Senin, 31 Maret 2014

SINDIKASI WAWASAN SOSIAL: ISLAM DAN NEGARA BANGSA Oleh: Lukman Hakim Hasan


Korps Pengader HMI Cab. Semarang adakan Sindikasi materi Wawasan Sosial, pembicara kanda Lukman Hakim Hasan (Dosen UNS, Mantan Ketua PB HMI (MPO) tahun 1997) di rumah Kanda Sapto Widodo (Semarang, 9/2/14).  Berikut ini ulasan materi Sindikasi Wawasan Sosial oleh Kanda Lukman Hakim Hasan.

Islam adalah agama lintas bangsa, islam lebih dulu dari pada negara bangsa dia muncul pada masa awal, dan mengembangkan sebuah paham yang kita kenal dengan paham islam. Islam menyediakan lebih banyak instrumen dari pada negara bangsa. Selama kira-kira dari abad ke 8 masehi sampai 600-700 tahun islam sudah bisa membangun sebuah kode konstitusi, negara islam sudah mampu membuat  undang-undang, membuat struktur tata negara meskipun memang harus diakui bahwa interaksi sejarah islam kemudian membuat islam sangat akomodatif, dengan paham-paham yang sudah ada sebelumnya yakni paham monarki. Jadi kalau kita lihat dan refleksikan sejarah islam pada awalnya islam lahir dalam sebuah masyarakat yang bukan monarki. Ini adalah pesan awal dari lahirnya islam.

Islam di Timur Tengah dan Arab Saudi pada masa itu, tidak ada yang namanya monarki yang ada adalah kabilah-kabilah yang dia mengandalkan kekuatan ekonomi dan politik keluarga. Kabilah adalah kelompok-kelompok keluarga bukan monarki, maka tidak ada kerajaan di sana. Jadi, di Arab Saudi ketika itu tidak ada yang namanya kerajaan, yang ada adalah kekuatan ekonomi yang berhimpit dengan politik, contohnya adalah keluarga Bani Hasyim yang merupakan keluarga nabi Muhammad dikenal sebagai keluarga yang sejak dulu dekat dengan agama. Di dalam tradisi islam, keluarga nabi muhammad dikenal sebagai keluarga santri karena turun-temurun menjaga ka’bah. Sementara, keluarga yang lain yakni keluarga Siti Khodijah adalah keluarga ekonomi, juga keluarga Abu Sufyan dikenal dengan keluarga ekonomi. Keluarga-keluarga itu tidak membentuk sebuah sistem monarki, nanti monarki muncul ketika islam mulai merambah ke Persia, Romawi dan kenegara lain sehingga menyerap sistem monarki.

Maka, kalau kita melihat sejarah awal peradaban islam substansinya adalah musyawarah, seperti pemilihan khalifah setelah rasulullah meninggal dunia naiknya Abu Bakar As Shidiq adalah dengan musyawarah. Paling tidak disitulah orang-orang syiah mengklaim peristiwa bani saqifah yang menjadi titik tolak pertama munculnya konflik antara Ansor dan Muhajirin yang membuat orang-orang syiah kemudian tersingkir karena sebagian besar umat islam ketika itu justru cenderung membicarakan mengenai siapa pengganti rasulullah dan tidak mencoba untuk  merawat rasulullah ketika setelah sampai kemudian dimakamkan.  Jadi, yang memakamkan rasulullah adalah ahlul baits, yakni Ali dan Fatimah. Sehingga Ali tidak sempat ikut berdebatan di balik bani saqifah ketika kaum Ansor dan Muhajirin berebut kekuasaan, sehingga munculah Abu Bakar. Dan ada juga orang-orang yang datang disitu harus berbaiat dengan Abu Bakar termasuk orang-orang yang non arab yakni salman al farizi, abu dadh al ghifari, di klaim oleh orang syiah mereka adalah pengikut-pengikut syiah. Kemudian, malam harinya setelah rasulullah dimakamkan, orang-orang ini ditanya oleh Fatimah, kenapa anda mau baiat? Mereka menjawab karena tidak enak. Ini adalah simbol musyawarah ketika itu.

Jadi, naiknya Abu Bakar adalah musyawarah sedangkan Umar Bin Khattab itu ada formatur, begitu pula naiknya Usman ada formatur. Tetapi untuk naiknya Ali sudah ada tarik menarik antara kelompok-kelompok Usmani dan kelompok ahli baits yang akhirnya dimenangkan oleh Ali itu pun juga kemudian musyawarahnya di masjid. Hal ini mencontohkan sebenarnya islam sejak masa rasulullah sampai empat khalifah ini adalah sistem musyawarah, tetapi kemudian setelah islam meluaskan wilayahnya kemana-mana, islam mungkin dengan sangat terpaksa ataupun tidak terpaksa harus berbenturan dengan sebuah paham yang kemudian lebih besar yang namannya monarki. Misalnya seperti Muawiyah yang bertempat di beberapa daerah seperti Syriah, Syam, dia akhirnya mengadopsi sistem ini yang cenderung lebih mudah sehingga berlaku sampai masa Bani Ummayah 100 tahun dan Bani Abassiyah 400 tahun. Jadi, sebenarnya basis islam adalah musyawarah seperti yang dicontohkan pada masa khulafaurrasyidin dari Abu Bakar sampai Ali sekitar seperempat abad atau 25 tahun. Mungkin saja, demokrasi yang dikatakan oleh barat sudah ada sejak masa khulafaurrasyidin.

Jadi, sumbangan islam terhadap dunia sampai saat ini adalah musyawarah dengan segala macam modelnya yang kemudian orang mengklaim namanya demokrasi.
Tetapi kemudian dalam perjalanan sejarah, islam kalah dengan paham-paham yang sudah besar yang namanya monarki sehingga Ummayah dengan Muawiyah, Abu Sufyan berkuasa 100 tahun, dan kemudian Abbasiyah dari kata abdul abbas yang merupakan pamannya rasulullah, Abbas Assafah karena mengkudeta Bani Ummayah dengan perang yang sangat getir, pembunuhan semua orang Ummayah, inilah yang merupakan kemunduran islam khususnya dalam sistem birokrasi. Sehingga hal ini sampai sekarang masih terwariskan di jazirah arab yang dikenal dengan Arab Spring sekarang ini yang korbannya berjatuhan dimana-mana warisan monarki. Jadi, arab yang menjatuhkan korban berjatuhan sekarang ini adalah perpaduan dua hal yakni monarki dan sosialis. Ini buktinya kalau islam kalah, karena tidak kembali pada ajaran islam seperti yang dilakukan oleh tokoh-tokoh islam seperti Sadam Husain, Husni Mubarak ini mencoba memadukan sosialisme dengan islam ala Sadam Husain. Oleh karena itu muncul keinginan kita ada sebuah sistem yang akan kita bawa dan itu orisinil.

Islam diturunkan di Mekkah karena sistemnya kompatibel dengan islam ketika itu tidak ada sistem monarki. Jika kita banding era Muhammad dan Musa menunjukkan perbedaan yakni era Muhammad lebih kompetibel dengan era ekonomi seperti sekarang ini, era bebas atau era munculnya WTO, sedangkan era Musa berhadapan dengan fir’aun, seperti masa rezim Soeharto di Indonesia karena ada satu sosok yang memang dimusuhi. Dalam sejarah peradaban islam, yang dihadapi nabi-nabi itu berbeda-beda, seperti nabi Musa, nabi Ibrahim yang dihadapi adalah otoritarian yang jelas nampak, bukan kekuatan ekonomi dibuat oleh politik seperti sekarang. Kalau sekarang kita memaki-maki presiden biasa dan tidak ditangkap, tetapi kalau dulu eranya Soeharto bisa digantung Artinya, sekarang ini adalah eranya Muhammad bukan era Musa.

Kalau kita bertanya, kenapa nabi Muhammad tidak pernah diberikan mukjizat yang riel, misalnya tongkat yang bisa membelah laut, atau seperti nabi Isa menghidupkan orang mati, bahkan Muhammad tidak pernah diberi mukjizat yang sifatnya mungkin setengah irasional seperti membelah laut, atau tongkatnya jadi ular. Karena nabi Muhammad adalah tipe rasionalitas maka yang digunakan adalah rasionalnya bukan menghidupkan orang mati, atau menyembuhkan penyakit.

Islam sebenarnya telah memberikan warisan yang cukup banyak dari sisi penataan birokrasi tetapi kemudian ketika menjadi besar dan berinteraksi dengan paham-paham kekuasaan yang lain akhirnya kalah, bahkan sampai sekarang pun sebagian rezim yang ada di timur tengah adalah rezim monarki, bahkan eropapun adalah rezim monarki seperti Inggris, Belanda, serta Malaysia sekarang pun juga masih monarki. Jadi kalau mau jujur yang sudah merdeka sebenarnya adalah Indonesia karena menggunakan sistem yang murni musyawarah. Kalau kita renungkan bahwa Indonesia adalah satu tipe ideal sebuah bangsa yang melaksanakan musyawarah secara lebih komprehensif. Negara yang lain seperti Malaysia isinya hanya mengeluh saja tentang struktur politiknya, berbeda yang di Indonesia yang sudah on the right track yakni ada pemilu dan setiap warga negara berhak menjadi presiden sedangkan Malaysia sulit karena ada raja yang dipertuan agung disana. Meskipun ada perdana menteri di Malaysia, tetapi tetap juga di bawah raja tidak seperti indonesia. Hal ini bagi warga Malaysia yang terdidik dan intelektual adalah sebuah tekanan karena tidak bisa mengekspresikan sikap seperti masyarakat seutuhnya yang ada di Indonesia. Hal ini yang sering dikeluhkan warga Malaysia yang harus bekerja dan mengelu-elukan sultan karena mereka dipotong pajaknya untuk sultan disana.

Islam punya perspektif yang lebih jauh dari pada nasionalisme, hal ini yang akan saya sampaikan dalam orasi ilmiah UMS 2014 yang akan berbicara tentang tahun 2015 dimulainya masyarakat ekonomi asean (asean economy community) yang  dipertentangkan dengan nasionalisme. Hal ini sebenarnya adalah satu tesis baru bahwa eropa dengan adanya uni europe sudah menggerus tesis lama tentang nasionalisme karena sekarang ini yang ada hanya kepentingan ekonomi persis pada jaman rasulullah.orang yang kuat saat ini adalah orang yang kuat secara ekonomi. Islam pertama kali memotret hal ini dan membuat rasulullah mendesain sebuah bangsa yang hidup dengan agama yang berbeda-beda, yahudi dan nasrani di dalam naungan islam. Dengan kita menerima asean economy community ada kendala karena kita tidak punya mimpi disana, berbeda dengan negara eropa yang punya mimpi untuk mengalahkan Amerika Serikat. Mimpi orang eropa adalah bagaimana mereka akan menjadi satu bangsa yang bisa mengalahkan Amerika Serikat maka ketika disiapkan menjadi uni europe mereka semangat termasuk negara Inggris pada awalnya namun akhirnya keluar karena tekanan Amerika Serikat. Negara yang tetap melawan Amerika adalah dua negara barat yakni Jerman dan Perancis karena dua negara ini yang punya power untuk bisa melawan Amerika dengan bersatunya eropa. Sedangkan Asia Tenggara sebenarnya tidak ada treager kesana, karena sebenarnya yang akan dibuat oleh Masyarakat Ekonomi Asean ini adalah nusantara raya, makanya perlunya barisan nusantara ini yang mau dibentuk adalah nusantara raya karena kita akan mengembalikan nusantara pada pengertian yang lama. Bayangkan kita sebagai bangsa yang besar tetapi nama Indonesia itu yang memberi adalah orang lain, Indonesia dulu hanya sebuah foot note disebuah artikel ilmiah yang terbit di singapura yang namanya Logan karena mereka bingung untuk menamakan dan manyatukan pulau-pulau yang banyak sekali berbeda dengan malaysia yang hanya satu pulau dan mudah  untuk memberi namanya. Akhirnya untuk menamakan pulau-pulau itu diambil kata nesia yang artinya pulau dan diberi nama indo karena panjangnya pulaunya. Padahal, nama kita sesungguhnya kalau dari majapahit adalah nusantara yang lebih indah dari kata nusa dan antara, pulau dan pantai diantanya.

Nusantara kalau menurut cerita yang sebelumnya adalah wilayahnya sejak dari Madagaskar sampai nanti di Hawai bahkan ada yang mengatakan sampai Afrika Selatan nusantara itu dalam beberapa cerita. Nusantara begitu luas karena buktinya banyak orang-orang melayu yang sampai melaju Afrika Selatan. Inilah yang perlu dimaknai, bahwa negara bangsa yang dimaksud setelah tidak adanya era penjajahan secara fisik seperti sekarang ini mulai ada redefinisi mengenai negara bangsa. Jadi, persamaan nasib suatu bangsa sekarang ini bukan karena adanya perasaan senasib karena penjajahan tetapi persamaan nasib bagaimana meningkatkan negara secara bersama di Asia Tenggara. Tahun 2015 nanti, kalau ada barang masuk dari luar negeri yang masuk dari pintu di Manila maka sudah tidak perlu membayar lagi, silahkan saja masuk negara lain seperti ke Indonesia atau Singapura bebas. Inilah yang disebut negara satu pintu, misalnya ketika barang mau masuk lewat barat maka hanya membayar sekali di pintu Pulau We dan kemudian bisa ke negara lain misalnya Thailand atau Filiphina.

Asia Tenggara besok adalah bangsa yang hebat mulai tahun 2014, persoalanya adalah kesiapan, Thailand sudah siap, Filipina sudah siap, apalagi Singapura, tetapi Indonesia tidak pernah siap, karena belum disiapkan. Perlu dikritisi, siapakah yang sebenarnya bertanggungjawab menjelaskan kepada masyarakat bahwa 2015 nanti adalah era Asia. Sementara di Thailand ada empat ritus pusat studi Indonesia, dan sekarang bahasa Indonesia sudah diajarkan di tingkat SMP-SMA. Jika Indonesia tidak menyiapkan diri maka sebentar lagi dokter-dokter Indonesia akan kalah dengan dokter-dokter dari Malaysia yang akan praktek di Indonesia seperti sekarang banyak yang dikirim di Universitas di Indonesia. Jadi, bisa disimpulkan negara di Asia Tenggara tahu persis bagaimana memanfaatkan Indonesia tetapi kita tidak pernah tahu bagaimana memanfaatkan mereka.

Sangat ironis ketika kita masih bangga dulu tahun 70an bisa mengirim sarjana-sarjana ke malaysia untuk menjadi guru. Ternyata menurut penuturan orang Malaysia memang betul sarjana Indonesia dikirim banyak sekali untuk menjadi guru SD, dan menggantikan guru-guru SD malaysia yang waktu itu sekolah di luar negeri mengambil program S2 dan S3. Hal ini tidak perlu dibanggakan karena kita hanya diminta membantu mengajar SD karena guru SDnya sedang dikirim ke luar negeri untuk S2 atau S3. Dan setelah pulang dari luar negeri orang malaysia bisa membuat universitas yang bagus-bagus dan memiliki doktor yang banyak sekali.

Kondisi diatas sekarang juga terjadi dengan dikirimnya TKI-TKW ke malaysia karena malaysia tidak memiliki jumlah penduduk untuk mengurusi kebun-kebun karena jumlah penduduk malaysia kurang. Penduduk malaysia sekarang ini hanya sekitar 25 juta. Makanya sekarang KB tidak berlaku di Malaysia, sekarang orang punya anak banyak seperti orang cina dan india yang berlomba-lomba punya anak banyak di malaysia.

Sekarang orang india di malaysiaselalu membeli tanah di pinggir jalan untuk dibangun tempat ibadah kuil dan candi. Malaysia negara islam tapi sangat toleran dengan agama hindu. Sekarang sedang bangkit luar biasa ekonomi orang india, pesawat air asia yang menghubungkan asia tenggara adalah milik india, tetapi dalam segal hal cina masih eksis, karena eksport dan lainnya yang menggerakan adalah orang cina, seperti yang terjadi di singapura.

Kemerdekaan Malaysia adalah pemberian dari Inggris maka kalau ada yang baru langsung dipakai di Malaysia, begitu Malaysia diserang Inggris membela. Hal ini berbeda dengan kemerdekaan Indonesia yang harus ditempuh dengan perang dulu dengan Belanda, sehingga kita tidak bisa bahasa Belanda sedikit pun karena mengalami over nasionalisme, mestinya ketika merdeka masih diajarkan bahasa Belanda di kelas-kelas kita karena kita akarnya dari jajahan belanda. Sehingga sampai sekarangpun orang Indonesia tidak bisa berbahasa Belanda satupun karena terlalu nasionalisme atau over nasionalisme.

Dua hal yang sekarang sedang saya renungkan, kenapa kita bangsa Indonesia dan nusantara pada umumnya tidak maju. Kita sudah merdeka cukup lama tetapi tidak maju, berbeda dengan bangsa yang seusia kita lebih cepat mereka mencapai kedewasaan misalnya Cina hanya butuh waktu kira-kira tahun 1978 sampai maju seperti sekarang, begitu pula India, meskipun lambat karena penduduknya banyak tetapi sekarang yang menguasai lembah dunia adalah orang India, hampir sebagian besar universitas dunia itu ada dosen yang orang India yakni di Malaysia, Australia, dan di Amerika Serikat, serta yang menguasai lembah silikon atau dunia IT adalah orang India di California, belum termasuk Jepang dan Korea yang maju. Bagaimana dengan Indonesia dan orang melayu? Apakah hanya akan menjadi bangsa yang untuk tambah-tambah saja atau pelengkap karena tidak yang bisa kita lakukan. Maka kita harus refleksikan yang paling jauh tentang hidup kita apakah hidup kita di dunia ini karena by desain atau by accident? Hidup kita karena didesain atau karena kecelakaan, kalau kita melihat hidup kita by accident kita tidak perlu kuliah jauh-jauh, cukup saja berkumpul dengan teman-teman  minum oplosan dan mati karena melihat hidup hanya by accident, karena kecelakaan, dan pasrah lahir sudah seperti ini. Maka kita harus melihat hidup ini by desain karena kita dihadirkan di dunia ini karena Allah punya rencana. Persoalannya bagaimana kita berencana untuk negara seperti ini, apa yang bisa kita kembangkan untuk bangsa kita, yakni dari al quran dan dari khittah kita apa yang bisa kita kembangkan untuk negara kita.

Asia timur bisa seperti ini basisnya adalah dendam, dan hampir semua bangsa-bangsa yang besar sekarang ini bisa muncul sebagai kekuatan yang menggerakan masyarakatnya karena dendam. Sampai sekarang hanya orang korea dan orang cina itu dendam dengan orang jepang sampai digambarkan dalam film jet li yakni once upon the time in china itu ujung-ujungnya adalah anti jepang karena cina sebagai bangsa besar pernah dijajah oleh jepang, begitu pula dengan korea. Sampai sekarang orang korea tidak mau menggunakan barang buatan jepang. Bagaimana dengan Indonesia? tidak, orang Indonesia adalah orang yang baik hati tidak pernah dendam dengan siapapun. Jadi orang Indonesia itu cirinya ada tiga yakni bangsa pelupa, bangsa pemaaf, dan pandai mengambil hikmah.

Belanda saja, yang sudah menjajah kita 3 setengah abad, dendam dengan Indonesia, buktinya belanda baru mengakui Indonesia merdeka 1945 baru diakui tahun 2005. Sehingga ratu belanda mengirim menlunya ke indonesia untuk memperingati hal itu, ketika ditanya oleh menlu waktu itu Hasan Wirayuda, pihak belanda menjawab baru mengakui kemerdekaan Indonesia setelah 60 tahun indonesia merdeka karena untuk menjaga perasaan para pejuang kami dulu melawan indonesia. Sementara kita dengan belanda tidak pernah dendam, begitu pula dengan jepang karena barang-barang kita jepang semua. 

Lalu apa etos yang bisa menggerakkan kita sebenarnya, kalau berbicara dalam konsep islam untuk menggerakan Indonesia adalah bersyukur yang bisa menggerakan kita. Hal ini karena kalau kita membaca al quran kemudian sampai pada ayat mengenai surga, yang bisa menggambarkan secara detil tentang surga menurut quran adalah Indonesia, surga itu warnanya agak hijau, kemudian dibawahnya mengalir sungai-sungai dibawahnya, apa di arab saudi ada yang seperti itu yang warna hijau dan mengalir sungai-sungai dibawahnya karena hanya ada padang pasir. Coba kita lihat ayat lain bahwa gunung setiap hari bergerak,  sedangkan di Indonesia setiap hari gunung bergerak berbeda dengan malaysia yang disana tidak ada gunung yang berapi. Ada ayat lain juga yang mengatakan gunung yang menyeimbangkan dunia, hal ini bisa dibuktikan di Indonesia, karena kalau tidak ada gunung di Indonesia dunia itu tidak seimbang. Mengapa kita di Indonesia adalah untuk mensyukuri nikmat Allah. Inilah yang menjadi basis Indonesia untuk menjadi etos bukan dendam karena kita tidak pernah dendam dengan siapa-siapa, dengan belanda tidak dendam, jepang juga tidak dendam, dengan pak hartopun kita tidak dendam malah sekarang senang dengan anekdot piye kabare?. Ketika orde baru dikalahkan oleh reformasi pun pemainnya tidak pernah ganti, yang ada hanya orang-orang lama yang sudah memiliki perilaku korup, tetapi mereka kita lupakan, kita maafkan dan kita hanya bisa mengambil hikmah. Maka kita tunggu adanya era orang baru dan muda.

Makanya orang seperti Anies Baswedan harus diusulkan dan didorong. Kemarin di medan, Anies Baswedan menyatakan kalau saya jadi presiden BUMN akan saya pindah ke daerah. Hal ini karena melihat indonesia yang frustasi karena ekonomi itu 70% ada di Jakarta karena BUMN, kantor swasta di Jakarta semua uangnya. Kalau uang diibaratkan sebagai darah, dan tidak menyebar keseluruh tubuh atau wilayah kita maka akan pincang, dampaknya adalah inflasi begitu pertumbuhannya sangat tinggi yang dinamakan over heating atau ekonomi kepanasan. Faktanya Indonesia dengan pertumbuhan penduduk yang besar mesinnya hanya ada di Jakarta yang kecil. BUMN yang asetnya sekitar 6000 triliun hanya 10 triliun asetnya yang berada di daerah. Jumlah BUMN totalnya ada 153, dan masing-maasing BUMN rata-rata punya anaka perusahaan 10, sehingga ada 1500 perusahaan BUMN kita. Artinya merubah Indonesia harus menggunakan cara-cara yang tidak biasa dan nahkodanya juga yang tidak biasa.

Harus ada sebuah gerakan di Indonesia, khittah perjuangan adalah kumpulan ayat-ayat al quran tetapi menjadi cara pandang gerakan dalam ber-HMI, hal ini bisa kita terapkan untuk merefleksikan bagaimana memaknai Indonesia sekarang ini, apa kira yang bisa kita tanamkan sehingga masyarakat itu tergerak, untuk bisa bekerja keras. Caranya adalah mungkin dengan mensyukuri nikmat Allah yang lebih bagus, seperti kalau kita berbicara mengenai kapitalisme menurut Webber yakni Etika Protestan karena di dalam ajaran protestan terutama di satu klan yang namanya Calvinisme itu orang-orangnya mau bekerja keras karena membaca kitab injil yang isinya “kamu boleh makan setelah kamu bekerja”. Itulah yang menggerakan satu kelompok calvinism ini untuk bekerja. Inilah yang disebut Max Webber seorang sosiolog sebagai etika protestan yang mengajarkan kalau ingin makan harus bekerja. Oleh karena itu, bagaimana kita juga bisa mencari hal seperti ini dan kita pakai untuk bisa mencapai suatu target dan tidak hanya santai. Saatnya kita mengkaji al quran kembali, seperti kita dengan Khittah, karena Kita harus bisa menemukan sesuatu dari Islam yang bisa mengubah umat kita meskipun kita bukan seorang nabi sehingga menjadi gerakan yang luar biasa. 

Kesimpulannya, Wawasan sosial islam memiliki fokus utama yakni islam dan indonesia sebagai entri masuk, dan kemudian dibreakdown sampai tingkat filosofi tentang paham nasionalisme sampai perkembangan terkini. Kemudian kalau berbicara islam kita akan masuk pada konflik-konflik pemahaman dalam kenegaraan, sosial. Termasuk mempelajari hubungan ilmu-ilmu sosial akan terlihat bagaimana ilmu sosial di indonesia yang jauh tertinggal dengan ilmu-ilmu yang lain.


0 komentar:

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com