa kok Ndra. Oia Tiara dimana Ndra?”
“itu Tiara berada di kelas, karena tidak ada kamu, jadi murung deh.”
“yaudah Ndra, Ara masuk ke kelas dulu ya.”
“iya Ara, kamu jaga kondisi ya agar tidak sakit lagi.”
“siap Indra.”
  Indra yang sudah berpacaran dengan Tiara tiga bulan yang lalu, mereka menjalankan tanpa rasa bersalah karena tidak menceritakannya kepada Ara. Padahal Tiara dan Indra telah mengetahui bahwa Ara itu paling benci dangan kebohongan. Karena, landasan mereka bersahabat hampir tiga tahun adalah kejujuran. Indra mulai resah karena rasa bersalahnya kepada Ara perihal tidak menceritakan kabar gembira menurut  Indra itu, tetapi bagaimana lagi, Indra pikir ketika dia menceritakan hal ini terhadap Ara dia bakal tidak setuju karena kita adalah teman, maka dari itu Indra dan Tiara bersepakat menyimpan rahasia ini jangan sampai terdengar oleh Ara.
Ara yang akhir-akhir ini sering tidak masuk sekolah karena penyakit yang dideritanya semakin parah mengharuskan dia untuk beristirahat, persahabatan yang dijalin oleh Indra dan Tiara menggugah hati nurani mereka untuk menjenguk Ara di rumah sakit, Ara yang mulai curiga dengan sikap yang mereka perlihatkan tidak seperti biasa. Mereka menjadi semakin dekat bukan sebagai seorang sahabat tetapi sebagai seorang pacar.
“ah mungkin perasaan ku saja, mereka tidak mungkin tidak menceritakan kepadaku kalau mereka sudah jadian, kalaupun mereka sudah jadian pasti akan menceritakannya ke aku, duh Ara kamu tidak boleh suudzon terhadap sahabat kamu sendiri, dia tidak mungkin berbohong kepada kamu.”
Setelah menjalani perawatan di rumah sakit selama satu minggu, akhirnya Ara diperbolehkan pulang oleh dokternya. Dia pun dengan penuh semangat mendengar berita bahwa dirinya diperbolehkan untuk pulang, seperti yang selalu ditunjukkan oleh Ara bahwa dia tidak pernah memperlihatkan bahwa dia adalah anak yang penyakitan. Dia selalu terlihat gembira dan selalu ceria ketika bertemu dengan teman-temannya terutama terhadap dua sahabatnya itu. Keesokan harinya Ara pun menjalani rutinitasnya sebagai siswa yaitu sekolah tinggal tiga bulan lagi Ara menempuh ujian nasional oleh sebab itu, dia harus pulang sore karena mengikuti pelajaran tambahan yang diadakan oleh sekolah menjelang ujian nasional. Begitu juga dengan Tiara dan Indra yang sering main ke rumah Ara karena harus membantu Ara mengejar ketertinggalannya karena sudah beberapa hari tidak masuk sekolah, Ara yang semakin mempositifkan pikiran ketika melihat mereka berdua yang semakin erat. Kecurigaan Ara terhadap Tiara pun semakin bertambah kuat ketika ada salah satu teman satu kelasnya bertanya kepada Ara perihal hubungan Tiara dengan Indra. Ara pun menjelaskan bahwa Tiara dan Indra adalah teman biasa begitu juga dengan aku, kita bertiga itu menjalin sahabat sudah hampir tiga tahun, jadi Tiara tidak mungkin berbohong kepadaku.
Karena rasa penasaran yang melanda Ara semakin kuat, Ara memberanikan diri untuk bertanya kepada Indra apakah benar mereka sudah jadian, tetapi mengapa mereka tidak menceritakan kepadaku ya, kenapa malah merahasiakannya.
“Indra aku harap kamu mau jujur kepadaku, apakah benar kamu dan Tiara itu sudah berpacaran?”
“eng...enggak.. kok Ra kami tidak ada hubungan apapun, sungguh kalau tidak percaya coba kamu tanyakan saja langsung kepada Tiara.”
“mengapa jawabanya ragu begitu Ndra? Aku jadi curiga kalau jangan-jangan yang dibicarakan teman-teman itu benar.”
“tidak Ra, masa sama sahabat sendiri aku berbohong sih.”
“aku pegang omongan kamu ya Ndra, soalnya aku sendiri juga merasa kalau kalian itu sudah berbeda terutama dalam bertingkah laku, tidak seperti yang aku kenal dahulu.”
“iya Ara kamu jangan suudzon begitu ya.”
“iya aku juga minta maaf kalau telah suudzon kepada kalian, tetapi bukan maksud aku seperti itu Ndra, aku Cuma mau memastikan saja kalau kabar itu tidak benar, karena teman-teman mengira masa aku sebagai sahabat kamu tidak mengetahui itu, aku juga yakin kalau sahabatku tidak mungkin kalau ada apa-apa tidak bercerita kepadaku, benar kan Ndra?”
“iya pasti dong Ra”
Dengan rasa takut, ragu-ragu dan bersalah indra menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Ara, hari berganti hari begitu juga dengan hubungan Indra dan Tiara yang menjadi semakin dekat, dan merekapun semakin menjauh dari Ara. Tiara pun merasa semakin takut kalau Ara mengetahui hal ini apa yang harus dia jelaskan kepada Ara.
Seperti pepatah mengatakan serapat-rapatnya orang menyembunyikan bangkai pasti akan tercium juga, agaknya hal ini terjadi pada Tiara dan Indra. Ketika Ara mencoba memancing pertanyaan terus kepada Indra melalui telefon, Indra pun keceplosan menjawab pertanyaan dari Ara yang jawabanya ternyata iya Indra telah berpacaran dengan Tiara. Seketika itu Ara marah besar kepada kedua sahabatnya yang sudah dia anggap seperti saudara sendiri tetapi malah tega membohongi. Ara yang langsung menutup telefonnya membuat Tiara dan Indra harus segera menuju rumah Ara sekarang juga untuk menjelaskan kepada Ara supaya tidak terjadi salah paham. Sesampainya dirumah Ara, Ara merasa kecewa terhadap kedua sahabatnya yang telah tega berbohong, padahal mereka sendiri tahu bahwa Ara paling benci ketika dibohongi, apalagi oleh sahabatnya sendiri yang sudah hampir tiga tahun bersama. Pertengkaran hebatpun tidak terhindar lagi. Ara yang tampak begitu pucat tiba-tiba terjatuh dan mengeluarkan darah dari hidungnya sebelum Indra dan Tiara menjelaskan mengapa mereka terpaksa berbohong. Bersama ayah Ara yang tumbennya sudah berada di rumah, mereka langsung membawa Ara ke rumah sakit. Setelah dokter memeriksa ternyata Ara mengalami koma yang entah tidak tahu kapan akan sadar, mengingat sakit yang diderita Ara kini menjadi semakin parah, serta terlalu lama tidak segera ditangani. Perjalanan yang macet membuat Ara harus menunggu lama untuk mendapatkan penanganan dari dokter. Penyesalan yang begitu mendalam yang dialami oleh sahabat Ara, mengapa harus seperti ini kejadiannya. Begitu mulianya hati Ara, ketegaran yang diperlihatkan selama ini membuat siapapun tidak mengira kalau Ara gadis yang selalu ceria ini mengalami sakit yang menggerogoti tubuhnya secara perlahan. Merekapun terus menyalahkan dirinya sendiri, pertengkaran hebat diantara Tiara dan Indra pun tidak terhindarkan lagi yang akhirnya terpaksa mereka mengakhiri hubungan mereka karena rasa bersalahnya kepada Ara.
Lima hari Ara koma, belum juga menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Tiara dan Indra yang selalu setia menemani Ara yang tengah terbaring lemah dengan oksigen yang terpasang dimulutnya serta alat pendeteksi detak jantung yang berdenging keras. Setelah beberapa jam kemudian melihat tanda-tanda bahwa Ara akan sadar ditunjukan dengan jari-jari yang bergerak. Dengan segera Tiara memanggil dokter untuk segera memeriksa keadaan Ara, benar saja setelah hampir satu minggu ara koma akhirnya dia sadar juga, disampingnya sudah ada ayah, ibu, kak Adi, Tiara serta Indra. Dengan terbata-bata Ara mengatakan sesuatu untuk sahabatnya, Tiara yang menangkap maksud apa yang dikatakan oleh Ara.
“tidak seharusnya kamu yang minta maaf Ra, sahabat macam apa aku ini yang membuat kamu menjadi seperti ini, aku yang salah karena aku telah membuat kamu kecewa dengan kebohongan yang aku sendiri mengetahui kalau kamu paling benci jika dibohongi, aku terpaksa melakukan semua ini karena takut kamu marah jika aku jadian sama Indra aku benar-benar minta maaf Ara, aku juga sudah memutuskan Indra sebagai pacarku.”
“jangan seperti itu Tiara, jangan gara-gara aku kamu putus dengan Indra, aku tidak akan marah kalau kamu jadian sama Indra, tetapi ketidak jujuranmulah yang aku tidak suka itu membuat aku merasa dianggap tidak ada yang jelas-jelas kamu adalah sahabat aku, aku juga merasa aneh ketika kalian semakin menjauh dariku, aku pikir aku bukan teman yang baik bagi kalian. Tapi sudahlah semua sudah terjadi, dan aku mohon sama kamu Tiara, tolong kamu balikan lagi ya sama Indra, aku ingin melihat sahabatku bahagia sebelum aku pergi.”
“kamu bicara apa sih Ara, kamu tidak akan pergi, kita akan bersama-sama terus sampai kapanpun, kita juga akan sering bermain ke danau tempat favorit kita”
Ara yang mencoba menyatukan tangan Tiara dan Indra dengan harapan mereka akan bersatu kembali dengan linangan air mata yang membasahi pipi Ara.
Ara juga memberi pesan kepada papah dan mamahnya agar bersatu lagi dan jangan bertengkar terus.
“pah, mah Ara mohon jangan bertengkar terus kasihan kak Adi pah, mah demi Ara. Ara mohon sebelum ara pergi papah janji sama Ara harus bersatu dengan mamah ya?”
Hanya anggukan yang dibalas ayahnya Ara, dengan senyuman penuh dengan keikhlasan Ara meninggalkan kedua orangtua, kakak, dan sahabat yang begitu menyayanginya. Suasana yang begitu mengharukan, tangisan yang tak dapat terbendung mengiringi kepergian gadis yang selelu ceria ini, tidak ada lagi panggilan selamat pagi untuk Tiara sebagai sahabat yang selalu menemaninya setiap pagi ke sekolah. Tidak ada lagi keceriaan yang menghiasi hari-hari Indra. Kini hanya kenangan yang tersisa untuk orang-orang yang dicintainya.
Sebuah puisi yang ditulis Tiara untuk sahabatnya Kiara Cantika Putri.  

Sahabatku Kiara Cantika Putri,
Dimanapun kamu berada sekarang
Aku tetap teman sejatimu
Kenanganmu, kenangan kita adalah bagian dari hidupku
Aku tahu betapa mulianya hatimu
Entah kau tahu atau tidak
Betapa aku merindukanmu
Dadaku terasa sakit ketika mendengar
kau telah pergi untuk selamanya dari kehidupanku
sahabat adalah sahabat
sampai kapanpun tetap sahabat
walaupun sampai liang lahat
aku ingin bertemu dengan kamu untuk terakhir kalinya
walaupun lewat mimpi

By: Zahratunisa


0 komentar:

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com